
Sela datang menemui kakeknya, yang sedang duduk membaca koran dengan menyesap teh di tangannya.
"Kakek!" teriaknya dengan menangis tersedu.
Buurrrrr
karna kaget sang kakek menyemburkan teh di dalam mulutnya. Ia kaget namun dengan tenang menaruh teh di tangannya dan tersenyum pada cucunya.
"Ada apa sayang?" tanyanya dengan senyuman tak lepas dari bibirnya. "Kakek kejam! cicit sela dengan mengerucutkan bibirnya. Namun, sang kakek hanya terkekeh.
"Kenapa?" tanyanya dengan mengelus pucuk kepalanya. " Kenapa James harus pergi? kan kasian dia sendiri tidak ada temannya! Sela mau ikut dengan James!" pintanya dengan bersidakep dan mengerucutkan bibirnya.
Sang kakek lagi- lagi terkekeh. Sela memang seumuran dengan Ana. Namun, Sela lebih manja dan kekanak- kanakan. Berbeda dengan Ana, dan Edward ia memang lebih dewasa sebelum waktunya.
"Kau yakin ingin ikut dengan James?" tanyanya dengan menjawil kedua pipi Sela. "Tentu saja! Kakek jangan menghalangi ku!" jawabnya dengan membuang muka.
"Tidak, kakek tidak akan melarang siapapun! hanya saja ...." ucapannya terhenti. "Hanya saja apa, Kek?" tanyanya antusias.
"Di sana, kau tidur di tikar, tidak ada televisi dan kau makan masak sendiri! tidak ada pelayan di sana," Sela mengerutkan dahinya. "Bukan itu saja!" Sela kembali menatap sang kakek ngeri. "Kau juga harus mencuci pakaian mu sendiri dan ada lagi yang harus kau jalani di sana!" ucapnya dengan tersenyum. "Apa lagi, Kek? masih ada lagi yang mengerikan dari itu?" tanyanya dengan meringis. "Saat kau pelatihan di hutan dan tidak ada makanan dan jauh dari sungai. Tidak ada ikan bukan? kau, harus mau makan ular atau buaya!" ucap sang kakek.
"Hoekkk" seketika Sela terlihat seperti akan muntah. "Kenapa? katanya kau mau ikut dengan James! kakek ceritakan lagi yah?" tanyanya dengan menarik sudut bibirnya membentuk senyuman. "Tidak! aku tidak mau!" Sela menolak keras dengan mengibaskan kedua tangannya.
"Katanya, tadi mau ikut? kalau begitu kakek akan tambah satu lagi," sang kekek mengambil handphone di tangannya dan akan mencoba mengubungi seseorang. Namun sela mencegahnya dengan gelengan kepala. "Jadi bagaimana?" tanya sang kakek dengan terkekeh. "No!" tolaknya dengan membuang muka. "Tadi katanya mau ikut dengan James, Kakek tidak melarang. Silahkan saja, justru Kakek senag," ledeknya.
"Tidak! aku tidak mau!" tolaknya lagi. "Kamu tidak kasihan sama James? dia sendiri loh, di sana," sang kakek berucap dengan tersenyum dan kembali menyesap tehnya.
"Sudahlah! jangan di bahas," ucap Sela sembari pergi ke kamarnya dengan seribu ocehan yang keluar dari mulutnya dan menghentak hentakan kakinya. Ana dan Edward datang menemui kakeknya.
"Lihatlah, dia seperti nenek tua yang tidak di beri uang belanja!" ucap Ana dengan terkekeh. "Jangan senag dulu, kalian juga sama akan kakek kirim seperti James!" ucap sang Kakek. Yuna dan Edward saling bertatapan. Karena, bagi mereka ucapan sang kakek adalah perintah yang tidak bisa di ganggu gugat. "Kalian harus tahu caranya bertahan hidup!" tuturnya lagi. Ana dan Edward hanya mengangguk pelan.
__ADS_1
Jangan tanya Sela, karna sela tidak akan bisa di perlakuan sama seperti yang lainya. Dia dan adiknya memiliki kesehatan dan sistem imun yang lemah yang turun dari ayahnya. Maka dari itu sang kakek tidak bisa menuntut banyak pada Sela, berbeda dengan yang lainya. Ana memang seorang wanita. Namun, otaknya dari kecil sudah terprogram dengan baik dan hidupnya sudah seperti kaset yang telah terekam. Sama seperti James dan Edward.
"Kemarilah!" panggil sang Kakek pada James yang tengah berdiri di ambang pintu. James duduk di sisi kiri sang kakek dan di sebelah kanan ada Ana dan Edward. "Berlatihlah dengan keras!" ucapnya dengan menepuk punggung James dan James hanya menganggukan kepalanya. "Jika aku telah kembali, kau akan bekerja pada siapa? Sela atau Ana?" tanyanya dengan menatap tajam. Seketika James terdiam, Ia menatap langit- langit ruang tamu yang mewah itu. Entah apa yang Ia pikirkan.
"James!" panggilan sang kakek menyadarkannya. "Nona Anastasya!" jawabnya tegas. Semua saling bertatapan penuh keheranan. "Aku tidak perlu menjelaskan alasannya, bukan?!" James berucap sinis. Memang begitulah James dingin, tegas dan penuh rahasia. "Baiklah, pilihan yang tepat!" ucap sang kakek dengan menepuk kedua tangan James.
"Jika, aku telah tiada ...." ucapannya terhenti sejenak ia menghirup udara dan menghembuskanya. "Kalian lindungi Sela! kakek khawatir, dia terlalu polos dan mudah percaya orang baru!" ucapnya dengan tatapan sendu. "Jangan berbicara seperti itu, Kek. Kami akan menjaga Sela," ucap Ana. "Bukan hanya itu, kita akan saling melindungi," timpal James. "Besok, kakak mu Ray akan kembali!" ucapnya dengan tersenyum.
"Benarkah?" ucap mereka bersamaan. Sang kakek hanya menganggukan kepalanya.
...**...
Malam Yang sendu, angin malam menyelinap masuk ke setiap permukaan kulit. Rembulan menatap sendu di hiasi sang bintang. Tidak ada nyanyian dari serangga malam.
Sebuah mobil Jeep datang memasuki pekarangan rumah Tn. Robert. James telah menggendong tas rangsel berukuran besar dan satu koper di tangannya. Ana dan Edward bergantian memeluk James untuk melepas kepergian James. Sedang Sela, sedang mengintip di jendela kamarnya dari lantai dua, dengan tangisan yang tak lepas darinya. Saat James akan memasuki mobil terdengar suara Sela memanggil James hingga Jemes kembali menutup pintu mobil dan menghentikan langkah kakinya.
Sela lari dari kamarnya dengan tangisan yang pecah, Ia menuruni satu persatu anak tangga dengan berlari, sesekali kakinya terkilir namun Ia tidak memperdulikannya. Setelah di ambang pintu Sela terdiam menatap James, bagaimana pun James adalah orang yang selalu ada untuknya meski dia sangat dingin dan acuh. Seketika Sela berlari dan menubruk tubuh James, tak ada balasan dari James ia hanya terdiam saat Sela memeluknya erat.
"James, kenapa kau lebih memilih bekerja bersama Ana? Apa aku terlalu merepotkan mu!" Aku juga bisa kuat seperti Ana, kenapa kau tak mau bekerja bersama ku?! tanyanya dengan tersedu dan memukul.dada James namun tak melepas pelukannya. "Jawab!" sentaknya.
"Aku memiliki alasan sendiri, dan kau, tidak perlu tahu! jadi tolong, hargai keputusan ku!" tegas James. "Baiklah, hati- hatilah aku akan selalu merindukan mu!" ucapnya dengan melepaskan pelukannya dan James hanya menganggukan kepalanya.
Mobil telah melaju, lambaian tangan menghiasi kepergian James. Ia hanya menatap sendu di balik kaca mobil. Entah apa yang ada di pikiran James, hanya dia lah yang tahu. Panggilan sang Ayah menyadarkannya.
"Sudahlah, kau harus tahu batasan, James." ucapnya dengan tangan masih memegang stir mobil. James hanya menganggukan kepalanya dan Ia kembali membaca buku- buku tebal di tangannya.
...Bersambung...
Intermesso dulu🤫
__ADS_1
Belajar Menulis
Suatu hari, seorang anak yang baru masuk Sekolah Dasar (SD) ditanya oleh kedua orangtua saat pulang sekolah.
Ibu: "Belajar apa kau hari ini nak?"
Anak: " Belajar menulis bu."
Ayah: "Apa yang kau tulis nak?"
Anak: "Tidak tahu yah, aku belum belajar membaca."
Anak pintar😌🙄😒
Salam nagakak😂😂
Sekilas info
Masu
k GC otor pake alesan yah😘
kenapa sih yah gaya pake alesan segala😒
Mohon maaf, biar keren dikit ke olang-olang🤗🤗😘😂
1.Siapa nama sahabat Yuna/ Ana yang di kirim ke L.A?🤔
jawabannya buat alasan masuk GC. kalau ngga jejak deh banyakin🤧
__ADS_1
INSYAALLAH, AKU USAHAKAN UP SETIAP HARI PUKUL 23.00 WIB. JADI TOLONG BANTU AKU DENGAN JEJAK🤧🤧🏃
TERIMAKASIH 😍😍