Sekertaris Dadakan

Sekertaris Dadakan
Dunia Anastasya dan Edward


__ADS_3

Sampailah giliran Edward, Ia bergegas untuk segera menemui Istrinya. Dalam hidupnya sungguh dia tidak pernah bisa meski sebentar jauh dari Ana. Sampai di ambang pintu ada seorang gadis yang menahan tangan Edward. Ia mengerutkan dahinya.


"Permisi ...." ucap Edward ketus dengan mengibaskan tangannya.


"Tuan terimakasih, telah membantu saya membelikan kebutuhan saya," ucapannya tanpa malu, Edward tak menanggapi dan pergi berlalu. Namun, wanita itu memegang kembali pergelangan tangan Edward. "Saya Helena," ucapnya. Lagi- lagi edward mengibaskan tangannya dan pergi berlalu, tanpa ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.


Edward memang sangat cerewet pada Ana dan juga Sela. Tapi, tidak dengan orang asing, apalagi seorang wanita yang tidak dia kenal. Dingin dan angkuh itulah Edward yang di kenal di umum.


Di depan Pintu ruangan sang kakek. Ana sudah gelisah, Ia terus mondar mandir seperti setrikaan. Edward datang dengan membawa dua kantung penuh belanjaan di tangannya. Seketika Ana mengerutkan dahinya entah apa saja yang di beli Edward sampai sebanyak itu.


"Ini sayang," Edward memberikan satu plastik besar. Ana membukanya dan membulatkan matanya. "Apa yang kau lakukan, Erd? tanya Ana dengan memegangi satu kantung plastik besar yang berisi pembalut.


"Apa?" tanyanya polos. "Apa kau ingin aku membuka warung untuk berjualan pembalut?!" tanya Ana terheran. "Memangnya kenapa?" Edward mengerutkan dahinya. "Astaga! Erd. kau memberiku banyak pembalut, untuk apa?!" sentak Ana, ia geram dengan tingkah suaminya. "Yah untuk kau pakai! memangnya kau berfikir aku yang memakainya?" ucap Edward terkekeh. "Tapi, tidak sebanyak ini! lihatlah, sampai ada 15 pack, untuk apa semua ini?" Ana berucap sembari melihat banyaknya pembalut di tangannya. "Sudahlah, kalau sayang tinggal kau pake saja semua!" ucapnya enteng. "Kau tidak berbicara beli berapa, karna bingung yah aku beli semua yang ada di Supermarket, aku hebat, kan? Kau beruntung memiliki suami seperti ku!" ucapnya dengan menepuk dadanya.


"Apa kau bilang! pakai semua kau mendoakan ku datang bulan setiap hari! Baguslah, berarti setiap hari kau, tak dapat jatah!" ucap Ana sambil berlalu.


"Astaga, apa salah ku! bahaya sekali kalau tidak dapat jatah, bisa sakit kepalaku! Kenapa berbicara dengan perempuan aku selalu salah?" gumamnya dengan berlari mengejar Ana.


Edward masih setia berdiri di depan kamar mandi, menunggu sang istri keluar, sesekali ia mengetuk pintu. Sela yang baru bangun masih santai memakan roti dan kopi yang di bawa Edward. Baginya penampakan hal seperti itu sudah biasa. Melihat Edward yang berkeringat Sela pun bertanya.


"Kenapa? kau cari saja kamar mandi lain! kau tahu sendiri istrimu kalau di kamar mandi bisa berabad- abad," ucap sela dengan mulut yang penuh dengan sarapannya Ia berfikir Edward tak tahan ingin buang hajat.

__ADS_1


"Berapa lama kalau datang bulan?" pertanyaan itu lepas dari mulut Edward. Seketika Sela pun terbatuk.


Uhuk- uhuk


"Kau kenapa? makanya kalau makan hati- hati!" sentak Edward. "Kau yang bodoh! kenapa tiba- tiba kau bertanya hal seperti itu?" tanya Sela dengan meminum kopi miliknya meredakan dia yang tersedak.


"Ana marah padaku, aku memberinya banyak pembalut aku bilang padanya kalo sayang ya pakai setiap hari! Eh dia marah! apa salah ku?" seketika Sela terkekeh. "Astaga! pengantin baru, perempuan kalau lagi datang bulan memang sensitif," ucap Sela santai.


"Bukan itu masalahnya! kau tidak akan mengerti," sentak Edward. "Lalu, apa?" tanya sela dengan kembali menyuapkan makanannya. "Kata Ana, kalau aku meminta dia menghabiskan pembalutnya,aku tidak dapat jatah," ucapnya dengan menunduk dan dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Astaaga! Edward! Mana ada yang datang bulan setiap hari, lagian kenapa ribet sekali, kan bisa di simpan untuk bulan berikutnya,. gitu ajah jadi masalah kalian itu pasangan yang bodoh! Sudahlah, aku tidak mau berurusan dengan kalian!" Sela berdiri dari duduknya dan pergi berlalu. "Kau mau kemana?" tanya Edward. "Gue balik! mau mandi, dan ambil baju ganti buat kalian," ucapnya sambil berlalu. "Oh Iyah, kayanya Ana serius tidak memberikan mu jatah!" Sela berucap di balik pintu dengan terkekeh. Edward yang kesal melempar satu pak pembalut di sopa dan melemparkannya pada Sela, namun tidak mengenainya.


"Kalian beruntung bisa bersama, meski hal kecil jadi masalah. Bisa merasakan menikah di usia muda, sedang aku hanya bisa mencintai James, tanpa ada timbal balik darinya," gumam Sela sambil berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju parkiran.


"Sayang, pembalutnya aku buang yah?! tanyanya dengan tersenyum. "Apa kau bilang? di buang? jangan mentang- mentang banyak uang kau seenaknya!" sentak Yuna. "Astaga, saah lagi kan?" gumannya. "Jangan marah lagi, yah? kau mau apa pasti ku berikan," ucapannya dengan memegang kedua bahu Ana yang terus merajuk. Sebenarnya, Ana sudah ingin tertawa melihat Edward selalu bertingkah berlebihan. "Tidak usah sok perhatian padaku!" sentaknya dengan mengerucutkan bibirnya. "Sabar ..." gerutu Edward dengan mengelus dada. Yuna tidak memperdulikan Ia mengambil roti sandwich dan susu yang tadi tengah di beli Edward.


"Mau aku suapi, sayang? tanya Edward dengan tersenyum. "Memangnya kau pikir aku tidak bisa makan sendiri! memang kau pikir aku lumpuh!" Sergah Yuna saat Edward akan menyuapi Yuna. "Salah lagi, Ya ampun," Edward kembali mengacak rambutnya frustasi. "Yasudah, kau makan sendiri saja, aku keluar mencari udara segar," kesal Edward dengan beranjak dari duduknya. "Dasar suami tidak peka! Datang bulan itu kan sakit, bukannya di bantu malah pergi," Yuna berucap dengan memanyunkan bibirnya sepuluh centi melebihi bebek. "Astaga, apa salah dan dosa ku, sayang?" ucap Edward sembari bernyanyi. Seketika Tawa Yuna pecah tak tertahankan.


Edward mengerutkan dahinya Ia berfikir keras tentang situasi seperti ini. Sedari kecil hidup bersama dengan Yuna baru kali ini mengetahui sifat asli Yuna. "Apa wanita yang sedang datang bulan, persis seperti orang gila? tadi dia marah- marah sekarang tertawa? Sepertinya aku harus menanyakan pada dokter prihal ini, aku sungguh khawatir!" gumamnya dengan menggelengkan kepala.


"Erd, kau kenapa?" tanya Yuna heran, melihat sang suami menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Hah! Aku?" tanya edward bingung dengan menunjuk dirinya. "Ia memang siapa? kenapa kau menggelengkan kepalamu?" tanya Ana. "Kau, tidak apa- apa kan sayang? aku khawatir datang bulan mu merusak hal yang lain dalam dirimu!" seru Edward. "Apa maksudnya?" tanya Ana dengan mengerutkan dahinya. "Tidak! Kau jangan salah paham, sayang aku tidak mau kau kenapa- kenapa. Tadi kau marah sekarang kau tersenyum, Ku khawatir!" Edward berkata dengan kehati- hatian. "Kau pikir aku gila!" tanya Yuna kesal.


"Tidak! sayang, tidak! bukan maksudku seperti itu," ucap Edward dengan mengibaskan tangannya takut kalau istrinya kembali murka. Namun, Yuna terkekeh, Edward semakin mengerutkan dahinya heran. Selama ini mereka terlalu sibuk dalam bisnis sejak kecil sehingga tidak pernah membahas hal seremeh ini. "Sayang, kau baik- baik saja kan?" tanyanya. "Aku baik- baik saja! aku hanya mengerjai mu, habisnya kau terlalu berlebihan," Edward tidak bisa marah pada Ana dia mengelitiki Yuna.


"Oh, sudah baikan?" ledek Sela dengan terkekeh yang baru saja membuka pintu. Seketika Yuna dan Edward menghentikan aksinya. "kasian, ada jones!" ledek Edward pada Sela. Karna kesal Sela melempar tas yang ia bawa ke muka Edward.


...Bersambung...


intenmesso


Aku hamil Mas


Lagi asik nongkrong di kafe bersama istrinya, Jon di datangi wanita dari meja sebelah.


Mas, aku hamil ...," kata wanita itu lirih.


"Kamu siapa ...? kata Jon kaget, sambil mematikan rokoknya.


Melihat kejadian ini, tiba- tiba istrinya menyiramkan kopi panas ke wajah Jon sambil teriaka "wong susah hamil gitu, ko masih tanya "kamu siapa?" DASAR BUAYAAAA...!!"


"Eh, mbak sebebtar ..." kata wanita dari meja sebelah. "Maksudku, aku ini lagi hamil, tolong Masnya jangan merokok ...!"

__ADS_1


Dah, lah sekarang Jejak!!


__ADS_2