
Terbaring di tempat tidur dengan berselimut tebal dan selang infus bertengger di samping ranjang. Jika saja Helena tidak tahu bahwa Yuna adalah Anastasia mungkin sekarang dia sedang berpura-pura meraung-raung menangisi suaminya. Namun, itu tidak dia lakukan karena percuma saja. yang terpenting sekarang perempuan itu tidak menuntriki untuk segera bekerja dan menandatangani kontrak kerjasama.
"Tamunya udah maksa masuk tuh, Bang," seru Jesica. "Apa acting kalian sudah sempurna?"
"Iya. Sudah suruh masuk aja."
"Dia itu sepertinya sangat menyebalkan. Kesel banget deh masa mepet-mepet Tuan Edward terus."
"Ih, udah mah jelek banget lagi."
"Kamu disuruh apa tadi? kebiasaan banget jadi orang pinter banget ngegosip," cicit Ricki.
"Cuma pura-pura sakit aja kebanyakan gaya," celetuk Jesica.
Ricki hendak melemparkan bantal ke wajah adiknya itu yang saat ini sedang berdiri di ambang pintu. Namun, dengan cepat Yuna mengambil bantal itu.
"Sabar ini ujian."
"Punya adik modern Jessica bukan ujian lagi melainkan musibah."
"Apa!"
Jessica yang tidak terima hendak menghampiri kakaknya tapi dengan cepat Yuna memberi perintah agar segera meminta Helena untuk datang ke tempat ini. Dia ingin perempuan itu melihat keadaan Ricky dan setelah itu Yuna akan meninggalkan Ricky di kamar sendirian.
"Apa Yuna mengatakan sesuatu hal yang penting?" tanya Helena?
Tentunya Dia sangat takut bahwa Yoona membongkar siapa jati dirinya dan mengatakan bahwa dirinya telah menculik Elizabeth.
"Mengatakan apa?"
"Tentang anak mereka gitu, siapa namanya ya? Oh, iya. Elizabeth."
"Bukannya dia tidak tinggal di rumah ini?"
"Jadi dia tidak menceritakan apapun tentang anak itu?"
__ADS_1
"Tidak."
"Lalu kalian berbicara apa saja?"
"Tidak banyak yang kami bicarakan karena aku baru datang. Hanya berbicara tentang Jessica dan juga kerjasama kita."
"Tidak membahas tentang hal pribadi?"
"Tidak. lagi pula aku datang untuk menjenguk Tuan Ricky. Jadi aku tanyakan seputaran kesehatan dan memang sekarang kondisinya masih buruk."
"Oh."
"Sejak tadi kamu terus bertanya tentang anaknya Yuna dan Tuan Ricky. aku tidak yakin kamu tidak memiliki maksud tertentu atas pertanyaan itu?" tuduh Edward.
"Tidak. Kamu itu selalu menaruh curiga padaku. Aku bertanya karena selama ini jika kita bertemu mereka selalu membicarakan tentang anak," kilahnya.
"Apa kau tidak percaya pada ceritaku Edward?"
"Aku memang selalu tidak pernah percaya padamu Helena."
"Maaf, kakak tidak bisa turun ke bawah karena kondisinya masih tidak baik sebaiknya kalau emang pengen ngeliat kondisi Kakak silakan naik."
Helena tidak langsung mengganggu dia menoleh ke arah Edward. "Aku juga tadi naik ke atas untuk melihat Tuan Ricky."
"Lalu saat datang Kenapa kau ada di bawah?" selidik Helena.
"Aku yang mengajak Tuan Edward turun ke bawah dan berbincang hangat memangnya kenapa?" tanya Jessica.
"Jadi kalian mau ngobrol berdua di tempat ini?"
"Iya." Jesica mengangguk membenarkan.
"Eh anak bau kencur jangan macam-macam ya. Edward itu tunangan aku dan sebentar lagi kita akan menikah."
"Jodoh itu gak ada yang tau. Bisa saja tunangannya sama kamu tapi nikahnya sama aku kan."
__ADS_1
"Jangan macam-macam ya! Kamu tahu aku itu sangat mencintai dia Dan kita memang saling mencintai."
"Kamu yang cinta sama aku tapi aku tidak pernah mencintaimu Helena," tukas Edward.
Mendengar itu tawa Jessica pecah. "Kalau kata judul lagu sih tunangan yang tak dianggap. Eh satu lagi, cinta bertepuk sebelah tangan. Haha, ngenes."
"Cukup ya. Kamu Jangan membuatku kesal atau ku tampar wajahmu."
"Tampar saja. Di rumah ini banyak sekali cctv kalau kamu berani menyentuhku dengan emosi aku bisa melaporkanmu. Dan, dengan begitu aku yang akan menikah dengan Tuan Edward karena kamu mendekam di penjara."
"Heeeuh, Dasar gila!" Helena menggertakan giginya.
"Dasar wanita tidak tahu diri."
"Apa maksudmu?"
"Udah jelas-jelas ditolak sama pria, eh maksa tunangan. Padahal sih cowoknya udah nggak mau. Duh, kasihan banget sih jadi orang nggak punya harga diri begitu."
"Diam kamu ya!"
Helena sudah benar-benar terpancing emosi, ingin sekali dia benar kamu wajah Jessica tetapi teringat dengan ancaman gadis itu yang akan melaporkannya ke kantor polisi. Jika saja Dia tidak memiliki tujuan untuk mengambil alih semua perusahaan milik keluarga ini, dia tidak akan pernah takut berurusan dengan bocah tengil itu.
"Awas kamu ya!" ancamnya.
"Dih, bisanya ngancam-ngancem."
"Dasar anak setan!"
"Dasar jelmaan setan!" sahut Helena.
"Udah sesama setan jangan saling menghina," celetuk Yuna dari kamar atas.
"Nona Helena. ana datang ke rumah saya untuk mencari keributan atau untuk melihat suami saya?"
Helena akhirnya memutuskan untuk menaiki tangga padahal dia benar-benar ingin menghajar Jessica yang terus mengejeknya. Namun, Dia tidak memiliki banyak waktu untuk bermain-main dengan gadis urakan itu.
__ADS_1