Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Flashback, Ana Kecil


__ADS_3

"Ana, suara apa itu? kenapa pohon itu bergoyang- goyang? aku takut!" ucapnya.


"Ayo kita lihat!" ajak Ana dengan menarik tangan Sela. "Tidak perlu takut, kan ada aku."


Mereka memberanikan diri, untuk melihat ke semak-semak betapa kagetnya mereka saat melihat apa yang ada di balik pohon.


"Hehehe...." Edward tersenyum canggung, dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena dia sudah terpergok mengintip di semak- semak. Melihat itu Sela membuang Muka seraya berkata.


"Sedang apa kau disini, hah? tanya Sela dengan bersidakep. "Ana, ayo kita tinggalkan dia sendiri di sini!" ajaknya dengan menarik tangan Ana. "Biarkan dia di makan hantu dan di keroyok binatang buas!" mereka pun berlalu meninggalkan Edward.


"Tunggu!" langkah mereka terhenti. "Ada apa? penguntit!" Sela berbalik dan bertanya dengan sinis. "Siapa yang kau sebut penguntit, hah?!" Edward bertanya dengan bersidakep. "Tentu saja, kau! mau apa kau mengikuti kami? pergi sana, pergi! biarkan saja, kau di makan hantu. malam- malam di sana sendirian," Sela berkata dengan melirik sinis. Tanpa menghiraukan ocehan Sela Edward berjalan mendahului kedua anak perempuan itu dan berhenti di depan rumah pohon.


"Stop!" teriak Sela. Edward menghentikan kakinya, ketika ia akan menaiki tangga. "Mau apa kamu? itu rumah pohon ku!" sentak Sela.


"Sudahlah, biarkan dia bergabung bersama kita," ucap Yuna menengahi. "Tapi...," ucapan sela terpotong. "Nah, benar kata anak kampung itu!" ucapnya dengan menjentikan jarinya. "oke, tapi ada syaratnya." ucap Sela sembari mengangkat sebelah alisnya. "Malam ini kau, harus bermain boneka bersama kami!" titahnya dengan tersenyum semrik. "Apaan, Aku laki-laki. No! jangan kau pertaruhkan harga diri ku sela!" kesal Edward. "kalau tidak mau. Yasudah, Ayo Ana, tinggalkan dia di sini sendiri!" ucap Sela dengan mendorong tubuh Edward. "Baiklah, aku setuju!" ucap Edward dan Ia naik ke rumah pohon.


Ana kecil dan sela, bahagia menikmati malam mereka. Tertawa, bernyanyi, banyak hal yang di ceritakan Ana pada mereka. Sela dan Edward adalah saudara sepupu, dari kecil mereka hidup bersama. Meski tak pernah akur mereka saling menyayangi, Sela mudah percaya dengan orang baru. Namun, berbeda dengan Edward. Karena detik ini pun nyatanya Edward rela sembunyi di balik pohon, bertingkah bodoh dan rela bermain boneka hanya karna satu tujuan yaitu melindungi Sela dari orang baru, karna ia masih tidak percaya akan kedatangan Ana yang datang tiba- tiba. Edward terus memperhatikan Yuna.


"Aku merasa, anak ini tidak berbahaya untuk Sela, sepertinya dia bukan ular yang berbisa. Tapi, siapa dia? apa mungkin dia orang yang selalu di ceritakan kakek? sebaiknya aku tanyakan pada kakek. gumam Edward.


Karena hari sudah larut. Akhirnya, mereka pun kembali. Sampai di dalam rumah besar, Ana mencari kedua orangtua nya. Tapi, tidak menemukannya. Namun, ada seorang laki- laki paru baya menghampirinya. Ia berkulit putih, berbadan tegap khas kebangsaan Inggris.


"Kakek...." teriakan Sela memecah keheningan, ia berlali seketika sang kakek membungkuk lalu memeluk dan memangku Sela kecil. Sedang Edward hanya mengerucut kan bibirnya dan membelakangi sang kakek. menghempaskan tubuhnya di sopa, saat ini mereka duduk di sopa. Namun, Ana masih sibuk dengan apa yang di cari.


"Ana sayang, kemari lah! Duduk bersama kami," ajaknya. Ia memberikan surat kepada Ana kecil dan ternyata dari orangtua nya, sang kakek membacakan surat itu untuk Ana.


Anak ku Anastasya


Maafkan ibuk, dan papah mu sayang. Maaf, kami tidak bermaksud meninggalkan mu. Tapi, kami tidak sanggup harus melihat mu ketika kami harus pergi. kami takut egois untuk membawa mu tinggal bersama kami. Tidak ada satu orangtua pun yang rela jauh dari anaknya. Terkadang keadaan mengharuskan kita untuk berpisah sementara. kami sangat menyayangi mu. Ikuti apa kata kakek mu dan jadilah anak yang baik demi kami.


Surat singkat yang di tulis orangtuanya untuk Ana kecil.


"Jadi sekarang, Ana harus tinggal bersama orang asing lagi? Apakah, Ana tidak kalian inginkan? Bahkan pelukan pun Ana belum merasakannya, bagaimana hangatnya pelukan kalian." Ana berucap dengan tangisan nya seketika kakek Robert memeluknya.


"Sayang, kakek bukan orang asing, kalian bertiga akan tinggal bersama kakek di sini! lebih Aman." ujarnya.


"kakek, bukan kah ini rumah rahasia kita? kenapa kakek mengadakan pesta di tempat ini? bukan kah itu sangat berbahaya?" tanya Edward.


"Kau, tenang saja! kakek hanya mengundang orang tua kalian saja, sisanya hanya orang sekitar sini, yang tidak tahu siapa kita sebenarnya," jelas sang kakek sembari mengusap pucuk kepala Edward.


"Sudahlah, kau masih anak- anak. Jangan sok dewasa!" sentak Sela.

__ADS_1


Sejak hari itu mereka tinggal bersama, Ana memang tidak akrab dengan orangtuanya, sedari kecil dia memang tidak mengetahui sosok orangtuanya. Berbeda dengan orang tua Ana yang begitu sangat terpukul.


Kediaman keluarga Wilson.


Di sini lah orang tua Ana tinggal, ibunya jatuh sakit dan terus menyalahkan Ayah nya, karena Ana tidak bisa tinggal bersama mereka. Ia terus menyalahkan suaminya. Sepulang dari pesta Ia nampak tak tenang.


"Kamu tega! pisahkan aku dari anak ku, Mas. kenapa kau, harus korbankan Anak kita! aku tidak rela, terus di pisahkan dari anak ku, aku yang melahirkan nya! bahkan untuk memeluk dan menciumnya pun kau larang, kamu kejam!" Ia terus menjerit dan terus memukul dada suaminya tidak henti, suaminya menarik tangan istrinya dan memeluk nya dengan Erat.


Air mata pun membasahi kemeja sang suami,


pukulan dan pukulan terus di layangkan istrinya. Namun, sang suami tetap kokoh memeluknya dan membenamkan kepalanya di cengkuk leher sang Istri, tak terasa air bening pun lolos dari mata sang Ayah.


"Aku merasakan apa yang kamu rasakan. Tapi, keadaan memaksa kita untuk melepasnya. Biarkan anak kita menjadi kuat, hebat dan kita doakan agar dia bisa bahagia.


"Aku tidak membutuhkan anak yang hebat! aku seorang ibu hanya menginginkan anak yang selalu bersama ku! melihatnya tumbuh kembang, tersenyum dan tertawa bersama. Melihat nya bermain dan mengajarkannya! bahkan, untuk melihatnya saja aku harus dari kejauhan, kamu sungguh kejam, Mas!"


"Sayang, mengertilah! keluarga Endelson sedang dalam masalah besar," ujarnya.


"Mereka yang punya masalah, kenapa anak kita yang jadi korban! aku tidak rela! aku akan mengambilnya kembali!"


"Hentikan! kamu sungguh keterlaluan, kenapa kamu begitu Egois?!" sentak Suaminya.


"Maafkan aku sayang, aku yang salah. Tapi, keadaan memaksa ku. Ku mohon, mengertilah! jangan kau sebut anak kita korban, karna ucapan orang tua adalah Do'a. Istighfar, dan bertawakal lah. Insyaallah semuanya mudah. Kita hanya tidak bertemu beberapa saat, sampai anak kita menguasai semua ilmu bisnis Tn. Robert mereka bertiga harus bisa bersaing demi mempertahankan perekonomian dunia nantinya. Percayalah, kau harus bangga anak kita akan menjadi orang yang hebat di tangan Tn Robert.


"Tapi....," ucapan istrinya terpotong.


"Sasst" sang suami menutup mulut sang istri dengan telunjuk nya seraya berkata. "Jangan terlalu banyak beralasan untuk menyayangi, ini adalah Takdir! kita tidak bisa menentangnya, percayalah, bahwa adanya perlindungan yang Maha KUASA jangan takut, sedikit pun jangan kau ucapkan hal yang buruk. Simpan rasa khawatir mu cukup dalam hati." ucapnya dengan tetap mendekap sang istri.


"Mas, bolehkah sesekali aku bertemu Ana?" tanyanya dengan muka memelas.


Sang suami melepas pelukan sang istri, memegang kedua bahunya, dan sedikit mencondongkan wajahnya, Ia mencubit hidung sang istri, seraya berkata.


"Saat ini belum bisa, sayang. Ada waktunya Ana menemui kita dan menginap di sini. Kau, bisa memeluk dan menciumnya sesuka hatimu." ucapnya dengan tersenyum.


"Benarkah, aku bisa memeluknya?" nampak wajah yang berseri dari sang Istri.


"Tentu saja, sekarang istirahat lah! jaga kesehatan mu, saat Ana mengunjungi mu kau bisa kuat bermain dengannya.


"Baiklah, aku akan sehat dan kuat demi Ana!" ucapnya dengan tersenyum bahagia.


Akhirnya, sang istri pun tertidur dengan memeluk sang suami. Berbeda dengan Ayah Ana, ia masih terjaga ia menaruh kedua tangan nya di atas bawah kepala dengan menatap langit- langit, Tak terasa air bening itu kembali hadir di kedua sudut mata.

__ADS_1


"Tuhan, apa keputusan ku ini benar? Maafkan aku, memisahkan Ibu dan Anaknya. Tapi, aku tidak memiliki pilihan, sungguh aku tak tega Saat Tn Robert meminta bantuan ku. Tuhan, lindungi lah Titipan Mu Ana, di manapun dia berada." Ia kembali menatap sang istri yang telah terlelap, Ia mengusap lembut, air mata yang menetes dari kelopak mata sang istri. Entah apa yang telah mengganggu tidurnya. Ia mengusap kepala sang istri dan mencium keningnya lama sekali, seakan ia juga meluapkan semua kesedihannya.


...Bersambung...


Intermesso, dulu kite


Gini nih kalo si Paijo Sedekah🤔


Pengemis : " Pak tolong pak, saya belum makan sepuluh hari..."


Paijo : ( Memberikan Uang Rp. 20.000 )


"Tapi, saya minta kembalian Rp. 15.000 yah, Pak.."


Pengemis :( Mengembalikan uang sebesar Rp 18.000)


Paijo : "Pak, kembaliannya lebih Nih,"


Pengemis : " Iya, ngga apa- apa, anggap ajh saya sedekah,"


🙄🤭😂😂


Salam ngakak😂🤭


Gue, keder jadi di sini siapa yang sedekah🤔


Ya udah lah, sekarang jejakin ajah


jangan keder!


like


comen


vote


tips🤭


Yang mau share sangat boleh 😍😍


Terimakasih, nya love love ku yang sudah setia😍😍

__ADS_1


__ADS_2