
"Apa Anda yakin, Nona?" James tampak sangat khawatir. Wajahnya menunduk lesu.
"Entahlah."
"Aku tak melihat ambisi dimata Anda kali ini." James memicingkan mata.
"Kalau mau ambisi sendiri aja, gak usah ajak istri orang," celetuk Ricki.
James mendelik sinis, "Apa kau yakin bahwa Nona kami adalah istri Anda, Tuan? Jangan lupa bahwa Yuna hanya sebuah nama. Terima kenyataan."
"Yang aku tahu dia Yuna."
"Cukup!" Yuna berteriak menutup telinga dengan kedua tangan.
"Apa kalian tidak bisa diam? Aku sedang pusing! Berhenti berdebat hal yang tidak penting!" berang Yuna.
"Kepalaku seperti mau pecah. Aku capek, James! Sejak kecil hidup penuh tekanan dan aturan, apa kau mau terus seperti ini terus? Jujur aku tertekan!"
"Aku ingin menyerah."
"Tidak Nona. Anda dan Tuan Edward adalah pewaris sah. Kita gak bisa diam, harus menghentikan Erik dan Helena. Sudah banyak yang menjadi korban."
"Aku tak ingin ikut campur. Hanya ingin Elizabeth terbebas. Marsella juga jadi terancam nyawanya."
"Kita tak bisa mundur, Nona. Harus tetap maju dan mengakhiri semua baru bisa hidup tenang."
Yuna menghembuskan napas lelah. Dia kembali membenarkan ucapan James. Pria itu juga sudah menemukan orang yang berkhianat, dia terus meyakinkan Yuna agar kembali menyusun rencana penyerangan. Yuna mulai bimbang, dia ingin behenti tapi tak semudah membalikkan tangan.
"Jangan din dengar. Aku bener deh sudah rela memberikan perusahaan, tenang aku masih banyak kok. Demi Elizabeth kamu harus berubah." Ricki terus menghasut. James benar-benar sangat geram.
"Ini bukan soal menyerahkan perusahaan! Apa kau pikir hanya dengan cara itu semua selesai menghadapi Eric? Tidak!" James menatap tajam Ricki. Amarah di meletup-letup.
"Aku mohon, kita harus selesaikan ini!"
"Jadilah lebih kejam! Jangan ragu untuk membunuh dan menghajar, karena keraguan akan menghancurkan kita."
"Lindungi Yuna darin bisikan setan yang terkutuk." Ricki menegadahkan kedua tangan.
__ADS_1
"Bolehkah aku memenggal kepalanya Nona?"
"Mutilasi saja skalian," sahut Yuna dengan beranjak.
"Wow predator." Ricki bergidik ngeri.
"Aku akan menemumu di menson," ucap Yuna dengan berlalu.
Tepat pukul satu malam Yuna baru pulang dari menson. Rencana sudah tersusun rapi, Ricki sejak tadi menunggu di teras depan. Dia sangat khawatir karena lewat tengah malam. sang istri belum juga pulang. Dia berjalan mondar mandir dengan menggendong tangan ke. belakang, berjalan mondar-mandir seperti orang linglung. Ketika melihat ada lampu mobil yang menyala dan tahun itu mobil Istrinya dia segera masuk ke dalam rumah. Saat berlari, satu sandal rumah tertinggal. Dia berbalik dan mengambil sandal doraemon itu. Masuk ke dalam rumah dengan terseok-seok.
Ricki mengintip dan membuka tirai jendela, melihat Yuna diantar oleh James, terlibat perbincangan Ricki tentu tak mau mendengar. Dia segara menutup tirai jendela dan berjalan cepat menuju tangga. Tidak masuk ke kamar, dia berjalan menuruni tangga dengan memguap saat Yuna baru saja membuka pintu.
"Kau baru pulang?" tahya Ricki.
"Kau menungguku lagi?"
"Hoam." Riki memguap dan menutup mulutnya dengan satu tangan. "Kamu tak lihat, akun baru saja bangun?"
"Kamu mau menemani aku minum kopi?" tanya Ricki.
"Hah? Sejak kapan kamu ngopi?"
Pria itu sangat tahu, bahwa kali ini Yuna butuh teman untuk berbagi. Yuna membanguk mereka pergi menuju dapur. Perempuan yang sedang murung itu melipat kedua tangan dan disimpan di atas meja.
"Laper gak?"
"Mayan," sahut Yuna.
"Mau mie rebus? Aku buatkan deh," tawar Ricki.
"Emang bisa? Masak air aja gosong."
"Jangan suka meremehkan, karena aku bukan nasi."
"Duh gak lucu." Yuna mencebik.
"Jadi mau gak?"
__ADS_1
"Nanya mulu ke nenek-nenek dibuatin kagak!" sahut Yuna kesal.
"Dih ditanya malah ketawa."
"Mana ada aku ketawa. Nih muka kesal, bukan bahagia?" Yuna menunjukkan wajahnya dengan satu tangan.
"Oh. Ya syukur kalau bahagia. Banyak sih yang bilang kalau dekat aku bawaannya pengan seneng aja gitu."
"Serah deh, serah!"
"Jadi mau mie rebus apa goreng?"
"Apa apa."
"Mie rebus kakanya enak," ucap Yuna kemudian, padahal Ricki udah mengambil mie goreng.
"Ini nih, terserah perempuan tak konsisten."
Tidak berapa lama Ricki kembali dengan dua mangkuk yang berada di atas satu nampan. Dia menyodorkan satu mangkok berisi mie pada Yuna.
"Ini mie goreng? Merk apa sih? Ada ya mie warna item?" Yuna mengangkat mie itu dengan garpu.
"Itu mie rebus India."
"Hah? Pantas hitam." Yuna mengantuk. "Eh, tadi. mie rebus tapi kok gak ada kuah?"
"Iya tadi masaknya kelamaan. Wajan aja sampe gosong."
"Jangan-jangan mie ini hitam bukan karena mie India tapi karena kamu masak sampe airnya abis?" tebak Yuna.
"Ya gitu deh." Ricki menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "anggap aja itu mie rebus tanoa kuah," tambahnhnya.
"Astaga!" Yuna mengusap wajar dengan kasar.
Meski begitu Yuna masih menikmati mie rebus kering buatkan sang suami. Rasanya ditolak lidah ada rasa pait, asin benar-benar sulit. dibayangkan Yuna memejamkan mata menikmati mie itu.
"Saking enaknya kamu sampe merem melek. Sepertinya aku berbakat menjadi koki," cicit Ricki.
__ADS_1
"Sungguh aku hebat, bisa membuat mie India." Ricki menyisir rambutnya ke belakang dengan tiga jari.
Ingin rasanya Yuna menjejelkan mie itu ke mulut suaminya. Namun tidak akan dilakukan, karena sangat menghargai kebaikan Ricki yang rela membuatkan mie India yang dapat menggoyang lidah dan membuat Yuna merem melek dengan cita rasa yang absurd. Seabsurd keluarga ini.