Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Dendam dan Ambisi Berakhir Petaka


__ADS_3

"Sudah pulang?" tanya Ricki yang masih setia menunggu di depan rumah. Sejak kepergian Yuna dia menunggu sang istri di depan.


"Kamu belum tidur?" tanya Yuna. Ricki menggeleng.


"Belum."


"Jangan pernah menungguku. Dan, jangan berlaku seperti seorang suami sesungguhnya," ucap Yuna dingin.


Perempuan yang mengenakan setelan serba hitam itu masuk. Ricki mengekor di belakang.


"Lain kali jangan melakukan hal ini," tekan Yuna dengan menaiki tangga.


"Di dalam kamar banyak sekali nyamuk, makanya aku tunggu di luar."


Yuna menghentikan langkah, menoleh ke belakang dan tersenyum kecut. "Jadi di luar gak ada nyamuk?"


"Iya."


"Dasar aneh. Gak bakat bohong gak usah sok-sokan! Huh."


Sampai di kamar Yuna melempar semua barang-barang yang bersarang di baju dan celana. Tanpa berganti baju dia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, melihat kedua tangan menyanggah kepala. Dia menghembuskan napas lelah.


Ricki dengan sabar merapikan alat tempur istrinya yang berserakan di lantai. Seperti seorang nenek dia mulai mengomel.


"Ini tuh benda tajam semua. Bisa gak, jangan ngasal kalau nyimpen!" omelnya.


Yuna tidak menganggapi, dia bahkan tidak bergeming. Ricki duduk di tepi ranjang, memukul paha Yuna sehingga membuat perempuan itu bangun dan duduk.


"Apa sih!"


"Kamu itu kalau pulang dari mana-mana mandi dulu, bersihin tubuh dulu. Pasti habis bunuh orang 'kan!"


Yuna merotasikan mata. Dia enggan bercerita, tetapi tidak tahu pada siapa harus mengadu. Sejujurnya dia ingin berbagi kegelisahan. Namun bagaimana bisa bercerita, pria itu terus mengoceh.

__ADS_1


"Jadi perempuan itu gak boleh jorok. Kamu tuh habis dari mana-mana gak bisa seperti ini terus, coba kalau suaminya orang lain udah ditinggalin tau nggak sih kamu."


"Kamu tuh kayak nenek-nenek nggak dikasih belanja. Berisik!"


"Aku bukan nenek yang gak di kasih belanja tapi suami yang gak dikasih jatah," celetuk Ricki.


Ricki melihat wajah istrinya begitu sangat sendu, Dia berjalan mendekati nakas dan mengambilkan air minum di sana menyodorkan pada Yuna. "Minum dulu."


Yuna menerima dan meneguknya sampai habis. Ricki kembali menyimpan gelas itu di atas nakas. Dua kembali duduk di samping sang istri.


"Ada apa?" tanyanya. "bukannya kamu sudah merencanakan ini semua, tidak mungkin gagal kan?" tebak Ricki.


Yuna menutup wajahnya dengan kedua tangan, ingin sekali menangis tetapi selama ini dia tidak pernah bisa melakukan itu. menjadi seorang Anastasia air mata pun tidak boleh diteteskan dia harus benar-benar kuat. Ricki merangkul bahu istrinya.


"Terkadang pura-pura kuat itu gak baik. menangis memang tidak akan menyelesaikan masalah tapi jika itu bisa membuatmu lebih lega Kenapa harus ditahan," seru Ricki. Dia seakan tahu apa yang dirasakan sang istri.


"Nanti kalau aku nangis kamu ngeledekin cengeng."


"Sial!" Yuna mengumpat.


"Ada apa sih? jangan dipendam sendiri ntar jadi gila, kalau kamu gila siapa yang ngomelin aku," cicit Ricki.


Yuna yang sejak tadi merasa pusing dan ingin menangis urung dilakukan karena justru dia menarik sudut bibirnya membentuk senyuman, suaminya memang selalu bisa mencairkan suasana dan menghangatkan hati, dengan sikapnya yang penuh pengertian dan lembut.


"Aku gagal," keluh Yuna.


"Gagal gimana?"


"Penyamaranku selama ini terasa percuma, entah siapa yang menjadi penghianat di antara kami. Namun rencana penyerangan terbongkar dan justru menjadi serangan balik yang menekanku."


"Maaf otaku masih belum terkoneksi untuk hal-hal yang membutuhkan pikiran berat," jawab Ricki dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Yuna menceritakan semuanya kepada pria itu,

__ADS_1


yang menjadi pusat perhatian dari semua cerita bukan kegagalan penyerangan atau apapun tetapi ketika mendengar Elizabeth diculik pria itu beranjak dan menggoyang kedua bahu istrinya.


"Jika anak kita diculik, kenapa kamu masih diam di sini? Ayo kita ambil Elizabeth. berapapun tembusan dan apapun yang mereka inginkan aku akan berikan!"


"Erik sangat licik, kamu jangan pernah sekalipun memberikan apapun yang dia minta."


"Terus kamu membiarkan Elizabeth menderita warna bagaimana kalau dia memiliki anak kecil yang tidak berdosa!"


Ricki tampak sangat kesal karena melihat juga tidak melakukan pergerakan. dia kembali menggoyang kedua bahu perempuan itu hingga bergeming maju ke depan dan ke belakang.


"Kenapa kamu diam saja, Yuna! Dimana mereka menyekap Elizabeth!"


"Aku tidak tahu harus berbuat apa? Otakku buntu. Bertahun-tahun aku merencanakan untuk menghancurkan mereka tapi nyatanya aku yang semakin hancur!"


"Persetan dengan kehidupan masa lalu yang aku pikirkan sekarang bagaimana Elizabeth," pangkas Ricki.


"Untuk saat ini dia akan baik-baik saja. kita tidak boleh ke gabah melakukan sesuatu, menunggu arahan apa yang diinginkan oleh Erik."


"Terus kita hanya diam saja seperti ini? Tidak!" Ricki mengusap wajahnya dengan kasar.


"Terus apa yang harus kita lakukan? Aku tidak tahu mereka membawa Elizabeth ke mana."


"Kenapa tidak kamu kerahkan semua anak buah untuk mencari Elizabeth!"


"Pergerakan kita tentu akan dipantau, dan jika kita melakukan sesuatu hal yang ceroboh nyawa Elizabeth akan terancam!"


"Benar yang dikatakan keluargamu. Seharusnya kamu tidak melakukan penyerangan atau melupakan kejadian di masa lalu. Kenyataannya semua semakin memburuk."


"Kenapa kamu juga terus menyalahkanku!"


"Itu emang kenyataan! Elizabeth menjadi korban karena ambisi dan dendam. Seharusnya hal ini gak terjadi, jika kamu merelakan semua dan melupakan semua masa lalu dan dendam hal ini tidak akan terjadi. Dirimu menjadi seorang Anastasia adalah petaka," ucap Ricki dengan berlalu.


Yuna menjamak rambutnya dengan kedua tangan dan berteriak histeris dia benar-benar tertekan, baru kali ini juga dia melihat suaminya marah dan begitu menyalahkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2