
Ana masih setia duduk menemani sang kakek, beberapa kali dia menciumi punggung tangan sang kakek. Isak tangis masih menemani kebisuan malam. Suara ventilator nyaring terdengar membuat Ana semakin gelisah.
Sampai detik ini sang Kakek masih belum sadarkan diri, beberapa kali Ana mengusap pucuk kepala sang kakek. Edward masih setia berdiri memeluk Ana, saat ini mereka sudah kacau. Berbeda dengan Sela, dia masih terlelap.
"Sayang, tidurlah! biar aku yang menjaga kakek," titah Edward dengan menghapus air mata yang terus mengalir. "Kau tidur saja! aku tidak mengantuk," ucap Ana dengan merebahkan kepalanya di sisi ranjang sang kakek. "Jaga kesehatan mu! kita baru saja tiba, kau pasti lelah!" titahnya lagi, namun Ana tidak menghiraukan.
"Kakek ...., apa kau ingat? makanan kesukaan ku? atau kau, mau makan kue odading buatan ku? kau pasti suka dan sangat lahap!" ucap Yuna terkekeh. Edward terdiam saat ini aja duduk di sebelah Yuna.
"Kakek ...., bangunlah! nanti siapa yang membelaku kalau Edward nakal! kakek nanti siapa yang menghapus air mata ku ketika semua mengalahkan ku? Kakek, siapa yang memeluk ku saat semua orang mencaci ku. kakek, Bangun!" Ana menggoyangkan yubuh sang kakek. Seketika Edward memeluknya dan mengusap air mata Ana.
"Kakek ...." ucapannya terputus karna Ana menangis tersedu-sedu. "Sayang, sabarlah ada aku! kau tak perlu takut kita akan bersama selamanya," tutur Edward dengan mengecup pucuk kepala Ana. "Sekarang, kita sudah menikah, apapun yang terjadi kita harus bersama dan saling percaya, aku yang akan melindungi mu!" tegas Edward. "Bagaimana dengan orang tua mu? Aku takut!" ucap Ana dengan tatapan sendu. "Hey, ada aku yng akan membelamu, tidak usah khawatir!" ucapnya dengan memegang tangan Ana.
"Kakek, Ana kangen main ayunan bersama dengan Sela dan Ana kangen di bacakan buku dongeng oleh mu!" Yuna sudah berbicara kacau. Tidak lama ia pun tertidur di kursi dan menyandarkan kepalanya di tepian ranjang sang kakek.
Edward mengangkat tubuh Ana, merebahkannya di di sofa panjang. Edward penuh kasih sayang menyibakkan anak rambut Ana yang menutupi wajah cantiknya. Edward tersenyum dan mengelus seluruh muka Ana. "Maafkan ibuk ku, aku tahu selama ini kau banyak mengalami tekanan, aku berjanji akan selalu menjaga mu! Ana aku tak mengerti kenapa aku begitu sangat mencintai mu, bahkan aku tak berani mendekati satu wanita pun selain kamu." ucapannya dengan mencium seluruh muka Ana dan ia menghentikan aslinya saat menatap bibir Ana. Edward pergi berlalu dan duduk di samping sang kakek.
Tatapan Edward sangat sendu, ia teringat ucapan sang kakek sebelum pergi berbulan madu dengan Ana.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan dan menyakiti Ana, aku juga berjanji akan menjaga Ana dan Sela. Kau tidak perlu khawatir, Kek. Sekarang sembuh lah!" Edward memeluk sang kakek yang terbaring lemah, saat bersama Ana dia mencoba untuk kuat berbeda saat ini dia benar- benar sama rapuhnya.
Edward mencoba menghubungi seseorang di sebrang sana.
Edward__ Hallo, Kaka. Edward sedang berbicara dengan seseorang di sebrang sana.
Rayhan__ Kaka masih di jalan, Dek. Bagaimana keadaan kakek? tanyanya.
Edward__Masih belum sadarkan diri. Ucap Edward dengan tertunduk.
Rayhan__ Bagaimana keadaan Ana, apa dia baik- baik saja? pasti dia belum makan?" Sederetan pertanyaan Hanya untuk Ana. Edward hanya mengerutkan dahinya namun tidak di pungkiri dia sedikit merasa kesal.
Edward__ Kenapa hanya Ana yang kau tanyakan! Dia adalah istriku, jadi kakak, berhentilah memperlakukannya secara berlebihan!" Edward berbicara dngan ketus di sebrang telpon.
__ADS_1
Rayhan__ "Maaf, bukan maksud kak ...." Ucapannya terputus Edward mematikan telponnya.
"Dia selalu memperlakukan Ana ku, secara berlebihan. Apa kakak, tidak rela aku yang di nikahkan dengan Ana. Meski aku pun bingung, kenapa aku yang dari dalam kandungan sudah di jodohkan. Padahal aku anak kedua. Entahlah," Edward terus bergelut dengan pikirannya. "Sampai kapan pun, aku akan memperjuangkan Ana, meski aku harus kehilangan nyawaku." Ucap Edward.
Mentari sudah datang kembali dan memberikan cahaya keagungan nya di lagi ini. Cahaya keemasan menembus ke setiap celah- celah jendela rumah sakit. Ana mulai mengerjakan matanya, seketika Edward menghampiri.
"Sayang, solat lah! ini sudah sangat siang," titah Edward pada istrinya dengan mengecup kening sang istri. Ana beranjak dan masuk kamar mandi sampai di kamar mandi ana berteriak. "Erd ...." panggilan Ana dari kamar mandi. Dengan panik Edward menghampirinya. "Ada apa, kau baik- baik saja kan?" tanyanya dengan melihat seluruh tubuh Ana dan memegang kedua tangan Ana. Namun, Ana hanya terdiam. "Hey, kenapa? jangan membuat ku panik," tanya Edward kembali. "Eum .... Anu, aku ...." ucapannya terpotong karna Ana bingung mulai dari mana. " Kamu kenapa, Sayang?" tanyanya dengan mengusap pucuk kepala Ana. "Katakan lah!" ucapannya dengan tersenyum
"Anu .... aku datang bulan dan tidak membawa pembalut," ucapannya dengan menahan malu. Seketika Edward terkekeh. "Ku pikir kau kenapa? bahkan aku berfikir kau hamil sayang! lalu, aku akan membelikannya untukmu, kau tunggu di sini! yang seperti apa?" tanyanya dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.
"Merek nya Sof**x, yang 22cm dan ada lambang sirih nya yah!" tanpa malu Ana memaparkan semuanya. Edward hanya mengerutkan dahinya, meski dia bingung dan kalau pun meminta Sela akan sangat sulit membangunkannya. "Baiklah, doakan semoga aku berhasil memenuhi keinginan mu!" ucap nya dengan mencubit hidung mancung Ana seraya terkekeh. Ana yang malu ia mencubit perut Edward. " Lebay! memangnya mau apa pake berhasil segala," ucapnya dengan terkekeh.
"Ini adalah misi terberat buat ku, sayang!" Ucap Edward seraya berlalu dan lagi- lagi mencium kening sang istri. "Sudah sana!" titah Ana dengan mendorong tubuh Edward.
Di sepanjang jalan, dia terus menghafalkan apa yang di inginkan istrinya. Ia mencari Supermarket yang buka 24 jam. Karena ini memang masih sangat pagi. Sampai di supermarket. Benar saja ini tak semudah yang di bayangkan. Banyak terjejer merk pembalut dengan berbagai merk. Ia mengingat- ingat apa saja pesan dari sang istri, tetap saja bingung. Ibu- ibu sudah melihat Edward histeris bagaimana tidak laki- laki setampan Edward berbadan tinggi dan yang tingkat ketampanannya di atas rata- rata, rela membeli kebutuhan wanita yang sifatnya sensitif.
Edward memanggil salah seorang karyawan, untuk menanyakan apa yang di minta sang istri. Seorang pelayang datang dan memberikan apa yang di minta Edward kala itu dengan tersenyum.
"Ambilah, Semua apa yang di minta istriku! Kau, tolong bawakan ke kasir!" titahnya.
Pelayanan Supermarket tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan membawa banyak pembalut. Sedang Edward, membawa beberapa makanan, kopi dan air mineral di tangannya.
Sampai di kasir ada seorang wanita yang ribut dengan seorang penjaga kasir, Edward melihat arloji di tangannya Ia sudah tidak sabar kemudian ia maju beberapa langkah.
"Tolong, sekalian bayar punya dia!" tunjuk ya pada seorang gadis muda yang tak lepas menatap Edward. Namun, Edward tetap acuh.
Sampailah giliran Edward, Ia bergegas untuk segera menemui Istrinya. Dalam hidupnya sungguh dia tidak pernah bisa meski sebentar jauh dari Ana. Sampai di ambang pintu ada seorang gadis yang menahan tangan Edward. Ia mengerutkan dahinya.
...Bersambung...
intermesso Dulu lahπ€π
__ADS_1
Gini nih, kalo Saksi kebanyakan makan Mecinπͺπ€
Hakim : "Anda kenal dengan terdakwa?"
Saksi : "Tidak Pak."
Hakim : (mengulang) "Anda tidak kenal dengan orang ini?"
Saksi : "Kalau orang ini saya kenal, namanya Kadir"
Hakim : "Tadi anda sampaikan tidak mengenal terdakwa?"
Saksi : "Iya Pak, saya tahunya Kadir bukan terdakwa.."
Hakim : (mulai jengkel) "Jadi Anda kenal dengan saudara Kadir?'
Saksi : "Tidak Pak."
Hakim :(marah) "Lho! tadi katanya kenal...!"
Saksi : "Sama Kadir kenal, sama saudaranya tidak, Pak....."
πͺππππ
Dah lah, salam ngakakπππ
Jangan lama- lama ngakaknya udah mingkemππ
Bantu jejak Like, komen, vote juga yah
tips Alhamdulillah..
__ADS_1
Bantu share sangat di perbolehkan ππ