
Yuna dan Ricki duduk di sana. Yuna mengucapkan terima kasih kepada Edward atas hadiah yang diberikan berupa bunga lili. Ricki merampas bunga itu dan meminta Jessica untuk menyimpannya, karena dia berkata bahwa Ricky alergi bunga. untuk meyakinkan semua orang dia pun bersin-bersin. Yuna sangat kesal dengan tingkat pria itu tapi dia tidak mungkin berdebat di depan Edward.
"Sejak kapan kakak alergi bunga?"
"Udah sana, bawa ke belakang. hacih."
Edward menyodorkan tisu kepada Ricky pria itu menerimanya dan mengeluarkan ingusnya ke isu itu hingga basah, kemudian kembali menyodorkan tisu yang basah itu kepada Edward jelas saja pria itu menolak dengan mengangkat satu tangan dan disimpan di depan dada.
"Untuk Anda saja, Tuan."
"Tidak apa. aku ikhlas memberikan isu ini kembali padamu."
"Kau ini jangan bikin malu deh. Mana mungkin Tuhan ikut mau menerima bekas ingusmu," bentak Yuna.
"Kak Riki kalau alergi bunga bank nanti kasihin aja semua tabungan padaku," ucap Jesica dengan berlalu.
Erna dan juga Steven hanya menggelengkan kepala mereka tidak menyangka bahwa Ricky bisa bertingkah bodoh seperti itu. itu terlihat seperti orang yang sedang cemburu.
Ketiga orang itu berbincang hangat membicarakan tentang kerjasama dan perkembangan perusahaan yang semakin bagus. Yuna sama sekali tidak membahas tentang penculikan Elizabeth karena dia tidak ingin nyawa putrinya terancam jika Edward tahu tentang identitas anak itu. Namun, perbincangan mereka terpaksa harus dihentikan, karena di rumah kembali berbunyi. Yuna membuka tirai jendela dan matanya terbelalak sempurna ketika melihat siapa yang datang. Yuna kembali dan menggoyang padahal suaminya dengan begitu panik.
"Ada apa sih? Aneh deh. "
__ADS_1
"I—itu."
"Apa? Kalau ngomong itu yang jelas dong."
"Ada Helena!"
"Helana? Serius?" tanya Ricki. Yuna mengangguk.
"Aduh, gimana ini?"
"Pasang selang infus."
"Panggil Dokter," usul Erna.
"Ada apa? Kenapa takut sekali pada Helena?" tanya Edward bingung.
Yuna pun menjelaskan alasannya, tentu dia tidak ingin melakukan kerja sama. Edward sangat tahu kenapa hampir semua pengusaha menolak kerja sama dengan Helena, karena mereka sangat licik. Hanya Edward masih belum mengerti bagaimana bisa mereka tiba-tiba setuju dan pura-pura sakit untuk hal ini.
"Dia tidak akan membawa berkas," ucap Edward.
"Iya. Tapi kalau melihat suamiku sudah sehat besok kita tidak memiliki alasan lagi untuk menghindar darinya."
__ADS_1
"Kenapa tidak pura-pura patah tangan saja agar tidak bisa tanda tangan," usul Edward.
"Kalau patah tangan kan harus di gips. kemarin aku malah udah bilang Kalau suamiku ini sedang diinfus, masa tiba-tiba tangannya sakit sih."
"Ya udah daripada ribet, mending sekarang Kak Yuna patahin aja tuh tangannya kak Riki kan beneran patah tuh," usul Jesica.
"Nah, ide bagus tuh. Ya udah sini, aku bikin tangan kamu patah."
"Dasar istri durhaka! Aku tidak mau. Kalau pura-pura oke tapi kalau tanganku patah beneran kira-kira aja."
"Ya sekarang kita harus gimana?"
"Di kamar kan masih ada selang infus sama tiangnya mendingan kamu tempel-tempelin aja nih ke punggung tangan aku terus aku baringan deh di kamar."
"Kalau diperiksa-periksa gimana? Ketahuan dong nanti selang infusnya cuma nempel di punggung tangan doang?"
"Elah. Ya kamu bilang ini area privasi makanya buruan kita ke kamar," ajak Ricki.
"Untuk mengalihkan perhatian nanti aku coba berbicara dengan Helena saja di luar dulu," usul Edward.
"Nah, boleh deh."
__ADS_1
Mendengar Edward akan berbicara dengan Helena, rasanya ada perasaan tidak rela dalam hati Yuna. Namun, dengan cepat Ricki segera menarik tangan istrinya, kemudian mereka menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar, sibuk untuk berpura-pura.