Sekretaris Canduku

Sekretaris Canduku
2R Bikin Heboh


__ADS_3

●●●


Di cafe barteria, dua insan yang duduk saling berhadapan.


Sejak tadi hanya diam tanpa mengobrol sambil menikmati hidangan yang mereka pesan.


Mereka seakan seperti dua orang asing yang baru saja bertemu.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Dewa sambil menatap ponselnya.


"Baik," jawab Laura sambil sesekali menatap kearah Dewa dengan perasaan gugup sambil mengaduk- aduk Milk shalknya.


Dewa kembali diam dengan pikirannya sendiri sambil menatap lekat foto dalam ponselnya.


"Apa kakek menyuruhmu untuk kuliah di sini?" tanya Laura pelan sosok di depannya yang kini telah berubah menjadi dingin dan cuek.


Dewa belum menjawab, entah apa yang menganggu pikirannya.


"Bukan," jawab Dewa, Laura mendongak menatap Dewa.


Sosok yang dulunya hangat kini berubah sedingin es.


Sosok yang dulunya ceria kini mendadak diam membisu.


Sosok yang sangat perhatian layaknya seorang kakak kini tak peduli.


Karena ada luka, yang membekas di dada dari waktu yang lama.


"Enggak ada yang dibicarain lagi, gue pergi," kata Dewa sambil menyampirkan tasnya dipundak.


"Tunggu," kata Laura membuat Dewa kembali duduk dan menatap sekilas Laura.


"Apa kita tidak bisa seperti dulu lagi?" tanya Laura pelan, dia tidak bisa diperlakukan seperti ini oleh Dewa.


"Bukankah sejak dulu kita seperti ini?" tanya balik Dewa dengan suara dinginnya.


"Dua orang layaknya orang asing," lanjut Dewa membuat hati Laura mencelos sakit.


Dewa berdiri hendak pergi, namun dengan cepat Laura memeluk Dewa dari belakang.


"Kenapa kau berubah?" tanya Laura sambil mengeratkan pelukannya pada Dewa.


Cafe belum begitu banyak pengunjung, hanya beberapa.


Jadi, Laura sedikit berani untuk bersikap seperti ini pada Dewa.


Dewa hanya diam tanpa membalas perlakuan Laura.


"Semua orang bisa berubah, begitu juga denganku," kata Dewa melepaskan pelukan Laura lalu pergi begitu saja meninggalkan Laura sendiri.


Laura menatap nanar punggung kekar itu, yang kini telah berubah menjadi sosok yang berbeda.


Laura mengambil tasnya, berjalan dengan sangat gontai.


Mata Laura terhenti dan menatap tajam dua orang yang sedang berjalan berdampingan, membuat beberapa mahasiswa bersorak ria.


●●●


Bara dan Sela baru saja sampai di rumah Bara.


Sela menatap rumah yang terlihat sangat minimalis ini namun sangat elegan.


"Ayo masuk," ajak Bara untuk masuk ke dalam rumah.


Sela mengikuti Bara dari belakang, memasuki rumah di lantai 1.


Sela terkejut saat Bara membuka pintunya, terdapat para bodyguard yang begitu banyak sedang berbaris menyambut Bara datang.


"Selamat malam tuan," sapa mereka semua serempak pada Bara sambil membungkuk.


Bara berjalan begitu saja melewati mereka sedangkan Sela ragu- ragu untuk masuk ke dalam rumah besar ini.


Bara yang sedang berdiri di depan pintu lift, menyadari saat Sela tidak ada dibelakangnya, masih setia berdiri di depan pintu.


"Kemarilah," panggil Bara pada Sela, dengan gugup campur ragu Sela berjalan menuju Bara.


Bara menarik Sela masuk ke dalam lift menuju lantai 2.


"Selamat malam bos," sapa Reno dan Rendy saat mereka berdua baru saja tiba.


Tapi Reno dan Rendy menatap kagum pada Sela membuat Bara mendengus sebal.


"Kenalin saya Rendy," kata Rendy langsung memperkenalkan dirinya pada Sela tanpa melihat ekspresi Bara.


"Saya Reno," lanjut Reno memperkenalkan dirinya.


Sela tersenyum ramah pada mereka berdua, saat Sela akan menyambut uluran tangan mereka Bara menarik tangan Sela.


"Enggak usah perkenalan, kita ke lantai atas," kata Bara membuat Sela melotot kesal.


Sedangkan Reno dan Rendy menganga tidak percaya sama apa yang mereka dengar dari mulut Bara barusan.


"Tuan, apa kita tidak salah dengar?" tanya Rendy langsung pada Bara.


Bara berhenti dan berbalik sambil menatap mereka berdua.


"Apa?" tanya balik Bara dengan ketus dan tatapan sinis.


"Anda tidak lupa bukan sama aturan anda sendiri?" kini Reno yang bertanya.


"Tidak ada yang boleh naik atau sekedar bersih- bersih di lantai 1," kata Rendy mengingatkan aturan yang dibuat oleh Bara sendiri.


"Lalu kenapa, ini rumah saya jadi bebas apa kata saya," kata Bara membuat Rendy mendelik kesal pada Bara.


"Ayo," ajak Bara sambil menarik pelan tangan Sela untuk ke lantai atas.


"Tunggu," Bara berhenti dan menatap Sela.


"Saya di lantai 2 aja, apa boleh?" Bara melepaskan genggaman tangannya pada Sela lalu berkacak pinggang.

__ADS_1


"Apa kamu sadar sama apa yang kamu ucapkan?" tanya Bara pada Sela, Sela mengernyit bingung.


"Di lantai 2 semua kamar di tempati oleh laki- laki, apa kamu merasa nyaman?" tanya Bara pada Sela.


"Lalu apa anda seorang wanita?" tanya balik Sela membuat Rendy dan Reno menahan tawanya melihat Bara diskak oleh Sela.


"Oh kalau gitu, ayo saya tunjukin kamarnya," kata Rendy pada Sela sedangkan Bara hanya menganga melihat sikap buaya mereka berdua.


Sela mengikuti mereka berdua untuk menunjukkan kamar Sela dan meninggalkan Bara begitu saja.


"Ya tuhan, sebenarnya siapa pemilik rumah ini?" gumam Bara bertanya pada dirinya sendiri.


Bara akan naik ke lantai atas untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.


Sedangkan Sela yang diantar ke kamarnya oleh Reno dan Rendy, sedang mengobrol sejenak.


"Apa boleh aku memanggil namamu, sepertinya kita sebaya?" tebak Sela membuat Rendy dan Reno tersenyum senang.


Padahal Rendy dan Reno lebih tua dari Sela dan mereka seumuran sama Bara bukan?


Tapi yang namanya modus si buaya itu banyak, salah satunya ini.


"Iya boleh kok, kita emang sebaya," jawab Rendy membuat Reno menoleh menatap Rendy tidak percaya.


"Ren, apa aku boleh bertanya?" tanya Sela pada Rendy, dengan sangat antusias Rendy mengangguk dan tersenyum.


"Aku sangat lapar, apa aku boleh makan?" tanya Sela kelewat polos tanpa bisa jaim di depan kedua orang yang baru saja dia kenal.


"Bolehlah, kenapa enggak," jawab Rendy sambil tertawa mendengar pertanyaan Sela.


"Tapi tuan... aww," buru- buru Rendy menginjak kaki Reno saat dia memanggilnya tuan.


"Maksud saya Rendy, kita belum menyiapkan makan malam, jadi tidak ada makanan sama sekali," kata Reno membuat Rendy teringat kalau sejak tadi dirinya sibuk menggerutu karena Bara.


"Ohh iya gue lupa, ayo kita masak dulu," ajak Rendy pada Reno.


"Ehh tunggu, aku bisa masak kok, gimana kalau aku aja yang masak?" kata Sela menawarkan bantuan.


"Kamu beneran bisa masak?" tanya Rendy tidak percaya, Sela mengangguk antusias.


"Yaudah tunggu apalagi, buruan ke dapur," kata Rendy lalu berjalan keluar menuju dapur untuk masak makan malam.


"Udah kalian tunggu di sana aja, biar aku yang masak," suruh Sela pada Rendy dan Reno.


"Beneran gak papa gue tinggal?" tanya Rendy dan diangguki Sela yang sedang memasang celemeknya.


Rendy dan Reno menunggu di meja makan sambil menatap Sela yang sedang bergelut di dapur.


"Ya ampun tuan, bos Bara pinter juga ya cari cewek, udah cantik pinter masak lagi," kata seseorang di belakang Rendy.


Rendy menoleh ke belakang betapa terkejutnya dia saat meja makan kini sudah penuh diduduki para bodyguard yang juga sedang menatap Sela masak.


"Kalian ngapain di sini?" tanya Rendy pada mereka semua.


"Tuan, kita juga mau cuci mata, seharian ini kita hanya berdiri dan menatap ke depan, tanpa ada sesuatu yang indah untuk kita lihat," ungkap salah satu bodyguard pada Rendy.


"Bukankah itu adalah tugas kalian?" tanya Rendy yang diangguki oleh semua bodyguard.


"Ya," jawab Rendy dan Reno berdiri dan menjawab bersamaan.


Reno dan Rendy saling menatap saat mereka menjawab bersamaan.


"Kan gue yang dipanggil," kata Rendy pada Reno.


"Tapi Sela juga manggil saya," kata Reno pada Rendy adu debat.


"Udah- udah kalian berdua aja yang beli," suruh Sela lalu mereka berdua bergegas pergi karena Sela yang meminta.


Coba kalau Bara mungkin mereka akan mengajak bos mereka untuk sekedar berdebat atau diinterview dulu.


Dasar para buaya.


"Ren enggak usah bawa mobil, kita naik sepeda aja gimana? Itung- itung buat olahraga malam," saran Rendy pada Reno.


Reno mengangguk dan langsung mengambil dua sepeda gunung di garasi.


"Ayo," kata Rendy mengayuh sepedanya terlebih dahulu.


Mereka pergi ke minimarket dengan naik sepeda dan ini kali pertamanya sepeda yang dibelikan Bara dipakai oleh para bodyguardnya.


Bara memang membelikan setiap bodyguard satu sepeda, guna untuk sekedar olahraga di pagi hari atau membukakan gerbang karena halaman rumah Bara yang sudah seperti lapangan sepak bola.


Sedangkan di dalam kamar, Bara baru saja selesai mandi.


Bara bergegas turun ke lantai 2 karena penasaran apa yang sedang dilakukan Sela dan dua orang laknat tadi.


Bara keluar dari lift betapa terkejutnya Bara, saat tahu para bodyguardnya sedang duduk di meja makan layaknya seorang anak TK sedang memperhatikan gurunya, yaitu memperhatikan Sela sedang memasak.


"Ya tuhan sepertinya hambamu ini salah membawa orang," gumam Bara lirih.


Bara berjalan menuju dapur, spontan para bodyguard langsung berdiri saat tahu Bara datang.


"Tuan," kata mereka terkejut karena sejak tadi asyik memperhatikan Sela memasak.


"Dimana Rendy dan Reno?" tanya Bara sambil menatap masakan yang sudah disajikan oleh Sela dengan sangat indah.


"Apa ini kamu yang memasak?" tanya Bara tidak percaya karena makananya sangat indah dan rapi penyajiannya.


Sela mengangguk sambil memotong daging untuk beberapa campuran masaknya.


"Aww," teriak Sela tidak sengaja jarinya teriris pisau.


Semua bodyguard mendekat untuk melihat keadaan Sela.


"Nona, apa kamu baik- baik saja," tanya mereka khawatir.


Bara langsung menarik tangan Sela menuju wastafel untuk dialiri air.


"Apa kamu tidak bisa membedakan mana daging mana jarimu," marah Bara pada Sela.

__ADS_1


"Dagingnya terlalu tipis," jawab Sela lemah sambil sesekali meringis karena perih.


Setelah selesai dialiri air, Bara mengelap pelan jari Sela dengan tisu.


"Tolong hubungi perawat," perintah Bara pada bodyguardnya, Sela melotot tidak percaya.


"Apa anda kira jari saya terpotong? Ini hanya teriris, sini biar saya yang obati," kata Sela menarik tangannya dari tangan Bara.


"Ambilkan kotak p3k saja," suruh Bara pada bodyguardnya.


Bara langsung mengobati jari Sela lalu menutupnya dengan plester.


"Besok- besok lagi enggak usah masak, bisa- bisa bukan daging yang kamu potong tapi jarimu," kata Bara melarang Sela untuk memasak.


Sela hanya diam sambil meniup pelan luka di jarinya meski sudah ditutup plester tapi sedikit perih.


"Sela ini sayurnya," teriak Rendy saat keluar dari lift.


Rendy berjalan pelan saat menyadari Bara di dapur dan sedang menatapnya tajam.


"Tuan Bara," kata Rendy sambil meletakkan sayuran yang dia beli lalu disusul Reno yang membawa sekantong plastik besar buah- buahan.


"Ya tuhan kenapa kalian beli sayur sama buahnya banyak banget," kaget Sela karena mereka membeli 20 jenis sayuran dan 10 jenis buah- buahan.


"Apa minimarketnya sekarang pindah ke Menara Eiffel? Kenapa lama sekali?" tanya Bara sengit.


Rendy hanya diam menunduk sedangkan Reno bingung memulai ceritanya dari mana.


"Jadi tadi itu," Reno mulai menjelaskan kejadian saat di minimarket tadi.


••FLASHBACK ON••


Rendy dan Reno telah sampai di minimarket jaraknya hanya 500 meter dari rumah.


"Reno, tadi Sela bilang suruh beli sayur apaan?" tanya Rendy sambil membawa ranjang belanja menuju tempat sayuran.


"Nah, mana saya tahu tuan, tadi tuan main langsung berangkat aja," kata Reno yang tidak tahu apa yang harus mereka beli.


"Yaudah kita beli semua sayur yang ada kamu pilih semua buah- buahan yang ada," perintah Rendy pada Reno.


Keduanya langsung menjalankan aksinya, Rendy sibuk memasukkan banyak sayur ke keranjang belanjanya begitupun Reno yang memasukkan semua jenis buah.


Setelah selesai memasukkan semua sayuran yang ada dan buah- buahan mereka langsung menuju kasir.


Setelah selesai mereka langsung keluar dengan masing- masing orang membawa dua kantong plastik besar, karena banyaknya sayuran dan buah- buahan yang mereka beli.


"Reno, mobil kita mana?" tanya Rendy pada Reno dengan sangat panik.


"Loh tadi tuan parkir di mana?" tanya Reno balik sambil menatap sekeliling tidak ada satupun mobil, hanya sepeda gunung dan beberapa motor.


"Gawat Reno, bisa- bisa gue diusir sama Bara, itukan mobil pemberian Bara waktu gue ulang tahun," kata Rendy dengan mata setengah berkaca- kaca.


"Tuan anda jangan keburu nangis dulu, bentar ya saya tanyakan orang- orang itu siapa tahu mereka tahu," kata Reno langsung menghampiri beberapa orang yang duduk di depan minimarket sejak tadi.


"Ibu bapak, apa anda tadi melihat mobil parkir di sini?" tanya Reno sopan pada dua orang yang sedang duduk santai.


"Maaf tuan kami tidak melihatnya," jawab ibu itu, Reno kembali menanyakan pada semua orang yang sedang duduk di depan minimarket.


Jawaban mereka sama, tidak ada yang lihat orang markir mobil di depan minimarket ini.


"Tuan, bagaimana ini, mereka tidak ada yang tahu," kata Reno pada Rendy yang sudah duduk di lantai di depan pintu masuk minimarket.


Sudah persis seperti gelandangan yang sedang kehilangan uang.


Rendy merengek layaknya anak kecil membuat Reno malu dan menenangkan Rendy.


"Tuan, banyak orang yang melihat," kata Reno menenangkan Rendy.


"Maaf tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya petugas minimarket itu pada Reno.


"Maaf mas, mobil kami hilang, tadi saya parkir di sini," jelas Reno pada pegawai laki- laki itu.


"Apa anda tidak mengunci ganda?" tanya pegawai itu dan Reno menggelengkan kepalanya.


"Sebentar akan saya tanyakan pada petugas keamanan untuk mengecek rekaman cctv nya," kata pegawai itu langsung pergi menemui petugas keamanan.


Beberapa saat kemudian, Reno baru menyadari pertanyaan pegawai tadi.


"Tuan," panggil Reno pada Rendy yang masih duduk di lantai sambil melamun.


"Hmm," jawab Rendy lemas.


"Dari kita berdua, lalu siapa yang membawa kunci mobilnya?" tanya Reno membuat Rendy mengelap kasar wajahnya.


Buru- buru Rendy dan Reno langsung mengecek saku celana mereka masing- masing.


"Kosong," kata mereka berdua serempak dan saling menatap.


"Itu tandanya, kita berangkat tidak naik mobil bukan?" tanya Reno pada Rendy.


Rendy langsung membawa kantong plastiknya dan menarik kasar tangan Reno pergi dari minimarket tersebut, sebelum mereka digebuki karena disangka pencuri.


Sedangkan pegawai tadi yang sedang menemui petugas keamanan sedang memeriksa rekaman cctv nya.


"Bagaimana bisa mereka berangkat naik sepeda dan keluar dari minimarket panik mencari mobilnya," gumam pegawai itu sambil menggeleng- gelengkan kepalanya ketika melihat rekaman cctv.


Di mana itu menampilkan Reno dan Rendy yang berangkat ke minimarket naik sepeda.


••FLASHBACK OFF••


"Bhhaahhahahah," tawa mereka semua meledak ketika mendengar cerita dari Reno.


Sedangkan Rendy kini sedang menahan malunya.


Bagaimana tidak, dia berangkat naik sepeda pas mau pulang panik mobilnya hilang.


Malunya sampai ke ubun- ubun, bagaimana tidak, udah bikin panik orang satu minimarket, udah dibantu cariin kesana kemari, udah nangis- nangis di depan minimarket, ehh enggak tahunya berangkat bawa sepeda.


"Gara- gara panik cari mobil, eh sekarang yang ditinggal sepedanya," gumam Reno membuat tawa mereka kembali meledak.

__ADS_1


●●●


__ADS_2