
Rasa cinta yang besar kini berubah menjadi kebencian yang terhambat dalam kepada Erik. bertahun-tahun menjalani hubungan gelap dengan adik iparnya itu, melakukan banyak cara bahkan menghianati suaminya sendiri tapi berakhir dengan sebuah penderitaan, pelecehan dan tidak pernah menyangka bahwa dirinya yang sangat dihormati banyak orang ketika berada di samping sang suami Kini dia dilecehkan oleh bawahan Erik itu sendiri.
Dia hanya bisa memeluk lututnya dengan kedua tangan dengan air mata yang terus bederai, penyesalan tak berarti lagi baginya. Pintu kamar terbuka menampakan seorang pria berkulit putih dan bertubuh tinggi besar tersenyum menyeringai dan berjalan menghampiri.
"Kau puas?"
"Sialan kau, Erik!" berang perempuan itu dengan melemparkan bantal, tepat mengenai wajahnya.
"Haha. Kau benar-benar murahan, bahkan hanya demi sebuah kepuasan rela menjadi santapan serigala yang kehausan." Eric berjalan mendekat.
"Kau keterlaluan! Kau bilang, setelah aku membantumu kau akan menikahiku tapi kenyataannya kau membohongiku!"
"Haha. Bukankah ini sudah aku bahas? Seharusnya kau cukup tau diri dan tidak pernah menemuiku lagi, kan aku terlalu murahan sehingga kamu menyerahkan dirimu pada Serigala pemangsa. Ah, bagi perempuan seperti dirimu Bukankah cukup dengan sebuah kepuasan? Tepatnya mencari kepuasan?"
"Cukup Erik!"
"Aku bahkan tidak menyentuhmu."
"Kamu memang banjingan!"
__ADS_1
"Haha. Bahkan, anak bau kencur yang sangat kamu benci saja sudah tahu bahwa aku adalah seorang bajingan!"
"Aku tidak akan lagi mengampunimu, Erik!"
"Memangnya aku minta permohonan ampun darimu?"
wanita itu diam, dia mulai kehabisan kata-kata.
"Awas kau Eric!"
"Kau mencoba mengancamku? Apa yang bisa dilakukan oleh seorang wanita murahan seperti dirimu!" Eric mencengkram kasar pipi wanita itu dengan kedua tangan.
"Oh, iya. Bagaimana jika Edward tau kalau ibunya seperti ini? Telanjang dan dinikmati oleh banyak bawahan."
"Jangan macam-macam! Aku pikir kamu tidak sebejad ini."
"Jadi benar kan, kata kekek tua itu. Bahwa kau orang bodoh. Seharusnya kau dengarkan dia untuk meninggalkan aku. Nyatanya kau malah menyuruh aku membunuh mertua yang sudah mengangkat derajatmu."
"Cukup Eric, cukup!" Dia menutup kedua telinga dengan telapak tangan.
__ADS_1
Tangisannya sudah mengalir deras, menyesal karena telah terperangkap cinta buta dengan pria jahat dan serakah seperti Erik. Nasi sudah menjadi bubur, menyesal pun percuma.
"Sekarang cepat bersihkan tubuhmu, aku sudah muak melihat wajah tuamu itu. Sudah tidak ingin ingin lagi berpura-pura mencintai dan tergila-gila padamu."
Perempuan itu tak kunjung beranjak, Erik tak sabar dia langsung menarik kasar tangan wanita itu, menyeret dan membawanya ke kamar mandi. Lalu didorong hingga tersungkur di lantai.
"Cepat bersihkan tubuhmu dan tinggalkan tempat ini!"
Erik menutup pintu kamar mandi dengan sangat kencang, hingga membuat perempuan itu tersentak kaget.
Sepulang dari kediaman Erik, perempuan itu duduk lesu di sofa. Wajahnya sangat murung, rambutnya dibiarkan berantakan. Edward yang baru pulang heran, melihat sang ibu yang tidak seperti biasanya.
"Mom, apa yang terjadi?" Edward bersimpuh di bawah kaki perempuan itu.
Mendengar suara anaknya, dia bukan menjawab tapin semakin mengeraskan tangisan. Edward semakin bingung dibuatnya.
"Kenapa jadi seperti ini, apa Daddy melakukan sesuatu yang membuat Mommy sedih?"
Perempuan itu mulai menyadari, bahwa dia memang sangat bodoh. Memiliki keluarga yang sempurna tapi malah bermain gila dengan pria licik seperti Erik.
__ADS_1