Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Pak Bos Merajuk


__ADS_3

□□□


Bara yang sedang rapat di kantor merasa sedikit gelisah.


Antara kepikiran sama Sela juga kasian karena dia menguncinya.


Bara merapikan semua berkasnya lalu buru- buru untuk pulang.


"Gini nih kalau istri ditinggal di rumah, antara takut diambil orang atau dia bikin ulah," gumam Bara pelan sambil melajukan mobilnya untuk segera pulang.


Bara mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.


Bara sedang merencanakan kencan pertama mereka.


Sebelum Sela pergi ke London Bara akan menghabiskan banyak waktu dengan Sela.


Mulai dari kencan pertama mereka, liburan ke luar negeri, jalan- jalan, makan- makan, pokoknya waktu Bara akan dia habiskan bersama Sela.


2 tahun itu tidak sebentar, butuh kesabaran dan juga kesetiaan yang sangat kuat.


Untuk mereka yang sedang menjalin hubungan bersama sang kekasih.


Bara membayangkan bagaimana nanti hari- harinya saat Sela sudah ke London.


Apa hidupnya akan sewarna- warni ini atau bakal kembali lagi seperti dulu.


Abu- abu dan semu.


Bara berani mempertaruhkan segalanya dan berkorban demi cinta mereka karena Bara sudah merasa tepat dengan pilihannya.


Sela


Bara merasa jika dialah pendamping yang tepat untuk menua bersamanya nanti.


Bukan karena rupanya yang cantik melainkan hati dan perilakunya yang baik.


Mobil Bara memasuki pekarangan rumahnya.


Para bodyguard yang tadi menolong Sela untuk pergi keluar berlarian terbirit- birit ketika melihat mobil lamborgini Bara datang.


"Eh gimana ini tuan Bara udah pulang sedangkan nona Sela masih keluar," adu bodyguard yang panik.


"Aduhh gue sendiri juga enggak tahu, rasanya gue pengin kencing sekarang," kata bodyguard itu saking paniknya.


"Eh eh pak Asep mana?" tanya bodyguard itu untuk meminta bantuan pak Asep.


Brak


Bara turun dari mobil membuat beberapa bodyguard kalang kabut kebingungan.


"Ehh eh lo hadang tuan Bara biar gue cari pak Asep bentar," kata bodyguard tampan itu yang langsung masuk ke dalam rumah untuk mencari pak Asep.


"Lah kok gue yang disuruh hadepin bos," keluhnya karena dia merasa jika sebentar lagi dirinya akan kencing di celana.


Dengan terpaksa ketiga bodyguard bersiap untuk menghadang dan mengalihkan perhatian Bara.


"Tuan kenapa anda sudah pulang?" tanya bodyguard itu memberanikan diri.


"Memang kenapa? Di kantor sudah selesai," jawab Bara dengan berjalan lebih cepat untuk masuk ke dalam rumah.


Bruk


Ketiga bodyguard itu menghalangi pintu masuk agar Bara tidak bisa lewat.


Bara menatap heran para bodyguardnya.


"Hehe tuan, apa anda tidak ingin main golf?"


"Atau keliling komplek?"


"Hem gimana kalau kita baberque aja tuan?"


Bara hanya diam tak menanggapi sambil menatap ketiga bodyguardnya.


Ceklek


"Huaa,"


Bruk


Ketiganya jatuh terjerembab di lantai saat pak Asep membuka pintunya.


"Ya ampun kenapa kalian di depan pintu?" tanya pak Asep sambil membantu mereka untuk bangun.


"Tuan Bara," kata pak Asep saat menyadari Bara kini sedang berdiri di depan pintu dengan tatapan mengintimidasi.


"Pak Asep apa ada sesuatu?" tanya Bara mulai mengintrogasi mereka berempat.


Pak Asep masih diam, antara bingung untuk menjelaskan dan juga takut amukan Bara.


"Tuan maafkan saya, nona Sela tadi saya bukakan pintu untuk keluar sebentar, dia bilang ada urusan sama temannya," kata pak Asep berkata jujur.


"Lantas siapa yang mengantarnya? Apa Rendy?" tanya Bara mulai panik dan juga mencemaskan gadisnya.


"Bukan tuan tapi naik motor ninja milik tuan Rendy," kata pak Asep membuat Bara mengusap wajahnya gusar.


"Apa?" teriak Bara karena terkejut sama apa yang dikatakan pak Asep.


"Iya tuan, kalau enggak percaya ini fotonya," kata salah satu bodyguard memperlihatkan ponselnya.



Bara beberapa detik terkagum akan pesona Sela saat mengendarai motor ninja warna pink milik Rendy.


Astaga, apakah ini gadisnya?


Bara benar- benar bersyukur mendapati gadis seperti Sela.


Cantik dan bisa segalanya.


Sebelum Bara menghapusnya, dia mengirim foto Sela ke ponselnya.


"Nih, lain kali jangan berani- beraninya motret milik saya," kata Bara sambil mengembalikan ponsel milik bodyguard itu.


"Iya tuan maafkan saya," kata bodyguard itu sembari menatap ponselnya.


"Tunggu hukuman kalian setelah saya jemput Sela," kata Bara mengingatkan bodyguardnya lalu pergi menaiki mobilnya.


"Ya tuhan yang buat ulah nona Sela yang dihukum kita,"


"Demi Alex kagak ngapa- ngapa kita dihukum kalau nonanya secantik Sela," gumam mereka saat diingatkan Bara tentang hukuman.


"Bener banget bahkan gue rela bantu dia kabur seandainya dia penjahat," pak Asep hanya geleng- geleng kepala mendengar ocehan mereka.


Bodyguard itu menggeser ke kanan dan ke kiri untuk mencari foto Sela yang tadi dia potret.


"Loh kok ilang," kata bodyguard itu membuat kedua temannya menatap ke samping.


"Apanya?" tanya temannya penasaran.

__ADS_1


"Fotonya," jawab bodyguard itu.


"Yang pasti udah dihapus lah," gumam lirih pak Asep yang tahu sifat Bara.


Ketiga bodyguard itu mengeluh karena foto bidadari mereka telah lenyap begitu saja.


.


.


.


.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di sirkuit balapan.


Kedua orang kini sedang bersaing untuk bisa mencapai garis finish.


Balapan dilakukan dalam 3 putaran dalam waktu 10 menit dengan rintangan ringan.


Keduanya sangat kuat dalam waktu 7 menit mereka sudah melakukan 3 putaran tinggal mencapai garis finish.


Gabriela berada di depan namun yang membuat kesal Sela adalah Gabriela yang terus menghalangi jalan Sela.


Sela memperlambat lajunya untuk mencari celah pada Gabriela.


Tepat saat Gabriela sedang sibuk untuk menghalangi jalan Sela, dengan lihai Sela langsung mengambil celah untuk menuju garis finish.


"Shit," umpat Gabriela saat Sela berhasil mencapai baris paling depan.


Sorak sorai semakin terdengar keras dan teriakan nama Sela seakan memenuhi area sirkuit balapan.


Tetttttt


Sela berhasil mencapai garis finish dalam waktu 8 menit.


Sela melepas helmnya dengan posisi masih duduk di atas motor.


Semua berdiri dan meneriaki nama Sela telah berhasil melewati garis finish.


Banyak para cowok yang tak lain adalah teman sekelas Sela kini sedang sibuk memotret dan melempari bunga mawar.


Cittt


Gabriela berhenti tepat di samping Sela.


Tepat 10 menit dia baru sampai.


Gabriela melepas helmnya dan menatap sinis juga tajam pada Sela yang kini sedang tersenyum manis.


"Jangan bangga dulu lo, mungkin hari ini cuma keberuntungan buat lo, tapi enggak untuk hari lain," kata Gabriela membuat Sela hanya tersenyum samar.


"Kalau keberuntungan itu terus berpihak sama aku gimana? Apa kamu akan menyerah?" tanya Sela yang mampu membuat Gabriela menggeram kesal pada Sela.


"Lo jangan seneng dulu, meski lo yang menang tapi paspor sama kunci asrama milik Sandra ada di gue," kata Gabriela sambil merogoh saku jaketnya dan tersenyum miring ke arah Sela.


Semua teman kelas turun ke bawah untuk menemui Sela dan Gabriela.


"Sorry sayang tapi itu semua palsu," kata Sela sambil tersenyum manis dan merogoh sakunya.


"Sandra ini paspor sama kuncinya," teriak Sela pada Sandra yang berjalan ke arahnya.


"Hehe makasih ya dewi penyelamatku," kata Sandra sambil memeluk Sela sayang.


Sedangkan Gabriela dibuat cengoh oleh Sela.


Benar ini paspor palsu, milik orang lain bukan Sandra.


"Terus kalau lo ambil yang asli kenapa lo dateng buat balapan sama gue?" tanya Gabriela penasaran.


"Sekali- kali beri pelajaran sama kamu biar kapok," kata Sela santai membuat beberapa orang tertawa renyah.


Gabriela menatap sinis Sela dan mendengus sebal.


Cittt


Mobil sport warna hitam berhenti tepat di depan motor Sela dan Gabriela.


Perhatian mereka teralihkan pada seseorang yang turun dari mobil sport itu.


Bara


"Tuan Bara," panggil Sela terkejut saat mengetahui siapa yang turun dari mobil.


"Pulang," kata Bara singkat dan dingin namun damagenya parah banget.


Semua cewek kini sedang menatap Bara seakan ingin menyantapnya.


Antara kagum dan ingin sekali berada di posisi Sela.


Sela masih terdiam sambil melihati para cewek yang sibuk memotret Bara.


Bara jengah diperhatikan banyak orang, dia berjalan menghampiri Sela.


Bara menarik pelan tangan Sela dan membukakan pintu mobil untuknya.


Dengan terpaksa Sela menurut dan diam saja mengikuti ucapan Bara.


.


.


.


.


.


Bara memberhentikan mobilnya lalu turun begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Sela.


Sela menganga tidak percaya saat Bara masuk ke dalam rumah begitu saja tanpa membukakan pintu atau sekedar bilang apa gitu.


Sela dengan terpaksa turun dari mobil dan menyusul Bara ke dalam rumah.


Sela menatap para bodyguard yang menunduk saat dia turun dari mobil.


Pasti Bara bakal hukum mereka karena ulahnya.


Sela menghampiri pak Asep dan ketiga bodyguard yang tadi menolongnya.


"Pak Asep maafin Sela ya, karena Sela kalian pasti kena marah," pak Asep dan ketiga bodyguard itu mendongak tidak percaya sama apa yang mereka dengar barusan.


"Selaaaaa," teriak Bara dari dalam karena Sela yang tak kunjung masuk ke dalam rumah.


"Iyaaaa bentar," jawab Sela setengah berteriak lalu masuk ke dalam rumah.


"Ya tuhan gue enggak nyesel meski dihukum bos, bidadari secantik dia aja minta maaf sama kita,"


"Bener banget, demi alex kagak ngapa- ngapa gue dihukum,"

__ADS_1


"Lo kok demi alex mulu sih, demi nona Sela lah,"


"Oh iya deh,"


"Andai aja saya punya anak laki- laki pasti bakal saya jadikan mantu," gumam pak Asep lirih membuat ketiga bodyguard menatap heran pak Asep.


Sela langsung masuk ke dalam lift untuk menyusul Bara yang kini sedang merajuk.


Sela melihat di ruang tv tidak ada siapa- siapa.


Apa Bara di kamarnya?


Sela berjalan menuju kamar Bara, dia bimbang meski hanya untuk mengetuk pintu.


"Ketuk enggak ya?" gumam Sela pelan sambil berjalan mondar- mandir di depan pintu.


"Mungkin nanti aja deh, tuan Bara biar istirahat dulu," kata Sela lalu masuk ke dalam kamarnya tidak jadi mengetuk pintu kamar Bara.


Sedangkan di dalam kamar, Bara sedang uring- uringan saat melihat Sela di rekaman cctv mondar- mandir di depan pintu kamarnya.


"Tinggal ngetuk pintunya apa susahnya sih," gerutu Bara sambil melemparkan sepatunya ke sembarang arah.


"Pacarnya ngambek di rayu kek atau di apa kek, malah dicueki, dasar cewek enggak peka," gerutu Bara sambil melemparkan tubuhnya ke king size.


"Untung sayang kalau enggak gue terkam baru tahu rasa kamu," gumam Bara sambil memejamkan matanya.


Hari ini dia terlalu lelah karena jadwal yang padat dan dia sibuk untuk menghabiskan waktu dengan Sela.


Tinggal 4 hari lagi gadisnya akan pergi jauh dari sampingnya.


Karena itu dia harus bisa memanfaatkan kesempatan emas ini.


Tidak terasa waktu sudah malam, Sela baru saja selesai mandi.


Sela keluar kamar berniat untuk meminta maaf pada Bara.


Tok tok tok


Tidak ada sahutan dari dalam, Sela membuka knop pintu, tidak dikunci.


Terlihat Bara tidur dengan posisi yang tidak nyaman.


Sepatu yang tinggal sebelah, dasi yang masih terpasang, jas biru yang tergeletak di lantai, benar- benar anak rajin.


Sela memungut jas biru Bara lalu meletakkan di keranjang baju kotor.


Lalu beralih untuk melepaskan sepatunya dan mengembalikan ke tempatnya.


Sela menatap Bara yang tertidur pulas, dia tersenyum samar.


Sela melepaskan sandalnya dan naik ke atas king size dengan sangat pelan.


Melepaskan dasi Bara agar dia bisa tidur dengan nyaman.


Setelah selesai Sela menyelimuti Bara dan turun dari king size.


Setelahnya Sela akan menunggu Bara sampai bangun untuk meminta maaf.


Sela melihat ada buku di sofa, sepertinya menarik untuk ditulisi batin Sela.


Bara terusik tidurnya karena merasa gerah.


Ternyata ruangannya berganti menjadi hangat, lantas siapa yang menggantinya.


Bara langsung bangun dan melihat Sela sedang duduk manis di sofa dan tersenyum ke arahnya.



"Tuan," panggil Sela dengan senyum manis di bibirnya.


Ya tuhan ini anak kayak enggak ada dosa aja, senyam- senyum sok manis gitu, eh tapi emang manis sih.


Mana rambut di gulung ke atas lagi, dia niat goda gue atau gimana sih sebenarnya.


Oh gue tahu, pasti dia mau goda gue saat gue sedang marah gini, hem enggak kira mempan.


Lo harus tahan Bara, batin Bara sambil menatap datar Sela.


Bara turun dari king size tanpa menanggapi Sela dan menuju kamar mandi.


Sela meletakkan buku tulisnya dan berniat untuk menyusul Bara yang pergi begitu saja.


"Tuan," panggil Sela tapi tidak ada jawaban dari Bara.


Hingga Sela berniat untuk mencari Bara ke kamar mandi dan



"Arghhhhhh," teriak Sela yang langsung balik kanan dan keluar dari kamar mandi.


Sedangkan Bara sedang menahan tawanya.


"Untung udah lari duluan kalau enggak gue jamin enggak bisa jalan besok," gumam Bara dengan senyum smirk di bibirnya.


○○○


Gabriela memarkirkan motor rental yang ia sewa tadi di depan rumah.


Gabriela masuk ke dalam rumah dengan menenteng obat dan juga makanan untuk ayahnya.


Dia masuk ke dalam kamar ayahnya, terlihat ayahnya sedang duduk di samping jendela.


"Ayah udah bangun?" tanya Gabriela sambil meletakkan makanan dan juga obatnya di atas nakas.


Lalu melepaskan jaket kulitnya dan menghampiri ayahnya.


"Ayah.....,"


"Bisa jelasin ke ayah?" tanya ayahnya sambil menyodorkan selembaran kertas.


Gabriela menatap kertas yang ayahnya sodorkan.


Penggadaian sertifikat rumah


"Ayah dapet ini dari mana?" tanya Gabriela pada ayahnya.


"Itu enggak penting, sekarang yang ayah ingin tahu, buat apa kamu gadaikan sertifikat rumah?" tanya ayahnya terlihat jika sedang menahan amarahnya.


Gabriela masih diam, ia takut ayahnya akan memarahinya dan dia juga takut jika nanti tidak bisa membayar semua hutangnya.


"Gabriela jawab ayah?" bentak ayahnya untuk kali pertamanya bagi Gabriela.


Gabriela menatap punggung nanar ayahnya yang sudah rapuh dan tua ini dengan mata berkaca- kaca.


Baru kali ini ayahnya membentak dirinya.


"Gabriela buat kuliah, puas ayah," jawab Gabriela setengah berteriak lalu berlari menuju kamarnya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎

__ADS_1


__ADS_2