
Pertemuan dengan Edward yang menguras keringat dan memacu ardenalin dengan degup jantung yang seakan mau copot dari tempat nya.
Yuna dan Ricki kembali ke hotel setelah mengantarkan tuan Edward pergi ke mobilnya.
Ricki berjalan beriringan dengan Yuna dan menuju kamar hotel mereka, waktu sudah menunjukan pukul 10.00 malam.
"Kapan kita kembali ke Jakarta?" tanya Ricki
"Besok, Pak."
"Saya sudah siapkan Tiket pesawat penerbangan jam 10.00 pagi, Pak."
"Saya tidak dapat tiket untuk pulang malam ini, Pak."
"Baguslah, saya sangat lelah," ucap Ricki.
Yuna segera masuk kamar mandi dan berendam di sana. Lama dia berendam, sekitar 30 menit untuk meregangkan otot yang kaku dan pikiran yang terkuras.
Di tempat lain Ricki gelisah memencet-mencet remote AC.
"Kenapa AC nya mati?" Ricki mulai geram dan melempar remotnya
Ricki membuka kemejanya dan celana panjangnya. Hingga, menyisakan celana boxer yang minim.
Ricki menyiram mukanya dengan air minum di gelas ke mukanya, ia memang tidak tahan dengan cuaca yang panas.
Ia memanggil- manggil Yuna dari kamar mandi. Yuna yang mendengar Ricki memanggil ia segera mengenakan handuk dan sedikit berlari untuk mengambil baju ganti yang ia gantungkan. Namun,
"Aduuh..." pekik yuna dari kamar mandi.
"Awwww...." Yuna merasa kesakitan saat akan berdiri dan sepertinya kakinya terkilir
Ricki mendengar jeritan Yuna dari kamar mandi dan segera menghampiri.
"Ada apa?" tanya Ricki.
"Sepertinya kaki saya terkilir, Pak."
"Apa kau bisa berjalan?" tanyanya.
"Entahlah..."
Yuna mencoba kembali berdiri namun lagi lagi ia memekik kesakitan. Ricki yang mendengar itu segera masuk ke kamar mandi yang memang tadi tidak di kunci Yuna.
Ricki terkejut melihat Yuna yang hanya mengenakan handuk yang hanya menutupi sebagian tubuhnya.
Ricki menghempas semua pikiran kotornya,
Yuna memang terlihat seksi dengan tubuh yang ideal dan tubuh mulusnya.
"Pak..."
"Eh, Iyah." Ricki segera membopong Yuna dan akan meletakannya di tempat tidur. Namun, saat sampai di tepi ranjang Ricki terpeleset oleh genangan air bekas tadi menguyur tubuhnya.
"Akkhhhh..." jerit Yuna saat Ricki menindih sebagian tubuhnya karena yuna terhempas dengan kasar ke tempat tidur, handuk bawahnya sedikit terbuka dan menampakan pahanya yang mulus.
Ricki melihatnya jiwa kelelakiannya nyaris tak tertahan, Ia menatap Yuna dengan tatapan yang memburu. Ricki menatap Yuna dengan intens, sesaat keduanya terpaku dalam diam.
"Astaaga...." teriak mamy Ricki histeris
"Mamy..." ini ga seperti yang mamy kira!" seru Ricki.
"Lalu apa yang akan kamu jelaskn dengan keadaan ini?"
"Sial...! umpatnya.Ricki mengumpat kesal karna ia menyadari adiknya telah berdiri.
Ricki segera mengambil celana panjangnya dan segera mengenakannya.
Yuna yang malu, ia hanya menutup seluruh wajahnya dengan selimut tebal, tanpa melihat mamy Ricki. Ia ingin mengenakan pakaiannya namun kakinya benar benar sakit.
Ricki menghampiri ibunya yang duduk di sofa
__ADS_1
"Mam, ini tidak seperti yang mamy kira, Ricki bisa jelasin semuanya!"
"Jelaskan apa? Jelaskan kamu akan melakukan perbuatan tidak senonoh, Iyah?!"
"Kamu tinggal satu hotel berduaan sepanjang siang dan malam apa yang perlu di jelasin!" sentaknya.
Ricki dan Yuna membenarkan ucapan mamynya. karena, untuk alasan apapun mereka benar benar dalam keadaan yang memang tidak pantas.
"Mam, lihat ACnya mati!" belum sempat Ricki menjelaskan kronologinya. Namun, sudah di cekal Maminya.
"Mamy gak mau dengar apapun alasan apapun! kamu harus segera menikahinya!" sentaknya.
Mendengar itu Yuna memberanikan diri membuka selimutnya. Yuna hanya menundukkan kepalanya merasa malu, karna memang perbuatanya sangat tidak terpuji, apalagi mereka kepergok dalam keadaan seperti seorang suami istri yang akan melakukan sebuah kewajiban, dengan Ricki yang menindihnya dan memegang bahunya meski kenyataannya karna sebuah kecelakaan.
"Sayang..." Mamy Erna memanggil Yuna.
"Kemarilah ..."
"Maaf, Tan. Kaki saya terkilir, maka dari..." ucpaan Yuna terpotong.
"Ssstttt" Mamy Erna menghampiri yuna dan menempelkan telunjuknya d bibir tipis Yuna.
"Tidak perlu jelasin apa apa sayang," mamy merestui kalian secepatnya menikah, yah?!"
"Ta-tapi tan., "saya sudah punya anak."
"Tapi, kamu tidak punya suami kan?"
"Tidak Tante. Tapi, saya benar..." ucapannya terpotong.
"Sudahlah apa kau tidak kasihan dengan Ricki? sudah setua ini belum menikah, sampai- sampai mau modusin kamu!"
"Mamy..." teriak Ricki.
"Diaaamm!" sentak Maminya.
"Coba kalo mamy ga datang, bisa habis kamu di makan kucing garong ini!"
"Mamy jangan aneh aneh deh!" kesal ricki.
"Tapi, Tan..."
"Mamy..." ucap mereka barengan.
"Tuh kan, kalian kompak banget jodoh deh pasti!"
"Oh Iyah sayang, mana kaki yang sakit biar Mamy obati,"
"Tidak usah, Tan. Nanti merepotkan," ucapnya dengan canggung.
"Ya sudah, biar Ricki saja yang obati."
"Nih, urus kaki calon isteri kamu! gak pake modus!" sentaknya.
"Iyah," ucap ricki
"oh perasaan kita pernah bertemu, di mana yah?" ucap mamy Ricki
"Ah Iyah, bukannya kamu yang tadi pagi nolongin saya? gimana udah sembuh lebam nya?" tanya ya khawatir.
"Udah, alhamdulilla." Yuna tersenyum malu
"Ternyata, ibuk aneh itu, Mamy nya pak Ricki." gumam Yuna.
"Terimakasih, Mamy tidak salah cari menantu."
"Ada apa sih Mom?" tanya Ricki.
"Sudah kau, urus saja calon istrimu! ini urusan perempuan. Iyah gak, Say?" tanya Mamy Erna dengan mengedipkan matanya.
Yuna hanya tersenyum canggung.
__ADS_1
"Awwww, sakit!" Yuna memukul tangan Ricki
"Diam lah, bodoh! coba sekarang gerakan kakimu!" titah Ricki.
"Eumm, Iyah. Udah enakan, makasih yah."
"Tidak gratis! harus bayar," Ricki menunjuk bibir Yuna..Mamy Erna yang keluar dari kamar mandi, menjewer telinga Ricki.
"kamu jadi anak ngeyel banget, Nikah dulu!" sambil menoyor kening Ricki.
Yuna tak mau ikut campur dalam peperangan ibu dan anak itu. Yuna segera mengambil baju dan piyqmanya. Kakinya pun sudah bisa di gerakan .
"Nak..."
"Iyah, Tan...,"
"Titip Ricki Yah, dia memang sudah tua tapi masih kekanak- Kanakan."
"Iyah, Tan."
"Kamu tidur di mana? saya tidur di sofa, Tan. Tapi nanti setelah menyelesaikan berkas ini dulu."
"Iyah sayang, kita tidur disini dengan menunjuk tempat tidur Ricki, biar anak nakal itu tidur di sofa!"
"Mam, AC mati, dah gitu masa tidur di sofa?" ucapnya dengan muka memelas.
"Tidur,.atau tidak sama sekali!"
"Derita banget hidup gue," gumam Ricki.
"Sayang, simpan dulu kerjaannya, nanti di lanjut lagi. Jangan terlalu di forsir!"
yuna mengnggukan kepalanya dan beranjak tidur ia memberikan bantalnya pada Ricki.
"Pakai lah, bantal sofa itu terlalu keras!"
Mamy Erna yang melihat itu tersenyum bangga.
"Tidak sia- sia rencana ku!" gumam mamy Erna.
'
'
'
'
''
'
'
'intermesso dulu aaaahhhh
kids zaman now
'
Suka bingung dengan kids zaman now, mau sholat aja update status dulu.
“3 rakaat dulu”
“Ngaji dulu”
Emangnya malaikat Izrail akan komen
“Sippp, gan”.
salam ngakak🤣🤣🤣🤣🤣
__ADS_1
tolong dukungan nya kka
like comen ka 😍