Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Pesan Terkakhir Sang Kakek


__ADS_3

Ana masih tertidur dalam pangkuan Edward, sesekali Edward mengelus kepala sang istri yang tengah bermanja. Sela masih setia duduk menemani sang kakek dengan memegangi sebelah tangan sang kakek. Tak henti air mata membasahi wajah mungilnya.


"Kakek, bangun! Kita kembali ke Bandung bersama ku, Ana dan Edward sudah tidak bisa tinggal bersama kita. James dan Kak Rey juga sudah sibuk. Bagaimana dengan aku, Kek?" Sela menangis tersedu dengan memeluk sang kakek.


"Kakek, siapa yang akan memeluk Sela, bila mereka bertiga meledek ku. Kakek! bangunlah, Sela mohon! Kakeek ...," ucapannya terhenti karna tangisan sudah tak terbendung lagi


"Kakek, jahat! kenapa kakek diam saja! Ana sudah bersama Edward dan akan pergi melanjutkan pendidikan. Lalu, Sela bagaimana? Ku mohon, bangunlah! Kek." Sela mencium kening sang kakek air mata jatuh mengenai mata sang kakek.


Sela mengusap air matanya, Ia hendak berdiri untuk mengambil tisu di tasnya. Namun, langkahnya terhenti, Ia melihat jari sang kakek bergerak. Sela lari keluar mencari Ana dan Edward.


"Ana ..., Edward! Lihatlah, lihatlah!" ucapnya heboh dengan terus mengusap air mata. "Ada apa? Tenang lah! apa yang terjadi pada Kakek?" tanyanya. "Panggil Dokter sekarang!" Seru Sela dengan sangat panik. Ana yang tertidur seketika berdiri melihat kehebohan Sela dia merasakan was- was. "Kenapa, Sel? Jawab! kakek tidak apa- apa kan?!" tanya Ana dengan menggoyang tubuh Sela.


"Panggil dokter, cepat!" titahnya lagi, seketika Edward lari. Ana masuk ke dalam ruangan dengan menggelengkan kepalanya. "Kenapa kalian bodoh sekali! di sini kan, ada tombol, kau tekan Dokter pun akan datang, bukan!" Sela hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Alhamdulillah, tadi aku melihat kakek menggerakkan jarinya," Sela berbicara dengan senyuman tak lepas dari wajahnya. Ana duduk dan mengusap kepala sang kakek dengan tenang. "Kakek, bangunlah! kami ada di sini, kau tahu? sebentar lagi James dan kak Rey akan segera tiba."


"Kakek, nanti kita main kartu lagi! tentu saja, Ana akan sangat senang mencoret muka Sela dan juga Kakek, karena kalian sangat payah!" Ia terkekeh pelan, namun air mata tidak lepas dari sudut kelopak matanya.


"Ana lihatlah!" Sela menggoyangkan tangan Ana mereka saling bertatapan dan memeluk sang kakek secara bersamaan. Dokter pun datang, Ia memeriksa dan berkata. "Alhamdulillah, pasien sudah bisa bernafas tanpa menggunakan alat," kelasnya dengan


senyuman yang melekat manis.


"Kakek ..., ucap mereka berbarengan. Dokter mulai mencopot semua alat bantu pernapasan sang kakek, nampak senyuman merekah dari ketiga cucunya. Sang Kakek melambaikan tangannya agar ke tiga cucunya mendekat seketika mereka berpelukan nampak senyum bahagia.


"Kakek, kenapa tidur mu lama sekali!" manja Sela dengan mengerucutkan bibirnya. "Cucu manja kakek, sini sayang cium kakek," pintanya dengan terkekeh. "James dan Ray belum tiba?" tanyanya. Mereka bertiga hanya menggelengkan kepala.


Nampak dari parkiran seseorang yang berbadan tinggi putih, berotot dan berambut pirang tatapan mata tajam setajam elang berjalan cepat menelusuri koridor. Dari arah berlawanan, nampak seorang pria berwajah tampan, senyum ramah menghiasi bibinya.


Mereka berlari bersamaan, sampai di depan ruang ICU mereka bertatapan. Mereka akan memasuki ruangan yang sama. "Kau?" lelaki tampan berwajah ramah menunjuk muka James dan Ia tak terima. "Tolong! singkirkan tangan mu di hadapanku, sungguh tidak sopan!" sentaknya.


"Ini ruangan kakek ku!" jelas laki- laki berwajah ramah itu, James mengerutkan dahinya. Ia mengetahui satu hal, namun ia tak pernah bisa akur dengan Rayhan baginya Ray sangat cerewet. Tanpa menghiraukan James masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


"James..., teriakan seorang gadis manja memecah keheningan, seketika gadis itu memeluk James Erat, tak ada balessn pelukan dari James. Ia hanya menepuk kepala gadis itu dan melepaskan pelukannya. Sela mengerucutkan bibirnya dan menghentak- hentakan kakinya. Semua yang ada di ruangan terkekeh melihat tingkahnya.


James menghampiri Kakek Robert dan mencium punggung tangan kakeknya. "Masa jagoan sakit, payah!" ledeknya namun tak ada sedikitpun senyuman menghiasi wajahnya. Sang kakek hanya terkekeh. "Bagaimana kabarmu James?" tanya sang kakek. "Seperti yang kakek lihat, aku lebih baik dari kakek!" ucapnya dengan mengangkat sebelah alisnya namun, tanpa ada ekspresi sedikitpun. "Kau sungguh menyebalkan!" gerutu sang kakek.


James memang orang yang sangat dingin, dan terlalu datar. Tidak akan ada satu orang pun bisa menebak isi hatinya.


Edward menonjok tangan James, namun ia merasakan sakit pada tangannya saat menyentuh James. "Kenapa kau sekarang lebih terlihat tinggi dan kuat dariku? Apa ya g kau makan, James?" tanyanya. "Tidak banyak yang ku makan, aku hanya memakan ular, buaya dan ya g paling enak adalah Rusa," jelasnya dengan santai dan memasukan tangannya di saku celananya.


Sela yang mendengar itu meringis dan hampir mengeluarkan isi perutnya. Berbeda dengan yang lain semua hanya terkekeh. "Nona Anastasya, bagaimana kabarmu?" sapanya dengan membungkukkan badannya di hadapan Ana. Seketika Ana menjitak kepala James. "Apaan sih, nyebelin tahu gak!" sentaknya dengan membuang muka. "So formal kamu!" James hanya diam tanpa ekspresi. Nampak semua terlihat bahagia termasuk sang kakek.


"James, apa kau sudah selesai dan benar- benar kembali?" Edward bertanya. "Belum, masih ada studi ku, satu tahun lagi aku sudah kembali."


Di balik pintu ruangan masih ada satu pria tampan yang masih menggerutu Kareena setiap ucapannya tidak di tanggapi oleh James. Ia membuka pintu dan tersenyum manis. "Kak Ray, Sela memeluk kakaknya, Ana hendak menghampiri namun tangannya di cekal oleh Edward dan Ia menggelengkan kepalanya. Ana hanya diam dengan tersenyum.


"Wah, kau posesif sekali kamu, Ana juga kan adik ku! Kemari lah Ana peluk kaka, apa kau tidak kangen?" tanyanya dengan tersenyum masam. Karna Edward memegangi tangan Ana.


"Sudahlah, kalian semua kemari! Edward Ana memang istrimu tapi dia juga adiknya Rayhan kan, tidak perlu seperti itu!" seru sang Kakek. "Kita tidak pernah tahu isi hati seseorang!" sergahnya. Semua yang ada hanya menghembuskan nafas kasar, Edward memang sangat pencemburu dan posesif terhadap Ana.


"Kalian harus saling menjaga satu sama lain, Kalian sudah ku bekali semua. Kecuali, Sela dia bahkan tidak memiliki ilmu bela diri." Sang kakek menghembuskan nafasnya yang terasa berat, kemudian di melanjutkan wejangannya pada cucunya.


"Kalian jaga Sela! Dengan sepenuh jiwa kalian, jangan ada pertikaian harus selelu bersama apapun yang terjadi! Kakek, akan memantau kalian di sana!" Kemudian, sang kakek menatap dalam Sela.


"Sela ..., kau harus menurut apa yang dikatakan saudara- saudari mu! Maaf, kakek sudah tidak sanggup menjaga kalian, apapun yang terjadi harus saling melindungi dan saling percaya." Sang kakek kembali menarik nafasnya yang mulai tersengal.


"Satu lagi, hati- hati dengan orang yang baru kalian kenal!" serunya. "Hati- hati juga dengan kebaikan orang! Jangan pernah percaya sepenuhnya sebelum kalian benar- benar tahu siapa dia!"


"Dan kau, Ana! Jadilah wanita yang tangguh seperti baja, gunakan pikiran dan nalurimu dengan seimbang maka kau tidak akan pernah terkecoh. Jangan pernah Emosi karna itu akan mengalihkan fokus mu! Buatlah, hatimu kokoh namun tetap lembut."


"Maksudnya, Kek?" tanyanya. "Suatu saat kau, akan mengerti arti ucapan ku! Ingat, harus selalu bersama dan rukun!" serunya dengan senyuman khas sang kekek.


Seketika semua menangis. Namun, kesedihan mereka teralihkan dengan datangnya seorang wanita yang membuka pintu kamar dengan ganas.

__ADS_1


Bruugh...


"Kenapa kalian baru mengabari kami?! Dan kau, ular berbisa ini semua rencana mu kan!"


ia menatap tajam Anastasya.


...Bersambung...


intermesso


Sebuah Pengakuan


Ini adalah kisah dua orang sahabat yang sudah 20 tahun menjadi rekan kerja. Tiba-tiba, salah satu dari mereka tampak sekarat.


Sebelum pergi meninggalkan dunia, ia membuat sebuah pengakuan kepada sahabatnya. “Aku mau membuat pengakuan sebelum aku mati. Aku telah selingkuh dengan istrimu selama 10 tahun, dan anak perempuanmu itu adalah anakku.”


“Tenang, aku sudah tahu. Kamu tak perlu mengkhawatirkan itu. Pergilah dengan tenang,” kata sahabat yang satunya. Ia juga membuat sebuah pengakuan, “Aku ke sini juga mau mengaku, akulah yang menaruh racun di makananmu siang tadi.”


Bantu jejak yah Kaka😍


biar aku semangat buat nulis


like


komen


vote


tips


Dan terimakasih, yang selalu dukung karya recehan aku😍😍

__ADS_1


__ADS_2