
□■□■
Bradsiton dan Rose kini terbang ke London setelah selesai dari kantor polisi.
Semua sudah mereka reka sedemikian rupa agar terlihat nyata.
"Pa apa kamu sudah menghubungi Rendy untuk mengabari Bara nantinya?" tanya Rose memastikan jika suaminya tidak lupa.
"Tentu saja sudah, kini kita tinggal memberitahu Sela bagaimana dengan rencana kita selama 3 tahun ke depan ini," kata Bradstion yang diangguki oleh Rose.
Entah apa yang sedang Bradstion pikirkan, yang jelas Rose hanya mengikuti permainan suaminya.
Taktik licik dan cerdik.
Merekalah pemenangnya.
Selalu menang dalam urusan misteri dan rahasia.
Mereka telah sampai di London dan tanpa menunggu lama Bradsiton langsung menuju penthouse miliknya yang ada di London.
Tapi sebelumnya Bradsiton ingin mengabari Sela jika ia sudah sampai di London.
Bradsiton meminta supir untuk menjemput Sela menuju penthousenya.
Rose dan suaminya kini telah tiba di penthouse tinggal menunggu Sela datang.
"Pa ma," teriak Sela ketika baru datang membuat Bradsiton dan Rose berbalik dan menatap Sela.
"Sayang," panggil Rose sambil memeluk erat Sela.
"Papa sama mama ngapain ke sini, terus Bara nya enggak ikut?" tanya Sela karena tidak tahu soal rencana Bradsiton.
"Sayang kita bicara di dalam aja ya," kata Rose sambil menggiring Sela masuk diikuti suaminya.
"Pak tolong nengahkan mansionnya, saya ingin berbicara penting," perintah Bradsiton pada pengawalnya.
"Baik tuan," mansion perlahan bergerak ke tengah sesuai dengan permintaan Bradsiton.
Bradsiton tidak ingin seorang pun yang tahu rencananya termasuk pengawal FBI nya.
"Pa ma, kenapa kalian ke sini?" tanya Sela saat mereka duduk bersama di ruang santai.
"Sayang papa mau beritahu sesuatu padamu," kata Bradsiton sembari membuka kertas besar.
Kertas itu adalah rencana Bradsiton untuk 3 tahun ke depan lamanya, karena itu dia menggambar desainnya.
"Perhatikan baik- baik perkataan papa," kata Bradsiton membuat Sela mengangguk dan mengamati dengan detail setiap desain yang Bradsiton gambar.
"Yang jadi masalah utamanya adalah Walles dan Reynald. Mereka bersatu untuk bisa menghancurkan kita. Tapi itu semua hanyalah akal- akalan Walles. Dia selalu menggelapkan uang perusahaan Reynald hingga berjuta- juta dolar,"
"Bahkan cabang Reynald yang ada di Jerman kini menjadi milik Walles tanpa sepengetahuan Reynald. Tapi bukan itu inti masalah dari ini semua,"
Bradsiton menatap Sela dan Rose bergantian lalu kembali menunjuk desain yang ia gambar.
"Laura dan Gabriela?" kata Sela bertanya saat Bradsiton menunjuk nama yang ia tulis di kertas besar itu.
"Ya merekalah alat yang Walles gunakan untuk melancarkan aksinya. Dan kamu tahu apa yang sekarang Walles ajarkan pada sahabatmu?" tanya Bradsiton pada Sela.
"Sebagai seorang psikopat," lanjut Walles membuat Sela membungkam mulutnya tidak percaya.
"Karena itu papa dan mama melakukan semua ini demi kamu dan Bara, jadi turuti apa yang setiap papa perintahkan," Sela mengangguk paham akan perkataan Bradsiton.
"Papa minta kamu tidak untuk kembali 2 tahun ini, tinggallah di sini untuk 1 tahun lagi. Papa ingin kamu belajar beladiri, menembak melalui pelatihan pengawal FBI papa dan juga," Bradsiton tidak melanjutkan ucapannya.
"Bangunlah perusahaan di Italia sebagai alasan dasar pada Bara jika kamu tidak pulang 3 tahun ini karena merintis perusahaan di Italia," Sela mengangguk paham.
"Sebenarnya apa tujuan dari Walles bergabung dengan Reynald pa?" tanya Rose yang belum paham.
"Entahlah ma, papa tidak bisa mengetahui hal itu selain Walles mengajarkan psikopat pada Gabriela dan Laura sebagai penyusup dalam perusahaan Bara," kata Bradsiton sembari menghela napas.
"Yang pasti itu semua adalah rencana dari Walles. Sela jangan sampai temanmu Sandra mengetahui hal ini, karena ada satu lagi orang yang papa curigai namun masih terlihat samar," ucapan Bradsiton mampu membuat Sela dan Rose penasaran.
"Siapa pa?" tanya Rose dan Sela bersamaan.
"Entahlah papa pun masih ragu akan hal itu, nanti papa akan menyelidikinya lebih jauh lagi,"
"Oh ya Sela, mungkin dua hari lagi Bara akan datang ke sini, karena papa dan mama sudah melakukan plan A sebelum kemari,"
"Memang apa plan A yang sudah dilakukan pa?" tanya Sela membuat Bradsiton kembali menunjuk tulisan pada kertas besar itu.
"Papa dan mama bekerja sama dengan polisi untuk membuat sebuah kecelakaan. Di mana kecelakaan tersebut seolah- olah mobil kita terbakar dan kita tidak bisa dikenali oleh siapapun. Hal itu akan membuat Walles dan Reynald semakin penasaran dengan siapa yang telah menyebabkan kecelakaan kita,"
"Tapi hal itu dibungkus rapi oleh polisi dengan menyebarkan hoax jika mobil kami remnya blong dan ditemukan bom di mobil yang kita kendarai. Dan hal itu setidaknya bisa menjawab rasa penasaran keduanya,"
Sela kagum akan rencana yang telah Bradsiton siapkan. Serapi ini.
"Karena itu saat Bara datang kemari, berpura- puralah kamu untuk tidak peduli dengannya atau jika kamu bisa buat Bara menjauh darimu agar kamu bisa fokus menjalankan apa yang papa perintahkan," Sela mengangguk paham.
"Oh ya sayang, tukarlah cincin mu dengan cincin palsu ini. Lalu sandiwara apa yang kamu inginkan, lakukanlah sesukamu, yang terpenting kamu bisa buat Bara menjauh darimu untuk sementara waktu ini," kata Rose sembari menukar cincin Thanos itu dengan yang palsu.
__ADS_1
"Baiklah pa ma Sela akan mencoba melakukan yang terbaik," kata Sela sembari menukar cincinnya.
"Tunggu Sela, ada satu hal yang harus kamu lakukan," kata Bradsiton membuat Sela menatapanya.
"Apa pa?" tanya Sela.
"Kamu harus bisa mematikan sambungan ponselmu dengan milik Bara, agar dia tidak curiga dengan rencana kita. Karena papa yakin, Bara pasti memasang GPS atau kartu yang hanya bisa diisi dengan kontaknya agar selalu tersambung dengan milik Bara,"
"Apa Bara melakukannya?" tanya Rose pada suaminya.
"Tentu, putramu itu pasti melakukannya, laki- laki mana yang mau miliknya diambil orang lain," kata Bradsiton sembari tersenyum ke arah Sela.
"Sayang kamu harus hati- hati ya setiap dalam melakukan tindakan, mama enggak mau sampai kamu terluka," kata Rose sembari membelai rambut Sela dengan sayang.
"Iya ma Sela akan hati- hati," kata Sela sembari memeluk erat Rose membuat Bradsiton diam- diam tersenyum.
Selama 3 tahun ini, rencana Bradsiton telah dilakukan dan semua berjalan dengan lancar.
Sela yang jauh dengan Bara, Sela yang semakin jago akan beladiri, jago akan hal menembak dan jago dalam urusan menjadi CEO perusahaannya sendiri.
3 tahun ini juga Bradsiton dan Rose tinggal di London sembari mengawasi juga melindungi Sela dari kejahatan Walles.
Tujuan dari Bradsiton melakukan semua ini adalah untuk bisa mengetahui Sebenarnya, apa tujuan utama Walles melakukan ini semua.
Hingga 3 tahun lamanya, Bradsiton bisa mengetahui niat buruk Walles.
Bradsiton kembali memanggil Sela untuk melakukan kembali rencananya yang berarti itu adalah Plan C.
"Ada apa papa memanggilku kemari? Apa ada masalah lagi terkait Walles dan Reynald?" tanya Sela lalu diangguki oleh Bradsiton.
"Papa kini sudah tahu semua kejahatan Walles. Dan itu semua tersimpan rapi di dalam laptop milik Reynald,"
"Lalu pa?"
"Besok pulanglah kamu ke Kanada, sebisa mungkin kamu harus bisa beralasan untuk mengundurkan diri dari kantor Bara dan bekerja samalah dengan Reynald dan Walles untuk bisa mendapatkan file dalam laptop Reynald,"
"Sebentar pa, memangnya kenapa file kejahatan Walles berada di laptop Reynald? Kenapa Walles tidak menyimpannya sendiri di laptopnya?" tanya Sela penasaran dengan hal itu.
"Sayang, Walles adalah orang yang licik, untuk menutupi kejahatannya, ia menyembunyikan semua file kejahatannya di laptop Reynald agar tidak bisa direntas oleh siapapun termasuk papa," Sela kini paham dengan apa yang Bradsiton katakan.
"Sekarang dengarkan baik- baik perintah papa," Sela mengangguk dan menatap mata genius Bradsiton.
"Setelah kamu berhasil bekerja sama dengan Reynald dan Walles pasti kamu akan ditempatkan menjadi sekretarisnya, karena Jessy sedang berada di luar negeri untuk modeling internasional. Kesempatan itu jangan kamu sia- siakan untuk bisa menyalin semua file yang bernamakan Rahasia,"
"File itulah yang berisi semua kejahatan milik Walles jadi sebisa mungkin salinlah itu sebanyak yang kamu bisa," Sela mengangguk paham.
"Oh ya sayang, 1 bulan lagi akan ada pertemuan CEO luar negeri dan para pejabat tinggi untuk membahas sesuatu hal. Manfaatkan hal itu untuk melihat program apa saja yang perusahaan Reynald rencanakan,"
"Besok pengawal papa akan mengantarmu ke Kanada, sekali lagi berhati- hatilah sayang kamu dengan Walles dan Reynald," kata Bradsiton kembali memperingatkan Sela.
Sela mengangguk paham lalu kembali ke asrama untuk kembali melakukan dramanya di depan Sandra.
3 tahun lamanya akhirnya Sela kembali ke Kanada untuk bertemu Bara.
FLASHBACK OFF
♡♡♡♡
"Oh jadi ini permainan kalian berdua?" kata Bara setelah mendengar cerita dari papanya.
"Kenapa, kamu mau marah hah?" bentak mamanya yang terlihat kesal dengan Bara.
"Tapi kenapa Bara enggak dikasih tahu coba, tahu gitu kan Bara enggak akan sakiti Sela," kata Bara kesal sambil menatap Sela yang duduk di antara papa dan mamanya.
"Oh ya mama sampai lupa, karena kamu sudah bikin putri mama nangis, jangan harap kamu bisa deket- deket Sela lagi. Pakai acara mabuk-mabukan segala, main di belakang Sela sama Laura, berkali- kali bikin nangis," kata Rose sambil menatap tajam Bara.
"Lah kan Bara enggak tahu kalau...,"
"Enggak usah banyak alesan, mama enggak pernah ngajari kamu buat sakiti cewek apalagi mempermainkan seorang perempuan. Mending Sela nikah aja sama Rendy," kata Rose membuat Bara langsung melebarkan matanya.
"Enggak enak aja nikah sama Rendy. Bara yang dapetin dengan susah payah juga main di kasih ke buaya darat," tolak Bara tegas membuat papanya cekikikan melihat tingkah Bara.
"Makanya udah tahu dapetinnya susah kenapa selalu kamu bikin nangis apalagi kamu sia- siain," kata Rose yang tidak pernah kalah soal debat.
"Ya andai aja mama sama papa kasih tahu rencanannya sama Bara kan enggak bakal kayak gini," kata Bara masih membela dirinya.
"Gimana akting kita totalitasnya bukan main kan?" tanya Rose yang terlihat sangat bangga.
"Gini nih punya ibu korban sinetron, hidup aja dibikin drama," gumam lirih Bara yang masih kesal dengan mamanya.
"Heh banyak alesan aja, mulai sekarang Sela tinggal sama kami, mama enggak akan biarin dia tinggal serumah apalagi sekamar sama kamu. Yang ada kamu terkam bukan kamu jaga ini putri mama," kata Rose lirih di akhir kata membuat Bara membelalakkan matanya.
"Kok mama tahu?" tanya Bara dengan polosnya membuat Sela menutup wajahnya malu dan Bradsiton yang semakin tertawa keras.
Rose sontak berdiri dan menghampiri Bara yang duduk di seberang sofa dan
"Aww sakit ma," teriak Bara kala Rose menarik telinganya.
"Kamu itu belum nikah jangan main tidurin anak orang aja, nanti kalau dia hamil siapa yang mau tanggung jawab?" tanya Rose sambil menatap tajam.
"Ya Bara lah siapa lagi," jawab Bara dengan santainya membuat Rose semakin menarik telinga Bara dan membuat Bradsiton semakin tertawa.
__ADS_1
"Awas aja sampai kamu deketi putri mama, mama panggang kamu hidup- hidup," kata Rose mengancam Bara lalu pergi ke belakang bersama Sela.
Ternyata Rose benar- benar menjauhkan Sela dari Bara.
Wah good Mom.
"Papa kenapa cuma diem aja coba, belain Bara kek atau gimana gitu. Papa enggak kasian apa sama Bara, udah 3 tahun ldr sama Sela sekarang mama yang pisahin kita," adu Bara pada papanya.
"Lagian kamu son, bikin nangis Sela, coba kamu enggak sakiti dia atau bikin nangis, mama enggak...,"
"Papa mau bela Bara atau ikut- ikutan mojokin Bara?" tanya Bara sebal dengan papanya.
"Percayalah jadi seorang ayah cuma bisa jadi penengah. Maju salah mundur salah, menurut papa diam itu solusinya," kata Bradsiton membuat Bara beranjak dari duduknya.
"Hilih omong aja papa takut sama mama kan, jadi suami kok takut sama istri, coba kayak Bara," kata Bara mengejek papanya.
"Bara,"
"Bradsiton,"
Teriak dua wanita yang sedang berada di dapur untuk menyiapkan makan malam kala mendengar obrolan dua laki- laki itu.
♡•♡•
"Sayang," panggil Bara membuat Sela menoleh yang semula menatap pemandangan London kala malam hari.
Bara memeluk Sela dari belakang dan menciumi pelipisnya berkali- kali.
"Apa yang sedang kamu lihat?" tanya Bara sambil mengeratkan pelukannya.
"Tidak ada hanya melihat London saat malam hari. Aku merindukan ibu," guman Sela diakhir perkataannya.
"Ibu pasti akan sembuh, sekarang jangan sedih lagi. Apa kamu tidak merindukanku?" tanya Bara mengalihkan pembicaraan agar Sela tidak terlarut dalam kesedihannya.
"Rindulah," jawab Sela dengan nada sangat gemas membuat Bara kembali mencium pipi tirus Sela.
"Besok kamu ingin liburan kemana?" tanya Bara.
"Aku hanya ingin bersamamu," jawaban Sela mampu membuat jantung dan hati Bara seakan bergetar.
Bara membalikkan tubuh Sela lalu menatapnya lekat.
"Apa ini benar gadisku?" tanya Bara membuat Sela tersenyum lalu mengangguk pelan.
"Kenapa kamu berpakaian seperti ini saat malam hari, apa kau mencoba untuk menggoda ku Hmm," goda Bara yang langsung mendapat pukulan dari Sela.
"Mana hadiahku, kamu bilang ada di rumah?" tanya Bara penasaran dengan hadiah dari Sela.
"Ada di kamar," kata Sela lalu masuk ke dalam kamar untuk mengambilkan hadiah Bara.
"Tahan Bar tahan," gumam Bara pelan lalu mengikuti Sela ke dalam kamar.
"Bukalah," kata Sela sembari memberikan kotak yang ia bungkus rapi.
Tanpa menunggu lama Bara langsung membukanya karena penasaran akan isinya.
"Boneka?" tanya Bara sembari menahan tawanya.
"Ya ini namanya Bala," kata Sela memberitahukan pada Bara.
Bara mengamati detail dari boneka itu.
Ternyata ada rajutan yang dibuat oleh tangan yaitu tulisan Bala.
"Siapa bala?" tanya Bara pada Sela.
"Bara Sela," jawab Sela santai namun tidak dengan detak jantung Bara saat ini.
Bara kembali menatap boneka dinosaurus tersebut dengan sangat teliti.
02 Febuari 2021
Itu tanggal di mana Bara melamar Sela saat malam hari di London.
Bara tersenyum senang sekaligus bangga pada Sela.
"Uhh sayang, makasih banyak ya," kata Bara yang hendak mencium bibir manis Sela namun
"Sela sayang, ayo tidur sama mama," teriak Rose dari luar membuat Bara mendengus sebal karena aksinya gagal.
Sela tertawa pelan melihat wajah sebal Bara.
"Iya ma. Dah mama udah manggil, aku tidur dulu ya," kata Sela yang bergegas keluar kamar untuk pindah ke kamar Rose.
"Hihhhh mama ganggu aja deh, enggak papa enggak mama sama aja," gerutu Bara karena tidak bisa mempunyai waktu berdua bersama Sela.
"Karena papa enggak bisa cium mamamu, yaudah kamu aja yang papa cium," kata Bara pada boneka dinosaurusnya.
__ADS_1
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎