Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Membandingkan


__ADS_3

"Banyak hal yang harus kamu lakukan," ucap Ricki.


Yuna menoleh dan mengangguk, "Iya."


"Kamu itu wanita hebat, jadi tetaplah seperti itu."


"Apa menurutmu aku hebat?"


"Menurutku kamu sangat menyebalkan," sahut Ricki.


bukan marah Yuna justru tersenyum tipis, sikap itu membuat Ricky mengangkat satu alis. "Kenapa tidak marah?"


"Entahlah, aku juga tidak tahu. kalau bersama kamu rasanya bebanku berkurang."


"Tapi kalau aku bareng kamu, beban hidupku semakin bertambah," sahut Ricki.


"Kau menyebalkan."


Ricki diam sejenak, udara malam terasa begitu sunyi. Yuna mulai heran dengan sikap suaminya yang tiba-tiba diam.


"Kamu kenapa?"


Ricki menatap Yuna lekat, "Apa kamu akan melupakan aku, jika kamu telah berhasil melumpuhkan Erik dan Helena?" tanya Ricki.


sakit sekali rasanya Dia mengatakan hal seperti ini, tetapi dia sadar ini akan terjadi.


"Jika Edward sudah mengetahui semuanya, bukankah kita tidak bisa langsung bercerai, karena aku juga harus menemukan perempuan yang kamu cari itu?"

__ADS_1


"Tidak usah, Yuna. aku tidak akan mengganggu kamu, sudah cukup kamu hidup menderita karena terpisah dari pria yang sangat dicintai. aku tidak ingin menjadi Helena yang menjadi penghalang bagi hubungan kalian," ucap Ricki.


"Apa kau serius?"


"Iya. Jadi semangat ya." Ricki mengusap punfgy tangan Yuna.


"Maaf. Aku tidak bisa membantumu, aku hanya pria lem—"


"Aku sangat bersyukur bertemu denganmu."


"Demi cinta kalian, berusahalah Yuna."


Ricki mengangkat satu tangan ke atas dengan mengepal, dia menarik turunkan tangannya yang mengepal itu. "Semangat, Yuna. Semangat!"


Yuna memperhatikan wajah Ricki, dia memang akan berusaha untuk memperjuangkan cinta dia dan Edward. Namun, entah kenapa semangat dia semakin menyusut. Hatinya berdenyut nyeri, terasa sesak saat mendengar kesepakatan ini berubah, yang berarti pernikahan dan Ricki akan berakhir. Banyak yang sudah dilalui olehnya, hingga dia takut akan merasa kehilangan. Namun, dia harus fokus pada tujuan utama, tidak boleh goyah dan Edward adalah cinta pertamanya.


"Bagaimana jadinya jika tidak ada Yuna?" batin Ricki.


Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing, hingga keduanya diam.


"Dor!"


Jesica yang baru datang menepuk pundak Yuna dan Ricki secara bersamaan. Sehingga membuat dua orang itu tersentak kaget dan sadar dari lamunan.


"Dasar jin iptit," umpat Rickie.


"Yeh, jin Tomang."

__ADS_1


"Sesama jin jangan saling memuji," celetuk Yuna.


"Tumben diam-diam bae, biasanya seperti Tom and Jerry ribut mulu."


Jessica duduk di seberang mereka, memangku dagu dengan kedua tangannya, kemudian dia memiringkan wajahnya ke satu sisi, mengangkat sebelah alisnya. "Kalian sehat?"


"Sehatlah," sahut mereka bersamaan.


"Aneh aja kalau kalian diam-diam saja. Sakit gigi kah?"


"Tidak."


"Bisulan?"


"Emang ada orang bisulan duduk dengan nyaman seperti kita?" sahut Ricki.


"Itu buktinya kalian."


"Ih kalian tidak asyik deh. Tidak bisa diajak ngomong, kenapa sih?" tanya Jessica.


Kedua orang itu masih diam, Yuna melihat Jessica dengan tatapan kosong. Hidup dengan Ricki dia merasa sangat dianggap sebagai seorang menantu, baik mertua atau adik-adik ipar selalu baik padanya, sedangkan menikah dengan Edward dia memang sangat mencintai dia dan menikah dengan pria itu adalah mimpi terbesar, tetapi dia benar-benar takut kehilangan keluarga Ricki yang sudah sangat baik padanya.


"Jessica," panggil Yuna.


"Akhirnya kebuka juga tuh mulut. Apa?"


"Kalau seandainya Kakak dan Abangmu pisah, apa kamu masih mau jadi adik aku?" tanya Yuna.

__ADS_1


__ADS_2