
"Jadi Anda benar-benar sakit, Tuan?"
Helena berdiri diambang pintu. Yuna masuk dan duduk di samping Ricki.
"Aku tidak pernah menyangka ternyata kamu bisa melupakan Edward juga. Aku harap ini bukan skenario."
"Jika aku mengharap Edward, bukankah ini kesempatanku untuk mengatakan yang sebenarnya padanya? tapi pada kenyataannya aku tidak mengatakan apa-apa jangan sampai sekarang dia tidak tahu siapa aku bukan?"
"Kau benar."
"Sekarang aku percayakan anak dan sahabatku padamu. Lagi pula kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau bukan? aku sudah menyerah untuk hidup bersama Edward, Sekarang aku ingin hidup bahagia bersama suamiku," dusta Yuna.
"Kamu harus tetap membantuku karena Sampai detik ini dia belum mencintaiku."
"Helena, urusan cinta aku tidak bisa memaksa. Seharusnya kamu berjuang lebih keras, sekarang bukan kah Anastasia sudah tidak ada lagi?"
"Aku masih belum percaya kau akan melepaskan Edward."
"Nyatanya kau melihat sendiri bukan? aku sudah bersama dengan Ricky. Setelah tanda tangan selesai tolong kembalikan Elizabeth dan Sella."
"Sampai sekarang aku tidak menemukan James. aku tahu kalian masih berhubungan, buktinya kemarin kalian datang ke rumah Erik untuk mengepung kami bukan? sayangnya kalian tidak cukup cerdas."
"Jika kamu terus membicarakan masa laluku, aku tidak menjamin jika Edward mendengar pembicaraan kita sekarang. Bukankah dia ada di bawah?"
Helena langsung diam, dia tidak ingin Edward tahu siapa Yuna sebenarnya. Begitu juga dengan Yuna dia tidak ingin Helena terus mendesaknya untuk menceritakan soal James. Dia menyadari beberapa tahun hidup menjadi seorang Yuna, tidak akan mampu menyayangi kelicikan Helena. Dia sekarang tumbuh di lingkungan manusia biasa, ketajamannya berkurang. Terlebih sejak dulu dia tidak pernah berani membunuh, itu yang menjadi kelemahannya selama ini. rasanya Dia benar-benar tidak ingin berada di dunia Edward. Namun, dia tidak bisa merelakan pria yang sangat dicintai begitu saja. Egonya masih sangat tinggi dan ingin tetap memperjuangkan Cinta pertamanya itu.
"Aku akan menunggu hingga dia pilih," ucap Helena.
Ya. Sementara itu, tolong jaga anak dan sahabatku dari Erik."
"Heum." Helena berbalik dan meninggalkan kamar Yuna dan Ricki.
"Aku pikir kalian akan jambak-jambakan?" ucap Ricki. Dia beranjak dari ranjang tapi dengan cepat Yuna mendorong dadanya dan kembali telentang.
"Tolong jangan perkosa aku, masih perjaka," cicit Ricki dan mendapatkan pukulan di kepala.
"Harga diri seorang CEO dan suami hilang di depan kamu, Yun."
"Makanya diam jangan banyak gerak gimana kalau Helena kembali? Dalam situasi seperti ini jangan pikirin harga diri."
"Tapi sepertinya Helena sebenarnya orang yang baik?"
"Baik? Dia orang yang sangat menginginkan kematianku. Bagaimana kamu bisa berpikir dia orang yang baik?"
__ADS_1
"Dari cara bicaranya tadi."
"Huh. Kamu itu sangat polos."
"Lho bener kok."
"Apa kamu melihat saat aku bicara dengan dia seperti orang yang menyimpan rencana jahat?" tanya Yuna dengan berbisik di telinga Ricki.
Yuna hendak mendorong tubuh pria itu, karena telah lancang menciumnya tapi diurungkan saat melihat seseorang di ambang pintu.
"Maaf, aku gak lihat," ucap Helena.
Yuna melirik dan memperdalam ciumannya, semua itu senagaja agar Helena yakin bahwa dia tidak sedang berbohong karena telah mencintai Ricki. Mendapatkan angin segar Ricki menahan tengkuk leher Yuna, dia menikmati penyatuan bibir mereka. Yuna hendak beranjak karena Helena sudah tak terlihat, tapi pria itu terus menahan, hingga Yuna terpaksa mengigit bibir bawah pria itu.
"Wow ganas."
"Dasar mesum!" umpat Yuna dengan berlalu.
"Aku suka caramu yang kasar," goda Ricki.
"Sial!" Yuna mengumpat dalam hati. Bagaimana bisa dia tenggelam dalam permainan yang dibuat..
Dia berjalan meninggalkan kamar itu, tanpa diduga Helena masih berdiri di balik pintu. Yuna merapikan rambutnya yang berantakan.
"Kalau masih berpikir aku bersandiwara mencintai suamiku bukan?"
"Sekarang tidak lagi. Aku rasa dia sudah sembuh buktinya sudah bisa memberi mu kenikmatan bukan?" sindir Helena.
"Suamiku sedikit hyper, dia tidak bisa hidup tanpa bercinta. Jadi meskipun sakit aku harus bisa melayaninya," dusta Yuna.
"Baiklah aku tidak perlu khawatir lagi. Hanya saja sepertinya anak curut itu mengganggu Edward sejak tadi."
"Jangan berani-berani kamu menyakiti dia."
"Wow. Rupanya kamu sangat peduli pada adik Iparmu yanga centil itu?"
"Aku hanya tidak ingin kamu menyakiti dia."
"Jika begitu, katakan pada anak curut itu. Untuk tidak menggoda Edward."
"Apa kau takut bersaing dengan anak kecil?"
"Kau sangat tahu. Aku akan menyingkirkan siapapun yang berani mendekati Edward, tidak terkecuali anak kecil atau anaknya sekalipun. Kamu paham kan?"
__ADS_1
"Kau sudah dibutakan dengan Cinta."
"Aku harus pergi. Ingat peringatanku!"
Yuna ingin sekali mengepalkan kedua tangan tetapi dia harus bisa menahan dirinya, gerak tubuhnya tidak boleh dibaca oleh perempuan itu. Dia hanya menyonginkan senyum dan mengangguk. biarlah sekarang Dia terlihat lemah dan tidak berdaya di depan Helena. Daripada dia terus menampakan kekuatan pada akhirnya dia kembali gagal.
Disisi lain, ibu Edward tampak frustasi. dia sudah dicampakkan oleh Erik, setelah pria itu mendapatkan apa yang diinginkan. Namun cintanya semakin menggila, kini dia datang menghampiri pria itu. Erik sedang duduk dengan memangku seorang perempuan cantik dan seksi, di sampingnya ada seorang perempuan yang menuangkan minuman pada gelas yang kosong. Melihat itu perempuan yang selama ini menjalin hubungan gelap dengannya merasa geram.
"Kamu benar-benar keterlaluan Erik. Kamu sudah bilang akan menikahiku, tapi nyatanya?"
"Haha. Kau bodoh! Apa kau lupa? Aku saja bisa dengan mudah membunuh orang yang banyak berjasa padaku. Apalagi menyingkirkanmu. Itu sangat mudah jadi jangan pernah menekanku."
"Aku tidak menekanmu, kamu tahu bahwa aku sangat mencintaimu Erik."
"Haha. Kau ini sudah sangat tua, bahkan kau memiliki seorang anak. Ah, seorang cucu juga. Dan sekarang kau bermimpi ingin bersamaku? Mana mungkin aku sedih hidup selamanya dengan perempuan tua seperti dirimu."
"Bukannya kamu mencintai aku?"
"Aku tidak cinta, tapi kalau kamu merasa gatal. Biarkanlah orang bawahanku yang memberi kepuasan!"
"Apa maksudmu Erik!"
"Kalian, puaskan ****** ini!"
"Eriiik! Awas kamu ya!" Perempuan itu berteriak, memohon untuk dilepaskan ketika dua orang menyeretnya.
"Kalian, jangan beraninya sentuh aku!"
"Maaf, Nyonya. Tuan Erik yang meminta kamu." Satu pria mengunci pintu.
"Pergi atau aku akan hubungi suamiku, kalian berani menyentuh aku!"
"Sayangnya aku tak bekerja dengan suami Anda."
"Ini penghinaan! Aku tidak akan memaafkan kalian!" jeritnya.
"Bukankah Anda datang untuk mencari kepuasan dari Tuan Erik? Maaf, Nona. Sepertinya dua wanita malam itu lebih menarik dibandingkan Anda."
"Jangan samakan aku dengan wanita murahan!"
"Lalu? Apa namanya seorang perempuan yang meminta kenikmatan bukan pada suaminya? Bukankah dia itu wanita murahan? Oh, tidak. Bahkan, wanita malam lebih terhormat, karena dia melakukan itu demi uang sedang Anda?"
"Diam kamu!"
__ADS_1