Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Kabar Yang Mengguncang


__ADS_3

Ia menutup mulutnya tak berdaya, mengusap perutnya dengan hati yang hancur tubuhnya bergetar hebat menahan sesak. Apa yang dia lihat menghancurkan jiwanya.


Ana sudah tidak sanggup lagi melihat suaminya tanpa busana tengah tertidur pulas di bawah tubuh wanita yang sangat ia kenal. Saat ini Ana menatap sahabatnya penuh dengan kekecewaan, tatapan mereka saling beradu, Helena mencoba merapihkan busananya yang telah berantakan.


Perlahan Helena mendekati Ana, dengan lingerie yang masih melekat di tubuhnya.


Ia berjalan dengan sangat perlahan dengan menyibakkan rambutnya. 


Dia tersenyum sinis pada Ana, derai air mata masih membasahi wajah wanita mungil ini, ia tak pernah menyangka selama dua tahun ia merindukan sahabatnya dan selalu mencari keberadaannya. Dialah yang mengirim pesan dan menghianatinya.


"Kenapa?" tanyanya parau. "Kenapa kau, lakukan ini?!" Apa salahku!" teriaknya.


"Tubuh suamimu sungguh sangat perkasa, tapi lihatlah aku telah mampu menaklukkannya. Kau lihat, dia tertidur dengan da …," ucapnya terpotong karena teriakan wanita yang tengah terluka itu.


"Hentikan! Cukup!" Ana menutup telinganya. "Aku tanya, kenapa kau tega padaku, Helen?!" Ana kembali berteriak mengguncang tubuh Helena yang ia anggap sahabatnya dan yang ia sayangi.


"Jawabnya, sangat sederhana. Itu karena, kami saling mencintai!" senyuman Helena nampak seperti mengejek. "Tidak! Itu tidak mungkin," bantah Ana.


"Apa kau tahu selama dua tahun ini kami sering bertemu, hal seperti ini sering kami lakukan! Eum, kau tahu? Sentuhanya selelu membuatku tergoda. Apa kau tahu? Bukankah Edward tak pernah menjawabkan jika kau tanya tentang aku?! Yah, itu karena ia ingin menyembunyikan hubungan kita! Tapi, aku kasihan makanya ku kasi tahu kau apa yang sebenarnya ada di antara kita?" 


"Cukup! Helen, aku tidak mempercayaimu!" Sangkalnya. "Terserah saja, itu hakmu! Tapi, ini adalah bukti cinta kami! Kau jangan serakah, Edward menginginkan seorang anak bukan? Berapa tahun kau menikah dan belum mempunyai keturunan! Jadi wajar kalau dia mencari wanita yang bisa memberinya keturunan!" 


"Sebenernya aku …," ucapannya terhenti Ana tidak mungkin mengatakan perihal kehamilannya pada wanita yang telah merusak kepercayaannya itu.


"Kenapa sayang? Kau mau mengatakan sebenarnya kau tidak akan pernah memiliki anak? Eum, apa yah sebutan wanita sepertimu!" Ejeknya. "Ah, aku ingat kau Man …," ucapannya kembali terjeda.


"Hentikan! Kenapa kau terus menghinaku!" wanita berparas mungil itu, sudah tidak bisa menahan amarahnya. "Kau mau marah! Marah saja, apa kau tahu? Mertuamu juga menyetujui hubungan kami! Haha, kau sangat menyedihkan, Ana!" 


"Cukup Helen!" ucapannya sudah melemah. "Oh, yah. Kau tahu? Suamimu pernah berkata padaku, "Oh, Helen sayang, aku ingin segera menikahimu. Sebenarnya aku tidak mencintai Ana, hanya saja Kakek yang memaksaku menikahinya." Wanita gila itu mencoba mempraktekkan gaya bicara Edward. 


Hati Ana semakin terpukul, ia menangis sesegukan apalah daya dia, di usia kehamilan yang masih sangat muda harusnya ia bisa bermanja dengan suaminya. Tapi, ia menerima pukulan yang menghantam jiwanya. Meremukan harapanya dan menghancurkan kepercayaannya.


Dua orang yang sangat ia percaya, kini menghianatinya. Jika Edward melakukan bukan dengan sahabatnya mungkin rasanya tidak akan sesakit ini. Hidupnya adalah Edward, jika seperti ini apalah arti kehidupannya.

__ADS_1


Selama ini, dia bisa bertahan dengan berbagai hinaan dan ancaman mertuanya. Kesetiaan Edward dan cintanya selalu membuatnya bertahan dan kuat menerima siksaan batin yang bertubi- tubi dari mertuanya.


Harapannya hilang, hidupnya tak berarti, matanya sudah membengkak, ia berjalan keluar pintu, dengan sekali lagi melihat tubuh suaminya yang polos tanpa busana.


Semakin dilihat, semakin membuatnya sesak. Ia melangkahkan kaki menjauhi tempat itu, sampai di ambang pintu panggilan dari seorang wanita iblis itu, menghentikan langkahnya.


"Tunggu!" Ana diam, tanpa berbalik. "Ikhlaskan dia, karena kau hanya benalu, Ana!" Kata- kata itu semakin merobek hati dan jiwanya. Tanpa jawaban Ana berlari keluar kamar hotel dengan deraian air mata yang masih menemaninya.


Ia terus berlari dengan tangisannya, ia sudah tidak menghiraukan tatapan mata di sekelilingnya tengah berbisik tentang keadaanya saat ini, sesekali ia menabrak seseorang yang menghalangi langkahnya. Ia terus berlari dengan menundukkan kepala. Air matanya sudah tak dapat ia bendung terus berjatuhan membasahi lantai. Sakit dan nyeri telah menghujani perasaannya. Edward adalah suami dan orang paling dekat dalam hidupnya dan Helena adalah sahabatnya. Ini seperti mimpi buruk baginya.


Sampai di parkiran, Ana menuju mobilnya. Namun, tangannya di cekal oleh seseorang. Ia menatap Ana iba, tatapannya tajam. Ia tidak akan membiarkan Ana melajukan kendaraannya sendiri. Membiarkan ana menyetir saat ini, adalah kebodohan terbesar baginya.


Pria bertubuh tegap itu menuntun untuk naik ke mobilnya. Ia mendudukkan Ana di kursi penumpang di sebelahnya. 


"Erd, tega padaku!" wanita berwajah mungil itu menangis tersedu dengan menundukan kepalanya. "Apa kau yakin?" 


tanyanya namun tatapannya lurus kedepan. "Aku melihatnya, apa Erd tidak pernah mencintaiku?" tanyanya dengan menggoyang tangan pria disampingnya. "Jawab!" bentaknya.


Pria bertubuh kekar itu menghembuskan nafas kasarnya. "Kau tanya hati kecilmu!" Jawabnya dengan menatap tajam. "Tapi aku melihatnya!" bantahnya, "Kadang apa yang kamu lihat tidak membuktikan sebuah kebenaran!" jelasnya.


Ck.


"Kau masih menganggap wanita iblis itu sahabatmu?!" tanyanya sinis. "Apa kau tahu, siapa dia sebenarnya?!" wanita berparas mungil itu, menatap. Matanya menuntut sebuah penjelasan.


Pria bertubuh kekar itu menjelaskan pada Ana tentang jebakan Helena dan Eliot, sehingga mereka berdua menghilang dari kehidupan mereka. Suamimu menyembunyikan semuanya, dia tidak ingin melihatmu bersedih dan kecewa jika kau tahu siapa sebenarnya wanita iblis itu.


Matanya terbelalak, ia tidak menyangka selama ini sahabat yang ia anggap saudara ternyata tega menikamnya. Ia mengusap pipinya yang basah oleh air mata dengan kasar dengan kedua telapak tangannya. Ia membuka pintu mobil dan kembali berlari. Sikapnya yang elegant hilang sudah karena kini amarahnya memunjak.


Jika tadii dia berlari dengan tubuh yang lemah.di hiasi deraian air mata, namun sekarang dia berlari dengan amarah yang menggebu, saat ini ia yakin Helena telah menjebak suaminya juga. Ia ingin segera memberi wanita itu pelajaran. 


Namun, langkahnya terhenti saat nada dering ponselnya berbunyi, semaangat dan amarah yang menggebu kini berubah menjadi tangisan.


Saat ini, ia benar- benar diuji, sejak pagi senyuman tak lepas dari bibirnya mendengar kabar bahagia. Seketika, hancur saat mendengar kabar tentang suaminya kebenaran tentang Helena juga membuatnya marah dan sekarang Ana kembali menangis mendengar kabar duka dari negara asalnya.

__ADS_1


Ia berbalik dengan tubuh yang melemas, berjalan sempoyongan dan kembali menangis. James sudah bingung melihat nyonya mudanya hari ini. Saat ia mengatakan tentang kebenaran Helena, wanita mungil di hadapannya begitu semanagat dengan amarahnya. Tapi, saat ini kenapa dia terus menangis. Ia harus berfikir keras tentang ini membaca dan memperhitungkan segala sesuatu yang mungkin terjadi. Karena, baginya tidak ada yang kebetulan. 


"Apa yang sebenarnya terjadi?!" tanyanya. Ana menatap sendu ia belum bisa menjawab pertanyaan pengawal sekaligus sahabat kecilnya itu. Ia masih tersedu nyeri, sakit, amarah masih ia rasakan melihat kenyataan Edward dan Helena.


Di tambah lagi, kabar duka dari negara asalnya kembali membuatnya terguncang.


TBC


Intermesso dulu, ya.


Tukang gado- gado


pembeli : "Bu, pesan gado- gado satu!"


kang gado gado: " Cabenya berpaa?"


Pembeli : "Sepuluh, sajah!"


kang gado gado:"Maaf cabenya tidak ada, jadi beli?"


Pembeli ;"Jadi! Tak ada cabe pun tak apa!"


kang gado- gado :"Pake tahu?"


pembeli :Sudah mulai kesal, "Pake!"


kang gado- gado :"Maaf lagi, minyaknya habis."


Pembeli :" Pake jalantah wae, Kuya!" Sudah kesal.


Kang gado-gado: "Sebenar, di buatkan. Maaf, di sini tidak ada gado- gado pake Kuya!"


Pembeli : "Astaghfirullah 😒

__ADS_1


😝😂


Dah akh bantu jejak 😍


__ADS_2