Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Cara Ampuh Mengatasi Galau


__ADS_3

"Apa yang sebenarnya terjadi, Yuna?"


Ricki bertanya dengan membawa mangkok berisi mie rebus.


"Apa ini mie goreng yang kamu beri kuah?"


Ricki terkekeh pelan, "Kau tahu? Aku belajar membuat mie rebus menghabiskan tiga dust."


"Hah!" Mata Yuna membulat sempurna. "Serius?"


"Apa aku kelihatan bercanda?"


"Entahlah." Yuna mengangkat kedua bahunya.


"Jangan pikirkan hal lain. Seperti yang aku katakan, maukah kamu makan mie ini?"


"Apa yang kamu maksud menghilangkan stres ala Korea adalah makan mie ini?"


"Haha, Iya. Kamu tahu, orang Korea itu sangatlah suka dengan mie. Kalau galau ya makan mie."


"Tapi aku orang Indonesia, lebih suka nasi."


"Ya udah mie pake nasi," usul Rickie.


Yuna terkekeh pelan, entah kenapa saat Yuna sedang merasakan kegelisahan, rasa yang tidak nyaman, atau sedang bimbang seperti sekarang. Ricki selalu membuat dia tersenyum.


"Bagaimana kita balapan?"

__ADS_1


"Balapan?"


"Tunggu sebentar," ucap Ricki.


Pria itu pergi ke dapur, tidak berapa lama dia kembali, "Taraaaaaaa."


Ricki kembali dengan membawa panci nasi, Yuna melihat isi dari tempat itu bukan hanya nasi, melainkan sudah dicampur mie rebus yang begitu sangat banyak.


"Apa kau pikir aku ini sapi?"


"Sepertinya sapi tidak cocok untuk badanmu yang kurus, kau ini seperti unggas," sahut Ricki.


"Oh, sial! Kau sungguh menyebalkan!"


"Jadi apa kau mau terima tantangan saat orang Korea setres?"


"Tenang nanti aku kerik."


"Maunya."


"Emang. Nanti sambil aku elus-elus."


Ricki dan Yuna berdiri duduk saling bersebelahan, pria itu amangku panci nasi yang besar. Dia memberikan sendok sayur kepada Yuna.


"Astaga, kenapa kamu tidak beri aku sendok semen aja sih," omel Yuna.


"Nah, ide yang bagus. Tapi ... maaf. Sendok semen pasti kotor, kalau aku cuci keburu berevolusi mie ini jadi cacing kalung yang besar."

__ADS_1


"Ish. Ya kali aku makan pake sendok semen," sungut Yuna.


Dia mulai menyendokan nasi bercampur mie itu dengan ragu. Namun, Ricki tak berhenti sampai di situ.


"Kamu anggap makanan ini seperti musuh, luapkan emosimu pada makanan ini," ucap Ricki.


Yuna tidak lagi menjawab, dia menyendok nasi campuran mie itu dan memasukkan ke dalam mulutnya. Hal seperti ini, dilakukan beberapakali. Dia makan sangat lahap, seperti orang yang kesurupan, sejak tadi dia terus menjejali mulutnya hingga penuh, sedang sejak tadi Ricki hanya menyendok dengan sedikit. Yuna tidak bisa melanjutkan makannya, karena perut terasa penuh, bukan hanya itu bibirnya juga masih penuh. Tidak kuat lagi, dia menyandarkan tubuhnya di kursi. Beberapa kali dia mengusap perut dengan terus bersendawa dengan keras.


"Hey, ayo makan lagi. Kalau kau kalah harus menceritakan apa yang terjadi, jadi cepat habiskan."


"Ah, kenapa kau baru bilang hukumannya," keluh Yuna.


"Jadi ayo makan lagi. Aku yang lagi senang saja masih bisa makan."


"Ya mungkin saja ususmu seperti perut ular, bisa memasukkan apa saja," sahut Yuna.


"Kau aja yang payah."


"Rasanya aku sudah makan banyak, jangan-jangan—"


"Jangan-jangan, apa!" pangkas Ricki.


"Kamu curang," tuduh Yuna.


"Apa, curang? Kalau kalau tidak usah mengelak deh."


"Ya udah oke, aku ngaku kalah."

__ADS_1


Ricki tersenyum menang, tidak mudah meminta istrinya untuk bercerita, sehingga jika dia ingin tahu permasalahan apa yang dialami oleh Yuna, dia harus melakukan ini.


__ADS_2