
"Kamu harus mengatakan hal ini pada Edward," ucap Ricki."
"Gak!" tolak Yuna.
"Apa yang dikatakan Ricki benar, Nak."
"lagipula sekarang bukannya sudah tau semua ya, Kak? Toh pengamanan Kakak udah gagal," Jennifer menambahkan.
Saat ini mereka sedang berada di meja makan, menikmati sarapan. Baik Ricki atau Yuna tidak berniat ingin pergi ke kantor. Semua anggota keluarga mulai menunjuk Yuna, sebenarnya Ricki tahu konsekuensinya jika Edward tahu dia sudah tak memiliki kesempatan untuk mendekati Yuna, bisa saja pernikahan dia berakhir. Namun, tidak memiliki pilihan lain, hanya itu pria yang yang dapat membantu.
"Baiklah kalau gitu," jawab Yuna pasrah.
Malam hari Jessica menghampiri kakaknya yang sedang duduk di teras belakang dengan pandangan kosong menatap ke depan, dia memutuskan duduk di samping kakaknya itu dan menyikut lengan pria yang hanya mengenakan kolor berwarna hijau bergambar Doraemon.
"Kak, serius besok bakal antar Kak Yuna menemui Edward?" tanya Jessica pria itu menoleh dan mengangguk lesu.
"Jujur sejak dengar siapa Kak Yuna aku kecewa, aku gak mau dia itu Anastasia. Lebih suka dia orang biasa aja," keluh Jesicca.
"Bang Ricki gimana?"
"Apanya?"
"Ya soal Kak Yuna. Masa soal kolor yang dipake sih. Eh, omong-omong aneh juga, ya. Biasanya buta ijo yang pake kolor ijo. Lah, ini. Doraemon kok pake ijo."
"Ya daripada pink, hayo," cicit Ricki. "lagian apa-apa tuh dipermasalahkan terus," keluh Ricki.
__ADS_1
"Kak, aku serius nih."
"Heum?"
"Kamu bener rela kalau Kak Yuna ketemu Edward?"
"Ya mau gimana lagi." Ricki mengangkat kedua bahu. "Aku gak punya pilihan lain."
"Aku suka sekali dengan Kak Yuna. sejak dulu udah mimpi banget punya kakak ipar seasyik itu. Tetapi cuma sebentar, awalnya Mommy juga nggak mau nyerahin ke Yuna sama Edward, tapi di sini menyangkut Elizabeth. kita serba salah ya, Bang," keluhnya.
"Iya."
"Abang cinta nggak sama Kak Yuna?"
"Eh? Apaan sih?"
"Abang itu nggak bisa apa-apa. Bela diri nggak bisa, jangankan untuk melindungi lihat darah aja udah takut," keluh Ricki.
"Dih, Abang insecure ya," tebak Jessica dengan mengacungkan jari telunjuk tepat di depan hidung pria itu.
"Bukan insecure tapi cukup tahu diri aja."
"Yang sabar ya, Bang. berdoa aja semoga Edward mati dalam peperangan jadi kan Abang bisa jadi suami Kak Yuna."
"Hus, kalau ngomong itu dijaga," seru Ricki. dia mendekap kedua mulut adiknya itu.
__ADS_1
"Kalau Yuna dengar gimana?" Ricki menegur gadis itu.
"Maaf, maaf."
Sebuah suara nyaring terdengar, keributan itu berasal dari depan. Semua pelayan yang di belakang mulai kelimpungan, hal itu membuat Jesica yang sedang duduk anteng beranjak dari duduk wajahnya panik.
"Bang, sepertinya ada yang menyerang kota."
"Ya biar aja, kak ada walikota. Kalau kota diserang ya tinggal kerahkan pasukan TNI," sahut Ricki acuh.
"Ih, maksudnya bukan gitu. Ada yang nyerang rumah kita. Ini kayaknya orang-orang musik Ka Yuna deh."
"Ya kan banyak pengawal, udah diem aja sih."
"Kak kenapa sih bisa tenang gini? Gimana kalau mommy dan Kak Yuna diapa-apain? Ayo kesana!"
"Kalaupun ada penyerangan, biar aja sih. Yuna itu bukan orang lemah kamu nggak usah takut.
"Lalu mommy?"
"Kamu lupa mommy punya jurus aungan singa."
"Abang, ih. Aku ini nggak bercanda."
"Siapa yang bercanda? kamu lupa mami kalau teriak udah ke komplek tahu semua."
__ADS_1
"Auk ah. Ayo ke depan takut ada apa-apa."
"Ih percuma deh ngomong sama Abang! Gak semangat amat sih, idup kek mau-mau nggak-nggak," sungutnya.