Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
Bertemu Sela


__ADS_3

□□□


Rendy datang ke rumah Bradsiton siapa tahu Bara berada di sini.


"Pa ma," teriak Rendy di ruang tamu saat tidak melihat siapapun.


"Apa sayang?" tanya Rose dari arah dapur lalu disusul Bradsiton yang baru saja keluar dari lift.


"Pa ma apa Bara di sini?" tanya Rendy membuat Rose dan Bradsiton saling menatap lalu menggelengkan kepala.


"Enggak sayang, memang kenapa?" tanya Rose sambil melepaskan celemeknya dan berjalan menghampiri Rendy.


"Ma hari ini Sela berangkat ke London, tapi Bara tidak ada untuk mengantar Sela? Apa Bara sempat mengatakan sesuatu pada mama atau papa?" tanya Rendy yang jujur saja dia sedang menahan kekesalannya pada Bara.


"Enggak sayang. Apa mereka bertengkar?" tanya Rose menebak keadaan yang terjadi.


"Entahlah ma, Sela juga tidak mau mengatakan pada Rendy, dia hanya memberikan ini untuk dikembalikan pada Bara," kata Rendy sambil memperlihatkan cincin berlian milik Sela.


Rose mengambil cincin dari tangan Rendy dan mengamatinya dengan detail.


Ini rancangan sendiri, terlihat sekali ada ukiran nama Sela.


Dan berlian ini juga sangat antik dan langka berwarna sangat natural.


"Rendy apa di kantor terjadi sesuatu sehingga Bara bertengkar dengan Sela?" tanya Bradsiton yang kini nada bicaranya terdengar sangat tegas.


"Tidak pa," kata Rendy yang mendadak nyalinya menjadi menciut kala Bradsiton sudah mengeluarkan nada bicara yang berbeda.


"Ma papa tinggal dulu sebentar, Rendy jaga mama kamu," kata Bradsiton lalu pergi begitu saja.


"Papa mau kemana?" tanya Rose yang tidak dijawab oleh Bradsiton.


"Udah mama tenang aja, nanti biar Rendy yang bantu papa buat nyari Bara," kata Rendy membuat Rose mengangguk dan tersenyum.


"Sayang, lalu bagaimana dengan Sela? Apa dia berangkat tadi baik- baik saja? Dia ada temannya kan?" tanya Rose yang sangat mencemaskan Sela.


"Mama tenang aja, Sela baik- baik aja kok. Lagian dia juga punya banyak temen," kata Rendy sambil memeluk mamanya agar lebih tenang.


"Rendy mama mau bicara sama kamu," kata Rose membuat Rendy mengernyit bingung.


Rose berjalan menuju taman lalu diikuti oleh Rendy.


○○○


Sedangkan di waktu yang sama dan tempat yang berbeda.


Bara merasakan pusing di kepalanya, Bara menatap sekitar.


Ini bukan kamarnya, tapi di rumah Gabriela.


Bara melihat jam tangannya, pukul 15.00 GMT.


Bara langsung meloncat dari tempat tidur dan bergegas keluar dari kamar Gabriela.


"Bara mau kemana kamu?" teriak Gabriela yang sedang bergelut di dapur.


Bara tidak menggubris teriakan Gabriela.


Di pikirannya hanya ada satu sosok.


Sela


Apa dia sudah berangkat? Lalu dengan siapa?


Bagaimana jika Sela masih menunggunya di rumah?


Bara mengendarai mobilnya seperti kesetanan.


Dia tidak peduli dengan umpatan para pengendara lainnya.


Bara terus merapalkan doa dalam hatinya.


Semoga Sela tidak berangkat terlebih dahulu.


Tidak ada masalah jika berangkat menggunakan pesawat pribadi milik Bara.


Karena kemarin Bara sudah berkonfirmasi pada Mr.John jika mungkin saja Sela akan naik pesawat pribadi bersamanya.


Citttttt


Deritan ban mobil membuat siapapun menatap mobil lamborgini tersebut.


Bara keluar dari mobilnya dan menarik napas pelan saat mobil papanya berada di depan rumahnya.


Apa papa dan mama sedang berkunjung?


Kenapa waktunya tidak tepat sekali.


Bara berlari masuk ke dalam rumah untuk melihat apakah Sela masih berada di rumah atau sudah berangkat.


"Sela," teriak Bara membuat Bradsiton yang sedang duduk di ruang tv di mana dia memang sedang menunggu kedatangan Bara berdiri menatap tajam putranya.


"Papa?" tanya Bara sambil berjalan menghampiri papanya.


"Dari mana kamu?" tanya Bradsiton dingin dan sangat tegas.


"Pa, apa Sela sudah berangkat?" tanya Bara yang mengacuhkan pertanyaan papanya lalu masuk ke dalam kamar Sela.


Kosong


Bara keluar dari kamar Sela dengan mata sudah berkaca- kaca.


"Pa, apa Sela sudah berangkat?" tanya Bara untuk yang kedua kalinya.


Bugh


Bradsiton memukul Bara untuk yang kali pertamanya selama dia menjadi ayah dari Bara.


Bara hanya diam dan pasrah, mau bagaimana pun dia yang salah.


"Son apa papa pernah mengajarimu menyakiti seorang perempuan?" tanya Bradsiton membuat Bara menitikkan air matanya.


Bradsiton sempat beberapa detik merasa tertegun saat melihat putranya menangis hanya karena seorang wanita.


Biasanya dia menangis saat tidak dibelikan mainan atau dimarahi oleh mamanya.


Tapi kali ini putranya sudah dewasa, bukan.


"Ada apa kamu dengan Sela?" tanya Bradsiton yang tak kunjung mendapatkan jawaban dari Bara.


"Pa, Bara kemarin ikut ke rumah Gabriela untuk membuktikan jika Sela memang tidak bersalah, tapi dengan liciknya perempuan itu memasukkan sesuatu pada minuman Bara," kata Bara menjelaskan semua kejadian kemarin pada papanya.


"Oh jadi wanita jalang itu yang membuat kekacauan," kata Bradsiton lalu pergi meninggalkan rumah Bara.


Bara tidak peduli apa yang akan papanya lakukan pada Gabriela.


Bara berlari menuju lift dan turun ke lantai bawah.


Saat keluar Bara berpapasan dengan Rendy yang baru saja datang.


Tatapan benci dan sinis terlihat dari mata Rendy.


"Ren...,"


Bugh

__ADS_1


"Kemana aja lo hah? Apa yang udah lo lakuin sama Sela?" tanya Rendy setelah memukul Bara karena sangat geram padanya.


"Ren apa lo yang nganter Sela ke bandara? Apa dia udah terbang ke London?" tanya Bara yang masih mencari sedikit harapan.


Rendy tersenyum miring sambil berkacak pinggang.


"Lo tahu, semalaman Sela nungguin lo dan pagi- pagi dia nangis, menurut lo apa dia baik- baik aja?" tanya Rendy sambil mencengkeram kerah Bara.


"Nangis?" tanya Bara bingung.


Bugh


"Kenapa lo seperti orang enggak punya salah hah? Apa yang udah lo lakuin sama Sela," teriak Rendy tepat di depan wajah Bara.


Bara melepaskan cengkraman Rendy dan menatapnya tajam.


"Iya gue tahu gue salah," teriak Bara dengan sangat keras hingga membuat beberapa bodyguard menoleh menatap mereka berdua.


"Tapi kasih tahu gue, apa Sela udah terbang ke London?" tanya Bara lirih dan perlahan meringsut lemas dan terduduk di lantai.


Rendy merogoh saku tuxedonya dan melemparkan cincin berlian ke hadapan Bara.


"Gue enggak tahu apa yang terjadi sama kalian berdua. Tapi gue cuma mau bilang, kata Sela, enggak ada orang yang kuat menjalin hubungan jarak jauh," Bara memungut cincin berlian yang ia berikan pada Sela.


Di mana saat malam itu Bara melamar Sela dengan cincin berlian yang dia desain sendiri.


Dengan ukiran nama Sela.


Rendy kembali pergi begitu saja dengan mobil sportnya.


Bara menatap kepergian Rendy, lalu menatap nanar cincin berlian di tangannya.


Tanpa pikir panjang lagi Bara berdiri dan melajukan mobilnya entah kemana.


Pikirannya tidak bisa berpikir dengan jernih.


Dia hanya menuruti apa kata hatinya.


.


.


.


.


.


.


Di sini Bara sedang berada, di bandara tepatnya di dekat landasan pesawat terbang.


Bara menatap sendu beberapa pesawat.


Apa mungkin gadisnya akan baik- baik saja di sana?


Bara merogoh cincin berlian milik Sela dan menatap sendu.


"Kenapa gue sebodoh itu, kenapa?" gumam Bara sambil menggenggam erat cincin berliannya.


Tadinya Bara ingin mengantar Sela dengan pesawat pribadinya.


Tapi siapa yang tahu jika semua ini akan terjadi.


Bara menangis saat dirinya tidak bisa mengucapkan kata perpisahan itu.


2 tahun lamanya.


Enggak ada orang yang kuat menjalin hubungan jarak jauh


Perkataan Rendy padanya terus terngiang dalam pikiran dan benaknya.


Tap


Tap


Bara mendongak saat sepasang sepatu hitam berdiri di depannya.


Rendy


"Selama 10 tahun gue kenal sama lo, baru kali ini gue lihat lo nangis karena cewek men," ejek Rendy dengan senyum dekilnya.


Bara mengusap air matanya dan menatap Rendy.


"Kalau lo emang cinta, kejar men, gue bakal dukung lo," kata Rendy membuat Bara mengubah ekspresinya.


Wush


Wush


Bara menatap ke atas di mana helikopter miliknya dikendalikan Reno perlahan mendarat di tempat landasan pesawat terbang.


Bara perlahan berdiri sambil menatap bingung Reno dan Rendy.


"Buruan pergi dan kembalikan cincin ini pada jari manis seseorang yang menjadi sandaranmu," kata Rendy sambil menepuk bahu Bara dan tersenyum manis.


Bara menatap cincin berlian di tangannya lalu tersenyum ke arah Rendy.


Keduanya berpelukan ala pria dan saling mendukung satu sama lain.


"Thanks brother," gumam Bara yang merasa jika dirinya masih memiliki sedikit harapan dari Sela.


Keduanya berangkat menaiki helikopter untuk menyusul Sela di London.


Mungkin mereka baru sampai atau sedang berada di asrama.


.


.


.


.


ASRAMA GRENWICH 56


Di kamar no. 25 tepatnya di asrama Sela dan no.26 kamar Sandra.


Sedangkan Dico berada di asrama WESTMINSTER 57 berseberangan dengan asrama putri.


Sandra sejak tadi berada di kamar Sela setelah mereka sampai.


Entah Sandra sendiri juga tidak tahu apa yang terjadi dengan Sela.


Sela hanya diam dan melamun dengan mata yang sudah sembab.


"Sel cerita dong, lo ada masalah ya sama Bara?" tanya Sandra yang sudah mulai jenuh sejak tadi didiamkan oleh Sela.


Sela hanya menggeleng kecil tanpa menatap Sandra.


"Apa Gabriela buat ulah?" tanya Sandra dan lagi- lagi jawabannya gelengan kepala.


Sandra menghela napas pelan, apa yang bisa dia lakukan untuk menghibur Sela.


Mungkin membiarkan dia sendiri bisa membuatnya lebih tenang dan leluasa.

__ADS_1


"Yaudah kalau lo enggak mau cerita sekarang, gue ke kamar dulu ya, kalau ada apa- apa panggil gue aja," kata Sandra sambil mengusap kepala Sela sayang layaknya seorang kakak.


Sela mengangguk sambil tersenyum samar pada Sandra.


Sandra keluar kamar meninggalkan Sela dengan kesendiriannya.


Sela kembali melamun, di otaknya hanya ada foto- foto mereka berdua.


Bara dan Gabriela.


Sela menarik napas lalu menghembuskannya dengan perlahan.


Bersikap seperti pada diri sendiri tidak akan baik juga.


Sela datang jauh- jauh kesini dan rela meninggalkan ibunya demi mengejar cita- citanya.


Jadi, Sela tidak boleh terkecoh dengan hal sepele.


"Ayo Sela lo harus bisa, lo pasti bisa," kata Sela menyemangati dirinya sendiri dan tersenyum manis.


Tok tok tok


Sela mengernyit bingung, apa itu Sandra?


Sela berjalan untuk membukakan pintu.


"Sandra....,"


Ucapan Sela terpotong saat melihat sosok di depannya dengan penampilan sangat rapi.


"Sayang," kata Bara hendak meraih tangan Sela.


Tapi dengan cepat Sela menutup pintunya.


Bara sontak langsung menahan dengan tangannya agar pintunya tidak tertutup.


"Sela tolong kasih aku waktu buat jelasin semuanya," kata Bara memohon pada Sela.


Sedangkan Sela tidak berani menatap mata Bara.


Dia terus berusaha untuk mendorong pintunya agar tertutup.


Dia tidak ingin mengungkit masalah itu lagi.


Bara yang sudah tidak tahan lagi, mengerahkan segala kekuatannya agar pintunya terbuka.


Brak


Pintu terbuka keduanya saling menatap satu sama lain.


Namun, Sela dengan cepat memalingkan wajahnya.


Bara menutup pintu kamar Sela dan menatap gadisnya.


"Tolong kasih aku kesempatan untuk menjelaskan, aku mohon," kata Bara berusaha untuk mendekat ke arah Sela.


Tapi Sela berjalan mundur untuk menjauhi Bara.


Bara merasa sakit saat Sela terus menghindari dirinya.


"Semalam aku tidak pulang karena berada di rumah Gabriela, dia bilang kalau dia bakal nunjukkin sesuatu yang membuktikan kalau kamu bersalah,"


"Melihatmu begitu merindukan sosok ayah, aku memanfaatkan hal itu untuk mengikuti ucapan Gabriela agar kamu bisa lebih lama bersama ayahmu, tapi siapa yang tahu jika Gabriela memasukkan sesuatu ke dalam minumanku," jelas Bara panjang lebar menceritakan yang sebenarnya.


Sela mendengarkan dengan seksama penjelasan Bara.


Tes


Sela menghapus kasar air matanya lalu memberanikan diri untuk menatap Bara.


"Sudah selesai bukan?" Bara tertegun mendengar jawaban dari Sela.


"Sekarang silahkan keluar, saya ingin istirahat," kata Sela sambil mendorong Bara untuk keluar.


Bara menggenggam tangan Sela dan menatapnya tajam.


"Tidak aku belum selesai, aku ingin mengembalikan cincin ini," kata Bara sambil menunjukkan cincin pemberiannya.


Bara memaksa memasangkan cincin itu di jari manis Sela.


Sela melepaskannya kembali lalu memberikannya pada Bara.


"Tidak saya tidak pantas menerima ini, carilah wanita baru, saya akan lama tinggal di sini," kata Sela membuat Bara menghempaskan tangan Sela yang terus memaksa untuk menerima cincinnya.


"Memangnya kenapa kalau kamu akan tinggal lama di sini? Aku bersedia meski harus pindah ke sini demi menemanimu mengejar cita- cita? Aku bersedia menemanimu hingga sukses nanti," kata Bara membuat Sela kembali berkaca- kaca.


"Bukan itu permasalahannya, anda enggak akan kuat menjalin hubungan jarak jauh dengan waktu yang lama," kata Sela yang mencari alasan lain.


Sepertinya Bara tidak tahu apa yang telah diperbuat oleh Gabriela.


"Memang kenapa dengan hubungan jarak jauh, Sela? Siapa yang peduli akan itu," kata Bara yang terdengar sangat frustasi dan putus asa sambil memegang erat kedua bahu Sela.


Sela mengalihkan tatapannya menahan agar buliran bening di pelopak matanya tidak jatuh.


"Bisakah anda keluar sekarang?" tanya Sela yang enggan menatap Bara.


"Sela dengerin aku dulu aku mohon, aku sudah menjelaskan semuanya, kenapa kamu masih marah?" kata Bara sambil mengenggam erat tangan Sela.


Sela menghempaskan tangan Bara lalu menatapnya sinis dan benci.


"Anda tanya kenapa? Saya paling benci dengan laki- laki yang suka mempermainkan wanita," kata Sela membuat Bara tidak mengerti.


"Mempermainkan wanita?" tanya Bara tak paham.


"Sekarang kembalilah, masih banyak wanita di luar sana yang mengantri untuk anda," kata Sela lalu pergi menuju kamarnya.


Bara menatap punggung rapuh Sela seperti sayatan dalam hatinya saat melihat dia menangis.


Bara menunduk menatap cincin dalam tangannya lalu kembali memasukkannya ke saku.


Bara keluar dari asrama Sela dengan perasaan menyesal dan juga kecewa karena perbuatannya sendiri.


Tidak ada yang pernah mengobrak- abrik hatinya seperti ini.


Tapi Sela?


Dia mampu membuat dinding pertahanan yang Bara bangun selama ini runtuh.


Dan juga mampu mengubah kehidupan Bara yang awalnya abu- abu kini penuh dengan warna biru.


Bara duduk di bangku taman samping asrama Sela.


Tatapan kosong dan juga pikiran yang berkelana.


Bagaimana caranya dia menebus kesalahan ini.


Sedangkan di dalam kamar Sela berniat untuk mengintip Bara dari jendela.


Apakah dia sudah pergi atau belum?


Ternyata dia sedang duduk termenung di bangku taman.


Bara yang tidak sengaja menatap lantai kamar Sela melihat Sela yang sedang menatapnya dari jendela.


Sela yang kepergok karena menatap Bara langsung menutup gordennya.

__ADS_1


"Aku akan berusaha memperjuangkanmu," gumam lirih Bara sambil berbaring di bangku panjang taman.


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎


__ADS_2