Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Amarah Yuna


__ADS_3

Udara sejuk masih menyelimuti, bias sinar mentari meredup pagi ini. Pagi ini sang mentari enggan menampakkan keagungan nya untuk menghangatkan pagi. Air kesucian menetes dari langit mengiringi merdunya hembusan angin yang memaksa dedaunan untuk bertabrakan. Pagi yang sendu, se sendu hati penghuni rumah besar kala ini.


Seseorang masih setia tertidur dengan memegangi tangan seorang wanita cantik yang tengah terbaring lesu. Pria itu masih setia dengan duduknya.


Seorang wanita cantik mulai mengerjapkan matanya, Yuna membuka matanya Yuna melepaskan genggaman tangan seorang laki- laki tampan itu, seketika dia terbangun dengan senyuman yang merekah di bibirnya.


"Apa keadaan mu sudah membaik? kenapa kau bisa sampai terluka dan kemana James?" Ucap seorang pria tampan itu.


"Aku baik- baik saja, tidak perlu khawatirkan aku. Aku pikir semalam sudah kembali. Untuk apa aku di infus dan di transfusi darah, sebaiknya segera lepaskan ini semua aku ingin jalan-jalan. James dia mengantarkan sela ke L.A." Ucap Yuna dengan mencoba untuk duduk.


" Di luar masih gerimis, luka mu belum kering jangan banyak membantah! turuti perkataan ku. Kemana saja selama ini Ana? Aku mencari mu namun tidak bisa menemukan mu. Tiba- tiba aku di beritahu kau terluka dan di ajak ke rumah ini. Siapa laki- laki yang bersama kamu semalam dan ini rumah siapa?" ucapnya dengan membantu Yuna untuk duduk.


" Aku akan menceritakannya tapi kau jangan salah paham, dia adalah suami ku, namanya Ricki. kami menikah atas kesepakatan, kau tahu sendiri semua perusahaan keluarga ku di ambil Erik. Awalnya aku sudah merelakan nya, tapi aku sudah habis kesabaran dia mengambil beberapa perusahaan- perusahaan dengan cara licik dan saat ini dia akan berlaku curang terhadap perusahaan suamiku. Aku juga tidak akan membiarkan nya hidup bahagia akan ku buat dia hidup menderita." Ucap Yuna dengan mengeratkan gigi-giginya.


" Kenapa kau jadi kejam begini Ana? Kemana Ana ku yang lembut dan ceria." Ucap laki laki tampan itu.


"Siapa yang kau sebut kejam. Aku? Cih..., Erik telah merenggut nyawa adik ku dia juga yang menyebabkan kecelakaan pada keluarga ku hingga orang tua ku harus kehilangan semuanya bahkan wajah asli mereka. Selama ini aku diam, aku ingin hidup tenang. Tapi, mereka selalu mengusik kehidupan ku." Ucap Yuna dengan penuh amarah.


"Dendam itu akan merusak dirimu, kembalilah pada Ana ku yang dulu aku merindukan senyum ceria mu." Ucap nya dengan sesekali menepuk- nepuk tangan Yuna.


" Aku sudah mengubur semua tentang Ana, aku adalah aku bahkan kau tahu semalam sudah berapa nyawa yang terbunuh di tangan ku, kau tidak percaya bukan aku melakukan semua nya tanpa ragu." Ucap Yuna dengan tersenyum semrik.


" Berhentilah! kenapa kau menjadi wanita yang kejam seperti ini Ana, tidak perlu kita nanti pun akan ada yang membalas mereka. Jangan kau terpengaruh oleh James, dia itu terlatih untuk membunuh. Apa kau tahu betapa sulit nya Tuhan menciptakan manusia. Sadar lah Ana." Ucap pria tampan itu dengan menggoyang kan tubuh Yuna.


" Siapa! siapa, aku tanya? yang membalas perbuatan Erik hah? Apa kau tahu seberapa sakit nya aku melihat kakek terbunuh, seberapa sakit aku mendengar adik ku tewas kecelakaan dan seberapa menderitanya hidup ku karena ulah Erik dan apa kau tahu? aku melihat Sena adik kandung sahabat ku mati terbunuh oleh Erik dengan sangat mengenaskan. Apa aku harus memaafkan dan membiarkan iblis itu terus hidup senag dan bahagia hah? bahkan kata iblis saja masih terlalu bagus untuk menjulukinya." Ucap Yuna dengan penuh amarah dan berderai air mata.


" kau ingat bukan saat kita mengaji dulu, apa kata pak Ustadz ? Alloh maha adil, apa yang kita tanam itu yang akan kita petik. Bersabarlah, Tuhan bersama kita. Ku mohon sadarlah." Ucap nya dengan mencoba memegang tangan Yuna namun Yuna menepisnya.


" Aku manusia biasa, kesabaran ku ada batas nya dan berhentilah menggurui ku." Ucap Yuna dengan membuang muka.

__ADS_1


" Sabar itu tidak ada batasnya, tapi kita lah yang membatasinya. Jika kau ingin bersabar sedikit saja mungkin Tuhan akan memberikan kebahagiaan yang tidak pernah kau sangka. Menangis lah jika itu bisa membuat mu lebih baik," ucapnya dengan membelai rambut Yuna.


" Kau, berbicara begitu bijak apa kau sudah berdamai dengan kedua orang tua mu? bukan kah kau tahu Ridho Alloh terletak pada Ridho orang tua, jika kau saja tidak bisa berdamai bagai mana hidup mu bisa di Ridhoi." Ucap Yuna dengan senyum mengejek saat ini Yuna telah berada di pelukan laki- laki tampan itu.


" kau ini selalu menyebalkan, untuk apa aku mengikuti jalan orang tua yang salah, aku hanya ingin hidup normal tidak pernah ingin terikat oleh nama keluarga ku. Menjadi seorang dokter adalah pilihan ku meski dalam seumur hidup mereka akan membenci ku. Hey...,apa pelukan ku begitu sangat nyaman hingga kau betah dalam dekapan ku." Laki- Laki itu mencubit hidung Yuna gemas.


Di tempat yang berbeda Ricki sedari subuh sudah mencoba membuatkan bubur untuk Yuna dengan dapur yang sangat berantakan karena ulah nya, dengan semangat ia terus bernyanyi dan berdendang ini kali pertamanya bergelut di dapur banyak sampah berserakan di mana- mana. kapal meledak saja kalah berantakan nya dengan dapur kediaman Ricki saat ini, dia juga sudah mengupas kan buah- buahan untuk Yuna.


" Yuna pasti senang aku buatkan bubur, ini bubur yang sangat istimewa untuknya. Bahkan ibuku saja belum pernah aku masak kan saat sakit, " ucap nya penuh semangat dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.


Dengan penuh semangat Ricki membawa nampan berisi buah segar, satu mangkuk bubur dan air di dalam gelas. Ia memegang gagang pintu kamar Yuna penuh semangat. Namun, saat ia membuka pintu ia melihat pemandangan yang membuat nya tertegun. Saat itu Yuna tengah di peluk oleh seorang laki- laki tampan yang belum ia ketahui apa hubungan nya dngan Yuna. Ia melihat senyum merekah dari bibir Yuna yang tak pernah Yuna perlihatkan padanya.


Ricki kembali menutup pintu kamar Yuna dengan kesal ia kembali menyimpan nampan bawaannya di meja makan dan berlalu pergi.


Selang beberapa waktu Yuna keluar dengan laki- laki yang menemaninya, mereka berjalan beriringan menuju taman belakang kediaman Ricki. Yuna duduk di ayunan kayu dengan si pria itu di belakang yuna dengan terus mengayuh kan ayunan yang di tumpangi Yuna.


" Sudah lama aku tidak menikmati keindahan dan kesejukan alam, aku terlalu sibuk dengan semuanya." Ucap Yuna yang sesekali menengok ke belakang mengajak bicara pria tampan itu.


" Karena ini lah hidup, kau harus menikmati hidup itu pilihan kau memilih hidup dengan menikmati proses nya dengan menikmati alam atau keu memilih hidup dengan menguasai matahari."


" Aku mengerti arah bicaramu, aku tidak akan menguasai matahari Karan aku tidak akan sanggup dan aku juga bukan orang yang hanya menikmati proses, aku membutuhkan hasil nya. Berhentilah menggurui ku, aku tetap pada prinsip ku." Ucap Yuna sinis.


" Terserah, aku hanya menasehati mu. Asal kau menjamin bahwa kalian akan selamat sampai akhir." Ucap nya dengan menyunggingkan senyuman.


" Kak Rey, apa kita bisa seperti dulu lagi? aku rindu suara nyanyian mu dan alunan gitar mu." Ucap Yuna dengan tatapan sendu.


Saat pria tampan itu akan menimpali pun terhenti, saat bik Ami datang membawa sebuah nampan berisi bubur yang tadi di bawa Ricki.


......Bersambung.........

__ADS_1


Intermesso.....


Pada salah satu pelabuhan laut di Tanah Papua, sedang berbincang tiga orang pria yang sedang menunggu datangnya kapal penumpang, untuk menjemput sanak familinya. Ketiga pria tersebut berasal dari daerah yang berbeda, antara lain dari Ambon, Batak dan Manado.


Sebelum perbincangan dimulai, ketiganya memperkenalkan diri masing-masing, maklum baru saja kenal, sambil bersalaman. Pria yang dari Ambon memperkenalkan dirinya kepada pria yang asal Batak : “Bakarbessy,” sambil jabat tangan. Pria Batak menjawab sambil jabat tangan pula dengan menyebut dirinya : “Batubara.”.


Pria yang asal Manado ini sambil kebingungan melihat kiri dan kanan, setelah mendengar kedua rekannya tadi masing-masing menyebut barang panas. Tanpa berpikir banyak pria Manado tadi sambil jabat tangan mengucapkan “Air Mandidi.”


***


😂😂😂🤫


Udah ketawanya.. jangan kelamaan PEPSODENT naik lagi💃💃


Sekarang penting,


Bantu jejak akak sayang💕💕


like 👍


coment


vote


tips boleh banget😍😍


Bantu share sangat di perbolehkan.


salam sayang dan cintah dari othor,💃💃💞💞

__ADS_1


__ADS_2