
Kepergian sang kakek memang meninggalkan luka yang sangat mendalam. Namun, hidup tetap harus berlanjut.
Sebulan telah berlalu, mereka pergi melanjutkan kuliahnya di Harvard university. Sela masih melanjutkan sekolahnya di London bersama orangtuanya.
Indonesia telah menjadi kenangan indah bagi mereka, Sela pun tidak bisa melanjutkan studinya bersama kedua saudaranya. Dia memang selalu tertinggal dalam segi Academic.
Mereka berdua tinggal di sebuah Apartemen. Kehidupan di sana sangatlah berbeda. USA memang negara yang sangat berpengaruh baik dari segi ekonomi, politik ataupun gaya hidup.
Anastasya bukanlah orang yang tidak bisa bergaul. Hanya saja, ia menutup diri. Fokusnya hanyalah untuk menyelesaikan kuliah dengan nilai yang menakjubkan dan itu memang bisa ia capai dengan prestasi yang sangat gemilang.
Harvard memiliki 73 perpustakaan yang tersebar di kota Cambridge. Bukan hal mustahil baginya, menjajaki hampir semua perpustakaan selama tinggal di sana.
Luka- liku selama tinggal di Cambridge M.A. AS. Bukanlah hal yang mudah baginya. Ia memiliki sahabat bernama Helena. Helen wanita yang pintar bergaul, dan memiliki banyak teman sangat berbeda dengan Ana.
Wanita berparas mungil itu, tidak pernah mengetahui betapa busuknya sahabat yang selalu ia banggakan di depan suaminya.
Beberapa kali ia selalu mencoba menggoda Edward, saat Ana meninggalkan mereka berdua di Apartemen miliknya. Terkadang, Ana harus mengadakan pertemuan mendadak dengan client.
Edward tetaplah Edward, ia tidak akan pernah tergoda dengan wanita secantik apapun meski ia berjalan di hadapannya tanpa busana. Baginya cinta adalah Ana dan tidak ada yang lain. Beberapa kali, Edward mempringatkan istrinya tentang siapa sebenarnya Helena. Ana keukeuh pada penilaiannya, bahwa Helen adalah sahabat yang baik. Kepolosannya selalu bisa di manfaatkan oleh orang licik seperti Helena.
Tidak berhasil dengan menggoda Edward. Seringkali, ia menjebak Ana dalam situasi yang seperti saat itu, Ana tengah berdua di sebuah kamar dengan seorang pria.
Anastasya tidak pernah sekalipun, selama tinggal di AS dia merayakan pesta. Namun di malam yang kelam, Ana dengan terpaksa mengikuti permintaan sahabatnya Helena.
Pesta ulangtahun Rose Maria teman satu fakultas dengannya hampir menjadi bencana terbesar bagi rumahtangga Ana.
Siang itu Ana dengan terpaksa mengikuti ajakan sahabatnya Helen, tanpa dia ketahui Helen berniat menjebak Ana. Ia meminta bantuan Eliot pria asli keturunan rusia yang memiliki netra biru itu memang sudah menyukai Ana sedari pertama masuk kuliah.
Julukan lelaki bajingan telah melekat pada dirinya, bagaimana tidak setiap hari ia bergonta-ganti teman kencannya. Bukan
tanpa alasan ia melakukan itu, ia hanya ingin apa yang ia lakukan bisa menarik perhatian Ana.
Sepeti kesempatan emas baginya, saat sahabat Anastasya menghampirinya. Mengajaknya untuk melakukan kejutan terhadap Ana.
Pernikahan gadis berparas mungil itu tidak diketahui siapapun kecuali Helena. Edward tidak pernah ingin banyak yang mengetahui perihal pernikahannya. Bukan tanpa alasan, ia tidak mau itu akan mengancam keselamatan istri tercintanya.
Satu fakultas dengan sang istri mengharuskannya bersikap dingin, meski begitu ia mengetahui setiap gerak- gerik kelicikan sahabat istrinya.
Semenjak pertemuannya dengan Edward di supermarket kala itu, gadis bermata tajam itu seperti kehilangan kewarasannya. Obsesinya terhadap Edward membutakan hatinya.
Malam yang larut, Ana mengendap-endap untuk meninggalkan kediamannya. Perlahan ia membuka pintu kamar agar langkahnya tidak terdengar suaminya yang kala itu tengah tertidur setelah rutinitas panas bersamanya.
__ADS_1
Bukan tidak mengetahui Edward hanya tersenyum di balik selimutnya. Ia tidak pernah menyangka isteri polos kesayangannya ini bisa bertingkah nakal. Saat ini, Ana mengenakan mini dress yang menampakan sebagian paha mulusnya. Rambut yang di gerai menambah kecantikannya.
Ia menenteng sepatu hak tinggi di tangannya agar langkahnya tidak terbaca. Ia menghembuskan nafasnya merasa lega. Saat ia berhasil keluar dari kamar miliknya. Di area parkir, sudah ada yang menunggu wanita mungil itu. Seseorang melambaikan tangannya dari dalam mobil merah miliknya.
Tanpa ia ketahui Edward segera beranjak dari tempat tidur, ketika melihat sang istri keluar dari kamarnya. Pria kelahiran Inggris, yang memiliki ketampanan tak tertandingi itu mengenakan jeans hitam, kaos putih membalut tubuh kekarnya, dilengkapi jaket Hoodie berwarna senada. Sepatu kets menemani langkahnya, tidak ketinggalan ia mengenakan topi untuk menutupi identitasnya.
Pesta minum sudah terbiasa mereka lakukan saat perayaan ulangtahun. Anastasya masih terdiam sedikitpun ia tidak menyentuh minuman memabukkan itu.
Awalnya Helen menjelma menjadi malaikat pelindung Ana. Beberapa kali, saat temannya yang lain meminta anak untuk minum, Helen menolaknya dengan dalih Ana tidak pernah minum.
Namun, itu adalah salah satu rencana iblisnya. Agar gadis mungil itu mempercayai dirinya. Rose untuk kesekian kali meminta Ana untuk minum, berulang kali pula Ana menolak.
Helena meyakinkan Ana, bahwa ia akan melindungi Ana, dengan beralasan bahwa tidak enak hati menolak permintaan sang putri malam ini dan Helen memaksa sahabatnya untuk minum.
Satu tegukan saja cukup membuat kepalanya terasa berputar, dua tegukan telah membuat Ana meracau dan kehilangan kesadarannya. Suara sorakan dan tepukan dari temannya masih nyaring ia dengar dengan tingkat kesadaran minim, ia meminta ijin pada temannya untuk ke toilet. Ia berniat mencuci mukanya, gadis mungil itu berharap dengan membasuh mukanya bisa menghilangkan rasa pening yang sudah menguasainya.
Helen memberikan kode kepada Eliot untuk membuntuti Ana. Dengan semangat dan tersenyum nakal ia sudah tidak sabar melancarkan aksinya.
Belum sampai di toilet, Ana sudah tumbang. Dengan sigap Eliot membopong Ana dengan senyum kemenangan. Ia menggiring Ana ke salahpahaman satu kamar di tempat itu.
Tatapan pria kelahiran Rusia itu, sudah seperti ingin memburu, bagaimana tidak selama bertahun-tahun ia mendambakan Ana. Sedikitpun ia tak pernah berhasil mendekatinya.
"Maafkan aku sayang, jika saja kau menerimaku. Aku tidak akan melakukannya dengan terpaksa," pria bernetra biru itu mulai membelai wajah wanita pujaannya, tangannya sudah tidak sabar ingin menjelajahinya. Tapi, ia urungkan saat ini menatap gadis pujaan hatinya itu adalah hal yang paling menyenangkan.
Pria bernetra biru itu mulai memebalai rambut Ana, dan menghisap dalam aroma wanita pujaannya itu.
Dari tempat yang berbeda, nampak seorang pria mengepalkan tangannya. Ia meneguk soda dan segera beranjak berdiri ketika melihat sang istri pergi di buntuti seorang pria.
Karna terburu- buru ia menabrak seorang wanita dan menumpahkan minuman yang di pegangnya. Sehingga, ia membutuhkan sedikit waktu untuk menyelesaikan urusannya.
Sampai di toilet wanita. Pria dingin itu, membuka satu persatu pintu kamar mandi, ia meneriaki nama istrinya. Naas tempat itu kosong tak berpenghuni.
Pria bertubuh kekar itu membuka topinya ia mengerang frustasi. Kepanikan sudah menguasai dirinya. Umpatan demi umpatan keluar dari bibir seksinya.
Tak sengaja ia bertemu salah seorang pegawai di sana, yang kebetulan tengah mengantarkan pesanan ke kamar Eliot. Edward menghentikan langkah pelayan itu, ia memberikan foto istinya untuk menanyakan perihal keberadaannya.
Tidak ada jawaban, namun ketika Edward menjelaskan dan meyakinkan bahwa itu adalah istrinya. Pelayan itu menunjukkan salah satu kamar yang ditempati mereka saat itu.
Dengan langkah yang tergesa Edward menuju nomor kamar yang telah di sebutkan. Tak ada aba- aba lagi Edward mendobrak pintu kamar itu.
Amarah tengah memuncak pada dirinya, saat melihat sang istri tengah berdua bersama pria asing di hadapannya.
__ADS_1
TBC
Ya salam, musuh berkedok sahabat yah si Helen 🤔 pantas Ana benci banget.
Pesan otor sih, cuma satu. Hati- hati dengan kebaikan orang 😒
Karena, sedalam lautan masih bisa kita Selami tapi hati seseorang tidak akan pernah ada yang tahu🤔🤧
Itu memang real banyak terjadi sekarang😒
Intermesso 😌
Ini aku dah bosen sama kelakuan si Udin 😌 ganti ajah sama kang Entis Sutisna 🤔 kali dia rada bener😒
BAKSO Atau Garpu
Entis adalah pemuda desa yang tidak mengetahui hiruk piruk kehidupan di kota.
Asep baru saja pulang dari kota ia bercerita tentang makanan terkenal di Kota.
Asep : "Kamu tahu? Di kota mah kalo beli baso hebat euy! Ada garpuhnya segala!" ( Asep berbicara dengan gaya Sunda dengan soknya).
Entis : "Wah Enaknya, Hidup di kota, di sini susah cari bakso padahal mah enak." ( Entis mau bertanya apa itu bakso dan garpuh, tapi malu takut di kira kampungan dia berlaga tahu apa itu bakso dan garpu).
Kebetulan besoknya Entis ke kota di suruh si Abah antar kambing ke restoran. Saat perjalanan kembali. Dia melihat tukang bakso di tepi jalan dengan semanagat ia berhenti.
Entis : "Pesan Bakso, Mang! Yang banyak garpuhnya!" ( Dengan gaya sok)
kang bakso :Kang bakso bingung tapi tidak banyak bertanya karena terlalu banyak pembeli. Ia pun menyuguhkan satu mangkuk bakso dengan banyak Garpu.
Entis :" Entis Marah karena mangkoknya berbeda dengan yang lain. "Mang! Sini! Apaan memang saya kuda lumping di kasi kaya gini!" Dia mengacungkan banyak garpu dari mangkuknya.
Kang bakso : " Lah situ yang minta banyak Garpunya, bukan baksonya!"
Entis : "Jadi Garpu teh temannya Sendok, Astaghfirullah Si Asep diem di kota jadi kos kuda lumping."
🤔
Ini baru namanya malu bertanya sesat di perut😂😂
Makan tuh, Garpu! 🤭
__ADS_1
Dah, yah. Sekarang bantu jejak.😍