
"Dia mirip seperti Edward," ucap seorang pria berambut merah.
"Jadi kau pikir bahwa kemungkinan besar dia itu anak Edward?" Helena bertanya dengan wajah yang muram.
"Jika begitu, meskipun kau menikah dengan dia suatu saat nanti anak ini yang akan menjadi pewaris utama."
Mendengar itu Helena mengepalkan kedua tangan, dia benar-benar marah, kesal dan emosi. Kemudian dia meminta orang kepercayaannya itu untuk pergi dari hadapannya. Dia mengusap wajah kasar. Tidak pernah menyangka bahwa Edward dan Anastasia memiliki seorang anak.
"Tidak! Aku yakin ini sebuah kebetulan, bukankah mereka menikah sudah sepuluh tahun. Mereka pasti tidak memiliki hubungan, aku yakin Yuna dan Anastasia dua orang yang berbeda." Helena menampik pikirannya, dia benar-benar tidak terima. Berencana untuk menyembunyikan ini semua dari Eric.
Helena tidak tinggal diam, meskipun dia menampik semua pikiran tentang Elizabeth yang sangat mirip dengan Edward. Namun, ada rasa takut yang menjalar, dia tidak ingin kecolongan dan lengah. Harus memulai star, memastikan bahwa anak itu tak memiliki hubungan dengan calon suaminya itu. Saat ini Arya mengantarkan keponakan pergi ke sekolah playgroup. Gadis kecil berumur empat tahun itu mengenakan seragam, dia menggendong tas ransel dengan rambut di kubur dua.
"Om, om. Lihat aku dah cantik belum?" Elizabeth memiringkan wajahnya ke satu sisi, hingga rambut curly itu ikut bergerak ke arah satu sisi.
"Elah, centil amat dah. Udah Sono masuk!" titah Arya.
"Ish. Aku canrik, kan?" Anak kecil itu mengembangkan kedua pipi.
"Iye, iye. Ponakan om paling cakep." Arya mengusap rambut gadis itu dengan lembut.
Yuna tentu tidak membiarkan gadis kecil itu sendiri, ada seorang baby sister dan juga pengawal yang mengawasi gadis itu dari jauh. Mereka masuk ke dalam sekolah, tanpa disadari ada seseorang yang memperhatikan mereka dari jauh. Helena mengenakan pakaian serba hitam, dengan rambut ditutup pasmina hitam yang ujungnya di sampaikan ke bahu kanan dan kiri.
"Ternyata anak itu benar-benar mirip. Lalu siapa pemuda itu? Ataukah itu putra ke tiga keluarga Wilson? Ck! Mungkinkah mereka masih hidup? Aku harus segera mencari tau."
__ADS_1
Helena hendak bergerak masuk tapi diurungkan ketika dia menangkap sosok pria bertubuh tinggi besar, berpakaian serba hitam yang berada tak jauh dari sana.
"Sudah aku duga, dia pasti dijaga dengan baik. Aku harus mencari celah dan menyusun rencana."
"Soal anak ini, Edward tidak boleh tahu."
Yuna kembali dengan aktivitasnya, fokus dan berambisi untuk merampas semua hak miliknya. Merasa sangat aman, karena dia berpikir penyamaran sudah sempurna dan merasa tidak ada orang yang tahu keberadaan keluarga yang sangat disayangi. Nyatanya.dia salah besar, saat ini mereka sedang bertarung saling menyerang dari sisi yang berbeda.
Helena menghampiri Eric, dia datang membawa foto dan barang bukti. Sebenarnya enggan sekali bertemu pria itu. Namun, jika tidak dikatakan, maka dia tidak mendapat bantuan. Eric akan membantunya melancarkan rencana.
"Ada apa?" tanya pria itu dingin. Dia masih bergelut dengan berkas-berkas di hadapannya.
Helena menutup pintu ruangan dan berjalan mendekat. "Bolehkah aku duduk?"
"Heum." Eric mengangguk tanpa mengalihkan perhatian dari berkas di tangan.
"Ini soal Anastasia dan istri pemilik perusahaan Ariando."
"Kau mau bilang mereka orang yang sama?" tebak Eric.
"Aku tidak yakin, hanya saja ...." Ucapan Helena terputus.
__ADS_1
"Hanya saja apa?"
"Aku melihat seorang anak kecil yang sangat mirip dengan Edward."
"Anak? Mereka punya anak?" Eric mulai tertarik, dia menutup berkas dan menatap Helena.
"Aku dengar dia anak Yuna dan Ricki. Tapi wajahnya sangat mirip dengan Edward. Itu sangat janggal, akan tetapi aku tak punya bukti untuk melenyapkannya."
"Bunuh anak itu."
"Tidak sebelum aku memastikan bahwa anak itu darah daging siapa? Aku tidak ingin membunuh yang tidak berhubungan dengan urusanku," tolak Helena.
"Lalu untuk apa kau datang?"
"Aku ingin meminta bantuan, menyelidiki butuh banyak orang yang kuat. Aku tak bisa bekerja sendiri, karena banyak sekali penjaga."
"Aku tidak akan memberikan orangku hanya sebuah kepastian. Akan kuberikan jika kau berani menghilangkan nyawa anak itu."
"Tapi ...."
"Itu terserah padamu, Helena. Aku tidak memiliki banyak waktu untuk menunggumu berpikir. Sekarang keluar, kabari aku jika kau setuju!" tekan Eric.
Helena diam memaku, dia tak bisa tetap di ruangan ini. Segera beranjak dan meninggalkan tempat itu. Eric tersenyum menyeringai ketika melihat punggung perempuan yang sejak kecil menjadi boneknya. Disepanjang jalan Helena mulai risau, dia sadar tidak mungkin meminta dukungan pada ibu Edward, karena saat perempuan itu mengetahui bahwa anak itu adalah cucunya. Helena khawatir dia justru tak bisa membunuh anak itu.
__ADS_1