Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Flashback Masa kecil Yuna


__ADS_3

Saat pria tampan itu akan menimpali pun terhenti, saat bi Ami datang membawa sebuah nampan berisi bubur yang tadi di bawa Ricki.


"Nona, ini buburnya. Makan lah dulu aku dengar Nona terluka?" ucap Bi Ami dngan menyodorkan nampan buburnya.


"Makasih yah bik, kapan bibi membuatnya? bukan kah bibi baru datang?" tanya Yuna dengan senyum ramahnya.


"Bukan Non, sepertinya pak Ricki yang membuat kan bubur ini untuk Nona." Ucapnya sembari berpamitan.


"Sepertinya, suami mu sangat baik. Aku hampir memukul dan menghabisinya semalam. Tapi, aku urungkan karna melihatnya begitu panik dan ketakutan," ucapnya dengan mengangkat kedua alisnya mengejek Yuna.


"Benarkah...,.dia itu sangat menyebalkan hampir setiap hari dia membuat masalah."


"Hey, kenapa wajah mu tersipu malu seperti itu Ana, apa kau mulai menyukai nya? lihat lah Muka mu seperti kepiting rebus."


"Kakaaaaak....., berhentilah mengejek ku." ucap Yuna dengan mengerucutkan bibirnya.


" Ingatlah, gadis kecil ku kau menikah dengan nya untuk sebuah misi, jangan membuat ku kecewa," ucap nya dengan mengacak rambut Yuna.


"Kemari kan nampannya, biar Kaka suapi kamu seperti waktu kecil." Ucapnya dengan mencubit hidung Yuna gemas.


"Aku sudah besar, berhentilah memperlakukan ku seperti anak kecil." Ucap Yuna dengan membuang muka.


"Heeey, Bagiku kau masih anak kecil yang manja dan menyebalkan, bahkan kakak masih ingat saat malam kau suka mengompol dan setiap malam kau mengigau dan berjalan mencari ku," hahahaha.


"Kak Rey....., Berhentilah mengejek ku aku tidak mau makan. Biarlah aku sakit. kak, kau ingat waktu kecil pasti kau yang di marahi saat kami bertiga membuat ulah dan suka menghilang, apalagi jika di antara kami bertiga ada yang sakit karna telat makan kau yang akan di marahi kakek bukan? Apa kau tahu kami selalu tertawa di atas rumah pohon saat kakek memarahi mu dan semua bodyguard. Aku kangen amukan kakek padamu dan para bodyguard kalang-kabut mencari kami. Kau tahu itu adalah pemandangan yang sangat menyenangkan." Ucap Yuna dengan tersenyum getir.


"Ancaman mu selalu sajah tidak makan. Makanlah Kaka suapi yah," ucapnya dengan menyendok kan bubur ke mulut Yuna.

__ADS_1


" Aku bukan anak kecil, kemari kan mangkuk nya. Aku bisa memakan nya sendiri." Yuna mencoba merebut mangkuk bubur nya.


"Diam lah, kalau kau makan sendiri bisa kau makan pula mangkuk nya." Ucapnya dengan terkekeh dan pergi menjauh dari yuna dengan membawa mangkuk bubur di tangan nya.


"Kau pikir aku kuda lumping hah ?" ucap Yuna dengan terkekeh dan mencoba mengambil mangkuk bubur itu namun Ray membawanya berlari hingga saat ini Yuna dan Ray berlari kejar- kejaran seperti anak berebut makanan sambil tertawa riang.


"Aduh...., " Yuna terjatuh dan saat ini ia terduduk di rerumputan yang hijau di taman belakang rumah Ricki. Rey yang melihat itu segera menghampiri Yuna dengan muka yang panik.


"kau kenapa, mana yang sakit ? sini kaka obati, makanya jangan nakal. Kakak kan sudah bilang biar kakak yang suapi." Sederet pertanyaan keluar dari mulut Ray.


"Aku jatuh kakak, Yuna menangis dan Rey langsung duduk di hadapan Yuna.


wew...., tapi boong," hahaha. Yuna menjulurkan lidahnya.


"Annaaaaaa, kenapa kau menyebalkan sekali." Ucapnya dengan terkekeh dan menjitak kepala Yuna.


"Kakak sakit." Ucap Yuna dengan tawanya.


Pagi yang mendung, aroma bau tanah selepas hujan menemani pagi mereka. Hembusan angin membuat dedaunan berguguran sehingga terbang ke sana- ke mari daun- daun kering terbang menari di udara. Tetesan air hujan masih sesekali menetes dari pohon besar menerpa bunga yang bermekaran sungguh indah pagi ini seindah pagi dua sejoli yang sedang bermanja.


Di tempat yang berbeda tampak seorang lelaki yang sedang berdiri di balik pagar pembatas balkon kamarnya, dengan muka masam laki- laki itu terus menatap Yuna dan lelaki tampan di sisinya. Sesekali ia meninju dan menendang udara. Tanpa ia sadari Rey ternyata sedari tadi memperhatikan tingkah bodoh Ricki.


"Ana, kau lihat lah suami mu. Sepertinya dia benar- benar menyukai mu. kalau tidak, untuk apa dia sedari tadi berdiri di sana." Ucap Ray pada Yuna.


"Kau, jangan terlalu banyak berkhayal. Dia itu memang selalu bertindak bodoh."


"Sekarang kau lihat lah untuk apa dia rela berdiri di sana selama itu." Ucap Ray kembali.

__ADS_1


Yuna melihat arah lirikan mata Ray, ia sontak kaget karena melihat Ricki sedang menatap ke arahnya. Seketika mata mereka bertemu. Ricki yang di ketahui keberadaan nya pun sontak berlari menuju pintu kamarnya tak sengaja dahinya terpentok pintu kamar miliknya.


"His, ini pintu kenapa tiba- tiba pindah ke sini sih." Ucapnya dengan penuh kekesalan. Sampai di kamarnya ia menendang ranjang king size nya. Seketika ia berteriak menahan sakit.


Sialan, sakit.....kenap pintu dan ranjang ini berpindah tempat begini, Kenapa ranjang itu jadi keras sih.


Arrrggghhh.......


"Bi Ami..........." Teriaknya.


Seorang wanita paruh baya berlari menghampiri dengan tergopoh-gopoh. Karena teriakan Ricki menggema di udara dengan sangat kencang.


"Ada apa Tuan muda? kenapa Dangan jidat dan kaki mu? " tanyanya dengan penuh khawatir.


" Ini semua gara- gara bibi, kenapa bibi memindahkan pintu dan mengganti ranjang ku."


"Sejak Aden tinggal di sini bibi tidak pernah merubah dan mengganti apapun tanpa perintah Aden Ricki." Ucapnya dengan penuh keheranan.


"Lalu kenapa saya bisa terbentur pintu biasanya kan tidak. Berarti bibi merubahnya dan kenapa kaki ranjang ku jadi keras seperti ini ?" Tanya nya dengan penuh emosi.


"Di mana- mana memang kaki ranjang keras Den, karena terbuat dari besi bukan dari kapas. Disini yang salah bukan pintu dan ranjang. Tapi, hati Aden seperti ada yang salah, karena tidak mungkin kan Aden salah minum obat." Ucap Bi Ami dengan menahan tawanya.


"Kamu meledekku Bi...?"


"Tentu saja tidak. Mana berani bibi meledek majikan bibi. Jadi apa perlu bibi Carikan kaki ranjang dari busa Aden?" Tanya Bi Ami dengan muka memerah menahan tawanya.


" Tidak perlu, bibi sudah sangat tua Mangkanya bibi mungkin lupa telah merubah arah pintu kamarku. Saya memaklumi orang tua memang rentan pikun. Tapi, nanti jangan di ulangi." Ucapnya dengan nada tegas BI Ami hanya mengangguk kan kepalanya dan berlalu sambil menggerutu.

__ADS_1


"Astaga, kenapa Den Ricki bisa seperti ini? aku bahkan bekerja di sini hanya beberapa jam. Sejak kapan aku mengurus ranjang dan merubah pintu. Memang nya pintu Doraemon yang bisa berpindah dalam hitungan detik. Lah, jadi ketularan tontonan cucu ku." Ucapnya dengan berlalu.


...Bersambung...


__ADS_2