Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Papah Sambung yang Sempurna


__ADS_3

"Ngapain sih elu harus repot-repot ambil perusahaan? Gak enak tau. Gue sih, lebih enak idup miskin. Bisa makan dengan tenang, walau seadanya. Iya gak Rin?"


"Gimana ya? Gue yang sedari orok gak pernah ngerasain jadi sultan gak bisa komentar. Maunya sih jadi orang kaya. Cuma ya itu, kerja keras gak kaya-kaya," jawab Rina. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Elaaaah. Elu jadi teman kaga ada dukungannya."


Saat ini ketiga sahabatnya itu sedang berada di halaman belakang, memberi makan ayam jago kesayangan Yuna dulu. Mereka berjongkok, Yuna masih setia mengelus bulu rambut si jago merah.


"Tuh lihat, peliharaan elu. Ayam jago. lah kali, kalau lu kaya raya kaga ada tuh pelihara ayam jago. Peliharaannya paling kucing," sambung Arin.


"Ya masih mending daripada pelihara singa," sahut Rina.


"Muke gila ya lu. Dari tadi kaga ada dukung-mendukungnya," omel Arini.


"Lho emang benar, daripada pelihara singa mending kucing."


"Bacot lo gak guna banget. Mending diem deh. lu tahu gak? Kalau Yuna jadi orang kaya, dia itu bercerai dengan Pak Ricki. Elu kan dah tau, kalau si Edward itu macam apa? Apalagi Helena," cicit Arini.


"Eh, kalau gitu ceritanya elu gak usah jadi orang kaya aja. Pak Rickie itu baik, anjir," sambung Rina.


"Ish, nyesel gue ceritain ke kalian. Nih, ya. Gue itu cinta banget sama Edward. Gak bisa idup tanpa dia. Lagian ya, Ricki itu bukan ayah biologis Elizabeth."


"Gue gak nyangka elu picik, Yun. Jujur gue suka elu yang jadi Yuna daripada tahu kenyataan Lo adalah Anastasia. Terlalu pintar dan ambisius, gak baik."

__ADS_1


"Dih, gue cuma rebut hak kok."


"Sekarang elu lihat Elizabeth dan Ricki."


Arini menunjuk ke arah Rickie yang sedang menjadi kuda, Elizabeth naik di atas punggung pria itu dengan tawa. Arya dengan seria memegangi gadis kecil itu, dan sesekali menepuk pantat pria itu. Ricki tak marah, meskipun dia orang kaya tapi menikmati momen tanpa menjaga jarak. Yuna mengikuti arah pandang Arini.


"Ricki itu ramah lingkungan," ucap Arini.


"Lo pikir deterjen," pangkas Rina.


"Tuh, bacot. Gue lakban juga dah."


Arini membulatkan mata, melotot. Manatap tajam Rina. Gadis itu segera menutup mulut dengan kedua tangan. Takut.


"Elah, itu gak mungkin. Dia itu udah punya calon istri. Kita nikah karena kesepakatan."


"Gue gak tahu banyak tentang elu dan si bos di masa lalu. Cuma jujur ya, dibandingkan Edward dia lebih hangat."


"Gue baru tahu Bos Ricky kompor," sahut Rina.


"Diem ******!" Arini mengusap wajah Riba dengan telapak tangan.


"Bau, anjir!"

__ADS_1


"Iya. Gue lupa abis cebok," sahut Arini.


Rina hendak menimpali, tetapi diurungkan saat Yuna kembali membuka suara. Sadar bahwa pembicaraan ini serius dia menjadi bungkam.


"Tapi dia itu gak bisa bela diri. Dunia gue dan dia beda, dia itu ... ah, sudahlah. Bagaimana bisa bersatu sedang lihat darah aja dah keok."


"Manusia gak ada yang sempurna."


"Tapi Edward sempurna."


Arini mengusap wajah dengan kasar, sepanjang apapun dia membujuk Yuna tetap pada pendirian. Ternyata benar yang dikatakan orang tuanya, Yuna sangat keras kepala. Tidak bisa melihat dengan hati, hanya dengan logika, bagaimana bisa merasakan cinta.


"Jadi elu tetap akan bercerai? Gak kasian dengan Elizabeth? Dia itu taunya Ricki lho yang jadi ayahnya."


"Kalau aku dah kembali dengan Edward akan ceritakan semua, dia pasti ngerti."


Puas bermain di halaman belakang, Ricki mengajak Elizabeth pergi membeli ice cream. Anak kecil itu sangat senang, Arya juga diajak dan mereka pergi meninggalkan rumah dengan menggunakan mobil. Seseorang telah mengikuti mereka dari semalam saat datang me rumah ini. Kini mereka membuntuti Ricki pergi ke supermarket. Mereka pergi tanpa pengawasan siapapun.


Seseorang yang berada di dalam mobil, menghubungi seseorang dengan menjalankan pelan mobilnya, dia mengikuti kemana Ricki pergi. Saat di supermarket Yuna meminta untuk naik troli belanja, Ricki menurut dan mendudukkan. Gadis itu bersorak gembira, karena hal ini cukup menyenangkan bagi anak kecil. Ricki tak mau kalau, dia berlari-lari mendorong kereta itu dengan senyum yang mengembang.


Arya sangat senang melihat keakraban mereka dalam hati dia berkata, "Bodoh jika kakak meninggalkan Bang Ricki, dia pria yang tulus. Edward? Cih! Dia itu terlalu sibuk dengan dunianya sendiri."


Asyik berbelanja mereka tak menyadari ada seseorang yang terus mengambil gambar Elizabeth. Seseorang kemudian menghubungi seseorang dan menunggu perintah apa yang seharusnya dilakukan terhadap gadis itu. Jika pun mendapat perintah untuk menculik itu sangat mudah, karena saat ini Ricki dan Arya sedang sibuk mengambil barang belanjaan dan membelakangi Elizabeth yang masih duduk di troli dengan menikmati ice cream.

__ADS_1


__ADS_2