
Dengan senyum seringai yang menghiasi wajah Helena. Tepat di acara hiburan dia naik ke atas panggung, dengan penuh percaya diri mengenalkan tamu istimewa dan nama Yuna diseret menjadi salah satu tamu itu. Dia meminta Yuna untuk naik ke atas panggung untuk bernyanyi, hal itu sontak membuat Yuna yang sedang duduk di bawah pohon tersentak kaget. Matanya terbelalak tidak percaya begitupun dengan Ricki. Segera dia berlari menuju tempat Yuna berada, khawatir karena dia tahu seperti apa suara Yuna saat bernyanyi di kamar mandi.
Edward tidak kalah terkejut, dia meminta Helena turun dengan memberikan isyarat menatap tajam ke arah perempuan itu dan menggerakkan satu tangan di udara. Bukan menurut, Helena justru berbisik pada saah seorang operator, untuk menyoroti Yuna dengan cahaya sehingga semua pandangan tamu tertuju pada Yuna. Dia terus memanggil nama Yuna agar segera naik ke atas panggung. Baru saja Yuna beranjak dari duduk, Ricki yang baru datang mencegah dengan menarik pergelangan tangan Yuna.
"Sebaiknya kamu abaikan dan kita pulang," ajak Ricki.
"Aku berpikir begitu tapi dia pasti memiliki satu alasan untuk ini, aku harus maju," jawab Yuna.
"Yuna sadar dirilah sedikit, bahkan suara panci jatuh saja terdengar lebih indah dari suaramu," cicit Ricki. "Ayo pulang!" Pria itu bersikukuh.
"Tidak!" tolak Yuna dengan menepis tangan Ricki.
"Kau akan mempermalukan dirimu, Yuna?"
"Aku akan membuktikan pada mereka!" sahut Yuna.
"Membuktikan apa? Bahwa kamu memiliki seperti seekor bebek?" ucap Ricki mengusap wajahnya dengan telapak tangan.
Yuna berdiri di samping Helena dan membungkuk hormat setelah itu dia tersenyum tipis di atas panggung kepada semua tamu undangan. Sedangkan Helena tersenyum menang dan melirik sinis ke arah perempuan yang sudah berada di atas panggung, bebeda dengan Yuna yang tersenyum tipis dan terlihat sangat tenang.
"Nyonya Ricki, Anda juga bisa menggunakan keyboard," ucap Helena.
Yuna hanya mengangguk, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Hal yang tidak mungkin dilakukan oleh Anastasya. Helena menatap Yuna dengan sinis, dia bergumam di dalam hati. "Dengan begini aku bisa membuktikan bahwa dia Anastasya atau bukan."
"Kenapa masih di sini? Apa ingin bernyanyi bersamaku?" tegur Yuna. Helena tersadar dari lamunan, dia pergi meninggalkan tanpa mengucap satu kata pun.
__ADS_1
Di atas panggung dia hanya diam, membuat para penonton tidak sabar. Seseorang datang menghampiri dan meminta perempuan itu untuk duduk di kursi di depan keyboard. Bagai dihipnotis dia hanya menurut dan menyentuh barisan not itu dengan jari yang lentik, sehingga menghasilkan suara. Diantara kerumunan, Ricki berdiri dengan meringis, dia siap menutup kedua telinganya.
"Dasar bodoh! Kenapa harus melakukan sesuatu yang akan membuat kuping orang retak," gerutunya.
Nada yang ditekan oleh jari yang lentik menghasilkan bunyi suara yang membuat semua orang abai, tetapi berbeda dengan Ricki yang saat ini mengusap pelipisnya yang mulai bercucuran keringat, begitu sangat banyak hingga jika diusap dengan sapu tangan bisa diperas. Jantung Ricki berdegup lebih kencang, Yuna yang bernyanyi dia yang kelimpungan.
"Harga diri sebagai seorang suami sejati akan ternoda dengan suaranya yang hancur. Bersiaplah Ricki." Pria itu terus bermonolog.
Alunan musik lembut yang mengalun membuat semua orang diam terpana. Para tamu yang tadi abai mulai fokus ke depan ketika suara perempuan yang sedang bernyanyi dengan suara yang indah. Yuna bersenandung dengan memejamkan mata, suara itu cukup memikat. Ricki perlahan menjauhkan kedua tangan yang sejak tadi menutup telinganya. Bukan hanya terpesona dengan suara indah perempuan itu, akan tetapi lirik dari lagu yang diciptakan Melly Goeslaw itu menyentuh hati.
Tiada yang bisa kuberi demi cinta hanya pengorbanan
Walau tersiksa namum demi cinta bahagia aku rela
Tak pernah kubayangkan takdirku mengantarkan pada janji
Bait itu cukup membuat Ricki tersenyum getir. dia bukan pria yang bodoh yang tidak mengerti makna yang tersirat. Hatinya tergores, tetapi dia tidak ingin tenggelam lebih dalam. Meski lagu yang dinyanyikan memiliki makna yang mendalam akan cinta segitiga. Namun ada hal yang membuat dia lega setidaknya dia tenang karena suara Yuna tidak merusak gendang telinga semua orang.
Pria itu mengangkat kedua tangan dan bertepuk dengan sangat keras dan diikuti oleh banyak orang. Semua terpesona dengan suara indah itu tak terkecuali Edward. Akan tetapi ada dua orang yang terlihat tidak senang. Siapa lagi kalau bukan Ibu Edward dan Helena.
"Helena, kau masih ingat, kan? Ana tidak pernah bisa bernyanyi. Sedang dia?"
"Tapi aku yakin dia itu adalah Anastasya, Mom."
"Kau lihat tingkah perempuan itu yang terlihat sangat narsis," seru perempuan berpakaian glamor itu dengan mengarahkan wajah ke arah Yuna yang sedang tersenyum lebar dengan melambaikan tangan seperti seorang artist setelah selesai membawanya lagu.
__ADS_1
"Anastasya sangat Anggun dan elegan sedang dia? Pecicilan!"
"Tapi ...." Ucapan Helena terpotong.
"Aku tidak ingin membahas tentang Anastasya. Sekarang kamu fokus saja pada pernikahan," ucapnya dengan berlalu.
"lagi!"
"Nyanyi lagi!"
Semua tamu bersorak, Yuna mengambil mic yang dipegang MC .
"Wani piro?" Yuna berkata dengan tertawa. "Bagaimana kalau kita dangdutan?" tawar Yuna.
"Oh, Tuhan. Bagaimana bisa dia mengajak semua tamu dangdutan." Ricki mengusap wajah dengan kasar.
"Tapi tidak apa. Lumayan nanti dapat saweran." Ricki terus saja berbicara di dalam hati.
Semua tamu saling bertatapan, pesta yang elite seperti ini bagaimana bisa bisa menjadi acara dangdutan. Merasa pesta akan di rusak oleh orang lain, Helena berjalan cepat naik ke atas panggung dengan mengangkat gaunnya tinggi-tinggi, dia merampas mic yang dipegang Yuna.
"Dasar udik!" umpatnya dengan mendorong Yuna hingga jatuh.
"Dasar Mak Lampir, gue gibeng juga nih!" Tidak terima diperlakukan seperti itu, Yuna beranjak dan siap menerkam Helena, dengan cepat Ricki datang dan menarik istrinya yang akan betingkah bar-bar dan membawanya turun.
"Maaf atas kekacauan ini. Namanya juga perempuan kampung," ucap Helena.
__ADS_1
"Apa lo bilang? Anj ...." Ricki dengan cepat membungkam mulut Yuna.
Ibu Edward melihat keributan itu, dia sekarang yakin bahwa perempuan yang mirip dengan Anastasya itu bukanlah sosok perempuan yang akan mengancam kehidupannya.