Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Bermain Halus


__ADS_3

Siang yang cerah membuat seseorang perempuan berkulit putih berjalan menuju restoran yang telah ditentukan untuk menjadi tempat pertemuan. perempuan yang beberapa hari ini menghilang bagaikan angin, kembali nampak di permukaan. Helena datang lebih dulu ke tempat pertemuan dan membuat Dia sedikit kesal karena belum juga menemukan Anastasia di tempat itu. dia menghubungi seseorang yang dulu menjadi sahabatnya dan kini menjadi musuh terbesar dalam hidupnya.


panggilannya tidak diangkat membuat dia mengirimkan pesan singkat.


"Jika kau tak datang maka resikonya akan fatal."


Tidak mendapat jawaban membuat dia semakin kesal tetapi saat dia beranjak berniat untuk pergi dengan membawa amarah besar dan niat buruk yang akan dilakukan kepada Elizabeth seorang perempuan berambut pirang datang menghampiri.


"Kau masih saja sama, tidak sabaran," ucap Yuna.


"Bukankah ini pertemuan pertama kita? ya setidaknya setelah aku tahu ternyata kau adalah Anastasia," sindirnya dengan tatapan meremehkan.


"Aku tidak sedang ingin membahas itu." Yuna mendaratkan tubuhnya di kursi.


"Tapi aku sangat ingin membahasnya. kau memang benar-benar tidak akan pernah bisa melawanku, sungguh sangat disayangkan bertahun-tahun melakukan penyamaran dan hidup terangkat tapi tetap gagal. Sungguh sangat kasihan."

__ADS_1


"Setidaknya meskipun aku gagal masih memiliki suami yang sangat mencintai, aku bukan perempuan yang terus mengejar satu pria yang sama sekali tidak mencintai. rasanya melakukan tindakan yang bodoh!"


"Diam kau!" Helena terpancing dia menggebrak meja. Yuna menggelengkan kepala dan tersenyum sinis.


"Aku tidak tahu kenapa takdir selalu berpihak padamu padahal kau cukup arogan. kau terlalu jahat sehingga menghalalkan banyak cara."


"Bukankah aku selalu bilang bahwa pecundang seperti dirimu tidak akan pernah menang. kau tidak akan pernah berani membunuh Yuna. oh tidak, Anastasia. Jangan lupakan itu nama aslimu."


"Di mana suamimu yang baru? kau tidak sedang mengingkari janji kan?"


"Kau sudah mempermainkanku!"


Yuna di mana suaminya sedang berbaring dan selang infus berada di sampingnya, Helena ingin marah tapi dia tetap harus bersabar karena pria yang sedang terbaring itu akan membuat dia semakin kaya dan Erik akan bangga terhadapnya. Helena tidak ingin membuang waktu dan berbasa-basi, dia menunda pertemuan dan pergi meninggalkan Yuna begitu saja. tanpa dia sadari bahwa pertemuan Ini adalah sebuah rencana yang telah disusun oleh James.


"Bolehkah aku memelukmu?"

__ADS_1


"Untuk apa? Kau ingin menusukku?"


"Tidak! Aku rasa aku bukan orang bodoh yang membunuh seseorang di tempat ramai. Sudah aku katakan ingin terlepas dari dunia ini, mengiklaskan Edward padamu dan juga semua perusahaan. Aku ingin tenang dan semoga dengan memelukmu itu menandakan aku benar-benar melepas semuanya," terang Yuna.


"Jangan lupakan bahwa kita dulu pernah bersahabat, Helena."


Helena diam sejenak tahu perempuan itu besar gengsi, kemudian menghamburkan pelukannya.


"Lihat, aku tidak melakukan apapun kan padamu? aku tidak membawa pisau."


"Aku berharap kita bisa bertemu lagi setelah suamiku sembuh kita akan melakukan kesepakatan. Jangan khawatir aku tidak akan merebut Edward karena hatiku sudah berpaling pada suamiku. untuk saat ini aku percayakan Elizabeth dan Sela padamu, aku tahu kalau orang yang baik." Yuna beranjak dari duduk.


"Aku permisi."


Yuna pergi meninggalkan Helena dengan senyum yang mengembang dia cukup berhasil untuk melakukan sesuatu hal yang sangat penting. Dia kemudian berjalan memasuki mobil, pergi meninggalkan restoran itu lebih dulu dan Helena sama sekali tidak curiga. padahal pertemuan ini sama sekali tidak ada yang dia dapatkan.

__ADS_1


"Kali ini siapa sebenarnya yang benar-benar jahat," gumam Yuna dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


__ADS_2