Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Pertemuan Rahasia


__ADS_3

Warna jingga di cakrawala membuat seorang gadis berambut panjang itu teringat akan janjinya. Dia berdiri di balik dinding kaca menatap gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Dia memangku satu tangan dengan mengetuk dagu dengan jarinya, mulai bimbang apakah dia harus datang ke tempat itu. Ada rasa takut yang menjalar, dia tidak ingin saat menemui pria itu ternyata sebuah jebakan. Namun, rasa penasaran terus menghantui, terlebih batinnya menolak keras saat logika, berpikir pria yang ditemui dia selama ini adalah orang jahat dan dari pihak Helena. Baginya, pria asing itu juga seperti pernah ditemui tetapi entah dimana dia lupa.


Tenggelam dalam pikiran, membuat perempuan yang saat ini mengenakan, rok span di atas lutut dan blazer putih senada dengan rok itu. Dia tidak menyadari kehadiran sang suami yang sejak tadi berdiri di belakangnya.


"Hey, ayo pulang!" ajaknya.


Suara pria itu menyadarkan dari lamunan, sehingga dia menoleh dan menghembuskan napas lelah saat melihat Ricki, karena jika dia tidak ikut pulang dengannya, maka sudah pasti Ricky akan pergi dengannya dan Yuna tidak ingin membawa pria itu, karena akan menjadi beban.


"Pulang saja duluan, aku masih ada urusan." Yuna berbalik dan kembali duduk di kursi kebesaran.


"Sebagai suami yang bertanggung jawab, aku akan menunggu kamu," jawab Ricki dengan duduk di sofa.


"Pulang aja sih."


"Gak!"


"Astaga! Gini ya, aku ada urusan di luar kantor. Jadi pulang duluan aja."


"Aku gak bisa membiarkan kamu dalam bahaya. Sebagai suami yang siap siaga aku akan melindungi kamu."


"Aduh, gak usah ribet deh. Sebaiknya kamu cepat pulang. Jika kamu ikut hanya akan menghambat aku, paham gak sih!"

__ADS_1


Ricki diam tidak menjawab, sejujurnya ucapan Yuna begitu melukai hati. Namun dia cukup sadar diri, karena sampai detik ini kehadiran dia hanya menambah masalah. Semua itu karena trauma di masa lalu sehingga membuat mentalnya lemah.


"Ya sudah aku pulang. Kamu hati-hati, kalau ada apa-apa kabari. Aku memang gak bisa bantu, tetapi bisa minta para pengawal untuk melindungimu," ucap Ricki dengan beranjak dari sofa dan berjalan menuju ke daun pintu.


Yuna mulai merasa bersalah, karena dia sadar hati pria itu seperti jeli, kenyal-kenyal. Lembek. Takut ucapannya menyakiti, dia beranjak dari duduk dan menghampiri pria itu, menepuk pundak Ricki seraya berkata.


"Maaf," sesalnya.


"Atas apa?" Ricki menoleh dan mengerenyitkan dahi.


"Begini ... aku bukan bermaksud mengatakan kamu itu itu mengganggu tapi ...." Ucapan Yuna terpotong.


Yuna mencebik, "Dasar pencitraan!" umpatnya.


"Demi warisan," sahut Ricki dengan berlalu.


"Menyesal aku merasa bersalah, dasar bekicot!"


Yuna dengan sengaja tidak mengendarai mobil, dia memilih berjalan kaki ke tempat yang di janjikan pria misterius semalam. Bukan tanpa alasan dia memilih untuk mengayunkan kedua kaki menyusuri jalan, dia sadar bahwa jika menggunakan mobil akan macet serta memperlambat.


"Arah jam enam dari perusahaan itu berarti, dia menunggu aku di belakang perusahaan."

__ADS_1


Yuna berjalan dengan langkah cepat, dan melihat ke arah gedung tempat dia bekerja. Dia teringat bahwa di belakang tempat dia bekerja, ada sebuah taman berbukit yang sudah sepi tidak di jamah banyak orang. Yuna terus berpikir apa yang direncanakan pria itu, sehingga mengajak dia bertemu di tempat yang sunyi.


Sampai di lokasi dia hanya mendengar kicauan burung yang berada di dahan pohon, yang merasa terganggu dengan kehadiran orang asing. Dia mengamati tempat itu dengan ekor mata penuh dengan kewaspadaan.


"Sepertinya aku salah tidak membawa pengawal bersamaku dan bertemu tanpa adanya persiapan. Aku terlalu percaya pada hati hingga tidak mengutamakan logika," batin Yuna.


Sampai di taman tepat di belakang perusahaan, Yuna melihat ke kanan dan ke kiri, selain tidak ada orang, tempat ini memiliki dua bukit dan di antara bukit itu ada kursi panjang. Jika dari atas pun tidak akan terlihat karena, tempat dia saat ini diantara tanah yang membusung ke atas menutupi tubuhnya. Sampai detik ini dia tidak tahu kenapa tempat ini terlalu unik dan misterius, meski lelah terus berjalan dan kakinya mulai sakit, dia tidak berani untuk duduk di kursi kayu itu.


"Keluar!" tekan Yuna saat dia melihat daun pohon bergerak, memasang tubuh siaga karena tidak ingin diserang dari arah belakang.


Daun itu tidak lagi bergerak, tetapi tidak membuat Yuna lengah. Dia kembali berteriak.


"Siapa kamu? Jangan menjadi pengecut!" Dia berjalan menuju tempat itu, tapi diurungkan saat dia mendengar suara dari arah lain.


"Aku adalah orang yang dulu sangat dekat denganmu," ucap Pria misterius yang berjalan santai dengan memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana, dia berjalan mendekati Yuna.


"Kamu?" Yuna mengarahkan jari telunjuk ke pria itu.


"Lalu?" Yuna kembali mengarahkan pandangannya ke daun-daun yang tadi bergerak. "Jika kamu dari arah barat, lalu siapa yang ada dibalik daun itu?"


"Sepertinya ada orang lain selain kita di tempat ini," jawabnya santai.

__ADS_1


__ADS_2