Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Rencana Baru


__ADS_3

Yuna berjalan mendekati tempat itu, akan tetapi pria yang tadi baru datang melarang dan mengatakan bahwa dia yang akan memeriksa. Namun baru saja satu langkah, seekor kucing keluar.


"Hanya kucing, aku rasa Anda harus menurunkan kewaspadaan," ucapnya dengan tersenyum tipis. Dia berjalan dan duduk di kursi panjang.


Perempuan yang mengenakan blazer dan rok span berwarna putih itu, masih diam memaku di tempat, mengamati pria yang saat ini duduk dengan mengangkat satu kaki. Jari-jari tangannya mengetuk-ngetuk kursi, sebuah kebiasaan yang biasa dilakukan oleh seseorang yang sangat di kenalnya di masa lalu. Namun, Yuna menggeleng cepat, tidak ingin terjebak karena sadar itu sangat tidak mungkin. Dia masih berdiri tidak bergeming, angin sore semakin kencang dan membuat rambut panjangnya berkibar menari di udara. Dia selalu merasa ada hal.aneh dalam hati, jantung ya h berdebat kuat saat bertemu dengan pria yang saat ini sedang duduk santai.


Mengerti kecurigaan yang tertanam dalam hati Yuna terhadap dirinya, pria yang saat ini sedang setia duduk dengan mengangkat kaki pun mulai membuka suara.


"Anda tidak perlu takut. Saya bukan orang jahat dan sudah mengabdi pada keluarga Arianto cukup lama," terangnya.


Yuna diam membiarkan pria itu melanjutkan ucapannya. Saat ini dia hanya akan menjadi seorang pendengar yang baik.


"Mungkin Anda lupa, sebenarnya saya adalah saksi pertemuan Anda dan Tuan Ricky."


"Siapa kamu?" Yuna mulai penasaran, dia akhirnya membuka suara.


Pria itu tersenyum tipis, "Aku Andre," ucapnya.


Sejenak Yuna terdiam, terlalu banyak hal yang mengganggu pikiran, sehingga dia tidak lagi ingat kejadian-kejadian yang lalu. Namun, perempuan bernetra coklat ini mulai berpikir bahwa tidak mungkin seorang sekertaris tahu tentang masa lalu. Dia mulai menembak, apakah Ricki yang bercerita pada pria itu. Tidak ingin menduga dia kembali membuka suara. Namun dia harus hati-hati.


"Aku pikir, kau tau bukan? Apa yang membuat aku datang ke tempat ini?"


"Duduklah," serunya. Bukan menjawab, pria itu meminta Yuna untuk duduk. Tentunya hal itu hanya membuat Yuna tidak bergeming.


"Kamu masih memiliki janji mengajak aku membuat istana pasir dan mengumpulkan banyak kerang bukan? Kapan kita lakukan itu?"


Andre menoleh ke arah Yuna dengan tersenyum khas. Mata Yuna tiba-tiba berkaca, tetapi tidak ingin gegabah untuk bersikap senang.

__ADS_1


"Kala itu, aku mengalami kecelakaan. Tepat di saat ayah masuk rumah sakit aku dikabarkan meninggal. Beruntung ada orang baik, hingga bersedia merawat, membiayai operasi plastik untuk wajahku. Hingga aku ...." Ucapan pria itu terputus.


"Andra, kau kah itu?" sela Yuna.


Pria itu mengangguk dua kali. "Ya, aku Andra. Adikmu, Kak."


Yuna tidak mampu membendung perasaannya, dia berhambur memeluk adiknya yang sudah bertahun-tahun dikabarkan meninggal. Dia menenggelamkan wajahnya di pelukan pria itu dengan wajah yang basah. Andra melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu kakaknya.


"Kamu selalu menjadi orang yang membuat aku kagum, Kak."


"Sial! Kenapa kamu gak bilang?" Yuna memukul kepala adiknya.


Pria itu terkekeh. "Sudah terlalu lama memerankan perempuan bar-bar ya? Hingga melekat seperti ini?" godanya.


"Bacot!" umpat Yuna.


Yuna duduk tepat di samping adiknya, menyandarkan kepala di bahu tegap pria itu. Mungkin jika ada yang melihat ini mereka akan berpikir, bahwa Yuna memiliki hubungan gelap dengan sekertaris suaminya sendiri dan jika hal itu dilihat publik, tentu akan membuat dia dipusingkan dengan gosip dan tentu akan sangat bingung alasan apa yang paling tepat. Tidak ada alasan yang tepat dan tidak mungkin juga mengatakan bahwa pria ini adiknya.


"Jauhkan tubuhmu, Kak?"


"lho kenapa?" Yuna mendongak menatap sang adik. "Jangan menggiring asumsi, karena ada banyak hal penting yang harus kita bahas."


"Padahal aku ingin kangen-kangenan," keluh Yuna. Namun akhirnya dia menegakkan tubuhnya.


"Jujur aku ingin Kakak berhenti mengejar Edward, lupakan masa lalu dan cari aman. Seperti yang aku bilang, jadilah Yuna bukan Anastasya."


"Ck! Kamu sama saja seperti Kak Ray."

__ADS_1


"Ricky itu pria yang baik, meskipun tidak sekuat Edward dalam bertarung. Setidaknya asal dia bisa bikin anak sudah bisa dikatakan pria sejati," celetuk Andre dan mendapatkan pukulan di kepala.


"Sakit, Kak." Andra mengusap kepalanya.


"Aku dan James sudah menyusun banyak rencana untuk merampas perusahaan kita di tangan Eric dan Helena. Tidak akan aku biarkan bahagia bersama Edward. Enak aja!"


Andre menghembuskan napas kasar, "Jangan melawan takdir, terima saja. Kan udah punya suami."


"Gak! Kamu tahu kan, aku sangat mencintai Edward." Sorot mata Yuna begitu tajam, ambisi masih membara. "Kamu tidak tahu, Helena berusaha untuk mengelabuhi Ricky. Kita mundur pun dia tetap akan seperti itu. Aku tidak akan mereka terus merugikan orang lain."


"Sebenarnya aku juga punya misi."


"Misi apa?"


"Aku tidak bisa berbicara di tempat ini. Kita akan bertemu di tempat James."


"Jadi kamu mau membantu aku?"


"Mau gak mau. Sebenarnya aku ingin Kakak hidup tenang, hanya saja apa yang Kakak katakan ada benarnya."


"Makasih, Sayang." Yuna menjawil kedua pipi adiknya dan ditepis kasar oleh Andre.


"Sekarang Kakak udah tahu siapa aku tapi harus bersikap biasa saja. Paham!" tekan Andre.


"Paham. Kamu gak kangen dengan Arya dan orang tua kita?"


"Jangan berpikir untuk mengatakan pada mereka aku masih hidup, tetap rahasiakan ini."

__ADS_1


__ADS_2