
Ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Ricky memanggilnya dengan suara yang lembut. Yuna masih terdiam dengan tetap memeluk lututnya. Tangisan tak kunjung mereda, amarah pun masih membara.
Dengan langkah gontai ia membuka pintu, Ricky menatap Yuna iba. Baginya ini adalah hal terberat, melihat Yuna kembali menangis.
Tatapannya kosong menatap langit- langit. Ricky terdiam, menatap istrinya. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulut Yuna, Begitupun suaminya. Yuna masih terisak, kesadarannya mulai kembali. Ia teringat akan ibu mertuanya.
Ia menatap Ricky sendu tidak ada kata yang lolos dari mulutnya. Namun, Ricky paham ada makna yang tersirat dari tatapannya. Yuna masih meneteskan air mata, diam dan terkunci namun matanya mencari sesuatu dan suaminya paham itu.
Perlahan ia mengelus rambut sang istri dengan penuh kelembutan, Yuna hanya diam dengan posisi yang masih memeluk lututnya. Sesekali ia mengusap air mata istrinya, mencoba membenarkan anak rambut istrinya yang sudah berantakan.
Sedari tadi sore, Yuna hanya mengurung diri di kamar, tanpa suara. Hanya tangis yang menemaninya. Yuna menatap suaminya ingin bertanya, namun entah kenapa bibirnya terasa berat.
Ricki memegang tangan Yuna seraya berkata, "Kau jangan khawatir, Mamy dan Jesy telah kembali. Aku juga mengatakan pada mereka bahwa kau tengah istirahat dan memang kurang sehat! Soal, membersihkan kamar mandi, itu hanya alasanku saja."
Masih tak ada jawaban dari istrinya, Yuna hanya diam. Luka itu kembali datang menghantam Yuna. Bagaimana tidak, dia berjuang untuk kembali pada Edward. Namun, lagi dan lagi kekecewaan selalu ia dapat.
Cintanya pada Edward begitu sangat besar, disakiti beberapa kali pun dia tetap mencintainya. Itulah kelemahan Yuna. Edward adalah sosok yang bisa meruntuhkan dan menghancurkan dirinya.
Musuh pun tahu, kelemahan Yuna ada pada Edward, itulah yang akan terus menjadi senjata menghancurkan Yuna.
Sekian lama, diam. Dia baru menyadari akan adanya sosok yang setia menemaninya dan memeluknya. Ricki masih memeluk pundak Yuna dan ikut duduk di lantai. Mereka bersandar pada tempat tidur. Ricki hanya bisa menatap sendu, entah apa yang ada di pikirannya.
"Maaf, aku tidak bisa menjaga emosiku," Ricky bahagia akhirnya ada kata yang lolos dari gadis mungil itu, "Sudahlah, kau tenangkan dirimu! Kau pasti lapar? Aku ambilkan makan," ucapnya seraya berdiri, namun tak ada jawaban dari Yuna.
Yuna terdiam, tatapannya kosong. Ia terus memeluk lututnya dengan sesekali menarik ujung bajunya. Isak tangis masih menemaninya.
Tidak lama, pria bertubuh tegap itu kembali dengan membawa nampan berisi makan malam, air putih dan segelas susu.
Seperti mayat hidup, Yunan hanya terdiam saat Ricki memapahnya untuk duduk di sofa. Kabar itu seperti besi panas yang mengoyak semua isi jiwa dan hatinya.
"Makanlah! Buka mulutmu!" Yuna hanya menggelengkan kepalanya. "Pintarlah sedikit, kalau kau tidak makan, apa kau rela Edward benar- benar diambil wanita itu?" tanyanya.
"Balas dendam butuh tenaga!" tegasnya.
__ADS_1
"Ayolah, jangan seperti anak kecil!" Ricki dengan sabar membujuk Yuna untuk makan. Hingga akhirnya, wanita berwajah mungil itu mau menerima suapan demi suapan dari tangan Ricki. Hingga nyaris habis.
"Oh, aku baru tahu. Kalau orang yang patah hati, bisa makan dengan lahap," ejeknya. Yuna menghentikan kunyahannya, kini mulutnya tengah terisi penuh. Hingga, ia tak mampu berkata apapun. Pipinya seperti bapau.
Ia segera menelan dan meminum air yang berada di atas nampan. "Kenapa, kau tidak ikhlas?" tanyanya dengan mengerucutkan bibirnya, dan berbicara menantang. "Aku kira kau benar- benar baik!" protesnya. "Tidak ada yang gratis! Aku menyuapimu, tapi kau harus mau menciumku," pintanya dengan menaikan kedua alis. Yuna mendorong Ricki, dan hampir membuatnya terjatuh.
Ricki hanya terkekeh. Ia cukup senang melihat istrinya kembali pada mode menyebalkan.
"Apa aku boleh bertanya?" Yuna menganggukan kepalanya. "Siapa sebenarnya Helena? Kenapa kau begitu terlihat marah?" tanyanya. "Aku ingin bertanya padamu?" Yuna menatap mata suaminya dengan tatapan tajam.
"Bagaimana menurutmu, jika aku kembali merebut Edward dari tangan iblis itu?!" tanyanya nampak amarah tersirat dari matanya. Seperti tercekik, Ricki menelan ludahnya. Pertanyaan ini seperti pedang yang menusuk jantungnya. Rasanya ia ingin egois mempertahankan Yuna. Tapi, baginya kebahagiaan Yuna adalah poin utama.
Dia juga tidak bisa menjamin bisa mempertahankan pernikahannya. Karena janjinya dimasa lalu.
Dengan berat ia pun penganggukkan kepalanya dan berkata, "Lakukan! Apa yang menurutmu benar! Aku akan mendukungnya!" tegasnya. "Heem, menurutmu apa Edward masih mencintaiku?" Ricky menghembuskan nafas kasarnya. "Aku tidak tahu! Karna aku bukan dia!"
"Apa menurutmu aku bodoh?" tanyanya kembali. "Entahlah, kadang kita rela bertingkah bodoh demi orang yang kita cinta!" jelasnya. "Bukan itu maksudku! Tapi sudahlah! Bolehkah, aku menangis?" tanyanya.
"Menangislah, agar hatimu menjadi lebih baik, bukankah dari tadi kau menangis?" ejeknya, Yuna tidak menanggapi dia masih sibuk meminum susunya. Ricki tersenyum, melihat istrinya. Setidaknya, meski sedih dia masih bertanggung jawab pada dirinya sendiri.
"Siapa Helena?" pertanyaan itu kembali dilontarkan Ricky. "Baiklah, aku akan menceritakannya padamu."
"Memangnya siapa yang seharian menangis? Apakah hantu, dari tadi dia menangis dan masih bertanya? Astaga! Cinta benar- benar membuatnya memiliki otak seperti keong," gumamnya dalam hati.
Flashback
Semenjak kepergian Tn.Robert Yuna terus disalahkan. Padahal, Eric lah penyebab kematiannya. Mamy Edward tidak pernah mau mendengarkan penjelasan menantunya. Dan selalu berkata bahwa Analah yang lalai.
Bahkan untuk upacara pemakaman kakeknya, Ana hanya bisa melihatnya di balik pohon yang jaraknya cukup jauh. Kejam sudah pasti kebencian terus bersemayam ditubuh mertuanya terhadap Ana. Entah, apa penyebabnya sehingga Ana selalu dibenci.
Upacara pemakaman diiringi tangisan dari langit, tetesan suci itu terus menetes ke bumi. Tanpa sebuah payung, Ana berdiri di balik pohon, menatap sang kakek pergi untuk selamanya.
Kakeknya sempat berpesan sebagai permintaan terakhirnya. Bahwa ia meminta jika dia telah tiada, meminta untuk dikebumikan di Indonesia.
__ADS_1
Ana ridak pernah menyangka, sang kakek akan pergi meninggalkannya secepat itu. Semua yang menghadiri upacara pemakaman telah kembali. Tidak dengan Ana, ia masih berdiri di balik pohon.
Ketika sepi Ana berlali memeluk tubuh sang kakek, yang telah terbungkus tanah. Ana menangis tiada henti sendiri dalam sepi. Tangis tak mampu menyembuhkan lukanya. Tidak akan ada yang mampu membelanya, menemaninya dan menenangkannya.
Ana masih dengan tangisnya, ia terus mengelus batu nisan sang kakek dengan penuh amarah dan kesediaan. Hujan mengguyur habis tubuh Ana, tangisnya telah menyatu bersama air suci itu.
Tidak ada satupun yang menemaninya kala ini.
Edward telah kembali bersama yang lainya, dia tidak mengetahui Ana berada di sana. Karena ibunya melarang keras Ana pergi ke pemakaman.
TBC
intermesso,
Otor lagi jatuh cinta boleh gak🤔 jadi intermessonya curhat ajh yah😂😂
Ini cuplikan aku sama bebek, eh bebeb is typo kan😒
Sarboah :" Abang kamu tahu gak?"
Si Abang :" Tahu apa, Beb?"
Sarboah : "Kamu itu ibarat Sunlight, mampu menghilangkan kenangan mantan yang membandel.
Si Abang :"Kalau gitu, nanti uang belanja bisa ku potong tidak usah beli sabun cuci piring!"
Sarboah :"Lah, niat gombal dapat tambahan belanja, malah kepotong!" 😒
Makanya kalo gombal yang bener!😂😂
Maaf kalo gak lucu😒 otor lagi ga bisa mikir🤔 gajihan Masi lama cicilan daster blom kelar, Emak minta beliin baju hello Kitty yang gambarnya Doraemon. kan aku keder😂😂😂😂
Dah lah, sekarang jejekin
__ADS_1