
Sela menuruni tangga dengan mengenakan jeans panjang, kaos yang sama ia kenakan tadi, namun ada yang berbeda dengan kakinya. James menatap dari atas sampai kebawah, tatapannya terhenti pada kaki gadis di hadapannya.
Sela menuruni tangga dengan tergesah, sampai di hadapan pria pujaannya dia menggandeng tangannya. James terkekeh seraya berkata, "Apa kau akan berangkat, sekarang?" tanyanya. "Kenapa lagi! Tadi kau menyuruhku cepat- cepet!" bentaknya.
James hanya mengangguk pelan, sebelum melangkahkan kakinya dia sedikit menginjak kaki Sela. Sela pun sedikit marah dan melihat kakinya, kalau- kalau berdarah. "Astaga!" peliknya. Namun, ia mencoba menahan rasa malunya dengan menunjukan rasa percaya diri yang tinggi di hadapan James. Ia tidak mau tampak seperti orang bodoh di mata pujaan hatinya. padahal, tanpa dia sadari saat bersama James tiba- tiba IQ-nya jongkok.
"Kau tahu? Di negara yang terkenal keramahannya itu, japit adalah alas kaki terpopuler," ucapnya dengan mengacungkan salah satu sandalnya. "Ayo berangkat!" ajak pria dingin itu. "Tunggu!" sela menahan tangan James. "Apa lagi?" tanyanya dengan sedikit kesal. "Aku harus mengenakan sepatuku!" jelasnya, "Bukankah, kau bilang itu alas kaki terpopuler!" ejeknya. "Iyah, tapi bukan di sini!" ucapnya dengan berlari menaiki anak tangga, sampai di ujung tangga ia berteriak, "Awas! tunggu aku!" James hanya menunjukan jam tangannya.
"Menyebalkan!" gerutu Sela dengan berlalu masuk ke kamarnya.
Selang beberapa saat, sela pun kembali dengan sepatu ketsnya. James hendak masuk ke mobil namun Sela menahannya. Dia memberikan kunci motor milik salah satu pelayannya.
"Aku ingin kau mengendarai motor!" pintanya. James mengerutkan dahinya merasa bingung, "Aku hanya ingin merasa lebih dekat denganmu!" ucapnya dengan terkekeh.
James dan Sela mengelilingi keramaian kota L.A di malam hari, penerangan lampu- lampu jalanan begitu sangat memanjakan mata.
Mereka berbelanja di supermarket, Tidak banyak yang sela beli, karena sebenarnya kebutuhannya sudah di penuhi semua pelayan di rumahnya. ini hanyalah sebuah alasan Sela agar bisa pergi bersama James.
Setelah aktifitas yang membuat James merasa sangat bosan, Sebelum pulang Sela merengek ingin pergi ke pantai terindah di L.A. dia sangat suka sekali pantai.
James mengerutkan dahinya, karena ini sudah cukup malam. Tapi, James juga tidak bisa menolak permintaan wanita yang sangat memuja dirinya sedari kecil.
Mereka mengendarai motor, Sela terus memeluk James. Baginya ini adalah kesempatan yang sukar ia dapat. Ia teringat kenangan masa kecil selalu di boncengi sepeda oleh James saat berangkat ke sekolah.
Dia menyandarkan kepalanya di pundak James, menghirup aroma tubuh pujaan hatinya sudah menjadi candu dari sejak kecil. Sela terus berceloteh namun tidak ada sedikitpun tanggapan dari pria yang sibuk dengan gas di tangannya.
Bukan menolak James juga menikmati apa yang sela lakuakan padanya, ingin dia merasakan apa yang sering Ana katakan padanya. Samar James pun tersenyum.
Santa Monica Beach adalah tujuan mereka, tempat yang indah. Jika di pagi hari mereka bisa berselancar atau bermain bola voly tapi tidak pada malam hari, meski begitu Sela sangat menikmati pemandangan dan hembusan angin yang menyapanya.
Tidak seindah di siang hari, mereka memang tidak bisa menikmati birunya laut dan hijaunya pepohonan yang tampak hijau mendayu.
__ADS_1
ke tempat ini pada malam hari, memang hanya dapat menikmati hembusan angin yang menyapa mereka. Tampak pepohonan berharga gelap, penerangan yang minim menambah keromantisan di antara mereka.
Sela mengajak James berjalan pada jembatan Kayu, minim pencahayaan membuat Sela berjalan dengan sangat hati-hati. Tidak banyak bicara James berjongkok di depan Sela.
"Naiklah!" titahnya. Sela tersenyum manis, memang pria di hadapannya ini sangat dingin dan acuh tak acuh. Tapi hal kecil seperti ini yang selalu membuat sela semakin mencintainya.
Sesekali James merasa berat badan Sela membebani pundak dan tangannya. Terkadang ia juga mengerakkan kepalanya menahan rasa sakit. Tidak ada pembicaraan sedikitpun namun malam ini adalah malam yang paling berarti bagi Sela. Dia sudah sangat hapal sikap pria yang ia puja ini. Dibalik kedinginan nya tersimpan kasih sayang dan kehangatan.
Sela tahu James sudah merasa kelelahan, ia mengarahkan tangannya pada sebuah tempat piknik di tepian pantai. James menurunkan Sela dengan perlahan. Ia mencoba merentangkan tangan dan pinggangnya yang terasa kaku.
Sela duduk bersebelahan dengan James, Sela menyandarkan kepalanya di pundak James, mereka menikmati pantai di malam hari, hanya gelap dan sedikit pencahayaan membuat Sela tidak dapat melihat dengan jelas wajah tampan pujaan hatinya.
Deburan ombak nyaring terdengar, terkadang air.laut datang menyapa kaki mereka. Dengan manja sela tertidur di paha James. Pria dingin itu hanya diam, menatap wanita yang selalu mengejarnya.
Sela menatap James dengan lekat, namun James hanya menatap laut yang luas. James membuka jaketnya dan menyelimuti tubuh sela yang hanya mengenakan Kaus lengan pendek.
Seketika, ia kembali menatap lautan. James tahu sedari tadi sela terus menatapnya. Samar ia menarik sudut bibirnya membentuk senyuman yang samar.
perlahan James membungkukkan kepalanya, sedikit demi sedikit mendekatkan wajahnya pada sela, dekat dan semakin dekat, jantung Sela sudah tidak karuan keras seperti suara petasan yang bergantian, seketika sela memejamkan matanya ia berpikir dia akan mendapatkan sentuhan yang selama ini ia dambakan dari pria yang sangat ia cintai sedari kecil.
Sela mendengus kesal, "Kenapa tidak jadi?" tanyanya. James mengerutkan dahinya, bukan tak mengerti hanya saja ia ingin tahu sejauh mana wanita ini terus menggoda imannya.
"Apa?" ledeknya dengan menatap lekat Sela. Saat ini sela tengah duduk berhadapan dengan pria pujaan hatinya. "Itu, akh masa kamu tidak mengerti yang biasa orang dewasa lakukan!" jelasnya. James terkekeh pelan.
"Belum saatnya!" James menoyor kening Sela. "Pakai jaketmu!" titahnya. James, Kapan kau akan mencintaiku!" tanyanya dengan memelas.
James terkekeh, "Banyak pria di dunia ini, Sel!" jawabnya.
"Aku tidak peduli, yang ku tahu hanya kamu satu- satunya pria di dunia ini yang aku cintai!" Sela menjawab dengan menatap lekat James.
Cup..
__ADS_1
Sela mengecup pipi James dan pergi berlalri.
"Aku mencintaimu, James!" teriaknya di depan lautan.
James terkekeh, Ia tak mengejar Sela hanya memperhatikan dari jauh. Entah kenapa bersama Sela ia bisa selalu tersenyum.
Tidak lama, James menenteng Jaket yang di lepas Sela, ia menghampiri Sela membalutkan jaket di tubuhnya. "Ayo pulang! Sudah terlalu malam, kau harus tidur!" ajaknya.
Mereka pun kembali mengendarai motor, jalanan sudah sangat sepi. James mengendarainya dengan sangat hati- hati.
"James ...," panggilnya, "Aku mengantuk!" Sela berucap dengan terus menguap. "Tidurlah!" ucapnya lembut, "kau pegangan lebih erat, Sel!" titahnya. Sela hanya mengangguk pelan. Tak lama, ia pun tertidur.
Perjalanan panjang membuatnya sangat kelelahan, minim pencahayaan menyulitkan Indra pengelihatannya. Ia memilih jalanan yang halus, ia tak ingin sela terbangun jika ia melewati jalanan yang bergelombang.
Semakin sulit ia mengendarainya. Karena, tangan satunya memegangi tangan Sela ya g tengah tertidur lelap di pundaknya dengan kedua tangan memeluk pinggang James yang hampir mulai terlepas.
Hanya satu tangan memegangi gas dan rem motor, meski kesulitan ia tak pernah melepaskan pegangan tangannya pada tangan Sela. Tidak ada sedikitpun gerutuan yang keluar dari mulutnya. Hanya senyuman yang melekat indah menghiasi wajah dinginnya.
Sampai di pelataran Rumah mewah, semua pengawal membungkuk hormat pada James, mereka ingin membantu James yang kesulitan. Tapi James menolaknya degan menggerakkan kepalanya.
Motornya berhenti tapat di laman depan pintu mewah kediamannya. perlahan Ia menggeser tubuhnya tanpa melepas pegangan tangannya, untuk menahan tubuh Sela. Dia memangku Sela masuk kedalam rumah besar ini. Kedua orang tua Sela menyambut kedatangan mereka.
Tidak heran, jika Sela selalu tertidur dalam perjalanan. Mereka meminta James mengantar anak semata wayangnya ke kamarnya. Perlahan James menaiki anak tangga, ia tak ingin sela terbangun dan mengetahui apa yang dia lakukan hari ini.
Sampai di kamar perlahan ia meletakan wanita yang selalu menggangunya sejak kecil itu, Ia menyelimuti dan membenarkan anak rambut yang menghalangi wajah cantiknya. Seraya ia berkata, "Aku pamit, Sel! Jaga dirimu baik- baik, aku harus kembali!" ucapnya seraya berlalu meninggalkan kamar Sela dan menutupnya perlahan.
Sela tersenyum, baginya ini adalah malam terindah. Perhatian James yang seperti ini yang selalu membuatnya semakin cinta. Namun, seketika senyuman itu mengusut, saat ia teringat ia harus kembali terpisah dengan pria pujaan hatinya.
The End
Season 1
__ADS_1
Selam kenal kakak, saya Yuliana Yustian. Saya sangat berterimakasih karena telah bersedia membaca karya perdana saya yang banyak kekurangan. Season 2 mungkin akan di lanjut di sini, tapi entah kapan. Karena saya masih menyelesaikan novel saya yang ada di aplikasi ******. The Shackle Of Ayesha Love. Karya saya di sana gratis tanpa koin. jadi besar harapan saya kakak bisa mampir dan membaca karya saya. Bisa juga baca karya saya yang ada di ******** First Love and Revenge sudah end. Cek Ig dan FB saya Yuliana Yustian di sana banyak info seputar karya saya.
love allπππ