Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Jadi Tahanan Bara


__ADS_3

□□□


Gabriela sedang berada di perusahaan Reynald dan juga bersama Walles.


"Jadi, kenapa kamu dateng ke sini?" tanya sinis Walles karena dia jengah dengan Gabriela.


Melakukan hal sekecil itu saja dia tidak bisa.


Dan selalu saja ketahuan oleh Bara.


"Kemarin Bradsiton datang ke rumah dengan lima bodyguardnya. Mereka tahu semua jika itu ulah kita," tidak ada yang terkejut atas ucapan Gabriela.


"Lalu?"


"Jika saya kembali berbuat ulah dia tidak segan untuk menghabisi saya," kata Gabriela membuat Walles tersenyum miring.


"Tidak usah diperdulikan, itu hanya omong kosong," bantak Walles.


"Bagaimana jika dia serius?"


Walles dan Reynald saling menatap satu sama lain.


"Selagi kamu mengikuti apa yang kami intruksikan, kamu akan aman," kata Walles yang diangguki oleh Reynald.


Tok tok tok


Semua menatap ke ambang pintu di mana Jessy sedang tersenyum ke arah mereka.


"Jessy," kata Reynald terkejut karena hari ini tidak ada jadwal pemotretan.


"Apa yang membuatmu kemari?" tanya Reynald untuk mencairkan suasana.



Jessy beralih dari menatap Gabriela lalu menatap Reynald.


"Aku merindukanmu," ucapan yang membuat Walles juga Reynald terkejut.


Pasalnya Jessy cewek yang jutek dan dingin.


Lalu dengan gamblangnya dia mengatakan hal seperti itu.


Reynald?


Jelas dia sangat girang dalam hatinya, sayang sekali ada dua orang yang sedang menyaksikannya.


Gabriela menatap sinis Jessy lalu kembali menatap Reynald.


"Tuan...," belum selesai Gabriela berbicara Reynald mengangkat tangannya.


Mengisyaratkan untuk diam, Walles yang mengerti keadaan itu langsung menarik kasar Gabriela keluar dari ruangan.


"Tuan kenapa kita keluar? Kan belum selesai percakapannya," protes Gabriela.


"Kamu enggak tahu kekasihnya sedang datang," ketus Walles lalu pergi begitu saja meninggalkan Gabriela.


"What? Kekasih? Sejak kapan dia punya kekasih," tanya Gabriela pada dirinya sendiri.


Gabriela lalu pergi dari kantor Reynald dengan perasaan sedikit kesal dan jengkel.


Pasalnya kekasih Reynald datang begitu saja dan mengacaukannya.


Sedangkan dalam ruangan Reynald, kini dua insan tersebut hanya diam hingga Reynald yang bertanya.


"Apa ada sesuatu?" tanya Reynald pada Jessy yang sibuk bermain ponsel.


"Tidak ada," jawab Jessy santai.


"Lantas apa yang membuatmu kemari?" tanya Reynald untuk kedua kalinya.


"Hanya berkunjung," jawab Jessy singkat membuat Reynald jadi curiga dengan Jessy.


"Apa kamu saat ini sedang?" tebak Reynald membuat Jessy menatapnya garang.


"Lo bisa enggak sih jangan permainin semua hati cewek?" Reynald menahan tawanya.


Kan benar apa yang dia tebak, kini Jessy sedang cemburu padanya.


"Kamu cemburu?" tanya Reynald sambil menatap lekat Jessy.


Bugh


"Enggak usah asal ngomong, cewek barusan itu enggak baik tahu enggak, terakhir kali di club dia sengaja mau bawa lo ke hotel," kata Jessy sambil memukul bahu Reynald.


"Tapi berakhir di kamar sama kamu kan?" goda Reynald yang membuat Jessy terdiam.


"Udah gue mau pulang," pamit Jessy karena terlalu malu dengan Reynald.


Reynald menarik Jessy hingga terduduk di pangkuannya.


"Emang kalau cemburu harus banget ya disamperin langsung ke kantornya?" tanya Reynald kembali menggoda Jessy.


Jessy memalingkan wajahnya, dia kini sedang menahan agar rona merah di pipinya tidak muncul.


♡♡♡


Kini Bara sedang menunggu Sela selesai belajar.


Pasalnya sore nanti Sela ada ujian mendadak, karena itu dia menyiapkan persiapan untuk belajar.


Sela sejak tadi tahu jika Bara terus memandangnya membuat dia semakin tidak fokus dalam belajar.


Mana imut banget lagi gayanya.



"Sayang udah belum sih belajarnya," rengek Bara pada Sela.


"Udah diem," ketus Sela sambil mengalihkan fokusnya pada buku tebal di depannya.


"Sayang, percayalah tidak belajar satu hari tidak akan membuatmu bodoh," kata Bara membujuk agar Sela berhenti belajar dan tidak mengabaikan dirinya.


Sela tidak menggubris dia fokus belajar.


Karena 20 menit lagi dia akan kembali ke kampus untuk ujian.


Bara membaringkan tubuhnya di tempat tidur karena capek menunggu Sela.


Dia benar- benar bosan sekali hingga ide konyol itu terlintas dalam pikirannya.


"Kenapa enggak dari tadi coba," gumam Bara yang langsung keluar kamar membuat Sela terheran.


"Setelah acara memasak apa yang akan dia lakukan," gumam lirih Sela sambil memegangi kepalanya pusing menatap kekasihnya.


Beberapa menit berkutat dengan bukunya kini Sela sudah selesai belajar.


Kemana perginya Bara?


Sela memutuskan untuk mengganti pakaiannya.


Ceklek


Bara kembali namun dengan penampilan yang berbeda.


Sela keluar dari kamar dan menganga kala menatap Bara yang berganti seragam yang sama seperti dirinya.


Sela membuyarkan lamunannya lalu meraih tasnya.

__ADS_1


"Apa yang tuan lakukan?" tanya Sela sambil menyampirkan tas di punggungnya dan tak lupa bukunya.


"Hari ini terakhir aku di sini, jadi tidak ada satu menitpun yang terlewatkan saat aku bersamamu," kata Bara lalu mengambil alih buku Sela.


"Apa aku terlihat tidak cocok dengan seragam ini?" tanya Bara pada Sela yang sempat tertegun melihat dirinya.



Ya tuhan padahal usia udah tua, tapi damagenya kayak anak SMA, batin Sela menatap kagum Bara.


"Ngapain sih ikut segala," ketus Sela kala tersadar dari halunya.


"Cuma satu kali ini aja please, besok aku udah balik lagi ke Kanada, ya sayang?" bujuk Bara pada Sela.


Sela menatap jam tangannya, percuma debat sama Aldebaran, yang tidak akan ada ujungnya.


"Terserah deh," kata Sela langsung keluar kamar dengan Bara yang sudah berjingkrak kesenangan.


.


.


.


.


"Excusme Sir," Sela mengetuk pintu membuat dirinya kini menjadi pusat perhatian.


Sela dan Bara masuk ke dalam kelas dengan berbagai tatapan dari teman- temannya.


"I' am sorry late


[Maaf saya terlambat]," kata Sela sambil menatap takut dosennya.


"No problem college is just starting


[Tidak masalah kuliah juga baru dimulai]," kata dosen sambil tersenyum ramah pada Sela.


Sedangkan para cewek kini sedang menatap kagum akan pesona Bara di samping Sela.


Tatapan dosen beralih pada tangan mereka berdua.


Diborgol.


"Why are your hands handcuffed


[Kenapa tangan kalian diborgol]?" tanya dosen bingung, Bara yang udah jenuh langsung menyahut.


"My mother told me to take care of her [Saya disuruh emaknya buat jaga dia]," kata Bara dengan nada yang sedikit ketus.


Seisi kelas tertawa pelan mendengar ucapan Bara.


Lantas dosen mempersilahkan mereka berdua untuk duduk.


Dengan syarat Bara tidak menganggu Sela yang sedang ujian.


Selama Sela ujian, keadaan kelas sangat hening membuat Bara merasa bosan, jenuh juga mengantuk.


Sela yang melirik sekilas wajah cemberut Bara, menahan senyumnya.


Bara menghitung laki- laki yang berada di kelas Sela.


Ada sekitar 10 laki- laki dan wajah mereka cukup tampan.


"Syukur deh cuma 10 cowok, jadi saingan gue enggak berat amat," gumam Bara yang bisa di dengar Sela dan Sandra.


Sandra yang duduk di belakang Sela menahan senyumnya mendengar ocehan Bara.


"Tapi kalau semua tampan gini, terus tiap hari ketemu, pasti tu cowok demen liat pacar gue," gerutu Bara yang membuat dosen menatapnya.


[Yang belakang tolong jangan berisik]," suara dosen membuat seisi kelas cekikikan.


Pasalnya Bara bukan cuma berisik, tapi mengoceh layaknya burung dengan suara keras lagi.


Sela yang di samping Bara memalingkan wajahnya untuk menahan tawa.


"Ish dasar bapak- bapak, sensitif banget sih," dumel Bara membuat Sandra yang mendengarnya tertawa pelan.


Sekitar 45 menit ujian sudah selesai membuat Bara berbinar senang.


Setelah dosen keluar semua cewek langsung menyerbu bangku Sela, kalian tahu apa yang mereka lakukan.


"Excusme boy, can we take a picture with you [Permisi boy, bolehkah kita berfoto denganmu]?" Bara memandang mereka satu persatu lalu melirik sekilas Sela yang terlihat acuh.


"Ask permission from my future wife


[Minta izinlah pada istriku]," kata Bara membuat Sela melotot menatap Bara.


"Really she is your future wife


[Sungguh dia calon istrimu]?" tanya salah satu dari mereka, Bara hanya mengangguk sambil menahan senyumnya.


"Oh then we don't take pictures, sorry Sela we don't know


[Oh kalau begitu kita tidak jadi berfoto, maaf Sela kita tidak tahu]," satu persatu dari mereka meninggalkan bangku Sela dengan perasaan kecewa.


"Ish tuan apa- apaan sih pakai bilang calon istri segala," marah Sela karena sendiri merasa tidak enak juga malu pada teman- temannya.


"Kan emang kenyataannya sayang, kamu nanti bakal jadi istri aku," kata Bara menanggapinya dengan santai.


"Hish tahu deh," kata Sela yang langsung berdiri dan hendak meninggalkan Bara.


Tapi Sela sepertinya lupa kalau tangan mereka diborgol.


"Eh sayang tanganku," kata Bara yang langsung menyusul Sela dengan tangan yang sedikit tertarik.


"Ya tuhan, gue baru kali ini liat pasangan kayak tom and jerry, yang satu bucin yang satu cuek," gumam lirih Sandra yang masih berada di dalam kelas.


Sela menatap jam tangannya, sekarang pukul 7 malam.


Bara dan Sela memang pulang dengan berjalan kaki, kata Bara ia ingin menikmati London bersama Sela kala malam hari.


Sela melirik Bara yang melihat kanan kiri jalan dengan tatapan yang berbeda.


"Ayo buruan pulang, besok anda sudah kembali," kata Sela membujuk agar Bara mau cepat pulang.


"Sebentar lagi, aku ingin lebih menikmati malam ini. 2 tahun lagi kita baru bisa bertemu," ucapan Bara membuat Sela terdiam.


Rasanya Sela juga tidak ingin jauh dari Bara.


Tapi ada cita- cita dan derajat yang harus Sela perjuangkan.


"Bagaimana jika menghabiskan waktu di rumah, saya akan memasak makanan kesukaan anda?" tawar Sela untuk menghibur Bara.


"Emm boleh juga, ayo," kata Bara sambil memeluk Sela erat- erat karena salju yang turun membuat udara begitu dingin.


Sesampainya di rumah Sela langsung mandi di kamar Sandra sedangkan Bara mandi di kamar mandi bawah atau kamar mandi umum.


Setelah mandi Sela langsung bergelut di dapur masak untuk makan malam mereka berdua.


Begitu juga Bara yang sudah selesai mandi.


Ia duduk di tepi ranjang sambil mengamati Sela yang terlihat sangat seksi kala sedang memasak.


Memang istri idaman, batin Bara sambil tersenyum melihatnya.


Bara memikirkan sesuatu, apa yang bisa membuat malam ini begitu terkesan untuk Sela dan dirinya.

__ADS_1


Waktu mereka tinggal 12 jam lagi dan Bara akan kembali ke Kanada.


Bara langsung pergi ke balkon kamar Sela, sangat luas.


Ide itu terlintas begitu saja di pikiran Bara, tanpa banyak bicara Bara langsung mengerjakannya.


Sela yang sudah selesai dengan acara memasaknya berniat untuk memanggil Bara agar segera makan malam.


Tapi Bara tidak ada di kamar, Sela melihat di balkon ada lampu remang- remang, Sela berjalan menuju balkon.


Sela tersenyum lebar kala melihat balkonnya disulap untuk melihat layar lebar dengan nuansa romantis.



Sela berjalan menghampiri Bara lalu memeluknya dari belakang membuat Bara terdiam karena terkejut.


"Makasih," gumam Sela pelan yang masih bisa didengar oleh Bara.


Bara berbalik dan menatap sayang Sela.


Cup


Bara mencium pipi kanan Sela gemas.


"Makanannya udah siap, makan sekarang apa nanti?" tanya Sela membuat Bara seakan ingin melompat dari balkon sekarang juga.


Ya tuhan ditanya seperti itu rasanya seperti sedang ditanya oleh istri.


"Sekarang kamu duduk sini, aku yang akan mengambil makanannya," kata Bara sambil membopong Sela dan mendudukkannya di sofa.


Lalu Bara bergegas menuju dapur, tapi dia kini sedang jungkir balik di atas tempat tidur Sela karena saking gembiranya.


Uh Sela begitu bahagia malam ini, dia seakan menjadi seorang putri kala Bara memperlakukannya seperti itu.


Bara menyajikan semua hidangan di atas meja lalu menyalakan film romantis yang akan mereka tonton malam ini.


"Sayang suapi dong," rengek Bara yang kini mode manjanya mulai on.


Tapi Sela hanya tersenyum dan menyuapi Bara.


Mungkin ini suapan untuk yang terakhir kalinya dan 2 tahun lamanya mereka baru bertemu.


Selesai makan mereka kini benar- benar menghayati film yang diputar.


Bara semakin manja pada Sela dengan tidur di pangkuannya dan memegang erat tangan Sela.


"Sayang nanti kalau udah nikah kamu pengin punya anak berapa?" tanya Bara tiba- tiba dengan tatapan masih tertuju pada layar lebar.


"2 aja," kata Sela membuat Bara mendongak menatap Sela.


"Kurang rame sayang nanti rumah kita, kalau bisa 11 aja gimana biar kayak pemain sepak bola," Sela melotot mendengar ucapan Bara.


"Hei siapa yang mau mempunyai anak sebanyak itu?" tanya Sela pada Bara.


"Kamulah, siapa lagi," Sela mendongak menatap langit malam menahan senyum juga rona merah di pipinya.


Astaga gombalan dan rayuan seperti ini membuat hati tidak sehat.


"Kenapa anda selalu yakin jika nanti saya yang akan menjadi istri anda?" tanya Sela yang selalu penasaran akan keyakinan Bara.


Bara terdiam lalu bangun dari pangkuan Sela.


"Emang apa yang salah, kita hanya berencana dan tuhan yang menentukan jalannya," kata Bara membuat mata Sela seakan berkaca- kaca.


"Aku takut jika takdir akan berkata lain, bagaimana jika nanti selama 2 tahun lamanya, anda berpaling dari saya?" tanya Sela membuat Bara menatap lekat kedua mata indah itu.


"Karena siapapun dapat berubah termasuk...,"


Bara meraih tengkuk Sela dan mencium dengan sayang dan tulus bibir ranum yang kini menjadi candu baginya.


Tes


Air mata Sela turun begitu saja dan mengenai pipi Bara.


Terasa hangat.


Tandanya itu adalah air mata kebahagiaan.


Bara semakin menekan tengkuk Sela untuk memperdalam ciumannya.


Perlahan dengan tangan masih diborgol, Bara mengangkat tubuh Sela untuk masuk ke dalam kamar.


Bara membaringkan tubuh Sela perlahan, keduanya saling menatap dan mengambil napas sebanyak- banyaknya.


Bara kembali mencium bibir Sela dengan pelan tanpa menuntut.


"Gimana kalau sekarang aja buat anaknya, besok nikahnya?" tanya Bara yang membuat Sela memukul dada bidang Bara.


"Jangan sampai papa Bradsiton mengirim pasukannya untuk membunuh tuan," kata Sela sambil memalingkan wajah karena malu.


Bara hanya tertawa mendengar ucapan Sela.


"Tuan tolong lepas borgolnya, saya ingin ke toilet," kata Sela dengan ekspresi menahan sesuatu.


Bara bangun dari baringnya begitu juga Sela.


Bara celingak- celinguk mencari sesuatu di sekitarnya.


"Sayang, tadi kuncinya taruh mana ya?" tanya Bara yang membuat Sela seketika matanya melebar.


"Kan enggak Rendy enggak kamu, sama aja cerobohnya," kesal Sela sambil menggaruk kesal rambut panjangnya.


"Sayang jangan bandingin aku sama Rendy dong," dumel Bara tidak mau dibandingkan dengan Rendy.


"Sayang atau mungkin ini pertanda dari tuhan kalau aku besok enggak boleh balik ke Kanada," kata Bara sambil cengar- cengir pada Sela.


"Itu bukan pertanda yang ada petaka," ketus Sela sambil menarik tangan Bara untuk mencari kuncinya.


Setelah 10 menit debat karena kunci borgol, kini Bara sedang menunggu Sela yang sedang di kamar mandi.


Rasanya begitu berat untuk meninggalkan kekasihnya sendiri di asrama ini.


Di negara yang jauh akan pantauannya.


Dari jarak mata yang sulit untuk Bara jangkau.


Bara menghela napas, dia harus sabar untuk menanti ini semua.


Gadisnya sedang berusaha untuk mengejar cita- citanya.


Seharusnya Bara harus support dia bukan menghalanginya.


Ceklek


Sela keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat begitu segar.


"Sayang kemarilah," kata Bara sambil menepuk sisi tempat tidur yang kosong.


Sela naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping Bara.


Bara langsung menyelimuti tubuh keduanya dan memeluk erat Sela.


"Biarkan aku memeluk mu hingga pagi hari, aku butuh energi untuk bisa bertahan jauh darimu," gumam Bara pelan sambil menghirup aroma rambut Sela.


Percayalah hati ini akan pulang pada tuan rumahnya, batin Sela.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎

__ADS_1


__ADS_2