Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Jebakan Helena


__ADS_3

Matanya merah, memandang tajam pria di hadapannya. Amarah telah membakar jiwanya. Tubuhnya semakin bergetar hebat, melihat apa yang disaksikan saat ini. 


Wanita yang sangat dia cintai, wanita yang selalu menjaga kehormatannya. Wanita yang sangat disegani di negaranya. Wanita muda terhormat yang memiliki karier sangat diperhitungkan di dunia.


Kini harga diri wanita itu seperti terkoyak, ia terbaring lemah tak berdaya, gadis mungil itu tidak tahu ia hampir kehilangan kehormatan dan harga dirinya jika saja Edward terlambat.


Edward membanting pintu hingga suara nyaring terdengar, tidak tunggu lama dia meraih kerah baju pria bajingan di hadapannya. Seperti tanpa dosa pria bernetra biru itu hanya tersenyum mengejek. Tanpa banyak bicara Edward melayangkan pukulannya hingga pria di hadapannya kini tersungkur.


 Ia membuka jaketnya dan menutupi tubuh sang istri dengan jaketnya, Ia hendak membopongnya dan keluar dari tempat terkutuk ini.


Baru saja ia selesai memakai kan jaketnya pada tubuh mungil wanita kesayangannya. Tangannya di cekal. Edward semakin marah emosi sudah lebih menguasai dibanding akalnya. Baginya, membunuh bandit tidak akan membuatnya masuk penjara.


"Dia wanitaku! Siapa kau? Apa kau sudah gila, hah! Kau datang dan mengganggu kesenanganku!" pria keturuan Rusia itu menantang dengan mendorong tubuh Edward menjauh dari Ana.


Cih! 


"Siapa yang kau sebut wanitamu?! tanyanya, kini Edward menatap tajam. Dia adalah isteriku dan kau tahu siapa dia?!" Bentaknya penuh amarah. Edward adalah pria yang tidak bisa menguasai amarahnya terlebih perihal istrinya.


"Kau tidak tahu berurusan dengan siapa?! Apa kau tahu dia siapa?" Edward menunjuk wanita yang tengah tak sadarkan diri. 


"Memangnya siapa dia? Hanya wanita dari keturunan Asia!" ejeknya. "Dia bisa bersekolah karna beasiswa, bukan? Harusnya, dia beruntung aku menyukainya, tapi dia terlalu angkuh!" 


"Jaga mulutmu, ku robek mulutmu!" Edward kembali memukul rahang keras lelaki di hadapannya.


"Dengar baik- baik! Kau tahu bukan? Siapa Nona Anastasya Endelson dan Edward Endelson!" Ia menekankan nada bicaranya dan ia mencoba menetralkan emosinya.


"Jangan mimpi! Tidak mungkin, mereka semuda kalian!" sangkalnya. Tapi, ia juga terdiam saat mengingat pesan Ayahnya.

__ADS_1


"Kenapa? Kau teringat sesutu?" Edward tersenyum menyeringai. Seketika pria bernetra biru itu terdiam, entah mendengar nama Endelson membuatnya bergetar.


"Kau berani menyentuhnya! Apa yang kau sentuh? Jawab!" Edward sudah tak terkendali, tidak ada yang bisa meredam amarahnya kecuali Ana, dan saat ini ana tengah tak berdaya. Ia terus berteriak dan memukuli pria malang itu.


Diam hanyalah satu- satunya pilihan. Melawan sama dengan mengundang perusahan keluarganya dalam kehancuran. Tidak banyak bicara pria keturunan Rusia itu mengutuki dirinya yang berani membuat masalah dengan pria berdarah dingin di hadapannya.


"Jawab!" pertanyaan itu kembali di layangkan pria dingin itu. "Selama ini aku diam, bukan aku tidak tahu! Selagi kau tidak berani menyentuh istriku! Tapi sekarang, Ck." Edward menatap tajam menuntut jawaban.


"Aku hanya menyentuh rambutnya," Edward tidak puas dengan jawaban pria di hadapannya tatapannya seperti seorang singa yang akan memangsa buruannya. "Menyentuh wajahnya," ucapnya dengan menundukan wajahnya.


"Bagian mana yang kau sentuh!" Pria di hadapannya sudah bergetar, semua orang tahu bahwa Edward bisa sangat gila bila ada yang berani menyentuh istrinya. Hanya mereka tidak mengetahui wajah Edward dan istrinya yang sudah sangat terkenal dalam dunia bisnis.


"Pi- pi-nya." ucapannya dengan terbata. Mendengar itu, matanya kembali memerah, Edward pergi mencari sesuatu di tempat itu, ia menemukan sebuah pisau dapur dengan amarah yang memuncak ia kembali datang menemui pria malang itu.


"Aku akan membuat kau mengingat kejadian ini, seumur hidupmu!" Bentaknya dengan memainkan sebilah pisau di tangannya. 


"Apa kau tak mendengar cerita tentangku?" tanyanya dengan senyuman yang sulit di artikan. Pria di hadapannya sudah tidak ada kekuatan menjawabnya. 


Saat ini ia sudah pasrah dengan apa saja yang akan dilakukan pria berdarah dingin di hadapannya. Helena adalah tujuan dia untuk menuntut penjelasan atas semua ini. Laripun percuma, jaringan keluarga Endelson sangat kuat. Meminta bantuan keluarganya sama saja mengantarkan nyawa.


Edward mulai menggoreskan pisau dipipi mulus pria di hadapannya, satu goresan telah membuat wajah pria dihadapannya cacat, darah menetes di wajahnya. Perih pasti dia rasakan tapi siapa yang berani melawan pria yang menggila inj, "Sakit, apa kau merasa sakit?" tanyanya sinis.


"Kau tahu? Rasa sakit ku lebih dari ini! Aku tidak pernah membiarkan siapapun menyentuh istriku, kau paham!" Iabentaknya. Edward akan melanjutkan aksinya, ia sudah memainkan jari-jari pria di hadapannya itu.


"Maaf!" ucapnya dengan penuh penyesalan. Edward menatap tajam, ia menjatuhkan pisau di tangannya, ia membuang nafas kasarnya.


Ia teringat ucpaan istrinya, untuk tidak pernah membuat seseorang kehilangan masa depannya dan memberikan kesempatan kedua pada orang yang telah menyesali perbuatannya. 

__ADS_1


Karena, hampir saja dia memotong habis tangan laki- laki yang dengan lancang menyentuh istrinya.


"Baiklah! Kali ini kau lolos!" ia menghembuskan nafasnya mencoba menenangkan dirinya. "Aku tahu, kau bukanlah laki- laki bajingan! Pergilah dan jangan pernah kau berani menampakan wajah kotormu di hadapanku!" ucapnya dengan berlalu dan membopong tubuh mungil sang istri.


Langkahnya terhenti, saat ia melihat Helena dan teman- tamenya, Dengan perlahan ia mendudukkan istrinya. Entah apa saja yang dicampurkan  pada minuman yang Ana minum hingga gadis mungil itu tampak lemah dan masih tak sadarkan diri.


Helana memang wanita pandai berakting, ia mencoba biasa saja menyapa suami dari sahabatnya. Edward menatap tajam Helena, ia pun duduk dan berkata, "Jangan pernah ada yang berani mengajak minum atau berlaku kurang ajar terhadap istriku! Aku pastikan hidup kalian tidak akan pernah selamat! Ketenangan adalah mimpi bagi kalian! ancamnya. 


"Satu lagi!" Ia  menarik nafasnya sebelum ia melanjutkan ucapannya. "Siapapun!  Yang berani menjebak istriku, aku pastikan dia akan menyesal pernah terlahir ke dunia ini!" Edwad berbicara dengan nada mengancam, tatapannaya tertuju pada Helena  lalu ia beranjak  berdiri, perlahan ia mengangkat istrinya dan kembali membopongnya dengan penuh kelembutan dan  berlalu pergi.


Belum jauh ia berjalan, seseorang memanggilnya den menepuk pundaknya. Amarah kembali menguasai pria berdarah dingin itu saat melihat seseorang di hadapannya.


Selama ini ia telah cukup sabar menghadapinya. Kali ini adalah kesempatan untuk menghabisinya. Tanpa sepengetahuan istrinya.


TBC


Intermesso


Seafood


Entong : "Mak, buka puasa hari ini masak apa?"


Mamak : "Seafood, tong."


Entong : "Wah enak tuh, masak apa Mak? Udang? Tuna asam manis?"


Mamak : "Sambal teri tong."

__ADS_1


Entong : "Subhanallah."


🤭😂😂😂😂 teri juga seafood tong!


__ADS_2