Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Kabar Yang Menyakitkan


__ADS_3

Kedekatannya dengan sang mertua, membuatnya tidak lagi sungkan. Hal yang beruntung dalam pernikahan ini adalah dia bisa merasakan kasih sayang seorang mertua yang begitu tulus. Dia tidak lagi disudutkan atas kesalahan yang tidak diperbuatnya.


Dulu jika dia sangat bahagia dengan pernikahannya bersama Edward yang sangat ia cintai. Namun, selalu tidak pernah dihargai dan selalu berada di posisi yang sulit karena ibu mertuanya. 


Kini hal itu berbalik, pernikahannya dengan Ricki hanya sebatas di atas kertas. Tidak ada cinta yang tumbuh dalam hati Yuna. Namun, ia sangat tulus mencintai keluarga Ricky. 


Kebaikannya selalu membuat Yuna berat meninggalkan mereka, tapi dia juga tidak bisa egois sebelum semuanya terlambat dan perlahan mengikis kesetiaannya pada Edward, ia harus segera mengakhiri kekeliruan ini.


Dengan keyakinan penuh, Yuna sudah bertekad untuk berjuang kembali pada Edward apapun yang terjadi. 


Yuna duduk berhadapan dengan mertuanya di ruang keluarga, saat ini Mamy Erna tengah menonton sinetron legendaris yang menguras emosi. Cerita yang berputar tentang istri yang diselingkuhi atau mertua yang kejamnya gak ketulungan.


Entah kenapa, sinetron itu menjadi kesukaan semua emak- emak, Yuna hanya menggelengkan kepalanya, saat sang mertua terus mengoceh tidak jelas. Ia ingin bertanya namun ia urungkan. Karena, sang mertua sudah fokus dengan umpatannya.


"Kalau tidak cinta, kenapa menikah! Dasar wanita bodoh! Mau saja, dibodohi suaminya. Jadi laki- laki tidak ada ketegasan sama sekali! Besok aku belikan mukena, kau! Nah, nah! Ibu mertua, kejamnya kaya kesetanan. Kau, cerai sajalah! Ku nikahkan kau dengan anakku Steve!" Ocehan demi ocehan terus ia lontarkan, Yuna hanya terkekeh pelan melihat sang mertua yang tingkahnya sangat unik.


"Memangnya, Steve mau?" tanyanya dengan terkekeh. "Mau, tidak mau. Yah, harus mau! kau tahu tidak, istilah The Power Of Emak-Emak?" tanyanya dengan membanggakan diri.


"Iyah, aku tahu! Karena Mamy yang membuatku menikah dengannya," cicitnya dengan tersenyum, dan sang Mamy terkekeh pelan. "Aku tidak akan membedakan, antara anak dan menantu! Karena saat sudah menikah kau jadi anak Mamy!" jelasnya dengan mengusap kepala Yuna.


"Sudahlah! Kau jangan banyak bertanya! Lihatlah, si bajingan itu Yuna, membawa perempuan didepan istrinya, kalau aku istrinya ku kasih Baygon biar kejang- kejang!"


"Benarkah?" Yuna bertanya dengan menaikan sebelah alisnya. "Bukankah, Mamy pernah mengalami itu? Tapi tidak pernah berbuat jahat pada Papi?" ejeknya. "Ish, pasti si anak kurang ajar itu yang bercerita. Sudahlah, lupakan!" bentaknya.


"Mamy!" Teriakan Jessie menghentikan ocehannya. "Astaga, kakak! Kenapa kau biarkan Mamy menonton sinetron ikan terbang," prosesnya. "Memangnya kenapa?" tanyanya polos.


"Hadeuh, kau tahu? Tensi darah Mamy suka naik kalau dia menonton sinetron yang labelnya ikan terbang," jelasnya, Yuna mengerutkan dahi. Jessie mengambil remote control ditangan Maminya dan mengganti channel tv, ia menonton Tom & Jerry, seketika sang Mamy protes.


"Kenapa kau pindahkan? Kau mengganggu saja!" sungutnya. " Cari film yang bikin tensi turun bukan naik!" Sergahnya. "Kau mengganggu kesenangan Mamy saja!" protesnya. "Senang sih, senang tapi kalo ujungnya masuk rumah sakit, buat apa?" ledeknya.


"Kau yang akan Mamy bawa ke rumah sakit, sebentar lagi kau tertawa sendiri!" ejeknya. "Terserah, terserah!" ucapnya masa bodo, Yuna hanya terkekeh melihat drama ibu dan anak yang melebihi drama di televisi.


"Nak, lihatlah! Betapa durhakanya anak itu," sang Mamy mengadu, seperti anak kecil. "Ku ganti judul sinetron kesukaanmu menjadi, "Mertua tukang ngadu!" ledek sang gadis pembuat onar itu.


Yuna hanya memutarkan bola matanya jengah, melihat drama yang tak kunjung selesai. Ia memutar otak untuk mengalihkan perhatian mereka dari pertikaian yang entah apa yang mereka ributkan.


"Lihatlah, Nak. Siapa yang harus di bawa ke rumah sakit? Lihatlah, Jessi tertawa sendirian dengan kejang- kejang," ledeknya. "Mamy ...!" teriakannya memecah keheningan. Yuna hanya bisa membuang nafas kasarnya.


"Mom …," panggilnya. Sang Mamy seketika menoleh pada menantunya, "Ada apa sayang?" tanyanya dengan senyuman.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak yakin dengan Mom yang hanya menemui kami untuk menanyakan kabar?" tanyanya penuh kehati-hatian. "Apa ada yang mau Mamy sampaikan?" tandanya penuh selidik.


"Oh itu, kau kenal Edward, bukan?" ia berbalik bertanya pada Yuna. "Tentu!" jawabnya singkat ia mencoba menutupi rasa penasarannya. "Ekhem, ada apa dengan Tn. Edward, Mom?" sang Mamy menatap Yuna ia merasa ada yang lain dari tatapan menantunya saat berbicara nama pria itu, namun ia menepis semua prasangkanya.


"Mereka memberi undangan pada kita," jawabnya singkat. Seketika semangat Yuna runtuh entah kenapa perasaannya sungguh tidak menentu terasa sakit di ulu hati meski dia belum tahu penyebabnya.


"Undangan apa?" tanyanya dengan nada yang sangat lembut. "Pertunangannya," jawab sang ibu mertua dengan menatap setiap perubahan  yang terjadi pada wajah menantunya.


Bagai ditusuk ribuan duri, seketika pertahanan Yuna hampir runtuh, ia sudah banyak berkorban untuk bisa kembali pada suaminya. Namun, ia mencoba bersikap biasa saja. Tatapan matanya sendu, ia mencoba menyembunyikan tangannya yang bergetar hebat.


Tidak jauh dari sana, Ricky melihat istrinya ia mendengar percakapan mereka. Ia segera mendekati mereka dan berteriak.


"Yuna! Apa kau sudah lupa, hah? Kau harus membersihkan kamar mandiku!" sentaknya. Yuna menatap heran Ricky selama ini, dia tidak pernah memintanya melakukan hal.yang berat apalagi dalam kondisi seperti ini.


Tapi, ini jalan satu-satunya untuk lepas dari situasi yang sangat mencekam bagi pertahanan hati Yuna. Yuna mencoba menetralkan nada bicaranya untuk berpamitan undur diri pada mertuanya.


Belum jauh dari sana, Yuna mendengar Ricky bertanya pada Mamynya. "Mom, dia bertunangan dengan siapa?" tanyanya. "Kau kenal Helena? Nah, dia bertunangan dengan Helena orang yang berinvestasi pada perusahaanmu," jelasnya.


Mendengar nama Helena,  seketika otak Yuna mendidih ia mengepalkan tangannya. Emosi sudah menguasai dirinya. Ia masuk ke kamar Ricky dengan tergesa. 


Tubuhnya bergetar hebat, tangannya bergetar, nafasnya sudah tersenggal menahan sesak. Matanya sudah memerah membendung air mata yang akan tumpah.


Langkahnya sudah tak beraturan, namun ia mencoba mengendalikan emosinya. Ia tidak mau jika  mertuanya mengetahui keadaan ini. Meski ini hanya pernikahan pura- pura. Tapi, cintanya pada sang mertua bukanlah sandiwara.


Yuna masuk dan mengunci kamar Ricky. Untung saja kamar ini kedap suara. Yuna melempar bantal yang tertata rapi di kamar suaminya. Ia sudah tidak bisa menguasai dirinya.


Kamar Ricky seketika hancur lebur seperti kapal sisa habis berperang, berantakan sudah pasti tapi tidak seberantakan hati Yuna saat ini. Tangisnya pecah, jeritannya memecah keheningan.


Tubuhnya roboh, ia mendekap kedua tangannya memeluk lututnya. Airmata terus membanjiri. Perasaan lama yang telah kembali, kini harus ia bunuh. Tapi, tidak ia berfikir keras untuk merebut suaminya kembali.


Ia mengepalkan tangannya, mengusap air mata yang membasahi pipinya dengan kasar. 


"Tidak! Aku tidak akan menyerah! Akan ku rebut kembali suamiku darimu penghianat!" teriaknya dengan mengepalkan tangan.


"Kau bilang, kau frustasi karenaku dan sejauh ini, aku berusaha untuk mempertahankan kesetiaanku padamu, tapi lagi- lagi kau hancurkan hatiku, Erd!" teriaknya dengan melempar selimut Ricki sembarangan.


"Kenapa, kenapa?! Kau hadir kembali hanya untuk membuat luka baru!" Apa salahku Erd?!" Teriaknya frustasi.


"Helena! Sayang, kau bilamg kau sahabatku, bukan?" ucapnya dengan tersenyum semrik. "Kau bilang aku lemah dan tidak bisa membalasnya, karena kau sahabatku? Sekarang, Tidak! Akan ku hancurkan hidupmu, seperti kau, menghancurkan hidupku, Helena!" Yuna mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Sekarang kita lihat, sayang! Siapa yang akan tumbang dan hancur! Aku akan membalas setiap air mata dan darah yang telah kau berikan padaku! Tentu saja! Aku akan memberikan lebih banyak darah dan airmata padamu secara gratis, Helena! Haha." Yuna tertawa dengan sangat mengerikan.


"Tidak, aku tidak boleh kalah! Aku harus kuat, dan membalas semuanya! Kau tunggu saja, aku kembali!"


.


...***...


Wah, wah! Yuna serem banget yah, kayanya dendam sudah akan dimulai.


Sekarang! Jejak yu,😍😍


intermesso dulu lah,🤔


Aku bawa si Udin ajh yah😒


Udin dan kang Siomay


Udin : "Mang! Mang!" panggilnya pada kang siomay, kang siomay pun berhenti dengan muka sumbringah.


kang siomay : "Mau beli apa, Dek?" tanyanya.


Udin : "Mau tanya, Siomaynya masih Mang?"


Kang Siomay :"Masih, mau pake apa ajh? Ada tahu, ada pare dan siomaynya masih banyak."


Udin : "Tidak mau pare, hidupku dah pahit mang! Ada telurnya, Mang?"


Kang siomay : "Ada, Mamang buatkan yah, Dek."


Udin : "Tunggu dulu! Sambelnya, pedas gak mang?"


Kang siomay : Sudah mulai geram, "Tidak, ini tidak pedas, Dek. Jadi sekarang Mau beli apa ajh, Mamang buatkan!"


Udin : "Lah, siapa yang mau beli Mang? Kan, tadi Udin bilang mau tanya! Udin ga bilang mau beli kan! Bener gak?"


Kang somay : "Lama- lama tanya gak beli, dasar! Anak demit!" Kang siomay pun pergi dengan terus menggerutu.


Udin : "Si Amang, malah marah! salahnya di mana coba? Kan, dari awal sudah bilang mau tanya, emang kebanyakan makan Mecin tuh si Amang!"

__ADS_1


😌😂😂 Astaga, Elu tong! Yang kebanyakan makan Mecin😌🤧🤧😂


Dah, lah. Bisa darting itu kang somay! Sekarang jejakin yah, biar otor ga ikut dating 😂😂😌😒


__ADS_2