
Los Angeles-
Kehidupan yang bebas dan berkelas. Disinilah sahabat Yuna saat ini tinggal. Baginya, berpindah tempat tinggal menjadi hal yang biasa.
Baru beberapa jam ia tiba dinegara tersohor dalam segi apapun. Gaya hidup disini memang sangat bebas, tapi Sela tidak pernah membiasakan dirinya untuk menikmati kebebasan di malam hari.
James masih berdiri tepat di ambang pintu dengan memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya, memperhatikan cara Butler kepercayaannya memberikan arahan kepada semua pelayan yang akan melayani salah satu keluarga Endelson.
Selang beberapa waktu, ia pergi berkeliling memeriksa sekeliling kediaman yang akan ditempati keluarga Sela, setelah semuanya aman pria berwajah dingin dan bertubuh tegap itu duduk di kursi panjang yang terbuat dari belahan pohon mangga yang di cat warna coklat kayu.
Ia menyilangkan salah satu kakinya, dan menatap burung- burung yang berkicauan, terbang kesana kemari. Musim dingin tak membuat burung- burung diam di sarangnya.
Tidak ada senyuman yang terukir di bibirnya, namun di matanya tersirat kekaguman yang mendalam akan ciptaan Tuhan. Ia menatap bunga- bunga yang mulai bermekaran, menghirup aromanya dan merasakan hembusan angin menerpa wajah tegasnya.
Dalam beberapa saat ia ingin merasakan kenyamanan dalam hidupnya, melepaskan semua penat yang mengikatnya. Deheman seseorang menganggu ketenangannya.
Seorang wanita berambut pirang datang menghampiri dengan senyum selebar sungai Nil dan sehangat kompor di pagi hari. James menghembuskan nafas kasarnya. Ia bergumam, "Setan Kribo," mendengar itu sela hanya tersenyum, hal yang biasa baginya mendapat panggilan itu dari pria pujaan hatinya
"Apa kau tahu, James?" tanyanya. James hanya terdiam tanpa kata. "Kenapa bunga- bunga bermekaran," James hanya
__ADS_1
melirik sinis, "Mereka tahu kapan mereka akan mekar untuk memperindah cinta kita, aromanya wangi seperti kerinduan ku padamu. Bibir James ingin sekali berkomentar tapi ia tahan karena ingin mengetahui apa lagi yang akan dikatakan gadis disampingnya ini.
"Tapi, aku lebih suka kentutmu,James!" pria dingin ini menatap tajam, "Kau tidak perlu sungkan, aku sering memergokimu sering kentut di pojokan! Hayooo, mengaku," ucapnya dengan terkekeh. "Bagaimana bisa pria yang menjaga wibawanya dan kegarangannya bisa kentut sembarangan! Haha," James seketika membekap mulut Sela dengan tangannya.
"Kau tenang saja, aku mencintaimu apa adanya semua yang kau miliki aku menerimanya termasuk kentutmu!" Ia berbicara dengan terus tertawa James menatap tajam, kali ini tatapannya tak main- main, seketika Sela membekap mulutnya. Ups. "Sekali lagi bicara! Ku robek mulutmu!" sentaknya.
"Wow, aku suka pria galak!" jawabnya, pria dingin ini hanya memutarkan bola matanya jengah. "James! Aishiteru!" ucapnya. James seketika menatap Sela. Entah, keseberapa kali wanita disampingnya ini mengungkapkan perasaannya.
"Kau tahu kenapa kalo musim dingin udara jadi dingin?" tanyanya. "Pertanyaan Retoris," jawabnya singkat. Sesaat sela menghembuskan nafasnya pelan kemudian ia melanjutkan ucapannya, "Karena yang.hangat hanya cinta kita berdua!" ucapnya dengan senyuman bahagia. "Kamu ajah gue sih, ngga!" serakah James dengan nada yang dingin.
"Astaga! James!" Sela berteriak. "Tidak usah berteriak, kau bukan Tarzan!" sentaknya. Sela mengerucutkan bibirnya, namun James sedikit menarik sudut bibirnya samar nampak senyuman menghiasi wajahnya yang tegas. Entah kenapa sekuat apapun ia bertahan untuk tidak tersenyum atau tidak menjawab ocehan Sela itu hal yang sangat sulit baginya.
"James! Apa kau lebih menyukai banci di bandingkan aku?" tanyanya. Pria dingin itu hanya terdiam, dia sudah mulai geram. "James jika didunia ini tersisa banci dan aku mana yang akan kau pilih?" tanyanya, jawab! Sela menggoyang tubuh James.
"James!" bentaknya. "Astaga! Sela! Ku bilang jangan berteriak suaramu merusak telingaku!" protesnya. "Jawab pertanyaanku!" James menatap Sela dan berkata, " Kau mau tahu jawabannya?" Sela menganggukkan kepalanya antusias. "Aku pilih atau! Bagiku keduanya tidak menarik!" ucapnya seraya berdiri dan pergi meninggalkan Sela.
James berjalan dengan sedikit terkekeh pelan, bertemu dengan Sela meski menyebalkan tapi bisa membuatnya selalu tersenyum. Namun, ia teringat sesuatu senyuman indah itu hilang, wajah tegas kembali merajai wajahnya.
Sela masih terduduk di tempatnya. Ia mengusap kursi tempat James duduk tadi, senyuman terukir indah di wajahnya, namun matanya tampak sayu. Ia mengusap kursi itu, seraya berkata.
__ADS_1
"Jams, entah dengan cara apalagi aku harus katakan padamu, bahwa aku sangat mencintaimu. Sedingin apapun hatimu, aku akan berusaha menghangatkannya. Jams, jika kau bertanya padaku tentang, "jika aku hanya wanita satu- satunya di dunia ini, dan beribu lelaki berebut mendapatkan cintaku, maka aku akan menjawab, "Sebanyak apapun cinta yang datang padaku, tapi akan ada satu cinta dan kau adalah pemiliknya, James! Eh, tapi satupun tidak ada yang suka padaku, haha." Sela terkekeh, menyadari kebodohannya namun hatinya menangis.
***
Malam pun datang, mengantikan mentari yang telah seharian bertugas menyinari. Udara di musim dingin menemani kebisuan malam, disempurnakan dengan hembusan angin yang menelusup setiap pori- pori kehidupan.
Sela tengah rapi mengenakan hot pant dan kaus berwarna putih dilengkapi sepatu kets yang siap menemani langkahnya.
James datang dengan gaya casualnya yang tak biasanya, terlihat lebih santai. Ia mengenakan kaus berwarna abu di lengkapi blazer warna senada, Chino pants hitam membalut kaki jenjangnya, di serasikan dengan sepatu kets berwarna putih siap melangkah bersamanya.
Tatapannya tajam menatap Sela, ia melihat gadis yang selalu mengganggunya dengan tatapan tidak suka. Ia melihat dari atas ke bawah dengan tatapan sinis. bibir yang terkunci, terpasa ia buka untuk mengatakan sesuatu.
"Apa kah pakaianmu kekurangan bahan?" tanyanya penuh sindiran. "Apa?" Sela mengangkat kedua alisnya. Ini gaya keren di kota ini!" jawabnya dengan menuruni tangga. "Kita tidak jadi pergi!" james berucap dengan berbalik.
"Tunggu! Kenapa tiba- tiba membatalkan!" ucapnya dengan menatap heran. "Kau pikir saja sendiri! Aku tidak mau menanggung malu pergi dengan wanita yang tidak memiliki cukup bahan pakaian untuk ia kenakan!" ucapnya dengan berlalu.
"Tunggu aku lima menit! Aku akan mengganti bajuku, secepatnya!" Sela berlari kembali menuju kamarnya.
"Bailah, lima menit! Aku mulai menghitung sa …,"hitungannya terpotong. "Apa kau sudah gila! Bagaimana bisa mengganti pakaian hanya lima menit!" sentak Sela.
__ADS_1
"Waktu sudah berkurang! Cepat!" James memutar stopwatch ditangannya dan mulai menghitung. Sela berlari, dengan terus menggerutu. Dalam diam, James menarik sudut bibirnya melihat tingkah Sela yang tampak sibuk dengan ocehannya.