
Meskipun sampai detik ini Ricki tidak tahu apakah dirinya mencintai Yuna atau tidak, tetapi ada rasa tidak rela ketika dia ingin mengatakan bahwa Edward mengajak mereka untuk makan siang. Namun sesuai janjinya dia akan membantu Yuna untuk membantu mendekatkan mereka kembali. Saat ini Yuna baru saja selesai membersihkan diri, dia masih mengenakan jubah mandi dengan handuk kecil melilit rambut yang panjang. Tidak pernah sekalipun pria itu, tidak tergoda dengan tubuh indah dan kulit mulus dan putih istrinya. Dia terus memperhatikan gerak-gerik sang istri yang saat ini duduk di meja rias. Rickie yang tadi duduk di sofa berjalan dan kini duduk di tepi ranjang, dari sana dia bisa melihat Yuna dari pantulan kaca, begitu juga sebaliknya.
"Ada apa?" tanya Yuna.
"Aku ingin bicara."
"Elah, bicara aja sih. biasanya juga gak pernah pake basa-basi," sahut Yuna dengan membuka handuk yang melilit rambutnya.
"Yuna, kita kan udah suami istri, masa aku gak boleh dapat jatah," ucap Ricki.
Melihat tubuh Yuna pikiran dia yang ingin membicarakan tawaran Edward pun teralihkan. Yuna berbalik dengan menatap tajam, dia menyodorkan hair dryer ke arah Ricki.
"Bicara apa sih? Jangan aneh deh, ingat di kontrak kita dilarang saling menyentuh!"
"Iya, pernikahan kita kan sah secara agama dan hukum. Kamu percuma aja, solat kalau terus bikin dosa. Istri itu gak boleh nolak tahu!"
"Apa lagi ini? kamu kesurupan ya? aneh deh. Udah deh, jangan aneh!" Yuna kembali berbalik dan tidak menanggapi permintaan suaminya.
Rickie menghembuskan napas lelah, seraya menggerutu. "Kalau gini punya pusaka gak guna ya."
Yuna mendengar gumaman suaminya, hanya tersenyum tipis. Sampai detik ini hidup dengan pria itu memberikan hal yang beda, terkadang sikapnya seperti anak kecil dan lucu. Seperti saat ini, Ricki terus menatap benda pusaka dengan wajah sendu, Yuna terus memperhatikan dibalik pantulan cermin. Dia tahu bahwa tidak melayani suami adalah dosa besar, akan tetapi untuk menjalin hubungan suami-istri dengan Ricki rasanya hal yany tidak mungkin.
"Ya udah, tahan deh sampai punya istri beneran wanita," celetuk Ricki dengan melepaskan kedua sandal rumahan sembarang dan merangkak naik ke tempat tidur.
Yuna sedikit tersinggung dengan ucapan pria itu, dia beranjak dari duduk berjalan mendekat dan menyibakan selimut suaminya.
"Apa kamu bilang? beneran wanita? Heh, aku juga wanita, kau pikir aku perempuan transgender!" omelnya.
"Kalau gitu buktikan kalau kamu wanita," tantang Ricki. Dalam hati dia tersenyum, karena sebentar lagi akan belah duren.
__ADS_1
"Ayo buktikan dan kita enak-enak," batin Ricki.
"Berani gak? Wah, jangan-jangan dada itu juga boongan!"
"Apa!"
Yuna melorot dan sekarang merangkak ke atas ranjang. Ricki bersorak di dalam hati karena rencana dia berhasil. Memprovokasi untuk bisa memetik buah yang indah. Ricki tak sabar, otaknya sudah terbang melayang, lama menikah dan tidur seranjang dengan perempuan membuat jiwa lelakinya tersiksa.
"Coba sini aku cek, aku mau tahu ini dada asli atau bukan. Sini-sini aku akan baik hati pegang," cicit Ricki.
Buuugh!
"Aduh," pekik Ricki.
Pria itu memegangi kepala yang dipukul keras oleh bantal, Yuna menggeser kasar tubuh suaminya. Hingga terjungkal ke bawah, dia merebahkan tubuhnya di ranjang. Rickie memegangi kepala, dan bokong yang sakit secara bergantian.
"Nasib punya istri wonder women, mau enak aja babak belur dulu. Enak gak dapat, babak belur iya," gerutunya dengan beranjak.
"Apa lagi sih? Ganggu mulu. Capek, ngantuk!"
"Galak amat sih. Aku mau bicara."
"Apa! Mau minta jatah? Aku gak mau!"
"Idih, geer." Ricki menunjuk wajah Yuna demgan jari telunjuk. "Siapa juga yang mau sama wanita jadi-jadian."
"Aku wanita beneran!"
"No praktek hoak."
__ADS_1
"Ngeselin!"
Yuna kembali berbalik, dia tidak lagi mengindahkan Ricki yang terus memanggil dan menggoyang tangannya. Namun, Ricki yang merasa bersalah karena belum mengatakan ajakan Edward, dia akhirnya memutuskan untuk membicarakan hal itu.
"Yuna," panggilnya.
"Emoh," jawab Yuna. Ricki berdecak.
"Ini soal Edward."
Mendengar nama itu, Yuna hanya diam. Rasa sakit masih saja ada, meningkat kejadian pertunangan mereka. Dia berusaha memejamkan mata, tetapi tidak bisa sangat penasaran dan dia selalu ingin tahu tentang pria itu. Dia membalikan badan dan kini tidak telentang. Ricki meringis di dalam hati, begitu kuat cinta Yuna pada pria itu, sehingga menghilangkan ego dan sudi menetap dia kembali. Namun, dia tidak ingin tinggal diam. Ricki meringkuk dan menghadap Yuna.
"Posisi gini juga bisa deh," cicitnya.
"Buruan apa?" Yuna mengusap wajah Ricki dengan kasar.
"Edward ngajak kita makan siang besok."
"Dimana?" jawab Yuna antusias.
"Elaah, tuh muka bahagia bisa disamarkan gak? Bagaimana pun aku ini suamimu."
"Emang kamu cemburu?" Yuna mengangkat satu alisnya.
"Nggak. Ngapain cemburu! Gimana bisa?"
Yuna tampak berpikir, Sebenarnyadia juga sangat merindukan Edward dan ingin sekali bertemu. Akan tetapi teringat ucapan James, sehingga membuat dia bimbang. James melarang dia bertemu terlebih dahulu karena takut tidak bisa menjaga ekspresi wajah, sehingga mudah dibaca oleh musuh dan mengakibatkan petaka yang besar. Namun, Ina tidak bisa melewatkan kesempatan ini.
"Yeh, malah bengong." Ricki mengibaskan tangannya.
__ADS_1
"Gimana ya, aku takut? Menurut kamu gimana?"
"Tanya pada hatimu. lagi pula bukannya kamu udah lama nggak ketemu dia." Berat rasanya Ricki mengucap itu, ingin berkata bahwa dia tidak usah ikut. Namun, bibirnya kelu.