Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Flashback, Setelah Kakek Tiada


__ADS_3

Hujan masih menemani langkahnya. Gadis mungil itu mendekap tubuhnya. Hawa dingin menyelimuti setiap hembus nafasnya. Getaran tubuhnya sudah beku ia rasakan.


Ia berjalan dengan langkah gontai, ia sudah tidak menghiraukan pakaiannya yang telah basah di siram air hujan terus- menerus.


Air mata menyatu dengan tetesan air hujan. Beberapa kali terdengar klakson mobil dan motor secara bergantian. Belum lagi makian dari pengendara karena gadis berparas cantik dan mungil itu terus berjalan menembus jalanan, tanpa menghiraukan kendaraan yang hampir menabrak tubuhnya.


Ia berhenti di sebuah rumah mewah yang masih ramai. Teriakan dan makian sang ibu mertua tidak ia hiraukan. Ia terus berjalan menuju kamarnya tanpa menyapa ataupun menjawab semua pertanyaan dari para tamu yang masih hadir di tempat itu.


Edward dengan khawatir menyambut kedatangan sang istri. Ia nampak khawatir terlihat gurat amarah di wajahnya, karena sang istri tidak memberitahukan keberadaannya. Namun ia redam saat melihat istrinya yang begitu sangat menyedihkan.


Ana duduk dengan pikiran entah kemana, tatapannya kosong, Edward mengambil handuk kecil dan mengusap rambut istri kesayangannya itu dengan perlahan.


Ia tahu sang istri tengah terluka, di tambah lagi tekanan dari keluarganya. Selama ini sang kakek yang selalu berada di pihaknya.


Saat ini Edward tahu mengajak bicara Anak akan percuma. Dia tahu Ana akan sangat diam jika mendapatkan sebuah kekecewaan. 


Dengan perlahan Edward menyelimuti tubuh istrinya dengan handuk. Ia berjalan mengambil baju ganti sang istri. Perlahan membuka kancing demi kancing helaian busana yang melekat pada tubuh mungil istrinya.


Ana hanya diam, namun saat Edward akan membukanya. Ana menahan tangan kekar sang suami. Ia menggelengkan kepala. Saat ini bukan waktu yang tepat jika suaminya menuntut hal yang lebih.


Ia berjalan menuju kamar mandi. Ia mengguyur tubuhnya di bawah shower. Dan merendam lama tubuhnya di dalam bathtub. 


Suara teriakan sang ibu mertua memecah keheningan menghancurkan ketenangan. Gadis berparas manis itu terlonjak dalam lamunannya. Ia segera memakai handuknya.


Segera masuk ke ruang ganti dan memakai pakaiannya. 


Seorang wanita paruh baya, bermata bulat itu telah berdiri tepat di hadapannya saat ini. Tidak ada sedikitpun senyuman di wajahnya. Ia berdiri sambil berkacak pinggang tatapannya tajam menatap menantu yang sangat ia benci.

__ADS_1


Ana terdiam, matanya masih merah. Menahan rasa sesak di hatinya ditinggalkan orang yang sangat berarti dalam hidupnya.


"Halo, menantu kesayangan," ucapnya sinis. Ana sudah bisa menebak dari nada bicaranya saat ini. "Kau tahu? Ini adalah hari paling bahagia dalam hidupku!" ucapnya dengan mendorong tubuh wanita yang sudah tak bertenaga itu.


"Tidak akan ada yang bisa membelamu! Kau tunggu tanggal mainku!" Ia berkata dengan memainkan rambut Ana yang basah dan masih berantakan. "Aku akan membuat kau!" Ia menekankan nada bicaranya. "Berpisah dengan anak kesayanganku!" lagi- lagi wanita paruh baya itu mengulas senyum sinis.


"Apa kau tahu?" tanyanya kembali. "Aku yang membuat mertua kesayanganku mengalami serangan jantung! Haha, aku hebat bukan?!" Ana mengepalkan tangannya, ia hampir tidak bisa menjaga emosi.


"Kenapa kau lakukan itu, hah!" nada bicara Ana sudah tidak tertahan ia hampir berteriak, "Apa kau tidak bisa menebak? Kau terlalu bodoh, sayang!" wanita paruh baya itu menjambak rambut Ana.


"Kau ingat satu hal! Aku akan menguasai seluruh kekayaan Endelson! Kau adalah satu- satunya penghalang buatku! Aku akan membuatmu pergi dari Edward!" ancamnya. "Kau, tidak akan memiliki pilihan selain meninggalkan anakku, kau mengerti!" Ia mendorong tubuh Ana.


Ana masih duduk bersimpuh, memegangi dadanya. Sakit ia rasakan, ingin sekali ia melawannya. Namun, ia teringat ucapan seorang ustadz saat dia mengaji ketika masih kecil. Bahwasaanya ia berkata, bahwa orangtua tidak pernah salah. Itu yang sering ia pegang dulu, tapi tidak sekarang saat Ana telah menjelma menjadi Yuna.


Setelah kejadian itu, ia masih duduk dengan tangisnya. Namun, ketukan pintu di kamarnya membuyarkan lamunannya.


Seorang wanita parubaya, yang masih terlihat cantik, berparas ayu dan tersenyum ramah. Panggilan itu sangat Ana rindukan. Entah kapan  terakhir ia mendengar suara menyejukan itu.


"Nak." Panggilnya dengan suara yang lembut. "Apa kau baik- baik saja, Nak?" tanyanya kembali. Ana menatap sendu pikiran dan jiwanya masih belum menyatu.


"Sayang." Ia mengusap rambut Ana yang belum sempat tersisir. "Wah, kemana rambut indah wanita tercantik ini?" tanyanya dengan terkekeh. 


Wanita ramah itu mengambil sebuah sisir, ia mengisir rambutnya dengan perlahan seraya berkata, "Apa kau bahagia, Nak?" tanyanya dengan sesekali mengecup rambut wanita mungil itu.


"Sayang? Semua memang akan kembali, jadi kau harus mengikhlaskannya!" Ingin sekali ana bercerita, bahwa ia tidak baik- baik saja. Bahwa hatinya hancur. Perlakuan ibu mertuanya sungguh selalu menyakitinya. Tapi, ia tidak ingin membebani ibunya.


Seketika Ana memeluk ibunya dengan erat. Hangat dan nyaman ia rasakan. Belaian sang ibu mampu menenangkan hatinya dan jiwanya. Pelukannya menguatkan wanita berwajah mungil itu.

__ADS_1


"Buk." panggilnya lirih. "Iyah, sayang?" seulas senyuman terukir dari bibirnya. Ana menghembuskan nafas kasarnya, ia tidak melanjutkan ucapannya. "Ada apa sayang? Ceritakan!"


"Tidak, tidak apa- apa, Buk." Ana memaksakan senyumanya. "Kalau begitu, ayok kita turun! Papah sudah menunggumu dan juga Andra!" 


"Benarkah?" raut wajahnya berubah ceria ketika ia mendngar nama adik kesayangannya yang dingin seperti bongkahan salju. "Apa si kecil Arya ikut?" tanyanya kembali. "Tidak! Dia tidak ibu ijinkan ikut."


Ana berjalan dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya. Ia menggandeng tangan sang ibu. Seketika ia melupakan rasa sakit hati atas perlakuan mertuanya.


"Andra!" Ia memeluk adik kesayangannya. Ia sudah tak peduli tatapan sinis orang- orang di sekelilingnya. Ibu mertuanya menatap tajam Ana seketika, ia menciut.


"Bagaimana kabarmu, Dek?" tanyanya dengan senyum yang melekat indah di bibir mungilnya. Hanya senyuman yang di berikan Andra pada sang kakak atas jawaban dari pertanyaan sang kakak.


Ana masih dengan kebahagiannya. Bertemu dengan keluarga kandungnya adalah hal yang langka.


Tepukan ledekan dari sang ibu mertua menutup senyum yang mengambang di wajah bahagia keluarga Ana.


"Wah, wah! Sekumpulan penjilat telah bahagia atas kepergian mertuaku! Kau senang bukan? Sekarang kalian bisa menguasai seluruh harta keluarga Endelson! Dasar licik!" 


"Apa maksudmu? Siapa yang kau sebut licik, hah?!" Amarah sudah menguasai ibu Ana. Namun, suaminya mencoba menenangkan.


"Mama!" Edward merasa tidak terima atas perlakuan ibunya terhadap Ana dan keluarganya.


"Kenapa? Apa kau mau menjadi anak durhaka Edward!" sentaknya. "Kumohon, jangan membuat keributan," pintanya dengan sangat lembut.


Edward memanglah sangat mencintai Ana, tapi dia juga anak yang patuh dan penurut terhadap ibunya.


Itulah yang Ana khawatirkan ketika kakeknya meninggal. Tidak ada lagi yang bisa membelanya. Tidak ada lagi tempatnya untuk berlindung dan mengadu saat itu.

__ADS_1


TBC


__ADS_2