Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Mencari Nyawa yang Hilang


__ADS_3

"Emang kakak yakin bisa pisah dari Bang Ricki?'"


"Ya memang itu sudah kesepakatan."


"Emang kakak gak nyesel?" Jesica mengangkat satu alis.


"Nyesel kenapa?"


"Asal kakak tau ya, abangku ini. Biar jelek-jelek begini juga suka ngangenin."


"Kamu itu sedang muji atau apa sih," sahut Ricki.


Yuna tidak bisa menjawab, dia memutuskan untuk meninggalkan tempat ini. Dia meminta izin untuk pergi ke dalam kamar. Yuna menyadarkan tubuhnya di tepi ranjang dengan kaki terjulur ke depan, dia terus memikirkan tawaran James untuk melakukan penyerangan. Dia menyesatkan jiwa dan hatinya agar memiliki tekad yang bulat dan dia bisa pergi untuk kembali menyelamatkan Elizabeth.


James kembali menghubungi Yuna, dia memberikan kabar.


Yuna sebenarnya enggan untuk mengangkat panggilan dari James, bahwa pria itu akan membicarakan tentang penyerangan. Dia mengabaikan penggalian itu hingga ponselnya berhenti sendiri.


Tidak berapa lama adiknya Arya menghubungi, tanpa pikir panjang Yuna langsung mengangkat panggilan itu.


"Kak?" ucap Arya di seberang sana.


"Ya, Dek. Gimana kabar kalian di sana?"


"Baik. Gimana Elizabeth udah selamat belum?"


"Astaghfirullah, Kak. Bagaimana bisa kamu membiarkan anakmu sendiri disekap terlalu lama dengan musuh?"

__ADS_1


"Helena bisa dipercaya kok."


"Apa? Dia itu musuh besar kenapa bisa mempercayai musuh?"


"Aku—"


"Aku tidak mau tahu, pokoknya segera selamatkan Elizabeth. Bisa-bisanya kakak tidur dan makan enak sedangkan anak disekap. "


Yuna belum sempat menjawab Arya kembali membuka suaranya.


"Kenapa diam? Kenapa tidak langsung menyerang? Elizabeth dalam bahaya, bagaimana Kakak bisa—"


"Aku takut Arya, takut!"


"Tekut kembali gagal?" tebak Arya.


"Jelas saja gagal Kakak sendiri gak yakin." Yuna diam sejenak.


"Gak yakin? Lalu kamu mau membiarkan Elizabeth terus menjadi tawanan, memangnya kamu yakin dia diperlakukan dengan baik?"


"Tapi kalau aku menyerang dan gagal—"


"Setidaknya Kita sudah berusaha, bukankah Kakak selalu bilang, belajar dari kegagalan. Lalu. kenapa sekarang kamu menjadi bodoh?"


"Oh, iya. Pasti karena sebuah kegagalan kan? Lalu kecewa pada diri sendiri hingga hilangnya kepercayaan sisi?"


"Oke Kak. Aku tahu. Dari dulu kamu tidak perlu gagal dalam melakukan sesuatu, jadi Kakak tidak memiliki mental yang kuat untuk menerimanya. Tapi kalau seperti ini Kakak akaj gagal terus!'"

__ADS_1


"Jangan lakukan ini karena Edward, lakukan untuk menyelematkan Elizabeth!"


"Niat yang lurus, akan berakhir mulus. Satu lagi, apa yang di mulai harus diakhiri."


Arya terus saja berbicara tanpa henti padahal sejak tadi kakaknya hanya diam.


"Kenapa diam, jangan bilang Kakak tidur?"


"Kak!"


"Tidak, kok. Aku hanya merasa kamu sekarang sudah dewasa."


"Bukan waktunya untuk memuji aku."


Arya mematikan sambungan telepon, Yuna diam sejenak mulai mencerna setiap ucapan adiknya. Dia menyadari, bahwa memang selama ini dia tidak pernah gagal melakukan sesuatu. Semua berjalan lurus dan sesuai dengan harapan, akan tetapi kejadian kemarin membuat dia down. Yuna kemudian menghubungi seseorang yang bisa dipercaya untuk berbagi cerita dan dimintai pendapat, orang yang selalu mempertimbangkan setiap keputusan dengan matang.


Yuna menghubungi seseorang yang sangat tidak disukai oleh Ricki. Beberapa kali dia menghubungi tapi tidak langsung mendapat jawaban. Dia sangat memahami kesibukan orang itu. Tidak berapa lama, panggilan masuk dan itu dari pria yang sejak tadi berusaha dihubungi olehnya.


"Assalamualaikum, Dek," sapa pria itu.


"Waalaikumsalam, Kak. Gimana kabarnya?"


"Baik. Kamu?"


"Tidak begitu baik."


"Kenapa, Ada masalah?"

__ADS_1


Tidak ada jawaban, Yuna hanya diam.


__ADS_2