
Seketika semua menangis. Namun, kesedihan mereka teralihkan dengan datangnya seorang wanita yang membuka pintu ruangan dengan ganas.
Bruugh...
"Kenapa kalian baru mengabari kami?! Dan kau, ular berbisa ini semua rencana mu, bukan?!" ia menatap tajam Anastasya.
Ana terdiam. Baginya, ini hal yang biasa. Wanita paru baya itu melirik sinis Ana yang hanya menundukkan kepalanya.
"Kenapa kau hanya terdiam hah? aku sudah menduga bahwa kau adalah ular yang sangat berbahaya bagi keluarga kami! Untuk apa kau masih di sini wanita tidak tahu malu! Pergi!" usirnya.
"Hentikan! Momy! Kenapa kau selalu tidak menyukainya? Apa salahnya?" sentak Edward dan beranjak dari duduknya.
Ck
"Bahkan kau, lebih membela wanita ular ini di banding Mamy, hah?!" sentaknya dengan di barengi air mata buaya. "Tidak! bukan maksudku seperti itu," Edward berbicara menurunkan nada bicaranya menjadi sangat lembut.
"Kau, jangan tertipu dengan kepolosan wanita ini! Asal kamu tahu ini semua pasti rencananya!" ucapnya dengan menggoyang tubuh Edward. "Mamy, please! Jangan membuat keributan, ini rumah sakit dan Mamy tak lihat kondisi kakek?" Edward masih berbicara dengan nada yang lembut.
"Kau, tahu sayang? Mamy tahu siapa sebenarnya wanita ular ini! Jadi hentikan lah, pernikahan ini!" bujuknya dengan mengelus kepala Edward. "Tidak! Aku sangat mencintai Anastasya!" kini nada bicaranya, sudah naik satu oktaf.
"Tuh kan! kamu lebih memilih wanita ular itu, di banding Mamy yang telah melahirkan mu!" Ia merajuk. Sang kakek sudah terlihat muak dengan drama menantunya itu, ia sudah merasakan sesak di dadanya.
"Diam! Kau yang ular!" sentaknya. "Kau, yang tidak tahu apa- apa! aku sudah sangat muak dengan tingkahmu, jika kau datang hanya membuat keributan, pergi!"
"Ayah ..., ucapnya parau," Pergi sekarang! Pergi!" nafasnya mulai tersengal.
__ADS_1
"kakek, biar Ana saja yang pergi. Kakek, tenangkan diri kakek. Sekarang, tarik nafas dan hembuskan perlahan." Ana menuntun sang kakek agar bisa lebih tenang.
Sang kakek, memang nampak lebih tenang. Ibunda Edward, menatap sinis dengan bersidakep. Dia masih berdiri menatap menantunya, wajahnya angker seperti kuburan di malam hari, matanya melotot seperti biji jengkol. Rambutnya tergerai rapi seperti kuntilanak selepas dari salon. Secantik apapun tetap saja menyeramkan. Itulah gambaran Sela tantang Ibunda Edward, yang adalah tantenya.
Sela nampak tersenyum sendiri, menertawakan bayangannya tentang tantenya. Dia memang tidak pernah suka, karena sang Tante selalu merendahkannya dan juga Ana.
Berbeda dengan Ana, Ia seperti di tatap oleh bintang buas yang siap menerkam dan mencabik-cabik isi perutnya. Ana merasa tak tenag ia meminta ijin pada sang kakek untuk pergi mencari udara segar, berada di ruangan ini membuatnya terus berkeringat bahkan AC ruangan pun tak cukup mendinginkannya.
Ana meminta ijin pada ibu mertuanya. Bukan jawaban yang ia dapat melainkan sang ibuk mertua membuang mukanya. Ana sudah kebal dengan sikap mertuanya itu, Yang selalu terang-terangan menunjukan kebencian padanya. Sela akan mengikuti Ana untuk pergi. Namun, Ana melarangnya dengan menggelengkan kepalanya.
Ana berjalan membuka pintu, tak lama Edward membuntutinya. Namun, tangannya di cekal oleh ibunya, memelototinya dan menggelengkan kepalanya. Ana hanya menghembuskan nafas kasarnya untuk meredam rasa sesak didadanya. Dia bukan tak punya hati, melainkan rasa cintanya pada Edward melebihi apapun.
Edward memang begitu sangat mencintai
Ana melewati lorong- lorong rumah sakit dengan perasaan yang tak menentu, meski ia tegar dan terbiasa dengan perlakuan mertuanya. Namun, tak bisa di pungkiri ia juga selalu berharap memiliki mertua yang baik dan menyayanginya. Harapan itu hanya khayalan karena kenyataannya selama dia mengenal sang mertua tak pernah ada sedikit pun senyuman untuk Ana, meski itu hanya pura- pura.
Ia duduk di kursi di bawah pohon yang rindang, ditemani angin yang meruntuhkan dedaunan seperti runtuhnya pertahanan hati Ana saat ini. Ana membiarkan dedaunan memenuhi rambut indahnya, Ia menonggakkan kepalanya menatap birunya langit. Tak terasa air bening itu lolos tanpa ia sadari. Ia mencoba mengerjapkan matanya agar air suci itu tidak memenuhi pipinya. Baginya menangis tidak akan pernah mengembalikan keadaan.
Bagaimana dia tidak merasakan sesak. Sedari kecil, dia tidak pernah bisa merasakan hidup bersama keluarga yang lengkap. Saat ia merasa sesak ia hanya bisa memeluk alam, dan menikmati hembusan angin menerpa wajahnya dan mendekapnya dengan kebisuan.
Ia tidak menghiraukan saat ia mendengar derap langkah memecah keheningan, Ana hanya bisa duduk dan tersenyum menatap kupu- kupu yang terbang kesana-kemari dengan girangnya. Kepakan sayapnya indah membius dan memanjakan mata, namun tak dapat menghapus kegundahannya.
Uluran tangan seseorang menyadarkannya dalam lamunan, Ia menatap datar seseorang yang sudah duduk di sampingnya dengan memberikan satu cup ice cream di tangannya.
Senyumannya begitu sangat hangat, akan memabukkan siapa saja yang melihatnya. Tapi tidak dengan Ana. Ana mengambil Ice cream dan memakannya dengan menatap kosong ke depan.
__ADS_1
Seseorang di sampingnya menepuk bahu Ana seraya berkata, "Kamu tidak sendirian, ada aku!" ia tersenyum manis, Ana hanya menganggukan kepalanya tanpa ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.
"Apa kau masih belum terbiasa dengan sikap mamy?" tanyanya dengan menatap ke depan tanpa melihat Ana. "Aku mengerti, kau pasti kecewa. Edward belum dewasa, jadi ku mohon mengertilah!" ucapnya kembali dengan menepuk pundak Yuna.
"Memang berat, memilih antara Ibu dan seseorang yang dicintai, membela siapapun pasti ada hati yang akan terluka," jelasnya lagi. "Ana..., Apa kau, marah?" Masih tidak ada jawaban dari Ana, ia sibuk memakan Ice cream di tangannya.
"Ana ..., kau harus tahu! Edward sangat mencintaimu, melebihi dirinya. Tapi, dia adalah pria yang sangat mencintai dan patuh terhadap ibunya, berbeda dengan aku. Jadi ku mohon mengertilah!" jelasnya namun lagi- lagi Ana hanya terdiam.
"Astaga! Ana! Apa kau mendengar ku? Aku seperti bicara dengan tembok! geramnya. Ana melirik dengan tersenyum, "Kau kenapa? ribut saja dari tadi! Mengganggu kenikmatanku memakan Ice cream!" jawabnya dengan kembali menyuapkan satu sendok ice cream ke mulut mungilnya.
"Apa kau mendengar apa yang ku bicarakan, hah?" sentaknya. "Memangnya kau pikir aku sudah tuli?" jawabnya santai. "Kenapa kau diam saja! harusnya kau tanggapi apa yang ku katakan, jangan diam saja!" geramnya.
"Benar kata James!" Ana berucap dengan tersenyum semrik. "Apa yang James katakan?!" tanyanya antusias. "Kau cerewet, seperti perempuan!"ucapnya dengan terkekeh. "Ana! jadi selama ini kalian selalu bergosip tentangku, hah?" sentaknya.
"Yah, begitulah. Ternyata bergosip itu menyenangkan, apalagi membicarakan mu yang seperti nenek tua!" cicitnya dengan terkekeh.
laki- laki itu ingin mencubit Yuna, Namun, ia urungkan. Karena, ada seseorang yang menatapnya dengan tatapan tajam seakan ingin melahapnya.
TBC
Bantu jejak yah Kaka🙏🙏
Maaf intermessonya di skip dulu🤧🤧
Otor lagi ga pengen ketawa🤔🤔😌
__ADS_1