
Ricki menyimpan panci nasi di wastafel, dia kembali dengan membawa air mineral yang diambil di lemari pendingin dan diberikan pada sang istri. Yuna meneguk hingga habis setengah, dadanya terasa sangat sakit, karena meneguk air. tanpa henti. Ricki menerima botol minum sisa sang istri kemudian dia menekuknya tanpa jijik.
"Itu bekas, kenapa tidak kamu ambil aja."
"Bukankah bibir kita sudah beradu? "
"Terserah deh." Yuna enggan menanggapi.
Ricki beranjak dari duduk, kemudian dia berjalan dan berhenti di belakang tubuh Yuna. Pria itu menyentuh kedua bahu sang istri.
Yuna memutar lehernya hingga menoleh ke belakang, "Apa yang kamu lakukan?"
"Bukankah kau sedang tidak nyaman karena banyak makan?"
"Ini semua gara-gara kamu!"
"Oh, ayolah. Jangan terus menyalahkan aku. Lagipula aku hanya ingin membantu."
"Hem."
Yuna hanya berdehem, dia mulai merasakan kenyamanan saat tangan pria itu, memberikan pijitan-pijitan yang cukup membuat tubuhnya lebih baik. Dia bahkan memejamkan mata.
"Apa aku berbakat?"
"Aku rasa."
"Sepertinya aku akan beralih profesi jadi tukang pijat."
"Kau gila, seorang CEO akan menjadi tukang pijat?"
"Bukankah aku akan kehilangan perusahaan sebentar lagi? Jadi—"
"Soal itu, aku minta maaf," sesal Yuna.
"Tidak perlu minta maaf, yang terpenting Elizabeth selamat."
"Kenapa kamu baik?"
__ADS_1
"Dasar bodoh. Jelas aku baik, karena kamu istriku."
"Kamu tidak menganggap kita sedang serius menjalani pernikahan bukan? Ingat, kita hanya menikah karena saling menguntungkan."
"Dimata hukum dan Agama kita ini tercatat."
"Jangan jatuh cinta atau—"
Ricki menghembuskan napas lelah, hingga angin dari hidung mengenai pundaknya. "Jangan khawatir, aku sudah memiliki orang yang dicintai, kau tahu itu. "
"Duduklah." Yuna menepuk kursi yang ada di sampingnya.
Ricki menuruti permintaan sang istri, dia melepaskan tangan di bahu istrinya kemudian duduk di samping Yuna, menghadapkan wajahnya ke arah sang istri dengan bertumpu pada satu tangan untuk menyangga dagunya.
"Muka lawak gini, tidak usah sok serius, deh." Yuna mengusap kasar wajah suaminya.
"Katakanlah, katakan sejujurnya," ucap. Ricki dengan bersenandung.
"Aku rasa tidak ada lagi suara terburuk selain suaramu," hardik Yuna.
"Hem. Kau ingat, aku pernah melakukan penyerangan pada Erik."
"Tentu saja aku ingat, karena kamu gagal."
"Ya."
"Lalu?"
"Sejak saat itu, aku tidak mau lagi melakukan penyerangan."
"Kenapa?"
"Kepercayaan diriku hilang, aku takut kebali gagal dan nyawa Elizabeth akan celaka."
"Jika ragu jangan dilakukan."
"Tapi, jika aku tidak melakukan penyerangan, maka perusahaan kamu terancam."
__ADS_1
"Sudah aku bilang, aku akan beralih menjadi seorang tukang pijat."
"Aku serius."
"Jangan pikirkan itu, tidak masalah bagiku jika kamu memang tak ingin melawan."
"Tapi James bilang meski aku menyerah, Eric tetap akan mengancam kita."
"Kalau begitu jangan menyerah."
"Bagaimana kalau Elizabeth tidak selamat?"
"Itu akan terjadi jika kamu ragu."
"Aku harus maju?"
"Yuna." Ricki memegang kedua bahu Yuna dengan tangannya, menatap wajah perempuan itu. "Kamu itu orang hebat. Aku sangat percaya kamu dan James akan menang melawan Erik dan juga Helena."
"Tapi—"
"Jika mereka licik, maka kamu harus. cerdik."
"Elizabeth?"
"Yuna. Jangan lemah, aku pikir James sudah memikirkan matang-matang. Sebaiknya kamu tanya apa rencana dia."
"Begitu?"
"Iya. Kamu harus semangat!"
"Aku akan coba untuk memulihkan semua."
"Bukankah kamu suka berdoa?"
"Kau benar, aku harus salat istikharah."
"Baru kalo ini, mafia beriman," seloroh Ricki.
__ADS_1