Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Kecemburuan Edward


__ADS_3

Edward berdiri di belakang Ana, tatapannya tajam. Baginya Ana adalah miliknya, bahkan tak ada seorang pun yang boleh dekat dan membuatnya tertawa selain dia.


Dia selalu mengawasi Ana, bahkan saat mereka tak bersama. Akan banyak pengawal yang membuntuti Ana tanpa sepengetahuannya. Bukan tak risih, Ana hanya seorang yang selelu menikmati proses di setiap langkahnya dan perilaku Edward yang cenderung posesif, ia terima dengan hati yang lapang.


Edward datang dan menarik tangan Ana menjauh dari Rayhan. Seketika Ice cream Ana jatuh ke rerumputan. Edward menatap tajam sang kakak seperti singa yang akan menerkam musuhnya.


Ana tidak memberontak, baginya percuma berbicara dengan Edward yang sedang termakan api cemburu buta. Ana juga tidak berani menatap Ray saat Edward berada diantara mereka.


Edward membawa Ana kesebuah minimarket di samping rumah sakit, Ia mendudukkan Ana di kursi, Ana seperti patung. Ia hanya duduk dan diam tanpa berbicara, hal seperti ini sudah biasa. Ana juga sudah bisa menebak apa yang akan Edward lakukan padanya.


Dia masih duduk dengan menatap punggung tegap sang suami, Edward berdiri di depan box Ice cream sangat lama entah apa saja yang ia cari. Ana masih setia duduk seperti boneka, saat ini yang paling aman adalah diam tanpa bersuara, sedikit saja ada kata yang salah lepas dari bibir mungilnya. Ia khawatir Edward akan murka.


Edward datang dengan membawa dua kantung penuh Ice cream di tangannya. Edward duduk bersimpuh di depan Ana, Ana masih terdiam. Hati dan pikirannya entah sedang berada di mana. Edward menatap lekat wajah sang istri, mengusap pipinya namun tak nampak senyuman atau amarah yang nampak dari wajahnya.


Sekali pun Edward memang tidak pernah membentak atau berlalu kasar padanya. Namun, sikapnya yang seperti ini justru lebih mengerikan.


"Sayang, aku suapi yah?" tanyanya dengan tatapan yang lembut, Ana hanya diam, menolaknya akan banyak anak buahnya yang di pukuli, memakannya pun itu hal yang tidak mungkin menghabiskan banyak Ice cream yang berada ditangan Edward.


Ana berfikir keras akan hal ini, mengimbangi Edward adalah hal yang paling sulit dalam hidupnya. Namun, cintanya pada Edward menutup semuanya, sehingga Ana tetap bertahan dalam keadaan apapun.

__ADS_1


Ana masih duduk terpaku, Edward terus menyuapi Ana, dia terus berbicara banyak peraturan kepada Ana. Bukan boneka, namun hidupnya sudah seperti raga tak bernyawa. Ana kadang tidak bisa memilih itulah mindset yang di tetapkan sedari ia kecil.


Ana tidak bisa hidup normal layaknya manusia biasa, hingga ia tak pernah mengetahui apa arti kehidupan. Yang dia tahu, hanyalah bekerja, belajar dan Edward adalah hidupnya. Itu yang di tanamkan sang kakek padanya dan Edward sehingga mereka hidup berbeda dengan pasangan pada umumnya.


Ana masih terdiam, pria tampan itu masih bersimpuh di bawah kaki Ana, ia mengibaskan anak rambut Ana, sesekali ia tersenyum dan menatap ada dalam. Ana .asih terdiam, dan sesekali ia membuka mulutnya untuk melahap Ice cream dari tangan Edward.


Kata- kata yang terus di lontarkan Edward membuatnya membisu.


"Sayang, kau ingat satu hal! Kau, adalah milikku! senyummu, tawamu dan sedihmu hanya untuk aku. Hanya aku tempat kau bersandar, Kau paham!" Edward terus mengelus wajah sang istri dengan ocehannya. "Sayang, kau kan tahu Mamy seperti itu, harusnya kau terbiasa!" jelasnya.


Sebenarnya, Mamy orang baik. Hanya saja ...," Edward berhenti sejenak, lalu melanjutkan kalimatnya yang terpotong. "Dia belum bisa menerima kenyataan bahwa kau telah memilikiku, mungkin dia cemburu."


Baginya, diam adalah hal yang paling tepat saat ini. Bertahun- tahun, bersama Ana pun bukan orang bodoh. Bukan hal cemburu yang menjadi permasalahan sang mertua. Tapi, kebenciannya pada Ana sudah mendarah daging di jiwanya.


Edward terus menyuapi sang istri, tanpa ada perlawanan dari Ana, dia hanya diam dan terus membuka mulutnya saat Edward menyuapi Ana. "Lihatlah! Aku bisa memberikan Ice cream lebih banyak, bukan? Kak Ray tidak akan bisa memberikanmu Ice cream sebanyak ini," cicitnya dengan tersenyum bangga.


"Jalas saja, dia tidak memberiku Ice cream sebanyak ini, karna dia waras!" gumam Ana. "Bagaimana ini, aku bisa masuk rumah sakit kalau terus berada di sini, perutku bukan lemari ice, astaga! Kenapa dia kumat di waktu yang di tidak tepat!" Ana terus bergelut dengan pikirannya.


Ide itu tiba- tiba terngiang di pikirannya, ia segera mengungkapkannya pada Edward. Sebelum perutnya meledak karna kedinginan.

__ADS_1


"Red ...," panggilnya, seketika Edward menghentikan tangannya untuk menyendok Ice cream. "Kenapa sayang, apa kau mau rasa baru aku akan mengambilkannya untukmu!"


"Tidak, tidak! bukan itu, aku mau kita ke suatu tempat," pintanya dengan sedikit memberikan senyuman. "Katakanlah!" ucapnya antusias. "Aku ingin ke bawah jembatan yang di sana!" Ia menunjuk salah satu tempat di sebrang minimarket ini.


"Untuk apa?" tanyanya penuh kebingungan. ikutlah, kau nanti akan tahu. Bawakan lebih banyak Ice cream dan makanan ke sana!" pintanya. Edward mengerutkan dahinya. Namun, ia tidak banyak bertanya. Dia berfikir Ana hanya ingin memakan ice cream dengan suasana yang berbeda.


Tidak lama, Edward datang dengan banyak makanan di tangannya. Ana hanya menggelengkan kepalanya, Dia begitu cerdas namun saat cemburu kebodohannya melebihi otak kepiting. "Ayo, sayang!" ajaknya dengan sibuk memegang banyak kantung belanjaan.


Edward akan memanggil beberapa pengawal, untuk membantunya membawakan barang belanjaannya. Namun, gelengan kepala Ana membuatnya mengurungkan niatnya. Ia dengan kesusahan akan mengambil kunci mobil di saku celananya, lagi- lagi Ana menggelengkan kepalanya.


"Kita jalan saja!" ajaknya. "Baiklah, apa nanti kau tidak akan lelah?" tanyanya. "Apa kau pikir, aku wanita yang lemah?" tanyanya dan Edward hanya terkekeh. "Aku bantu, ya!" pinta Ana. "Tidak! Ini adalah tugasku sebagai seorang lelaki!" Ana tidak mau memperpanjang lagi.


Mereka berjalan di sisi jalan raya dengan beriringan. Tangannya sibuk penuh dengan kantung belanjaan, Ana membiarkan Edward kesulitan, bukan kejam. Karena dia tahu Edward akan menolaknya dan merasa dirinya tak mampu jika dibantu Ana.


Hampir semua pejalan kaki, menatap heran mereka. Mereka bukan tidak tahu, siapa yang sedang berjalan tanpa mengenakan mobil mewahnya. Tapi, tak ada satupun yang berani berkomentar langsung menanyakan pada mereka akan pertanyaan yang memenuhi otaknya.


Heran, sudah pasti. Seorang konglomerat yang berpengaruh di London, baru kali ini terlihat seperti rakyat jelata. Keluarga Endelson adalah darah keturunan bangsawan dan semua tahu itu.


TBC

__ADS_1


__ADS_2