
Hari-hari berlalu seperti biasanya, setelah dari Bali, Yuna kembali melakukan Rutinitasnya sebagai seorang sekretaris pribadi Ricki, ia juga di sibukkan dengan tugas-tugas kuliah nya yang notabennya hanyalah formalitas.
karna, pada dasarnya Yuna memang sudah sangat menguasai dunia bisnis, apalagi hanya menjadi seorang sekretaris itu sangat lah mudah baginya.
derrtttt derrtttt.....
"Nomer tidak di kenal?" gumamnya.
"Halo sayang?" Yuna mengerutkan dahinya
"Siapa ya? Yuna masih kebingunan.
"Ini mamy sayang," suara di seberang telpon
"Eum Iyah," Yuna masih kebingunan.
"Sayang, hari Minggu ini kami akan ke rumah kamu untuk bersilaturahmi dan main lah ke rumah utama keluarga kami sayang, di sini rame ada adiknya Ricki," ajaknya.
"Iyah, Tan. Tapi, kami hari Sabtu ada pertemuan dengan klien, Tan."
"Yasudah, nanti Mamy kabari lagi yah, Nak."
"Iyah, Tan."
"Oke, bay sayang."
Tut Tut sambungan tertutup,
"waalaikum salam," pelan yuna.
"Gue pikir semua masalah ga di bawa ke sini, ternyata Maminya Ricki benar-benar serius, bagaimana ini?"
Di sisi lain saya juga butuh sosok suami buat nutupin identitas saya, karna sekarang sudah benar-benar terancam.
"Takut- takut Helen kembali lagi dengan otak sintingnya."
"Argghhhhhh ..."
Yuna mengerang frustasi.
...----------------...
Di tempat berbeda, di sebuah rumah mewah.
"Gimana Mom?" ucap seorang lelaki.
"Aman Joe, rencana kita berhasil. Mereka tidak mungkin menolak karena kejadian malam itu di hotel tidak sia sia. Tapi, Mamy heran mereka bisa dalam keadaan tidak senonoh. Rencana kita kan hanya mematikan AC dan Ricki pasti tak mengenakan pakain."
"Anggap saja, Tuhan ada di pihak kita. Apa mamy yakin Ricki benar akan di nikahkan dengan sekretarisnya itu?"
"Tentu saja, dari pada dengan Erika, Mamy tidak setuju!"
"Joe, juga tidak setuju. Meski badan dan mukaku harus hancur dibuatnya, dia terlihat wanita baik baik," jelasnya.
"Mamy saja kaget, kau bisa di kalahkan, setidaknya perjuangan dan rencana kita berhasil."
"Tapi, sepertinya aku tidak muncul dulu sebelum mereka sah menikah."
"Baiknya, begitu."
"Ini sangat konyol, kalo kita ketahuan sekongkol dan Joe tidak mau di hajar karena di tuduh mencuri lagi. Ini semua gara-gara ide konyol Mamy!"
...----------------...
...----------------...
...----------------...
Tut Tut...
"Halo ..." selamat siang dengan Yuna disini, ada yang bisa di bantu?"
"Yuna, ini saya Johan."
"Ya, Pak. kenapa?"
"Begini, di produksi banyak banget mesin mesin baru yang datang. IT kita kewalahan, Senin kita sudah mulai produksi sample. Katanya ada perusahaan besar yang mau ambil barang di kita, saya rasa kamu lebih tahu!"
"Saya paham, maksud Pak Johan, saya akan bantu nanti saya ke sana. Tolong Arin sama Rina lembur buat siapin yang mau saya test dan beberapa maintenance."
"Baik, saya tunggu. Maaf, menyusahkan mu."
"Santai saja, kita kan kerja di perusahaan yang sama, Pak."
Yuna segera merapikan berkas- berkasnya ini memang akan sangat melelahkan, besok sepertinya tidak banyak pertemuan dan semua berkas untuk besok sudah siap, tinggal tanda tangan.
tok
tok
"Masuk ..."
"Pak, ini tolong di tanda tangani, tolong nanti Bapak simpan berkasnya yah, itu buat meeting besok."
__ADS_1
"Lalu, tugas mu apa?" tanya Ricki
"Saya harus turun ke produksi, Pak. Mereka butuh bantuan saya, karna kita memang harus mengejar targetnya."
Ricki mengerutkan dahinya.
"IT membutuhkan bantuan untuk pemograman mesin baru, dan kita cicil test produk agar Senin semua sudah siap," imbuhnya lagi. "Karna target Minggu depan kita sudah mulai rapat dengan para divisi, Pak."
"Ini Tender Mr Edwart. Dia tidak suka kerja lambat, jadi saya bikin sesingkat- singkatnya dengan hasil yang perfect," tuturnya panjang lebar.
"Apa kamu harus terjun ke lapangan?"
"Kalau memang di perlukan kenapa tidak!" tangkasnya.
"Pukul berapa kamu pulang?" tanyanya.
"Biasanya kalau ada tender besar seperti ini, kadang kami pulang tengah malam atau sampai pukul dua dini hari.
"Apa sampai segitunya? bukankah kamu besok ada meeting?"
"Itu berkasnya sudah di tangan bapa, tinggal tanda tangani semua, itu untuk besok!"
"Saya tidak punya banyak waktu. Permisi, Pak." Ricki mengerutkan dahi, menatap kepergian Yuna,
"Sebenarnya siapa dia, kenapa dia paham semua tentang bisnis, perusahaan, bahkan saya akui dia lebih ahli dari saya.
Loyalitasnya benar- benar tak tanggung tanggung.
Beruntung sekali perusahaan ini yang memiliki karyawan tanpa lelah dan penuh tanggung jawab seperti mereka, pantas Papi mengatakan perusahaan ini paling mudah di kelola. Ternyata memang benar memiliki orang orang yang kompeten.
...----------------...
Ditempat lain, Yuna sudah di tunggu teman temannya, yang menangani produk baru ini orang -orang terpilih dari produksi.
"Akhirnya dadang juga" kompak semua, dengan terkekeh
"Datang kali, bukan Dadang!" timpal Yuna.
"Maaf, kami sangat tidak enak hati meminta bantuan sekretaris bos besar." ucap pak erdi manager produksi.
"Ah, Bapak bisa sajah, saya tetaplah Yuna teman dan team kalian," ucapnya dengan candaan.
"Gajinya sudah besar, Pak. Lemburannya masuk gaji saya sajah!" timpal Arin dengan terkekeh.
"Kau, ini." Bu Tina terlihat geram. Namun, semua tertawa.
"Saya butuh APD nih, tak mungkin saya kerja dengan pakaian seperti ini," Yuna menujuk pakaiannya yang saat itu mengenakan kemeja abu, rok span abu dan blazer warna senada.
"Ah, tak usah di ganti Yuna, kamu terlihat begitu seksi, gue semangat kerja nya."
"Sirik ajah Lo, emang badan Lo rata kaya jalan tol! tanpa busana juga gue ogah lihatnya." timpal Aris.
"Arin menjitak kepala Aris,'"
"Sialan Lo!"
"Sudah, sudah! kerja woy kerja!" seru Rina.
Yuna keluar dari ruang ganti.
"Ayo! kita siapkan alat dan bahan- bahannya."
"Ini ...." Yuna memberikan daftar material untuk test.pada Arin dan Rina. "Aris, Gue butuh Lo!" punya Yuna.
"Yes! gue kerja bareng Yuna lagi nih udah lama tidak merasakan sensasinya," Aris terlihat kegirangan, Pak Johan hanya melirik sinis.
"Ini laptopnya yuna," ucap pak Johan
dengan memberikan laptop pada Yuna.
"Heem, Makasih Pak."
Yuna sudah memenuhi kantung seragamnya dengan berbagai alat, mulai mengaplikasikan program mesin dengan laptopnya. Satu jam sudah Yuna selesai.
"Sekarang Lo coba mesinnya, Ris!"
"Arin, siapkan materialnya yang sudah lulus uji, minta anak gudang kasih ke Aris," pinta yuna
"oke..!"
Yuna mengajarkan Aris, cara mengoperasikan mesin barunya.
"Mesin ini otomatis. Hati- hati tangan Lo!jangan becanda, kalo tangan Lo tidak mau hilang."
"Oke, siap!"
"Arin, Rini, tolong ambil hasil dari mesin Aris Yah!"
"Gila Lo, satu mesin cuma satu jam? IT ajh, dari tadi blom kelar kelar, otak lo buatan mana sih?" tanyanya heran.
"kalo gue ceritain, ga bakal percaya Lo! yang pasti gue bukan buatan produk yang sekali lempar mampus!"
"Sudah cepat sana! Entar gue cek, gue mau ke mesin lainya."
__ADS_1
Tidak terasa mereka begitu sibuk dengan kerjaannya, di sini memang semua bahu membahu, entah dari manager, sampai ke bawahan semua bekerja sama.
Waktu sudah menunjukan pukul 08.00 malam. Yuna hanya berhenti sholat dan makan roti, dia sibuk dengan mesin-mesinnya.
Ricki yang dari tadi berada di ruangannya,
mempelajari semua kontrak kerja sekalian menunggu Yuna.
"Apa dia sudah makan?"gumam Ricki. Yuna memang kalo bekerja sulit sekali makan dan Ricki tahu itu.
"Ricki menelpon seseorang,
ia antarkan ke ruang produksi yang lagi lembur.
Yuna masih berkutat dengan alat -alat di tangannya dia sudah tidak memperhatikan penampilan dengan rambut yang d gulung dan di tutupi helm APD, sarung tangan dan sepatu safety khas miliknya.
Setelah itu dia berkeliling mengecek semua mesin, Pak manager sudah dari tadi juga membantu Arin dan Rina untuk pembuatan test. Sedangkan para leader dan supervisor menjalan kan mesin yang sudah di operasikan Yuna.
jelas terlihat disini semua bekerja, tidak ada bahasa ABS (asal bapa senag) di team ini.
karna bos juga sibuk kerja.
Dari ambang pintu Ricki berjalan dan terheran menatap Yuna dengan pakain yang tidak biasa. Terlihat Yuna, memakai kacamata putih pelindung mata, masker, Ricki tetap mengenali karna dari jalannya yang memang berbeda. Tegap dan elegant. Meski, penampilannya seperti laki laki disini dengan celana APD banyak kantung dan baju yang banyak kantung lengkap dengan alat alat tempur.
Ricki menatap kagum Yuna.
"Sebenarnya apa yang dia tidak bisa?"
gumam Ricki
Ricki tadi memang mencari Pak Erdi. Namun, tak menemukan di ruangannya, Ia di buat kagum dengan team ini. semua kerja dan bahu membahu pantas saja hasilnya selalu memuaskan.
'
'
'
'
'
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Namanya juga intermesso
n****aik gaji
'Suatu hari, seorang wanita pembantu rumah tangga mendatangi majikan perempuannya.
Pembantu: “nyonya, saya mau minta naik gaji..”
Nyonya: “kenapa saya harus menaikkan gaji kamu?”
Pembantu: “ada 3 alasan nyonya.. Pertama saya membersihkan rumah lebih bersih daripada nyonya.”
Nyonya: “siapa yg bilang?”
Pembantu: “Tuan yg bilang nyonya”.
Nyonya: “oh…”
Pembantu: “kedua, saya memasak lebih enak daripada nyonya.”
Nyonya: “siapa yg bilang?”
Pembantu: “Tuan yg bilang.”
Nyonya: “oh…”
Pembantu: :ketiga, saya di ranjang lebih hebat daripada nyonya.”
Nyonya: “Oh!!! Apa tuan juga yang bilang !!?!!”
Pembantu: “Bukan nyonya.., tapi tuan sebelah rumah yang bilang, kalo nyonya kurang hebat di ranjang”
Nyonya: “Ssssstt!!! Kamu minta naik brp???”
'salam **ngakak 🤣🤣🤣🤣🤣
😍😍😍🤭**
'
'
'
jangan Lupa,
klik like dan coment 😍😍😍
tinggalin jejak yang banyak ,
__ADS_1
kan klik like 👍
ga bikin jempol nya ilang 😍😍