
《♡♡♡》
Stella Island Luxury
Di sinilah hari bahagia itu akan dirayakan.
Di pulau yang penuh dengan kenangan dan hari ini akan jadi sejarah bagi mereka.
Dan juga akan jadi saksi bisu dari perjalanan cinta mereka.
Rendy dan Reno memilih pernikahan mereka diadakan di outdoor.
Lalu mereka sepakat untuk merayakan pernikahan ini di pantai.
Dan Bradsiton memilih tempat yang sangat tepat yaitu
Stella Island Luxury.
Selain di pulau ini begitu indah juga memudahkan para tamu yang begitu banyak, Bradsiton mengundang sekitar 15 ribu jadi pantai adalah tempat yang sangat tepat
"Akhirnya ya ma anak- anak kita kini telah menjadi orang semua, mereka bahkan sudah sedewasa ini," kata Bradsiton sembari memeluk erat istrinya.
"Iya pa bahkan mama begitu bahagia hari ini, meski Rendy dan Reno tidak lahir dalam rahim mama, entah kenapa rasanya begitu sulit untuk melepas mereka berdua bersama istrinya," kata Rose sambil menahan air matanya.
"Benar ma, mereka tumbuh bersama Bara, mereka berdua juga yang ikut membantu Bara hingga di titik terbaik sekarang ini dan kini hari bahagia mereka telah tiba," kata Bradsiton sembari menatap dekorasi yang begitu memenuhi bibir pantai dari ujung kanan hingga ujung kiri.
"Sekarang kita tinggal menunggu maut untuk memisahkan kita sembari menatap anak- anak kita dan juga cucu yang sebentar lagi akan datang," ucapan Bradsiton membuat Rose menitikkan air matanya.
"Entah kenapa hari ini aku begitu merasa sangat sedih sekali ditambah mereka akan meninggalkan kita," Bradsiton tersenyum lalu memeluk erat istrinya.
"Jangan menangis, ini hari bahagia putra kita, sudah saatnya hari ini akan datang dan jangan pernah menyesalinya. Aku akan selalu menjagamu," kata Bradsiton membuat Rose memeluknya erat.
Sedangkan di tempat lain ada Rendy dan Reno yang sibuk untuk di make up.
"Ren kok gue gugup banget sih," kata Rendy sambil menatap dirinya di pantulan kaca.
"Apalagi gue, rasanya kaki gue kayak enggak ada tulangnya," keluh Reno yang merasa sejak tadi kakinya gemetaran.
"Awas aja lo sampek malu- maluin, gue bunuh lo," ancam Rendy membuat penata rias menahan senyumnya.
"Mbak saya udah perfect belum dari atas sampai bawah?" tanya Rendy sambil menyisir rambutnya ke belakang.
"Sudah tuan," jawab penata rias itu dengan jujur kenapa memang Rendy sudah perfect.
Ceklek
"Wihh si kembar udah cakep aja nihh," kata Bara yang baru saja datang bersama Reynald.
"Diem lo jangan bikin mood gue hancur," kata Rendy menatap kesal ke arah Bara.
"Babang Reno tampan banget," puji Reynald membuat Reno menahan kesalnya.
"Diem lo jangan ganggu gue, gue lagi hapalan nama panjang Dea," kata Reno yang sejak tadi memegang secarik kertas kecil yang bertulisan nama panjang Dea.
"Awas aja nama pengantinnya ketuker, bisa gawat lo," kata Bara membuat Reynald tertawa tapi tidak dengan dua mempelai pria ini.
"Ahh kenapa gue harus punya saudara laknat sepertimu," gumam Rendy yang lalu dipeluk oleh Bara.
"Udah tunggu apalagi, helikopternya udah dateng noh ayo berangkat sekarang," kata Reynald pada mereka.
"Bentar- bentar, kenapa kaki gue serasa tulangnya lepas semua," kata Rendy yang jongkok sembari memeluk erat lututnya.
"Ayo dah Ren, udah ditungguin noh sama banyak orang," kata Bara yang kesal dengan Rendy yang terlalu ribet dan rempong.
Rendy lalu berdiri dan melangkah keluar dari ruang tata rias.
Baru 5 langkah ia kembali berjongkok dan memeluk erat lututnya.
"Bar kenapa sekarang gue merasa kayak kurang oksigen, dada gue tiba- tiba sesak, gue haus tapi gue kebelet kencing," keluhnya membuat ketiga pria ini mendengus sebal lalu saling menatap.
"Buruan bego bentar lagi pendeta datang," kata Bara yang langsung mengangkat tubuh Rendy dibantu oleh Reynald dan Reno.
"Tolong, saya diculik sama om- om," teriak Rendy di lorong membuat semua orang menatapnya dan menahan senyum.
Plak
"Diem enggak," kata Bara yang menampar pantat Rendy karena merasa jengah.
"Astaga om kenapa kamu begitu cabul," kata Rendy sambil mengusap- usap pantatnya yang terasa sangat panas.
Sedangkan di ruang tata rias lainnya, dua pengantin ini masih sibuk mengobrol.
"Kak Dea hari ini kenapa cantik sekali?" puji Sela sambil menatap kagum Dea.
"Jangan terlalu memuji Sel," kata Dea merasa malu saat dipuji seperti itu.
"Ra, kamu juga, kenapa kalian berdua hari ini begitu cantik," kata Sela membuat dua pengantin ini menahan tawanya melihat sikap gemas Sela.
"Selaaa kenapa denganmu hari ini, apa honeymoon berjalan lancar?" tanya Jessy yang duduk di sofa karena kini perutnya sudah semakin besar tinggal menunggu waktu ia melahirkan.
"Jessy jangan membahas hal itu," kata Sela kesal jika mengingat honeymoon di Stella kemarin.
"Kenapa, apa Bara tidak membiarkanmu keluar kamar?" seketika tawa mereka meledak mendengar ucapan Jessy. Sela memanyunkan bibirnya ke aray Jessy.
"Apa Reynald juga melakukan itu padamu?" tanya balik Sela membuat Jessy tertawa lalu mengangguk.
__ADS_1
"Kini tinggal nunggu mereka berdua yang honeymoon," kata Jessy sambil menatap dua pengantin ini.
"Ya pasti suami kalian nanti enggak bakal biarin kalian keluar kamar," kata Sela yang mengatakan dengan sangat polosnya membuat Jessy langsung membungkam mulut Sela.
"Sela berapa umurmu? Kenapa kamu mengatakan hal itu," marah Jessy sambil menatap gemas Sela.
"Aaaa kak Jessy, kenapa perutmu sekarang besar sekali?" kata Sela dengan nada manjanya dan bertingkah sangat imut membuat mereka sangat gemas pada Sela.
"Kenapa moodmu selalu berubah- ubah hah?" tanya Jessy sembari mencubit kedua pipi Sela karena gemas.
"Aku udah enggak sabar melihat kalian nanti mengucap janji suci, setelah itu kita akan menjadi keluarga besar," kata Sela membuat Dea dan Laura saling menatap lalu berpelukan.
"Sebentar lagi kita akan menjadi keluarga baru dan hidup bersama," kata Laura yang memeluk Dea sayang layaknya adik kakak.
"Ya aku begitu bahagia saat ini, semoga kita bisa menjadi saudara yang saling menyayangi," kata Dea yang terlihat begitu dewasa.
"Yaaaaaa kenapa kalian berpelukan tanpa mengajakku," seketika mereka bertiga menatap Sela heran dan juga bingung.
Kenapa tingkah Sela berubah imut dan sangat menggemaskan sekali.
"Utututu sini peluk," kata mereka bertiga lalu memeluk Sela bersama- sama.
.
.
.
.
Helikopter milik Bara mendarat tepat di pantai yang sudah disiapkan untuk pendaratan.
Mereka turun dan betapa senangnya mereka saat melihat pesta pernikahan ini begitu indah sekali.
"Woww pesta ini sangat mewah sekali," kagum Rendy saat melihat dekorasi yang Bradsiton rancang sendiri.
"Iya Ren, bahkan papa memenuhi tepi pantai dengan semua dekorasi tanpa ada tempat kosong yang terlewat," kata Reno yang juga kagum akan pesta pernikahannya.
Bradsiton memang menggelar pesta pernikahan ini sama mewahnya seperti pesta pernikahan milik Bara.
Ia tidak membedakan pesta pernikahan untuk putranya.
Bradsiton juga membuatkan kostum khusus untuk para tamu.
Bradsiton juga memberikan souvenir yang sama tinggi harganya.
Jadi Bradsiton mengganti sesuatu yang beda namun bisa menjadi kesan yang sama untuk dua pria ini.
"Udah tunggu apalagi, buruan ke sana," kata Bara pada dua mempelai pria ini.
"Pak Asep tolong jemput istri kita yaa," kata Bara pada pak Asep yang kembali menerbangkan helikopter untuk menjemput para wanita yang masih di resort.
"Baik tuan," kata pak Asep yang langsung pergi untuk menjemput istri mereka.
Di sinilah mereka akan mengucap janji suci untuk mengikat mereka dalam satu ikatan.
Di mana itu hanya sebuah janji namun begitu sakral.
Dua mempelai pria sedang menunggu mempelai wanita yang masih dalam perjalanan menuju kemari.
"Hei son," sapa Bradsiton yang baru saja datang bersama Rose juga pendeta.
"Papa," kata mereka berdua saat melihat wajah bahagia Bradsiton.
"Akhirnya sebentar lagi kalian akan menjadi seorang kepala keluarga. Sebelum kalian mengucap janji suci, papa ingin mengatakan sesuatu pada kalian berdua,"
"Tolong jangan pernah sakiti atau meninggalkan istri kalian, cukup satu kali dan yang terakhir kalinya kalian mengucap janji suci pada satu wanita di dunia ini. Papa hanya minta itu untuk kalian berdua, jaga baik- baik istri kalian, mereka terlihat cantik di mata orang lain," Rendy dan Reno langsung memeluk Bradsiton dan meneteskan air matanya.
"Meski kami bukan putramu, kenapa papa begitu menyayangi kami seperti putramu sendiri. Terima kasih sudah menjadi orang tua sekaligus wali dalam pernikahan ini pa," kata Rendy membuat Rose memalingkan wajahnya untuk tidak menangis.
Bara merasa tersentuh melihat momen ini.
"Hei son apa kau lupa apa yang papa ucapkan malam itu, kau juga putraku dan putra istriku, margamu adalah Bradsiton Arganta, bukankah sudah jelas jika kalian adalah putraku?" kata Bradsiton lalu melepaskan pelukannya dan menepuk pelan kedua bahu putranya.
Rose lalu maju mendekat, memegang kedua pipi putranya.
"Kau sekarang sudah dewasa nak, bahkan tak lama lagi, kau juga akan menjadi kepala keluarga. Pesan mama, jangan pernah menyakiti istri kalian, perlakukan mereka seperti kalian memperlakukan mama, apa kalian mengerti?" tanya Rose dengan suara gemetar menahan tangis.
Rendy dan Reno langsung memeluk Rose membuat air mata yang sedari tadi di ujung kini membasahi kedua pipi cantik Rose.
"Ma meski kami bukan dari rahimmu, kaulah ibu yang terbaik setelah ibuku, cinta dan kasih sayangmu begitu tulus sekali pada kami," kata Reno membuat Rose tidak bisa menghentikan air mata ini.
"Sudah jangan sedih di hari bahagia ini, kita nikmati hari ini yang terjadi hanya satu kali seumur hidup ini," kata Bradsiton agar mereka tak larut dalam kesedihan ini.
Rose lalu mengusap air matanya dan duduk di bangku paling depan untuk bisa menyaksikan dua putranya mengucap janji suci.
"Mari mempelai pria naiklah ke altar," pandu pendeta pada kedua mempelai pria.
Bara dan Reynald lalu duduk di belakang Rose dan Bradsiton sembari menunggu pengantin perempuannya.
__ADS_1
"Permisi," semua orang menoleh saat mendengar suara lembut itu.
Ternyata Sela yang datang bersama dua pengantin perempuan dibantu oleh Jessy.
"Kemarilah untuk mengucap janji suci," kata pendeta mengintruksi mereka.
Sela menatap Dea lalu Jessy menatap Laura.
Sela dan Jessy menggandeng tangan mempelai perempuan dan berjalan dengan sangat elegan untuk mengantarnya ke altar.
Sela memberikan tangan Dea pada Reno lalu begitu juga Jessy yang memberikan tangan Laura pada Rendy.
Jessy dan Laura lalu bergabung bersama suami mereka untuk melihat dua pengantin ini mengucap janji suci.
"Dari kalian siapa yang tertua?" tanya pendeta.
"Saya," kata Rendy lalu pendeta menghadap lurus pada Rendy dan Laura.
"Ikuti ucapan saya untuk mengucap janji suci," kata pendeta itu pada Rendy dan Laura.
Mereka lalu mengucapkan janji suci sesuai dengan intruksi pendeta.
Setelah selesai kini pendeta beralih pada Reno dan Dea.
Prok prok prok
Suara tepuk tangan bergemuruh saat mereka selesai mengucap janji suci.
Rasa lega dan bahagia bisa mereka rasakan bersama.
"Sekarang kalian boleh memberikan mahar pada istri kalian," kata pendeta membuat Rendy mengambil box besar yang berisi mahar untuk Laura.
Jika diingat- ingat Bradsiton merasa jika dua putranya ini sangat unik untuk memberikan mahar pada istrinya.
Enggak percaya lihat aja.
Ini mahar untuk Laura, di mana mahar ini memang tak semahal milik Sela namun unik di mata Laura.
Di mana ada snow globe yang bertema pantai dan kalung berlian Titanic yang hampir persis seperti milik Rose, intinya dua benda ini menggambarkan tentang pantai.
Karena Laura begitu menggilai suasana pantai.
Sedangkan ini milik Dea.
Meski tak semenarik milik Laura namun begitu istimewa di hati Dea.
Di mana perempuan dewasa ini begitu menggilai budaya ginseng merah.
Alhasil Reno berupaya untuk bisa memberikan mahar yang sedikit berbau tentang Korea.
Ada dua snow globe yang bertema musim semi dan kalung berlian yang diukir khusus dengan desain kristal salju.
Memang kedua mahar ini jika dilihat sedikit mirip, namun memiliki keunikan tersendiri dari dua pasangan ini.
"Tunggu apalagi ayo keluar dan nikmati pestanya," teriak Bradsiton membuat mereka tertawa renyah mendengar suara bahagianya.
Mereka lalu keluar untuk menikmati pestanya.
Wahhhhhh suasana pantai di sore ini begitu menyegarkan sekali.
"Woww lihat itu," teriak seseorang sembari menunjuk ke lautan saat melihat kapal perang dan sekitar 21 helikopter perang yang ikut mengiringinya.
Sontak mereka langsung mengeluarkan ponsel saat helikopter perang itu menunjukkan aksinya.
"Wahhhhhh," teriak mereka semua saat kapal juga tak kalah hebatnya untuk menunjukkan aksinya.
"Ini suruhan papa?" tanya Rendy bersamaan dengan Reno membuat Bradsiton terkekeh.
"Iya ini sebagai gantinya untuk kedua presiden yang tidak bisa datang," kata Bradsiton yang langsung mendapatkan pelukan dari dua putranya ini.
"Makasih pa," kata Rendy dan Reno lalu kembali melihat aksi hebat mereka.
Beberapa menit mereka telah selesai melakukan aksinya dan menemui Bradsiton.
"Selamat sore tuan Bradsiton, saya Letnan Bridge Adam melaporkan jika presiden hari ini tidak bisa datang untuk menghadiri pernikahan putra anda. Sebagai gantinya saya dan rekan lainnya yang mewakili," kata Letnan Adam pada Bradsiton.
"Tidak apa- apa, terima kasih banyak atas kedatangan anda semua juga hadiah yang kalian berikan barusan. Mari kita nikmati pestanya," kata Bradsiton lalu menemani semua tentara AL itu untuk menikmati pestanya.
"Tunggu apalagi saatnya kita pesta," teriak Rendy sambil memeluk erat Laura begitu juga lainnya.
Mereka lalu bersenang- senang bersama untuk menikmati malam bahagia ini.
Hari sudah malam, ternyata pesta semakin seru dan bertambah ramai kala di malam hari.
Ada yang menikmati hidangan, ada yang bernyanyi dan bermain gitar, atau ada juga yang sedang menonton layar lebar karena Bradsiton juga menyediakan sekitar 10 layar lebar untuk mereka yang ingin menonton film dengan suasana pantai.
"Sekarang saatnya kita melakukan sentuhan akhir untuk pesta malam ini," teriak Bradsiton membuat mereka tersenyum bahagia dan langsung mengambil sesuatu.
"Dalam hitungan ketiga mari kita terbang bebaskan lampion ini, agar langit dan semesta tahu, selain berharap agar lampion ini tetap menyala, ada kita yang berharap bisa menua bersamanya," kata Bradsiton membuat mereka seakan tersentuh dengan perkataan manis itu.
Lalu mereka melepaskan lampion itu bersamaan dan membiarkannya terbang bebas ke langit malam.
__ADS_1