Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Flashback, Masa Kecil Ricki


__ADS_3

"Para pengawal sudah tidak berdaya. Nenek, kakek ku mereka hanya orang yang sudah tua, aku ingin sekali berlari menghampiri mereka sungguh aku tidak tega melihat nenek ku terus di hajar dan di pukuli, begitu pun dengan kakek ku. Namun, mereka masih bungkam dengan keberadaan ku. Ketika aku akan keluar menghampiri mereka ada satu tangan yang menarik ku."


"Aku akan membuka mulut ku untuk menjerit di saat para penjahat itu menodongkan pistolnya pada kakek ku, sedang wanita gila itu tengah beberapa kali menampar nenek ku dengan kata- kata kasar. Namun, jeritan ku tertahan karena aku di bekap dan aku melihat dengan jelas kakek dan nenek ku terbunuh di tangan mereka, aku melihat darah mereka dengan jelas. aku merasa tubuhku tak bertenaga aku tak mengingat lagi setelahnya.


...**...


Udara pagi yang ceria dengan di hiasi Hembusan angin menyapa setiap sudut jiwa- jiwa yang masih terbuai dalam indah nya mimpi. Mentari bersinar pagi ini, Meski cahaya sang mentari mencoba menerobos celah- celah jendela dan kaca. Namun, hembusan angin tak kalah memanjakan kala itu.


Ricki kecil baru saja mengerjapkan matanya, tangan mungil nya mengucek kedua matanya. Ia terheran akan keberadaan nya saat ini. Rumah khas Jawa, dengan dinding hanya menggunakan bilik- bilik yang di anyam rapi. Rumah yang di dominasi dengan kayu, dengan keheranan ia membuka selimut yang menutupi tubuhnya, berapa kaget saat dia menginjakan kakinya, lantai yang beralaskan kayu- kayu yang mengkilap dan terawat.


Ricki kembali membuka tirai jendela, ia terpukau karena ia melihat laut yang luas berwarna biru. Sinar keemasan sang mentari, nampak seperti bercermin dalam biru nya laut. Sehingga samar keindahan biru laut menyatu dengan warna keemasan mentari pagi ini.


Ia teringat akan sesuatu, dimana dia berada sekarang? Ricki berjalan keluar kamar yang ia tempati. Nampak, seorang wanita paru baya menghampiri nya.


"Selamat siang Den, perkenalkan nama ku Ima, adik kandung bi Ami," ucapnya dengan menyalami Ricki.


Namun, Ricki tidak menanggapi dia masih terlihat linglung, dia seperti mencari seseorang ia berjalan mengelilingi rumah yang tidak lah luas itu, langkah nya terhenti seraya ia bertanya.


"Dimana Nenek dan Kakek ku?" tanya nya, dengan sebuah lirikan mencari. "Kenapa disini sangat sepi? tempat apa ini bik?" Ricki kembali bertanya kali ini dengan tatapan mengintimidasi.


"Ini rumah ku dan Mbak Ami, Maafkan jika membuat Tuan muda tak nyaman," ucapnya dengan mengatupkan kedua tangan nya.


"Aku tidak bertanya siapa pemilik rumah ini, kenapa aku bisa berada disini?" tanyanya dengan memegang dadanya, sepertinya Ricki mengingat sesuatu. Tidak lama kemudian, Ricki tergeletak di lantai tak sadar kan diri.


Saat ini psikologinya sedang terancam, sudah beberapa kali ia dalam bahaya, ia bisa bertahan karena dukungan kakek dan nenek nya, dari semenjak dia anak- anak ia selalu mengalami kejadian yang mengerikan. Bahkan orang paling dekat nya pun terbunuh di depan matanya sendiri. Semua itu terjadi hanya karna kesalahan Ayah nya, begitulah pemikiran Ricki.


Semenjak kejadian itu, Ricki selalu menjadi anak yang murung, ia selalu mengunci dirinya di dalam kamar. Keadaan nya sungguh menghawatirkan. Bahkan saat orangtuanya datang pun, ia menolak untuk bertemu. Hanya sekedar melihat Ricki makan dan minum saja sudah membuat orang tua nya bahagia.


Sesekali, Ia melempar barang di kamarnya, matanya menghitam, rambutnya sudah lusuh, bahkan untuk mandi pun dia tidak mau melakukan nya. Ibunya setiap hari selelu menangis melihat keadaan Ricki. Yang Ricki lakukan hanya duduk di bawah tempat tidur nya sambil memeluk foto kakek dan nenek nya, kadang ia tertidur meringkuk di bawah sambil memeluk foto, setiap hari hanya itu yang ia lakukan.


Sudah beberapa ahli psikologi yang datang setiap harinya, namun belum ada yang berhasil, Ricki masih tidak membuka mulut nya untuk berbicara. Mamy Erna hanya bisa memeluk tanpa ada respon dari Ricki, saat makan pun Ricki mengunyah nya dengan tatapan kosong. Mamy Erna melihat itu sangat khawatir.


"Pah, bagaimana ini? keadaan Ricki semakin memburuk," ucapnya dengan tetap memeluk Ricki.


"Tenanglah sayang, semua akan baik- baik saja aku akan datang kan dokter psikologi terbaik," ucapanya dengan mencoba memeluk Ricki.

__ADS_1


Ricki terlihat tidak senang, ia mendorong tubuh papahnya dan melepaskan kedua pelukan orang tuanya, tersirat jelas kebencian dari mata Ricki yang di tujukan untuk papahnya. Ricki tertidur membelakangi kedua orang tuanya, dengan tangan masih mendekap foto kakek dan nenek nya.


Pagi ini, karena jenuh. Ricki melihat ke luar jendela ia melihat sosok anak kecil, berambut panjang hitam berlari bermain di pantai, anak kecil itu riang dan terlihat gembira, ketika seorang laki- laki paru baya datang dengan perahunya menghampiri bocah kecil itu. Nampak di tangan nya membawa ikan di dalam ember, anak kecil itu menerima dengan tertawa riang.


Ricki terus menatap anak kecil itu, hingga ia berlalu dan tak nampak. Hari- hari berlalu, setiap pagi menjelang Ricki selelu membuka tirai jendela dan melihat ke pantai, pemandangan yang sama setiap harinya, melihat sosok gadis kecil yang selelu tertawa riang.


Hari terus berjalan, kali ini berbeda dari biasanya. Ricki membuka tirai jendela, Ia tak menemukan gadis kecil yang biasa ia lihat, senyum yang bisa mendamaikan hatinya. Tanpa di sadari ia berjalan keluar kamar dan menyusuri pantai mencari gadis kecil itu.


Matanya mencari ke setiap sudut, Ricki terus berjalan hingga sampai di ujung pantai yang di batasi oleh bebatuan besar, saat akan duduk ada tangan yang menggoyang kan lengan Ricki. Seketika Ricki menoleh betapa terkejutnya dia melihat gadis kecil yang ia cari.


Gadis kecil itu, memiringkan wajahnya menatap Ricki, hingga rambut panjangnya mengikuti kemana arah wajahnya. semilir angin memainkan anak rambut gadis kecil itu.


Ricki masih terdiam dan terpaku melihat kecantikan gadis itu.


Dengan senyum yang manis, gadis kecil itu melambaikan tangan nya. Senyum ramah gadis itu membuat Ricki terpana. Gadis kecil itu kembali menggoyangkan tangan Ricki. seketika Ricki tersadar.


"Mas, sepertinya aku baru melihatmu?" ucapnya dengan merapihkan anak rambutnya. Namun, Ricki tidak menjawabnya. Gadis kecil itu kembali bertanya.


"Mas, kamu tinggal di mana? sedang apa Mas di sini? jangan ke arah sana, kamu tahu? di sana ada hantunya! seperti ini suaranya. Aa, Aaaaa, aku datang, aku hantu," ucapnya dengan mengangkat kedua tangan dia atas dan bergaya akan mencekik Ricki. Sungguh gadis kecil yang sangat lucu, dan menggemaskan, Ricki sudah tersenyum dalam hati. Namun, bibirnya masih terdiam.


Gadis kecil itu, mulai mencoba bertanya dengan menggunakan alat peraga tangan nya. Dengan mahir dia terus menggunakan tangannya untuk mengajak Ricki berbicara.


Karena lelah akhirnya dia berhenti dan duduk di kursi kayu yang terbuat dari batang pohon mangga, ia duduk di bawah pohon kelapa.


"Kenapa diam saja? aku mengajakmu berbicara. Jawablah!" ucapnya. "Baiklah aku akan memperagakan tangan ku lagi, untuk berkenalan denganmu," ucap gadis itu pun dengan berdiri hendak memperagakan tangannya, namun terhenti.


"Tidak perlu!" ucapnya. "Siapa yang mengajarimu cara peraga seperti itu? sungguh sangat kacau," tanyanya kembali. Ricki baru dasar, ini pertama kalinya dia membuka suara, semenjak kejadian yang merenggut nyawa keluarganya.


Ketika, Ricki akan bertanya sesuatu tentang gadis itu. Namun, ucapannya ia urungkan. Karena, ada seseorang yang memanggil gadis itu.


" Nana............" panggil seorang laki- laki paru baya yang baru saja kembali dari berlayar.


" Oh, namamu Nana," ucapnya sambil menatap kepergian Gadis kecil itu.


Gadis itu pergi sembari melambaikan tangan nya, senyum masih merekah di bibirnya.

__ADS_1


"Besok, kita bertemu lagi yah ka!" ucapnya sambil berteriak.


Ricki hanya menganggukan kepalanya, dengan senyuman yang tersembunyi dari bibirnya.


...Bersambung......


Maaf jika banyak typo, otor asli saat ngetik ngantuk berat. Tapi, aku paksain up buat kalian🀧🀧😍😍


intermesso dulu 🀧


Tidak KuatπŸ€”


Hakim : "Apa sudah mantap ingin cerai?"


Paijo. : "Sudah pak hakim."


Hakim. : " Tidak menyesal?"


Paijo. : " Tidak pak hakim, saya sudah tidak kuat, siapa yang kuat berumah tangga, setiap hari istri keluyuran ke bar, diskotik dan karaoke."


Hakim. : "Apa istrimu suka mabuk- mabukan?


Paijo. : " Tidak pak hakim"


Hakim. : " Apa suka dugem atau ngdance?"


Paijo. : " Tidak juga pak hakim."


Hakim. : " Terus ngapain ke bar, diskotik, dan karauke?"


Paijo. :"Nyari saya pak hakim. Saya kan jadi malu sama teman- teman!!"


πŸ€”πŸ€­πŸ˜‚πŸ˜‚πŸƒπŸƒ


bantu jejak yah, semoga bisa menghibur.

__ADS_1


Salam sayang, Author 😍😍


__ADS_2