Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Pengkhianatan tak Terduga


__ADS_3

Yuna diam memaku di anak tangga ke tiga. Entah kenapa percakapan Ricky dan Jessica sedikit mengganggu hatinya. Dia tahu jika seseorang diantara mereka ada yang jatuh cinta, maka pernikahan ini akan segera berakhir dan sebelum itu terjadi dia ingin memastikan bahwa semua kasus ini telah berakhir.


Yuna berdehem, membuat Ricky kalangkabur. Dia tampak salah tingkah beberapa dengan Jesica yang santai bahkan hendak melanjutkan percakapan jika saja sang kakak tak menginjak kakinya.


"Sakit," desis Jesica dengan menatap tajam.


"Kamu mau kemana, Yuna?" tanya Ricky saat melihat sang istri sudah mengenakan pakaian yang rapi.


"Pergi ke rumah James?" Jawabnya dengan kembali melangkah.


"Malam-malam begini menemui pria? Yuna aku tahu kami sebenarnya orang kaya raya dan seorang nyonya Edward. Tapi bisakah kamu tetap di rumah, ini tidak akan baik jika ada yang lihat. Bagaimanapun kamu itu istriku. Paham nggak sih?"


"Aku sedang pusing, tolong jangan menambah beban pikiranku dengan ocehanmu itu. Berhentilah bertingkah menjadi suami yang sesungguhnya. Dan, jangan halangi langkahku."


"Yuna, aku benar-benar tidak habis pikir. Sekarang kamu sangat berbeda, tidak seperti Yuna yang aku lenal."


"Karena nyatanya aku bukan Yuna tapi Anastasya!"


Yuna tetap melangkah, niat hati ingin meminta izin baik-baik malah mendapatkan ceramah.

__ADS_1


"Yuna, tunggu!" Ricky terus berusaha menahan istrinya agar tidak pergi. Yuna yang sudah berdiri tepat diambang pintu pun menoleh.


"Dapat izin ataupun tidak aku akan tetap pergi."


Yuna kembali menatap lurus ke depan dan berjalan meninggalkan rumah.


"Ini nih, contoh istri durhalex," sungut Ricky.


"Ya ini ini, contoh suami bucin tapi gengsian," cicit Jesica. Ricky menatap adiknya dengan tajam.


"Idih biasanya merong kek ******, harusnya kakak tuh bilang, Oh Yuna Sayang, jangan pergi. Malam ini aku ingin menghabiskan waktu bersamamu, Sayang. Tolong, aku sebenarnya sangat khawatir."


"Diam!" bentak Ricky.


***


Yuna melanjukan kendaraan dengan kecepatan sedang, bayangan percakapan Ricky dan Jesica masih berputar di kepala bagai kaset kusut.


"Jadi sampai detik ini dia masih memikirkan teman masa kecilnya?" gumam Yuna.

__ADS_1


"Astaga! Apa yang aku pikiran, apa yang aku pertanyakan? Apa peduliku, mau dia ingat teman masa kecil kek, mau dia balikahi kek, persetan. Lebih bagus malah, dengan. begitu aku bisa kembali pada Edward." Yuna menggelangkan kepalanya dengan cepat.


Tidak berapa lama mobil yang dikendarai sudah sampai di mansion yang ditempati James. Sebenarnya iti adalah mension rahasia miliknya. mereka berdua janji bertemu di tempat ini untuk membicarakan Sella yang telah diculik oleh Erik. Mengingat itu kepala Yuna kembali diserang rasa pusing. Dia berjalan memasuki rumah yang memiliki banyak sekali penjaga. Dia memasuki rumah yang tampak sangat gelap dan sepi. Tidak ada James di sana dia sudah bisa. menebak ada di mana mantan asisten pribadinya sekarang berada.


Yuna berjalan menuju. sebuah ruangan rahasia yang memiliki pintu dari baja. Untuk membuka pintu itu harus menggunakan sidik jarinya.


Benar saja, saat pintu itu terbuka James tengah duduk, satu tangannya memegang pistol dan satu lagi membersihkan sejata andalannya.


"James," panggil Yuna. Pria itu menoleh dan menodongkan pistol ke arahnya.


"Sekarang nyawamu ada padaku, Nona!"


Yuna mundur satu langkah, otaknya mulai bekerja cepat. Mungkinkah James juga akan mengkhianatinya? Dan, apakah James juga menginginkan nyawanya seperti yang lain?


******


"Aku kembali. Ada yang nungguin gak?"


"Bodo amatlah, Thor. Lu mau update kek, kagak kek, gue gak duli."

__ADS_1


"Wkwkwk. Aku update buat yang mau lanjut baca aja sih. Ya syukur-syukur banyak pembaca baru. Seengaknya bisa tamatin karya pertama yang semberaut ini dengan elegant🤭. Ya bonusnya kali aja ada yang kangen sama aku gitu🤣🤣🤣


ntinya aku pasti tanggungjawab buat selesaikan naskah-naskah yang mangkrak. Happy Reading. Love-love sekebon cabe dan kecup jauh 😘🥰


__ADS_2