Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Pertengkaran Kecil


__ADS_3

□□□


Setelah Bara dan Sela pergi para karyawan berjingkrak dan saling berpelukan.


Beda sama upin ipin Kanada ini, mereka berdua menarik kursi lalu melambaikan tangan pada cctv kecil yang masih menempel di dinding.


"Cieee yang pasang cctv buat mata- mata kena prank," seketika semua karyawan tergelak mendengar ucapan Rendy.


"Gimana drama kita bagus enggak aktingnya?" tanya Reno pada cctv yang mereka yakini pasti kini sedang dipantau dari jauh.


"Duh kasian deh penonton kayaknya kecewa banget," tawa kembali terdengar.


"Kalau mau ngeprank kasih tahu kita dulu di mana cctvnya, kan kita bisa setting lebih bagus tadi dramanya," kata Rendy membuat Reno tertawa keras.


"Gimana liat kita menang, adem panasnya sampek situ enggak?" tanya Rendy sekali lagi sambil menahan tawa.


"Ehh ngomong- ngomong cctvnya dijual boleh kan?" tanya Rendy membuat para karyawan tertawa kembali.


Tanpa menunggu lama lagi Rendy langsung melepas cctv dari dinding dan mematikannya.


Sedangkan di tempat kantor Reynald, kini dia sedang marah dan sangat emosi sekali.


"Kurang ajar bisa- bisanya mereka tipu kita," umpat Reynald sambil berkacak pinggang menahan amarah.


"Sepertinya orang suruhanmu kurang pandai," kata Walles membuat Reynald berbalik dan memegang erat kerah Walles.


"Lalu apa kau punya orang suruhan yang baik?" tanya Reynald dengan tatapan yang memerah.


Walles melepaskan cengkraman di kerahnya.


"Biarlah kali ini mereka lolos, setidaknya kita juga masih bisa mengikuti babak final ini," kata Walles terlihat pasrah dan putus asa.


"Bagaimana pun caranya gue bakal kalahin Bara," gumam Reynald pelan sambil melonggarkan dasinya.


"Enggak semudah itu Rey, Bara enggak akan mudah dikalahkan jika mengingat orang- orang kuat disekitarnya," kata Walles mengingatkan Reynald.


"Dan lebih kuatnya jaringan Bara ada di mana- mana," Reynald membuang semua barang yang ada di atas mejanya.


"Gue enggak peduli, kemenangan hanya milik gue, itu mutlak," kata Reynald dengan nada tinggi.


Reynald tidak lagi bisa mengontrol emosinya dia sangat tempremental sekali.


"Ok, gue akan ambil apa yang menjadi milik Bara," guman Reynald membuat Walles mengernyit bingung.


"Siapa?" tanya Walles membuat Reynald tersenyum devil.


♡♡♡


Bara melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata- rata.


Sela berpegangan kuat pada sabuk pengaman dan terus merapalkan doa dalam hatinya.


Sela hanya bisa diam saat Bara marah seperti saat ini.


Ditanya penyebabnya apa, Sela juga enggak tahu.


Padahal kita semua tahu bukan, Sela membantu Bara dalam menyelamatkan busana proyek AS.


Bara hanya diam saja tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


Sela tahu saat dia terluka Bara tidak mungkin membawanya pulang ke rumah melainkan rumah sakit.


Cittt


Deritan ban mobil berhenti tepat di halaman rumah sakit membuat beberapa orang sempat terkejut dan menatap kesal mobil sport hitam Bara.


Bara keluar dari mobil dan masuk begitu saja tanpa membukakan pintu buat Sela atau sekedar bicara jika mereka sudah sampai, dia tidak mengatakan apapun.


"Ihh jadi orang ngeselin banget sih," gerutu Sela lalu keluar dari mobil dengan perasaan sedikit kesal.


Sela berusaha keras untuk tidak berhubungan sama yang namanya rumah sakit, tapi lagi- lagi Bara membawanya kemari.


Sela mengikuti Bara dari belakang lalu langsung masuk begitu saja di ruangan dokter Lia.


"Di mana dokter Lia?" tanya Bara pada dokter Reza yang sedang duduk istirahat di ruang dokter Lia.


"Tuan Bara, dokter Lia nya sedang memeriksa pasien lain, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter Reza ramah dan sopan, tidak seperti Bara yang sangat menyebalkan ini.


"Panggilkan dokter Lia untuk memeriksa istri saya," seketika dokter Reza dan Sela menganga mendengar ucapan Bara yang entah keceplosan atau sengaja untuk memberitahu pada Reza agar tidak genit pada Sela.


"Istri tuan?" tanya dokter Reza tidak percaya, perasaan dari dulu ini orang dikabarkan enggak pernah deket sama cewek manapun, pernikahannya kapan, kenapa tiba- tiba Sela jadi istrinya, itulah pikiran dokter Reza saat ini.


"Kenapa, apa ada yang salah?" tanya Bara ketus sambil menatap dokter Reza, dokter Reza menggelengkan kepalanya dan tersenyum kikuk.


"Saya diobati dokter Reza aja, lagian kan sama- sama dokternya enggak harus dokter Lia," kata Sela kesal dengan sikap Bara.


"Silahkan akan saya obati lukanya," kata dokter Reza mempersilahkan dan tersenyum ramah pada Sela.


"Enggak usah mending saya aja yang ngobati, ayo," kata Bara menarik Sela keluar dari ruangan dokter Lia.


Sela bingung dengan sikap Bara apalagi dokter Reza.


Sela hanya bisa mengikuti kemana Bara membawanya.


Sedangkan dokter Reza masih tidak percaya sama apa yang barusan dia dengar.


"Masak iya sih mereka udah nikah, tapi kapan? Coba gue cari di internet," gumam dokter Reza penasaran.


.


.


.


.


.


Bara menaiki lift menuju lantai atas dan hanya diam saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Sela yang berdiri di samping Bara merasa seperti hantu.

__ADS_1


Seperti tak terlihat.


Bara berjalan menuju ruang tv diikuti Sela di belakangnya.


Bara melepaskan jas hitamnya lalu menggulung kemejanya hingga siku dan duduk di depan Sela dengan menatap Sela intens.


"Kenapa kamu tidak membangunkan saya?" tanya Bara singkat namun Sela tidak paham dengan maksud Bara.


"Maksud tuan?" tanya balik Sela namun dengan nada lirih.


"Apa kamu tahu jika itu berbahaya, lalu kenapa kamu tidak membangunkan saya," kini suara Bara sedikit lebih keras.


"Bagaimana saya membangunkan anda, tuan sendiri sedang sakit," jawab Sela tak mau kalah.


"Lalu kamu bertindak sendiri dengan segala resiko?" tanya Bara yang terlihat emosi.


Sela sebenarnya bingung, memang kenapa dengan ini semua.


Sela juga baik- baik aja sekarang cuma luka di lengan.


Kenapa Bara selalu bersikap berlebihan saat dirinya terluka.


Dan jangan lupakan jika dia selalu marah saat Sela terluka.


"Kenapa anda begitu marah? Memang apa kesalahan saya hingga tuan begitu marah?" tanya Sela masih dengan kepala dingin.


"Kamu tanya apa salah kamu?" tanya Bara sambil berdiri dan menatap lekat Sela.


"Karena kamu selalu membuat saya khawatir dan cemas tanpa tahu alasan dan sebab yang jelas,"


"Kenapa kamu menangangi masalah ini sendiri, merencanakan semuanya sendiri, bahkan kamu juga mematikan GPS di ponsel kamu,"


"Dan harusnya kamu selalu ingat jika saya membenci orang yang pergi tanpa pamit," kata Bara penuh dengan penekanan.


"Bahkan kamu tidak pernah bisa berjanji untuk tidak selalu terluka jika saya tidak di sampingmu," kata Bara lalu pergi ke kamarnya meninggalkan Sela sendiri.


Sela hanya diam dan mencerna baik- baik ucapan Bara.


Sela tahu jika dia salah saat mematikan GPS dalam ponselnya untuk pergi menjemput Clay.


Tapi Sela lakukan itu untuk membantunya.


Sela tahu jika dia kini menjadi tanggung jawab Bara karena ibunya sedang sakit dan Bara yang membawanya kemari, berarti itu sudah menjadi tanggung jawab Bara.


Sela menatap kamar Bara, tidak kunjung terbuka juga.


Apa dia semarah itu sama Sela?


Bukankah dia bilang akan mengobati lukanya Sela?


Sela menunduk lesu, biarlah mungkin lain kali lagi Sela harus bisa lebih memperhatikan lagi keselamatannya dan tidak membuat Bara cemas.


Sela mengambil kotak P3K di bawah meja.


Dia akan mengobati sendiri lukanya.


Sela membuka perlahan dasi yang membalut lukanya.


Oh ya, ngomong- ngomong kemana si kembar itu.


Emang kampret mereka.


Giliran Sela kena marah sama Bara, pasti mereka berdua bakal ngilang duluan sebelum kena hukuman.


Awas aja besok sampek ketemu.


Sela melihat goresan pisau di lengannya.


Cukup panjang dan juga sedikit lebar, makanya waktu itu begitu banyak mengeluarkan darah.


Sela pergi ke dapur untuk mengambil baskom dan juga air hangat untuk membersihkan lukanya.


Sela kembali ke ruang tv lalu dengan perlahan mengusap lengannya dengan air hangat untuk membersihkan bekas darah yang sudah mengering.


Tiba- tiba Bara duduk di samping Sela dan merebut kain di tangan Sela lalu mengusapnya pelan.


Sela hanya diam sesekali dirinya melirik wajah tampan Bara.


Bara meniup pelan lengan Sela saat dia menetesinya dengan obat merah lalu ditutup dengan perban kecil.


Setelah itu Bara langsung berdiri berniat untuk kembali ke kamarnya.


Dengan cepat Sela berdiri dan menarik baju Bara pelan membuat Bara berhenti tanpa berbalik untuk menatap wajah Sela.


Sela menggenggam erat baju Bara, mengapa jantungnya berdebar begitu cepat.


Bara masih menunggu Sela berbicara dengan sesekali melihat genggaman tangan Sela pada bajunya lebih tepatnya di pinggang.


"Tuan maafkan saya, saya telah membuat salah," senyum manis tercetak di bibir Bara tanpa diketahui Sela.


"Lain kali saya akan lebih berhati- hati lagi dan memberitahu anda semuanya," kata Sela pelan dan juga terdengar sedikit gemetar.


Bara berbalik menatap Sela dengan cepat Sela melepaskan genggaman tangannya pada baju Bara namun Bara berganti menggengam tangan Sela.


"Saya maafkan tapi ada syaratnya," kata Bara membuat Sela menyatukan alisnya bingung.


Bara menarik tangan Sela menuju kamarnya.


Bara mengajak Sela duduk di sofa yang berada di kamarnya.


Bara mengambil secarik kertas lalu bolpoin dan menuliskan sesuatu di atasnya.


Sela menunggu hingga Bara selesai menulis.


"Ini adalah perjanjian yang saya buat untuk kamu dan saya," kata Bara membuat Sela heran.


"Apa itu harus?" tanya Sela keberatan. Bara tidak menjawab.


"Dengan ini saya Aldebaran Bradiston Arganta memberitahukan bahwa Perjanjian ini untuk Sela Gabriela Maxiton yang berisi, tidak boleh memberikan nomor telpon pada sembarang orang, tidak boleh terluka saat saya tidak sedang bersamanya,"


"Tidak boleh bertindak sesuatu yang beresiko, jangan pernah mematikan GPS dalam ponsel dan jangan pernah berani untuk dekat dengan cowok lain selain Aldebaran Bradsiton Arganta,"

__ADS_1


"Sekian dari saya, apabila Sela melanggar, Aldebaran berhak untuk menghukumnya, yang bertanda tangan di bawah ini Aldebaran dan Sela," kata Bara selesai membacakan isi dari perjanjian yang ia buat tanpa kesepakatan dari Sela.


"Ya tuhan bagaimana mungkin ada perjanjian yang dibuat oleh satu pihak sedangkan pihak satunya hanya sebagai korbannya," gerutu Sela merasa keberatan dengan semua isi dari perjanjian yang Bara buat.



"Ini adalah perjanjian di antara saya dan kamu," kata Bara mengingatkan Sela kembali.


"Lebih tepatnya tuan sendiri," ketus Sela sambil menatap arah lain.


"Untuk perjanjian yang terakhir, jangan dekat atau berteman pada cowok lain selain saya," Sela langsung menganga tidak percaya.


"Bagaimana mungkin, dosen saya lebih dominan laki- laki dibandingkan perempuan, lalu bagaimana jika saya mengobrol dengan pak Asep atau Rendy juga Reno, anda kira di dunia ini laki- laki cuma anda apa," protes Sela.


"Kamu boleh deket sama laki- laki lain yang sifatnya itu penting bukan sekedar modus," kata Bara ikut terpancing kesal.


"Misal seperti anda ini bukankah termasuk modus?" tanya Sela membuat Bara mengalihkan tatapannya.


"Keluarlah sebelum saya bertindak lebih dari sekedar modus," kata Bara mengusir Sela agar keluar dari kamarnya.


Sela buru- buru keluar dari kamar Bara sebelum menutup pintunya Sela kembali berbicara.


"Saya akan menyepakati perjanjian dengan mendekati laki- laki seperti dokter Reza dan menjauhi laki- laki modus seperti anda," kata Sela lalu menutup pintu kamar Bara sebelum Bara berubah pikiran.


□□□


[20 menit sebelum dikejar anjing]


Rendy dan Reno selesai dari toko eletronik lalu mampir ke minimarket untuk membeli es krim.


"Wih banyak juga ya uang hasil dari jualan cctv," kata Rendy senang sambil menghitung uang hasil dari menjual cctv dengan memakan es krimnya.


Ya tuhan padahal Bara sudah memberikan Rendy black card.


Tapi bisa- bisanya dia jualan cctv hanya buat beli es krim.


Black card menangis melihat hal ini.


"Tuan emang enggak papa kita jual semua cctvnya?" tanya Reno cemas jika Bara nanti menanyakannya.


"Tenang aja Bara enggak bakal nanyain cctvnya, dia bisa beli pabriknya ngapain ngambil cctv orang," kata Rendy sambil menikmati es krim di tangannya.


Ya mereka sedang berjalan kaki menikmati udara malam hari dan sedikit merilekskan diri sepulang dari kantor.


Mereka berjalan berdua sudah seperti seorang sepasang kekasih.


"Tuan kita sudah hampir satu minggu sejak dari wahana itu belum juga pulang ke rumah, bagaimana jika hukuman kita terus bertambah," kata Reno takut dengan Bara juga takut hukumannya bertambah.


"Tenang aja, kita kan habis bantuin Sela dan juga bantu nyelamatin baju proyek, pasti dia bakal berbaik hati dan melupakan hukumannya," kata Rendy santai beda sama Reno.


"Lebih tepatnya bukan lupa tapi ditunda," gumam Reno pelan sambil melihat lalu lalang orang- orang pulang kerja.


Wajah mereka terlihat sekali sangat lelah seharian penuh berada di hadapan komputer.


"Reno itu bukannya anjing yang waktu itu?" kata Rendy sambil menunjuk dua anjing yang sedang diikat di dekat pembatas jalan.


"Masak sih?" kata Reno karena dia lupa.


"Iya lihat deh, kalungnya bentuk bintang dan kembar dengan satunya," kata Rendy mengingat kalung anjing yang mereka temui waktu malam itu.


"Oh ya tuan, anda benar," kata Reno baru ingat.


Senyum jahil di bibir Rendy mulai terbit.


Perasaan mendadak menjadi tidak enak.


"Mumpung dia lagi diiket, gue kerjain ahh," kata Rendy sambil mencari batu kecil di jalanan.


"Jangan cari gara- gara deh tuan, saya kekenyangan enggak kuat lari," kata Reno meminta agar Rendy tidak menganggunya.


"Tenang aja kali lagian dia juga diiket, jadi enggak bakalan bisa ngejar kita," kata Rendy dengan senyum di bibirnya saat menemukan batu- batu kecil di jalanan.


Rendy melempar batu kecil ke arah anjing yang diikat di pembatas jalan itu.


"Guk guk guk, emang enak diiket di situ, kasian deh lo, makanya jangan jadi anjing dan suka ngejar orang, diiket kan lo," ejek Rendy berani karena dua anjing itu sedang diikat.


Tapi siapa sangka jika anjing pintar itu tiba- tiba saja melepaskan ikatan di pembatas jalan.


"Nah kan nah, anjingnya mulai sensi," kata Reno sambil berjalan mundur dengan perlahan.


"Ya tuhan kenapa kau tak bilang jika anjing ini bisa melepaskan ikatannya sendiri," gumam Rendy menyesali perbuatannya sambil berjalan mundur.


"Kan tadi saya udah bilang jangan ganggu dia, tuan malah nyari batu buat ngajak ribut anjingnya, tadi nantangin giliran anjingnya lepasin iketannya anda takut," kata Reno kesal saat Rendy selalu saja membuat dirinya harus berlari.


"Ya siapa yang tahu, gue kira dia enggak bisa lepasin itu iketan," kata Rendy menyesalinya dan mereka berdua terus berjalan mundur.


"Ok hitungan ketiga kita harus berlari sekuat mungkin," pandu Rendy sambil menatap ngeri kedua anjing yang terus berjalan mendekati mereka.


"Satu," kata Rendy mulai menghitung dan bersiap untuk lari.


"Tiga," teriak Reno yang sudah lari menuju perusahaan duluan meninggalkan Rendy.


"Ehh dodol kenapa lo enggak bilang kalau habis satu langsung tiga," teriak Rendy kesal pada Reno.


"Maaf tuan, saya kira anda sudah mengatakan dua," jawab Reno sedikit berteriak dan terus berlari.


Rendy masih berjalan mundur sambil menatap kedua anjing di hadapannya.


"Ya tuhan kenapa wajah kalian berdua udah kayak nyai badas waktu natap gue," gumam Rendy sambil melirik kanan kiri lalu memanfaatkan kesempatan dengan baik untuk lari.


"Tolong nyai badas ngejar gue," teriak Rendy di sepanjang jalan dengan dikejar dua anjing itu membuat beberapa orang menatap Rendy kasian juga tertawa melihat kelakuannya.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


**Maaf ya lama up nya🙏


Terima kasih banyak ya udah dukung juga support saya.


Semoga kalian semua bisa terhibur dengan cerita saya.


Jangan lupa ya buat kasih like komen dan hadiah**.

__ADS_1


__ADS_2