Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Perang Dingin


__ADS_3

Yuna datang dengan sangat tidak percaya diri, Ricki memberi dia setumpuk pekerjaan yang membuat dia tidak sempat untuk merias diri. Tiba waktunya mereka akan berangkat ke tempat yang sudah dijanjikan Edward. Yuna menghampiri resepsionis, menanyakan apakah seseorang mengantarkan pesanan. Perempuan itu mengangguk, dia menyerahkan totebag yang berisi sepaket alat make up, dari klnik kecantikan langganan.


Ricki yang bisa menebak itu apa menghubungi sang sopir, tentunya dia merencanakan sesuatu. Pria itu berjalan acuh saat melewati Yuna. Dia berjalan lebih dulu, kemudian disusul oleh sang istri dengan senyum tipis. Sampai di parkiran, Ricki menyerahkan kunci mobil kepada Yuna. Perempuan yang berniat akan berdandan di dalam kendaraan itu pun, menoleh.


"Apa!" Mata perempuan itu melotot.


"Ya bawa mobil. Apa lagi," sahut Ricki dengan menggoyang kunci itu. Yuna masih tak bergeming, pria tersebut menyentuh tangan Yuna, membuka telapak tangan yang mengepal dan menyimpan kunci di tangannya.


"Buruan!" Ricki berjalan masuk ke dalam mobil.


Yuna yang sejak tadi bagi dibuat kesal pun menarik kasar tangan pria itu. Dia bertolak pinggang dan berteriak.


"Kamu itu kenapa gak pake sopir? Sengaja ya? Nih aku itu dari pagi dikasih kerjaan banyak sampe lupa makan, sekarang aku mau make up di mobil. Gak mau bawa mobil! Suruh sopir aja!"


"Orang sopirnya mules. Lalu gitu sama susulin," ucap Ricki acuh.


"Emang cuma ada satu? Pake yang lain lah . Kamu itu jangan mempersulit deh," omel Yuna.


"Siapa yang mempersulit. Aku cuma nyuruh bawa mobil. Gitu aja marah, apalagi kalau aku nyuruh angkat mobil kek Samson," selorohnya.


"Ngelawak ya? Haha. Gak lucu!" Yuna membuang wajah.


"Udah cepat sana jalankan mobil."


"Gak. Kamu aja!" Yuna bersikukuh menolak.


"Kamu itu ngeselin, ya. Sengaja ya biar aku terlihat jelek. Tanpa make up seperti orang yang gak mandi. Aku itu pengen terlihat cantik."

__ADS_1


"Ya elah. Gak usah dandan juga dah cantik. Harusnya dia bisa terima kamu apa adanya. Udahlah buruan sana."


"Gak. Nih, kamu aja yang bawa." Yuna menyerahkan kunci mobil, dia masuk ke kursi belakang.


Ricky tersenyum kecut, masuk ke dalam mobil dan duduk dibalik kemudi. Dia terus menggerutu, karena merasa semakin kesini hidup dia semakin menderita. Bagaimana bisa seorang direktur utama, menjadi sopir sekertarisnya sendiri.


"Pindah ke depan, emang kamu pikir aku sopir," titah Ricki.


"Gak mau!"


"Dasar istri durhalek."


"Bodo!"


Yuna tidak menurut, dia sudah benar-benar kesal pada suaminya. Ricki menjalankan mobilnya dengan terus melihat ke arah Yuna yang sudah mulai membuka paper bag. Mengeluarkan isi di dalamnya. Ricki tersenyum menyeringai di balik kaca kecil itu, Yuna tak menyadari perubahan ekspresi wajah suaminya.


Tak banyak yang digunakan, agar dia terlihat lebih fresh saja. Namun, saat perempuan itu mengenakan lipstik, Ricki dengan sengaja memberhentikan mobil secara mendadak. Sehingga listick itu menggores hingga mengenai pipi. Make up Yuna kembali berantakan dan itu membuat perempuan berambut pirang itu tak kuasa menahan diri dan berteriak.


"Hehe. Sorry, sorry. Tadi ada ...." Ucapan Ricki terhenti.


"Ada apa!" pengkas Yuna. "Tidak ada apa-apa, sengaja kan!" tuduhnya.


"Dih, masa sengaja. Ya gak lah." Ricki melihat ke belakang. "Eh, itu muka kenapa?" tanyanya sok polos.


"Masih tanya lagi. Ini semua karena kamu!"


"Wah jadi seperti badut Ancol ya. Lucu. Ya udah gitu aja," selorohnya.

__ADS_1


"Gitu apa?! Kamu udah gila? Dia itu orang yang istimewa, masa aku berdandan macam begini. Semua ini gara-gara kamu!" Yuna terus saja menyalahkan Ricki.


Pria itu tidak menjawab, dia kembali melajukan mobilnya dengan kecap tinggi. Tentunya agar segera sampai dan tidak memberikan Yuna kesempatan untuk berdandan. Mobil pun sampai di restoran ternama, tempat itu sudah sepi. Sudah bisa dipastikan Edward yang melakukan ini semua. Ricki berjalan dengan menggandeng Yuna. Perempuan itu yang kini sedang kesal, segera menepis. Namun akan ada seribu satu cara untuk Ricki agar sang istri mau menurut.


"Kamu harus nurut, karena jika tidak orang-orang jahat di luar sana akan curiga. Dan ingat, jaga sikapmu. Berlaku baiklah jadi istriku, karena ini semua demi penyamaran," ucap Ricki.


Perempuan itu awalnya ingin menolak, tetapi apa yang dikatakan oleh Ricky ada benarnya. Sehingga dia patuh dan menurut. Kehadiran mereka sudah disambut ramah pria asal kelahiran Inggris itu. Melihat Edward mengenakan pakaian rapi dan sangat tampan membuat jantungnya kembali bergetar. Namun, teringat dengan wajahnya yang tampan pucat, sehingga membuat dia menundukkan pandangan saat menjabat tangan pria itu.


"Apakah Anda sakit Nyonya?" tanya Edward ketika Yuna mendaratkan tubuhnya di sofa.


Yuna hendak membuka suara, tetapi sudah didahului oleh sang suami.


"Oh, iya. Istriku kasian sekali wajahnya sangat pucat."


"Kalau begitu tidak usah kerja, sebaiknya kita bawa ke dokter," usul Edward.


"Aku juga meminta dia untuk tidur di rumah, tetapi selalu memaksa untuk istirahat. Tapi dia selalu menolak."


Edward mengarahkan pandangannya ke arah Yuna yang sejak tadi diam saja.


"Sebaliknya Anda jangan memaksakan diri. Harus sayang pada badan."


Perhatikan kecil itu benar-benar sangat dirindukan, dia akan menjawab tapi lagi-lagi Ricki mendahului.


"Sebenarnya dia tidak benar-benar sakit," ucO Ricki.


"Tapi wajahnya pucat."

__ADS_1


"Soal itu, istriku sedang hamil," jawab Ricki membuat Edward seketika mematung.


Rasanya ada sakit di dada, padahal dia sadar bahwa Yuna bukanlah istrinya. Namun dia berusaha untuk bersikap biasa saja. Harus bisa menyembunyikan kesedihannya. Berbeda dengan Yuna, perempuan itu menoleh ke arah Ricki.


__ADS_2