Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Kecelakaan Dimasa Lalu


__ADS_3

Kalung hadiah pernikahannya dari sang kakek, kalung berlambang bintang yang bersinar dihiasi berlian di tengah dan sisiannya. Kalung yang dirancang khusus dan hanya dia yang memilikinya. Ana tidak pernah melepasnya kemanapun dia pergi, kalung itu selalu melekat pada leher jenjangnya.


Edward mengambil kalung dari pria di hadapannya, tanpa permisi ia pergi. Baginya, mendengar penjelasan polisi hanya akan mebuatnya semakin sakit.


***


Derap langkah seorang wanita, memecah keheningan rumah sakit. Tetesan suci dari pelupuk matanya bercucuran membasahi lantai. Tidak ada tempat untuk bersandar, saat ini. Hatinya, benar- benar hancur. Kabar kecelakaan orangtuanya mengguncang jiwanya.


Haris Sekretaris pribadi sang Ayah  menghampiri Ana yang tengah berdiri tepat di depan ruang operasi. "Anda sudah datang, Nyonya?" sapanya. Ana menatap tajam pria paruhbaya yang masih tampak gagah itu.


Ana hanya menganggukan  kepalanya, tatapannya penuh tanya. "Maaf, saya tidak menunggu persetujuan anda, kondisinya kritis dan wajah orang tua anda rusak  kami harus melakukan tindakan operasi secepatnya. Kami juga sudah mendatangkan dokter spesialis ahli," jelasnya. 


Pikiran gadis berparas mungil itu sudah kacau mendengar keadaan orang tuanya sedang kritis dan entah bagaimana kabar tentang dirinya di negara Paman Sam itu, semua sudah ia pasrahakan kepada James.


"Terimakasih, lakukan yang terbaik! Aku hanya ingin mereka selamat! Lalu, bagaimana kabar adikku?" tanyanya. Arya baik- baik saja. Ana hanya menganggukan kepalanya. 


Hatinya masih bergemuruh, terasa sakit di ulu hati, seperti tangah terjadi sesuatu. Bukan soal Edward dan orangtuanya. Karena, dia tengah tahu kenyataannya. Tapi entah  kenapa hatinya semakin sakit. Ia teringat akan adiknya Andra yang saat ini berada di Yogyakarta. 


"Paman …," panggilnya. Seketika sang paman yang tengah berdiri tepat di sampingnya membungkukkan kepalanya. "Ada apa Nyonya?" tanyanya. "Apa Andra sudah diberi tahu?" Haris teringat Sesuatu, seharusnya Andra lebih cepat sampai di banding Ana. 


"Saya sudah mengabarinya prihal kecelakaan nyonya besar, tapi sampai saat ini belum ada kabar," jelasnya. "Bagaimana bisa hanya dari Yogyakarta ke Bandung itu tidak mungkin membutuhkan waktu selama ini!" nampak gurat kepanikan dalam diri Ana.


"Maaf, nyonya. Aku terlalu fokus pada keadaan Tuan dan nyonya besar," jelasnya. "Apa paman masih kekurangan orang?" pertanyaan itu seperti sindiran yang membungkam semua alasannya. "Cepat! Cari keberadaan adikku!" titahnya dengan tatapan yang dingin.


Haris segera meninggalkan tempanya, saat ini berurusan dengan nyonya muda di hadapannya sangat percuma. Ia mulai sibuk dengan ponselnya. Ia tidak berani menampakan wajahnya di hadapan Ana sebelum mendapatkan kabar baik tentang adiknya.


Ana masih terlihat frustasi bagaimana bisa keluarganya terancam bahaya. Bahkan nyawa mereka sangat di pertaruhan saat ini, dia menyesal tidak mendengarkan amanat kakeknya yang melarangnya menemui keluarganya. 


"Musuh selalu mencari kelemahan kita," kata- kata kakeknya itu terekam baik dalam ingatan Ana. Jika saja musuhnya tidak tahu tentang siapa keluarganya mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. 


Beberapa jam telah berlalu, belum ada seorang pun Dokter yang keluar dari ruang operasi.  Tiba- tiba terdengar ketukan sepatu sangat nyaring terdengar membentur lantai, seorang pria dengan wajah yang tampak panik dan tersirat ketakutan dari wajahnya. Ia menghampiri Ana yang tengah terduduk dengan memegangi pelipisnya.


"Nyonya ..,panggilnya. Seketika Ana mendongakkan kepalanya, "Ada apa?" tanyanya, "Maaf ..., ucapnya lirih.


Ana memicingkan matanya mencoba membaca dari sorot mata pria paru baya di hadapannya. Ia sudah bisa menebak, Hati Ana sudah bergetar tidak karuan ingin rasanya ia pergi dan berlari dari kenyataan ini pikirannya sudah melayang entah kemana. 


"Tuan …" ucapannya terputus karena bentakan Ana. "Katakan!" Matanya menatap tajam, "Tuan Muda Andra mengalami kecelakaan dan  kami tidak bisa menemukannya di dekat mobilnya yang terbaka," jelasnya.

__ADS_1


"Astaghfirullah!" Ana sudah ingin berteriak, ia hanya bisa beristighfar atas semua kejadian ini. Ia sudah tidak memiliki hati lagi untuk bertahan. 


Saat ini emosinya sudah tak tertahankan, ia memegangi kedua tangan Sekretaris ayahnya dan menggoyangkan kedua tangannya. "Katakan ini tidak benar, Paman!" Isak tangis sudah nyaring terdengar. 


"Katakan ini mimpi kan?!" tanyanya kembali. Pertahanannya sudah goyah Ana terduduk lemas. Kakinya sudah tidak mampu menopang berat tubuhnya. "Paman, katakan bahwa semua ini mimpi!" tubuhnya bergetar hebat.


Haris sudah tidak tega melihat keadaan ini, ia juga tidak tahu harus harus mulai dari mana menceritakan kabar Andra pada Tuan dan Nyonyanya saat mereka sadar. 


***


Seketika tangisan itu kembali membasahi wajah Yuna yang tengah terduduk. Ricki menatap dengan dalam ia tidak tahu harus bagaimana membuat istirnya kembali tersenyum. Jika dia harus berdandan seperti perempuan sepanjang malam dia rela asalkan ia dapat menghapus air mata Yuna saat ini. 


"Jadi, semenjak kejadian itu kau tidak kembali?" tanyanya. "Tidak!" jawabnya dengan tatapan sendu.


"Apa sampai saat ini adikmu tidak di ketemukan?" pertanyaan itu seperti membuka luka lama. Sesak kembali ia rasakan. "Entahlah, mobilnya hangus terbakar. Ia dikabarkan meninggal dunia. Tapi, sampai saat ini jasadnya tidak ditemukan. "Sudahlah, aku tak ingin mengingatnya!" 


"Kenapa baru sekarang kau menghubungi James?" tanyanya. "Kau sungguh cerewet!"  Yuna mendengus kesal. "Aku hanya ingin merebut apa yang sudah di Rampas olehnya!" tegasnya, matanya tersirat dendam yang sangat besar.


"Ana …," masih ada pertanyaan yang ingin ia sampaikan. "Apa?!" tanyanya sinis. "Aku melihat kau hidup sederhana? Bukankah aku dengar orangtua Nona Ana memiliki perusahaan besar?" Yuna menganggukan kepalanya.


"Kau ingat? Helena mengajak kerja sama dengan mu? Nah, itu adalah perusahan Ayahku!" jelasnya. "Bagaimana bisa?" tanyanya kembali.


"Sudahlah! Itu akan ku urus dengan James!" Ricki sudah tak ingin banyak bertanya lagi prihal masalahnya. "Semua sudah jelas, bukan?" tanya Ana. Ricki hanya mengangguk pelan. "Aku harus datang di acara pertunangannya!" 


"Apa kau akan menggagalkannya?!" tanyanya penuh penasaran. "Aku tak sebodoh itu! Aku ikuti alurnya dan jaga rahasiaku dengan baik, tidak boleh ada seorang pun yang tahu siapa aku sebenarnya, kau paham?!" tegasnya.


"Kau tenang saja!" Apa kau masih sedih?" tanyanya. "Apa yang akan kau lakukan jika aku sedih?!" tanyanya sinis. "Ayo kita bermain tebak- tebakan?!" Ajaknya penuh semangat.


"Aku bukan anak kecil! Kau pikir aku bisa tersenyum dengan kau mengajakku permainan anak-anak. Yuna memutar bola matanya. 


Ricki tetap bersemangat, ia hanya ingin melihat istrinya tertawa.


"Kau tahu? tanyanya, "Apa!" jawab Yuna sinis. "Siapa artis yang belum menikah?" tanyanya dengan tersenyum. "Mana ku tahu! Mana ada waktu aku mengurusi urusan orang!" gerutunya, "Agnes Gamonica," jawabnya dengan terkekeh, Yuna hanya memutar bola matanya. "Agnez Monica, dodol!" sentaknya.


Ricki tak menyerah ia kembali pada tebakan selanjutnya. Siap? Kau harus bisa jawab!" ucapnya. "Kau yang bikin tebakan yah, kau yang jawab! Masa aku sungguh merepotkan!" sungut Yuna. 


"Astaghfirullah, wanita ini! Apa saat dalam perut ibunya ngidam cabe sekarung, pedas sekali mulutnya!" Ricki bergumam, "Apa kau bilang!" Yuna menatap tajam.

__ADS_1


"Tidak! Aku berfikir bahwa kau cantik hari ini!" elaknya. "Jangan sering menatapku nanti kau jatuh cinta pada pesonaku!" Ricki hanya menghembuskan nafas kasarnya mendengar wanita yang sangat percaya diri ini.


"Lanjut!" Pintanya, "Wah, kau menungguku kan?" ejeknya. "Tentu saja, tidak! Tebakan murahan!" ucapnya dengan membuang muka.


"Wanita besar gengsi!" Yuna memelototi suaminya, Ricki seketika ia bergerutu dalam hati, "Mata bulat begitu, melotot! seperti biji jengkol!" 


"Aku lanjut yah?" senyuman melekat indah pada pria tampan ini. "Lanjut saja! Apa peduliku!" ucapnya masa bodo tapi Yuna diam- diam sangat antusias dengan tebakan suaminya.


"Siapa aktor yang gampang emosian?" tanyanya, "Kamu menyindirku!" Yuna menatap tajam. "Astaghfirullah, pria berparas tampan itu mengusap dadanya. Tingkah istrinya sungguh sangat menyebalkan. "Sudah! Tidak usah dilanjutkan!" Ricki hendak beranjak pergi.


"Benarkan kau menyindirku!" Yuna mengerucutkan bibirnya. "Memangnya kau aktor?!" Ricki tampak kesal. "Bukan?" jawabnya polos. Ricki sudah tidak bisa membawa dirinya melihat istrinya yang begitu sangat menggemaskan dengan ajah polosnya.


Ia melenggang pergi, ia hanya takut tidak bisa menjaga dirinya, bagaimana pun dia pria yang normal.


"Kau mau kemana? Lalu, jawabanya apa?" tanya Yuna. "Pikirkan saja! Itu PR!" ucapnya seraya meninggalkan Yuna yang tampak kebingungan.


"Katanya permainan anak kecil! Tapi, penasaran juga kan! Dasar wanita besar gengsi!" Ricki menggerutu sambil berjalan keluar kamar.


END


intermesso 🤔


Masih bulan cinta🤧 buat yang punya cinta dalam hati selalu semangat mengejar doi🤧


Apa persamaan Cinta dan hutang?🤔 menurut otor sih, sama- sama susah tidur. Kalo cinta ga bisa tidur karna mikirin ketemu doi🤔 kalo hutang mikirin kabur dari kang kredit panci😂


tahu ga persamaan teh hangat sama hati aku🤔 sama- sama jadi dingin karna terus di diemin🤧🚶🚶


Cinta itu satu kata berjuta makna beda sama hutang satu kata berjuta alasan😂😂🏃🏽‍♀️🏃🏽‍♀️


Dah, lah. Sekarang jejakin 😌


Like


komen


vote

__ADS_1


tips


Jagan lupa klik fav.😍😍


__ADS_2