
Ana membuka mobilnya dengan tergesah, tampak kepanikan dalam dirinya. Ia membanting pintu mobil dan akan segera menancap gas mobilnya. James masuk dan segera menyambar kunci mobil dan mematikan mesinnya. Ana menatap kesal, namun ia tak bisa berbuat apa- apa.
"Apa yang terjadi?" tanya pria bertubuh kekar dihadapannya saat ini, "Ayah, ibu …," tangisannya kembali pecah. James menatap iba, ia tidak tahu harus berkata apa saat ini nasib benar- benar tengah mempermainkan sahabatnya.
"Aku harus kembali!" jawabnya dengan terisak, "Bagaimana dengan Edward?" Ana menatap tajam, "Aku tidak tahu, aku harus bagaimana? Kalau aku menunda penerbangan, aku takut tidak bisa melihat keluargaku. Tapi, saat ini rumah tanggaku sedang diterpa badai!"
James terdiam, saat ini Ana benar-benar benar terlihat kacau. James merasa ada yang janggal tentang semua ini, ia terus menghubungi seseorang untuk mengetahui apa yang sebenarnya direncanakan oleh Helena dan dia yakin, bahwa ini bukan hanya rencana Helena.
"Kau urus saja keluargamu!" titahnya, "Bagaimana dengan Edwar?" wanita berparas mungil itu kembali bertanya. "Aku akan mencari tahu! Kau tenang saja!" Ana menghembuskan nafas kasarnya sedikit merasa lega. "Baiklah, Aku titip Erd!" pintanya dengan memohon. "Ya!" jawabnya singkat.
James akan keluar dari mobil Ana, namun ia urungkan seseorang menghubunginya. Wajahnya memang masih terlihat datar, tapi wanita berparas cantik itu mengetahui perbedaan dari sorot matanya. Bukanlah James jika dia menceritakan apa yang terjadi dengan kata- kata.
Ia akan tetap diam, dan Ana tahu itu. "Aku akan mengantarmu!" Ana merasa heran, tapi ia tidak bertanya karena Ana tahu pasti telah terjadi sesuatu. "Jangan mengendarai mobil ini!" ucapnya kembali.
Ana hanya mengikuti perkataan James, ia menepis semua pertanyaan tentang perubahan sikap James, Ana bukanlah orang bodoh, ia mengetahui tengah terjadi sesuatu atas semua kebetulan ini. Tapi, ia belum bisa menebak apa sebenarnya yang mereka rencanakan.
James memilih jalan yang berbeda, saat ini Ana tengah duduk disampingnya dengan deraian airmata serta kepanikan masih tersirat dari kedua bola matanya yang tengah membengkak.
"Apa yang terjadi?" tanyanya. "Ada yang menginginkan nyawamu!" Mata gadis itu, terbelalak kaget. Benar seperti dugaannya semua ini bukanlah kebetulan tapi semua sudah direncanakan. "Apa kau, mengetahui sesuatu, Jam?" tanyanya lirih.
"Helena, adalah anak Erik!" Ana menatap tajam pria disampingnya yang masih memegang stir kemudi, ia masih belum mempercayai kenyataan yang menyakitkan ini. "Tidak mungkin!" sergahnya parau. "Itu kenyataannya!" jelas pria dingin itu.
"Dengarkan aku baik- baik, Nyonya!" bicaranya tampak pelan tapi penuh penekanan di setiap kalimat. Ana hanya memberi isyarat dengan memejamkan matanya dan menghela nafas.
"Mereka ingin nyawamu, maka kita berikan apa yang mereka inginkan!" Ana membulatkan matanya, "Apa kau gila, James! Kau ingin menyerahkan nyawaku, berapa yang mereka bayar hingga kau berani menghianati persahabatan kita!"
__ADS_1
"Apa kau melihat ada penghianatan dari mataku?!" tanyanya dingin. Ana paham maksud ucapannya, James adalah orang yang sangat setia, "Lanjutkan, apa rencana mu?!" pinta wanita di sampingnya.
"Kita ikuti permainannya, untuk sementara aku ingin kau bisa aman dan tenang di negaramu!" Jika mereka mengetahui, kau masih hidup maka keselamatanmu dan keluargamu akan terancam!" Ana hanya menganggukan kepalanya.
"Aku akan membuat serapi mungkin, penerbanganmu sudah di siapkan sekarang kau ikut anak buahku" jelasnya. "Ingat! Hubungi aku, apapun yang terjadi! Agar aku bisa mencarimu, kau paham!"
Ana keluar mobil, hendak meninggalkan James namun langkahnya terhenti, saat pria itu kembali berbicara, "Ana, kau harus kuat apapun yang terjadi padamu! Aku akan selalu membantumu! Jaga dirimu, baik- baik!" James hendak menutup kaca mobilnya namun, tertahan saat ana membuka pintu mobil dan memeluk James yang tengah diam.
"James, kau sahabatku, maafkan aku sempat menuduhmu!" Ana terisak dan menyesali tuduhannya. "Lupakan! Pergilah, selagi kau masih memiliki waktu!" titahnya. "Aku titip Erd!" wanita mungil itu memohon, pria dingin itu hanya menganggukan kepalanya.
Ana pergi dengan mobil yang berbeda, James menghembuskan nafas kasarnya. Terasa sesak di hatinya. Semenjak kepergian Tn. Robert semua semakin menyulitkan bagi Ana, ia sudah menyayangi Ana seperti adiknya sendiri. Kepolosan dan rasa cintanya yang besar terhadap suaminya selalu membuatnya menjadi orang bodoh.
Betapa indah masa kecil mereka, entah kapan mereka akan bisa bersama bercanda dengan dihujani kebahagiaan. Mungkin, itu hanya akan menjadi sebuah angan- angan.
Banyak tugas yang menantinya disini, dengan terpaksa ia juga harus membuat nama sahabatnya menghilang untuk sementara waktu.
Sebuah kecelakaan mobil terjadi di jalan bertikungan tajam ini. Satu buah mobil mewah terperosok ke jurang. James berjalan mencari saksi mata untuk mengetahui kronologinya.
Ia berjalan menghampiri orang- orang yang tengah berkerumun, tubuh tegapnya berjalan dengan pasti mendekati salah satu pria yang sedang berbicara dengan temannya. Ia berfikir bahwa, pria itulah saksi kunci kejadian ini.
"Permisi …," sapanya. Seketika mereka berbalik menuju sumber suara. "Kemana korban dari kecelakaan ini?" tanyanya. "Sepertinya, ia terperosok ke jurang, Tuan. Kami sempat mendengar jeritan wanita "korbanya adalah seorang wanita," jelas seorang yang berada di sana. Selang beberapa waktu, seorang polisi datang, menanyakan hal yang sama pada penduduk yang berada di tempat kejadian.
Beberapa hari telah berlalu, Edward masih mencari keberadaan istrinya yang tengah beberapa hari ini, belum ada kabar tentang keberadaannya. Edward tahu, menghilangnya Ana pasti ada hubungannya dengan kejadian yang menimpanya saat bersama Helena.
Ia mengusap wajahnya dengan kasar, mengerang frustasi. Bagaimana bisa ia bersama Helena, yang dia ingat saat itu ia tengah meminum kopi bersama ibunya. Ia juga menepis pikiran buruknya terhadap ibu kandungnya.
__ADS_1
Seseorang menekan bel yang melekat indah pada daun pintu, hingga suara nyaring terdengar membuyarkan lamunan Edward.
Seorang asisten rumah tangga menemui Tuan mudanya yang tengah duduk tertunduk dengan kedua tangan memegangi kepalanya memberitahukan bahwa ada yang tengah mencarinya dan saat ini tamunya itu tengah duduk di ruang tamunya.
Edward berjalan dengan memasukan salah satu tangannya kedalam saku celana. Matanya menatap datar, dua orang polisi yang tengah duduk dengan tegap. Kedua polisi itu hendak beranjak berdiri, namun isyarat gelengan kepala dari pria di hadapannya ini mengurungkan niat mereka.
Tatapannya datar, seorang polisi memberikan sebuah tas milik istrinya yang terdapat kartu nama pemiliknya. Edward membantah kenyataan itu, karena pikirnya itu tidak cukup kuat untuk membuktikan bahwa itu adalah istrinya.
Salah seorang polisi memberikan sebuah kalung kepada Edward, seketika tatapan pria itu tampak sayu, Ia terlihat lemas, ia terus mengusap wajahnya kasar dengan menghempaskan nafasnya.
"Apa ini milik istri anda, Tuan?" tanyanya. Edward hanya menggunakan kepalanya. Pikirannya sudah bisa menebak apa yang tengah terjadi pada istrinya tapi entah mengapa hatinya menolak kenyataan ini. Apa yang sebenarnya terjadi. Pertanyaan itu terus memenuhi isi pikirnya.
TBC
Intermesso dulu kuy,
Bingung juga ya🤔 eh ini bulan cinta yah, kali ini otor bahas tentang cinta ajh yah🙄
Kamu tahu gak? Nyatain cinta itu ibarat kita kentut. kenapa? Yah, karena kalau dah keluar lega rasanya😂 begitu pun cinta🙄
Kamu tahu perbedaan jemuran sama cinta?
kalau jemuran digantung kering kalo cinta di gantung cari yang lain😝
Kamu tahu ga? Kenapa cowo jelek itu suka selingkuh 😡 maklumin ajah🙄 dia lagi membuktikan pada dunia bahwa yang jelek juga bisa punya banyak pacar.
__ADS_1
Dah, akh. bantu jejak😍😍