
"Ada apa?" tanya James.
"Kita tinggalkan tempat ini." Yuna tidak menjawab, dia meminta mereka semua untuk pergi meninggalkan rumah itu.
langkahnya begitu sangat cepat, memasuki rumah yang sederhana. Saat membuka pintu, dia melihat kedua orangtuanya menangis, Arya juga melakukan hal yang sama. Yuna mengusap wajahnya dengan kasar, kabar yang diberikan Arya membuat dia benar-benar tak memiliki semangat untuk bertahan. James dan Andra yang baru masuk diam memaku, dia tidak mengetahui apapun tapi melihat kesedihan mereka sangat yakin bahwa hal besar baru saja terjadi di rumah ini.
Yuna masih berdiri dengan memijat pelipisnya. Arya yang sejak tadi duduk bersimpuh mulai angkat bicara.
"Sudah aku bilang, serakah dan ambisi bisa membuat celaka. Kenapa gak bisa belajar dari masa lalu. Sekarang lo lihat, Kak!" Arya berteriak dengan sangat lantang menyalahkan Yuna.
"Jadi sekarang nyalahin gue? Sebenarnya Lo yang salah, coba aja kalau semua pengawal gak dipecat semua bisa jagain Elizabeth!" sahut Yuna tak kalah marah.
Kedua orang tuanya hanya bisa diam, mereka sudah merasa trauma dengan keadaan ini ditambah lagi perdebatan kedua anak yang membuat kepalanya semakin sakit. Andra tidak dan Arya memiliki sifat yang sama kerasnya. Dia tidak bisa tinggal diam, tentunya sudah mengerti apa yang membuat mereka sedih dari perdebatan itu.
"Daripada ribut, mending mencari solusi. Kita harus ambil Elizabeth kembali," ucap Andra. Dia berusaha melerai perdebatan adik kakak itu.
Yuna tak menjawab, dia menghembuskan napas lelah. Dia berusaha tenang, dan tidak lagi tegang. Namun sayang, hantaman ujian belum berakhir. Ponselnya kembali berdering, dengan enggan dia mengangkat panggilan itu.
"Anastasia," ucap seseorang di seberang sana.
"Heum?" Enggan rasanya dia menjawab.
"Apa Sela udah sampai di Indonesia?"
"Sela? Indonesia?" ulang Yuna.
"Iya. Katanya dia dapat pesan dari kamu, terus meminta dia datang ke Indonesia."
__ADS_1
"Sebentar, Sella ke Indonesia?"
"Iya. Dia ada kan?"
Yuna tak menjawab, dia justru balik bertanya.
"Kapan sela berangkat dari sana?"
"Lho sudah dia hari lalu. Dia ada kan?"
"Akh, sial!" Yuna mengumpat.
"Ana!"
"I iya ada kok." Terpaksa di harus berbohong.
Yuna melempar ponselnya ke sofa, kepalanya terasa sangat sakit. ingin rasanya dia menjambak rambutnya yang terikat tinggi, James kembali bertanya apa yang sebenarnya terjadi dan siapa yang menghubungi karena dia mendengar nama orang yang sangat dikenal disebut oleh Yuna.
"Ada apa?"
"Ada yang menghubungi Sela mengatasnamakan aku, meminta datang ke Indonesia."
"Apa kau yang memintanya?"
"Tentu saja tidak. Kau tahu sendiri, aku sudah memperingatinya untuk tidak pernah datang ke negara ini lagi. tapi dia seakan tuli dan tidak mendengarkannya!"
"Jangan salahkan Sela, gak tau sejak dulu dia begitu sangat polos. orang itu pasti mengatakan sesuatu yang membuat dia datang ke tempat ini."
__ADS_1
"Aku yakin ini semua adalah perbuatan Erik dan Helena. Mereka sungguh sangat sialan!" umpat Yuna.
"Lalu sekarang kita harus bagaimana?"
Yuna mengarahkan pandangannya ke arah Arya. anak remaja itu menatap tajam ke ara Yuna. "Apa lihat-lihat!"
"Cuma mau tanya mereka bilang apa saat mengambil Elizabeth?"
"Tidak ada."
"Kalau begitu ada sesuatu yang mereka tinggalkan?"
"Tidak ada! Jangan mendesak terus," kesal Arya.
Wilson mulai angkat bicara, dia menyerahkan secarik kertas yang sejak tadi dipegang olehnya. Yuna menerima itu, membaca surat yang ditinggalkan sang penculik. Tangannya mengepal, dia meremas kertas itu dan menjatuhkan ke lantai. Andra mengambilnya dan membacanya. Setelah mengetahui isinya, dia sangat wajar jika Yuna sangat marah.
"Kita bisa merebut mereka kembali," ucap Andra. Dia merengkuh bahu Yuna.
Yuna memeluk Andra sehingga anggota keluarga tampak terkejut, Yuna adalah orang yang tidak mudah bersentuhan dengan siapapun. Namun pada Andra dia terlihat sangat tidak wajar dan itu membuat orang-orang yang ada di rumah itu kesal.
"Hey, Kak. sedih sih, sedih. Gak usah gatel gitu. Gak baik meluk pria lain. Kasian Bang Ricki. Udah cukup Edward sekarang nambah lagi," cicit Arya.
James yang sudah tahu semua tidak menghiraukan perdebatan tidak penting.
"Setidaknya mereka menjamin keselamatan Elizabeth bukan?"
"Apa kalian yakin?" Kali ini Wilson angkat bicara.
__ADS_1